Kunjungan Studi Pengayaan Lapangan Prodi IQTT UNIDA Gontor di Pondok Yanbu’ul Qur’an Kudus

Sambutan dari K.H. Ulil Albab Arwani

Alhamdulillah Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an dengan Pondok Gontor ini selalu ada hubungan terutama kepada Romo Kyai Haji Hasan. Dan mudah-mudahan hubungan kita tetap mulai dari dulu sampai sekarang dan sampai hari kiamat.

Setiap amalan yang kita lakukan haruslah didasari oleh keikhlasan.

Hadits Rasul : “إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا، وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ”  

Hendaklah kita Memurnikan amalan kita hanya karena Allah, tidak karena siapa-siapa dan tidak karena apa-apa. Hal ini yang harus kita laksanakan, terutama ketika kita berhubungan dengan Al-Qur’an.

Al-Qur’an memiliki keistimewaan yang berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya. Untuk memahaminya, kita memerlukan seorang guru, muwajjahah, dan sanad. Nabi Muhammad yang dijuluki Khairul Khalqi pun belajar dari Jibril. Berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang cukup dengan ijazah. Memahami Al-Qur’an memerlukan pembelajaran bertahap.

Salah satu buku yang diajarkan di Pondok Yanbu’, yaitu kitab Qiraah Sab’ah, adalah hasil karya K.H. Arwani. Beliau mempelajarinya hingga khatam dari K.H. Muhammad Munawwir yang memiliki sanad Mekkah. K.H. Muhammad Munawwir mengakui keberhasilan muridnya hal ini tampak dalam ungkapannya “kalau kamu ingin belajar Qira’ah Sab’ah ngajilah ke K.H. Arwani”. Semoga Gontor dapat mengadopsi pendekatan pembelajaran Qiraah Sab’ah ini di masa mendatang.

Dr. H. Ahmad Faiz, Lc. M.A. turut hadir dalam forum dan menyampaikan sebagai berikut:

  • Jika ada yang mengucapkan Assalamualaikum, maka jawaban yang benarnya Waalaikumussalam dan dalam pengucapan Warahmatullahi, maka kata hi tidak perlu dipanjangkan, karena perihal Panjang pendek dalam salam haruslah diperhatikan
  • K.H. Arwani memiliki dua putra bernama K.H. Ulin Nuha dan K.H. Ulil Albab, hanya K.H. Ulil Albab lah yang memiliki keturunan, ia memiliki 6 putri dan 1 putra
  • Awal mula didirikannya pesantren adalah dari keinginan santri dan masyarakat, dahulu pengajian yang dilakukan ada di Masjid Busyral Latif, santri yang hendak mengaji dapat datang ke masjid dan nanti menginap dirumah warga, karena dirasa kurang enak dengan warga maka didirikan lah pondok ini
  • Permulaan munculnya Qira’ah Sab’ah adalah karena Umar bin Khattab sedang shalat berjamaah imamnya ketika itu Hisyam, dia membaca dengan gay abaca yang berbeda, akhirnya terjadi pertikaian setelah shalat, lalu mereka berdua sepakat untuk datang ke Nabi Muhammad SAW, setelah Nabi memerintahkan mereka berdua untuk membaca, nabi membenarkan keduanya, haa kadza unzilat (seperti inilah diturunkan) lalu beliau berkata : inna hadza l-qur’an unzila ala sab’ati ahruf
  • Mushaf Utsmani yang tercatat dalam sejarah ada 5 Mushaf, yaitu di Mekkah, Madinah, Kufah, Syam, dan disimpan pribadi oleh utsman
  • Kitab-kitab yang mempelajari Qira’ah Sab’ah diantaranya adalah:
    • Kitab as-Sab’ah fil-Qiraat karya Ibnu Mujahid
    • Hirz al-Amani wa Wajh al-Tahani fi al-Qira’at al-Sab’i atau yang lebih dikenal dengan Matan Syatibi karya imam asy-Syatibi al-Andalusi
  • Lalu mbah arwani membuat pola baru dalam kajian qira’ah sab’ah dengan membuat buku Faidhul Barakat yang berjumlah 3 jilid awalnya dan sekarang menjadi 1 jilid, mbah pengin mengaplikasikan ilmu yang telah ia dapat dari Muhammad Munawwir dalam buku ini
  • Nama-nama 7 Imam Qira’at beserta perawinya:
    • Imam Nafi’ dan 2 perawinya yaitu Qolun dan WarasAbdullah Ibnu Katsir dan 2 perawinya yaitu Bazzi dan QunbulAbu Amr Ibnu al-A’la dan 2 perawinya yaitu Ad-duri dan As-SusiIbnu Amir dan 2 perawinya yaitu Hisyam dan Ibnu DzakwanAshim dan 2 perawinya yaitu Syu’bah dan HafsHamzah dan 2 perawinya yaitu Khalaf dan Khallad
    • Al-Kisai dan 2 perawinya yaitu Abu dan Ad-duri Al-Kisai
  • Alasan mengapa Hafs menjadi Qira’ah di Indonesia adalah karena dahulu Pusat Peribadahan (Mesir) menggunakan Qira’ah Hafs, lalu Pusat Peradaban (Mesir)  juga menggunakan Hafs, dan juga Pusat Pemerintahan Turki Utsmani juga menggunakan Qira’ah Sab’ah. Karena inilah Qira’ah Sab’ah menyebar di banyak tempat dan juga termasuk Indonesia.
  • Contoh perbedaan Qira’ah, dalam surah Al-Mu’min ayat 112 dan 118 ada yang membaca Qaala dan ada yang membaca Qul

Editor: Yusrina Dyah Wulandari, M.Ag

Related News

Get Our Latest Update & Subscribe Newslater

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus.