Dauroh Mukatsafah fii Rasail An-Nur

RasailAn- Nur adalah bukti yang melimpah tentang al-Qur’an dan tafsir yang sangat kuat, berupa percikan yang luar biasa dari ijaz ma’nawi yang hakekatnya diilhamkan dari ilmu hakekat

Mantingan –Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Program Studi  Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir mengadakan Studi Pengayaan Lapangan (SPL) yang diisi dengan Dauroh Mukatsafah Fi Fathi Rasaili-N-Nur dengan mengundang pemateri Asatidzah  Tholabul Nur. Acara ini dilaksanakan dalam 2 hari yaitu mulai Selasa 06 April 2021 sampai Rabu, 7 April 2021 di gedung aula Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri.

Dalam Dauroh Mukatsafah fi Rasil Nur, terdapat 4 materi yang akan menyampaikan materi tentang Badiuzzaman Said Nursi dengan pembagian sesi yang berbeda. Dibuka oleh pemateri pertama pada Dzuhur, 6 April 201 oleh Dr. Sujiat Zubaidi Soleh, M.A dengan judul “Sejarah Hidup dan Biografi Bediuzzaman Said Nursi”. Pada sesi pertama, Dr. Sujiat mengajak mahasiswa IQT 4 untuk lebih mengenal latar belakang, latar belakang, sejarah perjalanan hidup dan fase kehidupan Bediuzzaman Said Nursi. Dari dauroh ini, Dr. Sujiat berharap ada pon-poin yang bisa dikaji dan dikaitkan dengan Gontor.  Dipandu oleh Siti Usbandiyah – satu mahasiswi Program studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir semester 4- selaku moderator, acara ini dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara narasumber dan peserta webinar sampai menjelang waktu ashar.

Adapun dauroh kedua diadakan pada Rabu, 07 April 2021 yang diisi oleh 3 pemateri  tentang Bediuzzaman Said Nursi dengan pembahasan yang berbeda. Materi pertama dibawa oleh adalah Ustadz Muhammad Ishomuddin, M. Ud –Kandidat Doktoral Universitas Darussalam Gontor, pengkaji Rasaili-N-Nur – dengan judul “Mukjizat al-Qur’an menurut Bediuzzaman Said Nursi” yang membahas tentang kemukjizatan al-Qur’an dari berbagai aspek menurut Beddiuzzaman Said Nursi dengan pesannya bahwa RasailAn- Nur adalah bukti yang melimpah tentang al-Qur’an dan tafsir yang sangat kuat, berupa percikan yang luar biasa dari ijaz ma’nawi yang hakekatnya diilhamkan dari ilmu hakekat Dilanjutkan pemateri kedua yang dibawakan oleh Ustadzah Dhita Ayomi Purwaningtyas, M. Si -Dosen AFI Universitas Darussalam Gontor, pengkaji Rasaili-N-Nur – yang menjelaskan “Thulabu An-Nur” dan disusul oleh pemateri ketiga yang disampaikan oleh Ustadzah Ridani Faulika Permana, M. Ag -Dosen IQT Universitas Darussalam Gontor, pengkaji Rasaili-N-Nur – dengan judul “Implementasi Pada kaum Wanita” yang menjelaskan menjelaskan tentang kumpulan nasehat Said Nursi yang termaktub dalam Risalah Nur kepada kaum wanita demi menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat dan tindakan yang menyimpang dari fitrah wanita yang mengakibatkan kesengsaraan baik di dunia dan akhirat.

Diharapkan dari Dauroh ini melahirkan thulabu-n-nur di Universitas Darussalam Gontor khususnya di Program Studi  Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dan menjadi semangat baru untuk mengkaji kitab-kitab Said Nursi di Indonesia.

(oleh Nanda Misbahul Awwalia, Ed. Nindhya Ayomi, S.Ag, M.Pd)

Tasyakuran UAS 1442/2021: Qur’anic Tafsir Raih beberapa penghargaan

iqt.unida.gontor.ac.id Main Hall – Dalam acara penutupan Ujian Akhir Semester (UAS) UNIDA Gontor yang acap kali dikenal dengan Tasyakuran, tentunya tidak lain ialah sebagai bentuk rasa syukur civitas akademika dari terlaksananya beberapa rentetan kegiatan. Terutama berakhirnya masa-masa ujian tulis 1442 H/2021 M. Oleh karenanya, dari kesyukuran inilah acara tersebut dibalut dengan sedimikian rupa yang di isi dengan penyampaian beberapa laporan-laporan. Seperti laporan panitia ujian, laporan wakil rektor 1, laporan wakil rektor 2 dan 3 hingga diakhiri dengan sambutan Rektor UNIDA Gontor Al-Ustadz KH. Prof. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A.Ed, M.Fhil. hari selasa, 05 April 2021.

Sementara itu, acara yang sangat menarik pada tasyakuran UAS kali ini tentu tidak luput melalui beberapa hasil laporan-laporan yang disampaikan. Namun, benarkah Program studi Qur’anic Tafsir (IQT) sangat antusias dalam memeriahkan acara ini? Oleh karena itu, mari kita simak bersama isi laporan tersebut sebagaimana berikut ini.

Laporan Wakil Rektor 1, 2 dan 3

Pada laporan wakil rektor 1 yang disampaikan oleh Al-Ustadz Dr. Abdul Hafidz Zaid dalam bidang akademik dan kemahasiswaan. Beliau mengumumkan beberapa penghargaan yang diberikan kepada beberapa nominasi yaitu terdiri dari: a) mahasiswa berprestasi, b) pengawas teladan dari dosen (putra & putri), c) pengawas teladan dari staf (putra & putri), dan d) peserta UAS teladan dari mahasiswa.

Adapun laporan wakil rektor 2 yang disampaikan oleh Al-Ustadz Dr. Setiawan bin Lahuri dalam bidang administrasi dan keuangan, yang tidak luput beliau umumkan adalah terkait data-data kuantitatif berupa hasil laporan keuangan laziswaf selama satu semester. selain itu juga, beliau mengumumkan sekaligus penyerahan secara simbolis kepada para mahasiswa penerima beasiswa minhati.

Sedangkan, pada laporan wakil rektor 3 yang disampaikan oleh Al-Ustadz Dr. Khairul Umam dalam bidang hubungan kerjasama eksternal. Beliau melaporkan berupa hasil laporan LPPM/LPKM yang terdiri dari: Penghargaan lomba Program kreativitas Mahasiswa (PKM), penghargaan kepada program studi terbaik yang berkontribusi dalam PKM, dan ditutup dengan penghargaan kepada program studi terbaik dalam pengelolaan website.

Disamping itu, berdasarkan hasil laporan-laporan yang disampaikan di atas tadi, ternyata fakta mengatakan bahwa Program studi Qur’anic Tafsir (IQT) sangat antusias dalam memeriahkan tasyakuran kali ini yaitu dengan menerima beberapa penghargaan-penghargaan yang diraihnya seperti keterangan di bawah ini.

Penghargaan Yang Diraih Prodi IQT

Penghargaan yang diraih oleh program studi Qur’anic Tafsir (IQT) secara individu (mahasiswa & dosen) maupun prodi adalah sebagai berikut:

Pertama, peraih penghargaan mahasiswa teladan dengan nomor urut 1. Dianugerahkan kepada saudara Fahmi Akhyar Al Farabi mahasiswa IQT Semester 6. Selebihnya, penghargaan mahasiswa teladan dengan nomor urut 2. Diberikan kepada saudara Azhar Nur Fuadi mahasiswa IQT Semester 2.

Kedua, peraih penghargaan nominasi pengawas teladan dari dosen dan tenaga kependidikan (putra). Yang dinilai dari kerapian, ketanggapan dan kecepatan adalah Al-Ustadz Ali Mahfudz Munawar, M.Hum

ketiga, peraih penghargaan peserta UAS teladan yang dinilai dari kehadiran dan kerapian, tidak lain diberikan kembali kepada saudara Azhar Nur Fuadi mahasiswa IQT Semester 2.

Keempat, peraih penghargaan PKM hibah internal yang terdiri dari PKM-Kewirausahaan (K) adalah saudara M. Abdi Kurniawan mahasiswa IQT Semester 8. Sedangkan, PKM-Karya Cipta (KC) adalah saudara Fahmi Akhyar Al Farabi mahasiswa IQT Semester 6.

Adapun sebagai penutup, penghargaan terkakhir dari nominasi Program studi terbaik yang berkontribusi dalam PKM ialah diberikan kepada prodi Agroteknologi dengan nilai 680, dan disusul Prodi IQT sebagai nomor urut 2 dengan nilai 605.

Dengan demikian, mudah-mudahan dari pencapaian tadi semoga bisa memotivasi diri kita untuk lebih berlomba-lomba dalam hal kebaikan bahkan bisa memperbaiki dikemudian hari. Wallahu ‘alam bisawab.

Di Antara takdir Alah dan kemauan manusia

iqt.unida.gontor.ac.id Pada artikel ini penulis akan menjelaskan secara singkat tentang antara takdir Allah dan kemauan manusia dalam keidupan yang di alami manusia itu sendiri. Pada awal tahun 2021 kita di sambut dengan berbagai macam cobaan yang begitu berat, banyak perisriwa dan bencana yang terjadi di awal tahun 2021. Dunia di hadapkan dengan pandemi yang tidak kunjung henti, mengawali awal tahun 2021 bencana silih berganti menguji keimanan setiap insan terkhusus di negri kita Indonesia, Allah uji kita dengan berbagai macam cobaan hampir segala lini Allah uji tidak hanya di darat bahkan lautan dan juga yang udara. Ada yang bersyair “ yang di darat di ratakan, yang di laut di tenggelamkan, yang di udara di hempaskan” dalam artian lengkap sudah cara Allah untuk mengigatkan hambanya dengan berbagai mcam cobaan itu. Salah satu kejadian yang menggemparkan Indonesia dan juga dunia yaitu dengan jatuhnya pesawat Sj 182, dengan tujuan penerbangan Jakarta – Pontianak.

Pesawat hilang kontak, jatuh dan meledak

Seperti yang terjadi pada tanggal 09 – 01 – 2021 ketika salah satu maskapai penerbangan Indonesia hendak melakukan penerbangan dengan tujuan Jakarta – Pontianak, dimana ketika waktu itu pesawat tersebut membawa penumpuang sekitar 62 jiwa didalam nya. Tidak ada 1 nyawapun yang terselamatkan dalam kejadian itu yang tua yang muda bahkan yang masih kecil tak berdosa pun Allah ambil nyawa mereka saekitika itu juga. Secara tak kasat mata itu memang merupakan sebuah musibah yang terjadi, namun secara iman itu merupakan takdir yang sudah dicatat oleh sang pencipta yaitu Allah.

Di Antara takdir Alah dan kemauan manusia

Secara naluri manusia banyak yang tidak bisa menerima akan kejadian ini dan menyalahkan satu sisi yaitu maskapai penerbangan, namun iman yang membuat hati setiap keluarga yang di tinggalkan yakin bahwa akan ada hikmah dibalik setiap kejadian yang terjadi, dalam Al-Qur’an hampir semua musibah atau semua kejadian dan bencana yang menimpa suatu umat dan kaum adalah peringatan untuk hambanya agar menjadi pribadi yang lebih baik, agar kita semua bisa memuhasabah diri dengan segala apa yang telah kita perbuat di dalam kehidupan kita sehari-hari kenapa Allah melakukan itu kepada kita. Ketika Allah hendak menguji umat nya tidak pandang bulu siapa saja yang berada di sekitar orang tersebut akan tekena imbasnya, karna tidak semua yang berada didalam kejadian itu adalah orang- orang yang memang melakukan perbuatan yang memancing amarah Allah, tapi ketika Allah hendak melakukan itu semua yang berada di sekitarnya tanpa terkecuali seketika itu juga rata dengan musibah itu.

Hikmah Dibalik Peristiwa

Akan ada hikmah yang bisa di renunangkan  di balik peristiwa yang terjadi itu, salah satu hikmah itu adalah memberikan kesadaran diri kita bahwa kita sebagai manusia sudah berbuat hal atau kesalahan yang membuat Allah murka akan apa yang kita perbuat di dalam kehidupan kita, mungkin dalam peristiwa jatuhnya pesawat itu ada bebrapa faktor yang dimana akan membuat keluarga yang di tinggal lebih sadar akan kuasa Allah, atau sadar kalau dirinya masih sangat jauh dari Allah maka dengan kejadian itu agar bisa mengingatkan setiap insan yang di tinggal agar bisa memuhasabah diri untuk bisa lebih dekat dengan Allah.

Sejarah Perkembangan Ulumul Qur’an

Iqt.unida.gontor.ac.id. Menurut sejarah Al-Qur’an adalah sumber utama dalam ajaran Islam. Al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan kepada Nabi terakhir dan penutup, Muhammad saw. diperuntukkan kepada seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Wahyu ini mengandung mukjizat yang luar biasa. Mukjizat tersebut masih dan akan tetap kekal sampai kapan pun. Kekekalan kemukjizatan al-Qur’an dipelajari dan didalami melalui bidang ilmu Ulumul Qur’an. Sebelum menelusuri ilmu tersebut lebih jauh, ada baiknya mengetahui sejarah perkembangan Ulumul al-Qur’an ini, yang dimulai pada generasi emas Islam, yakni masa Nabi Muhammad saw. hingga masa para Sahabat.

Sejarah Perkembangan Ulumul Qur'an

Semakin berkembangannya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dewasa ini membuat kajian terhadap isi dari al-Qur’an semakin gencar. Berbagai penemuan dari penelitian-penelitian terkini dan pemanfaatan teknologi untuk mengungkap misteri dari alam semesta yang sulit dijangkau dengan panca indera semata telah sedikit banyak membuka tabir dari kabar-kabar yang diberitakan dalam al-Qur’an. Bahkan, beberapa dari penemuan dan pemanfaatan teknologi tersebut berhasil menunjukkan kemukjizatan al-Qur’an dalam menggambarkan fenomena alam semesta. Dengan demikian, sudah jelaslah bahwa dengan semakin majunya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berbanding lurus dengan semakin tampaknya validitas kemukjizatan al-Qur’an.

Pada Masa Nabi Muhammad Saw.

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk membawa umat manusia dari kegelapan hidup menuju kehidupan yang terang-benderang oleh cahaya Ilahi, dan menjadi petunjuk bagi mereka menuju jalan yang lurus. Pada mulanya, al-Qur’an disampaikan kepada penduduk asli Arab oleh Nabi Muhammad saw. yang merupakan bagian dari penduduknya. Beliau menyampaikan al-Qur’an dengan terang dan sebenar-benarnya, tanpa disisipi penambahan maupun pengurangan dari wahyu Allah tersebut. Jika penduduk Arab, khususnya para Sahabat Nabi Muhammad saw. mendapati sesuatu yang kurang jelas bagi mereka tentang ayat-ayat al-Qur’an yang diterima, maka para Sahabat langsung menanyakannya kepada sang Nabi. Kemudian, Nabi Muhammad saw. menjelaskan makna yang terkandung dalam ayat-ayat itu dengan pemahaman yang tidak sedikit pun lari dari apa yang diterimanya melalui wahyu, melainkan semuanya sesuai dengan tuntunan wahyu.

Para Sahabat merupakan contoh dari orang-orang yang bersemangat dalam menghafal, mempelajari dan mengamalkan al-Qur’an. Mereka selalu merasa antusias untuk mendapatkan pengajaran al-Qur’an dari Nabi Muhammad saw. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas r. a., ia berkata: “Ada seorang laki-laki di antara kami yang apabila membaca Surah al-Baqarah dan Ali Imran, ia begitu antusias.” Rasa antusias ini dibarengi dengan kesungguhan dalam mengamalkan dan menegakkan hukum-hukum dalam al-Qur’an.

Salah seorang Sahabat Nabi Muhammad saw., Abu Abdirrahman as-Sulami meriwayatkan, bahwa para Sahabat yang biasa membacakan kepada kami  al-Qur’an: Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, dan yang lainnya; jika mereka mempelajari sepuluh ayat dari Nabi Muhammad saw., mereka akan berusaha sampai bisa memahami dan mengamalkan isi dari ayat-ayat tersebut, sebelum mempelajari ayat-ayat yang berikutnya. Para Sahabat tersebut berkata, “Kami mempelajari al-Qur’an, ilmu, dan amal sekaligus.”

Ulumul Qur’an hingga Masa Sahabat

Dalam pengajarannya, Nabi Muhammad saw. berpesan kepada para Sahabat untuk tidak menulis sesuatu apa pun selain al-Qur’an. Tidak diizinkannya menulis selain al-Qur’an dimaksudkan agar al-Qur’an tidak tercampur aduk dengan yang lain. Hal ini seperti yang diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jangan sekali-kali menulis apa pun dariku. Barangsiapa menulis sesuatu selain al-Qur’an dariku maka hapuslah. Sampaikanlah hadisku, tidak masalah. Namun, barangsiapa mendustakan aku dengan sengaja, maka nerakalah tempatnya.” Sekali pun Nabi Muhammad saw. pernah memberikan izin kepada sebagian sahabatnya setelah itu untuk menulis hadis, perkara-perkara mengenai al-Qur’an sesungguhnya masih tetap bersandar pada riwayat melalui talqin. Demikianlah sejarah perkembangan Ulumul Qur’an pada masa Nabi Muhammad saw., masa Khalifah Abu Bakar dan masa Umar bin Khattab radiyallahu anhuma.

Referensi: Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, karya Syaikh Manna Al-Qaththan

Pergantian Pengurus Gugus Depan 15089-15 Di Pondok Modern Darussalam Gontor

Pondok Modern Darusslam Gontor, yang biasa disingkat dengan PMDG berdiri pada tanggal 19 September 1926 telah menelurkan banyak alumni yang berkualitas dan mengabdi kepada masyarakat. Tentunya semua itu tidak lepas dari pendidikan yang diberikan oleh pondok kepada para alumni tesebut. Dengan penugasan yang diberikan oleh pondok, para santri terdidik dalam segala hal. Salah satu penugasan itu adalah menjadi pengurus salah satu gugus depan di PMDG, yaitu Gugus Depan 15089-15.

Pergantian pengurus gugus depan di PMDG dilaksanakan pada hari Kamis, 7 Januari 2021. Untuk Gugus Depan 15089-15 bertempat di sebelah barat kantor bapak pimpinan PMDG dan acara berjalan dengan lancar, meskipun diguyur sedikit dengan air hujan. Acara dimulai pukul 13.45 dan selesai pada pukul 14.45 kemudian dilanjutkan dengan acara perfotoan bersama. Sesi foto bersama seperti acara ini telah ada semenjak Pondok Gontor berdiri.

            Yang menjadi pengurus baru di Gugus Depan adalah adika (anak didik pramuka) yang telah masuk menjadi Pasus (Pasukan Khusus) dan yang duduk di kelas 3 KMI (Kulliyyatu-l Mu’allimin Al-Islamiyyah). Mereka tidak menyiapkan dan melaksanakan acara tersebut seorang diri, tetapi juga dibantu adik kelas, yaitu kelas dua, kakak kelas mereka, yaitu kelas 3 intensif  kelas 4, dan seorang Bindep (Pembimbing Gugus Depan), serta dari para Mabigus (Majlis pembimbing Gugus Depan).

Acara tersebut dimulai dengan bacaan Al-Qur’an kemudian dilanjutkan dengan laporan pengurus lama, pelantikan pengurus baru, pergantian tempat, tanda tangan surat mandat, pembacaan surat mandat, sambautan pengurus baru, sambutan dari Mabigus, dan diakhiri dengan Kaffaratu-l Majlis.

            Dalam penugasan ini, pertama dalam menyiapkan acara pergantian, para santri terdidik dalam segala hal. Bagaimana adika-adika pasus menyiapkan acara dari jauh-jauh hari samapai hari H. Mereka berkorban harta, tenaga, dan fikiran untuk menghidangkan acara terbaik. Kemudian ketika sudah resmi dilantik menjadi pengurus baru, mereka berlatih kepemimpinan. Bagaimana menyikapi anggota yang susah diatur, berbicara di depan banyak orang, melatih anggota dengan skil massing-masing.

            Para pengurus baru melatih anggota dengan sungguh-sungguh serta dengan penuh tanggungjawab, karena mereka sudah membaca syahadat dan janji suci di depan banyak orang serta mereka khawatir dan takut kalau generasi setelah mereka menjadi generasi yang jelek dan lemah daripada tahun sebelumnya. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT :           

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا (النساء: 9)

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” ( An-Niisa’ : 9)

            Itulah semua proses pergantian pengurus Gugus Depan 15089-15 dan amanat yang diemban oleh pengurus baru. Dengan penugasan seperti yang dijelaskan di atas, maka para alumni PMDG telah mendapat banyak pendidikan dan pengalaman yang banyak dan siap untuk terjun dan berjuang di masyarakat.

Persiapan Menuju Bulan Ramadhan

Apakah yang harus kita lakukan agar Ramadhan yang akan datang benar-benar menjadi rahmat bagi kita. Dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan bahwa ibadah itu merupakan perlombaan, فاستبقوا الخيرات  “maka berlomba-lombalah dalam mengerjakan kebajikan” (Al Baqarah 148 ) misalnya. Maka jika satuannya adalah perlombaan, lantas Bagaimana dengan musim ibadah yang bernama Ramadan, Bagaimana dengan sebuah bulan yang isinya adalah ibadah dan berbagai macam varian ibadah ada di dalamnya, sehingga tidak heran jka sebagian orang mengatakan bahwa Ramadhan itu ibarat Olimpiade bagi ahli taqwa,  simpelnya  dengan sebuah pertanyaan ,apakah mungkin Seorang atlet mengikuti Olimpiade tanpa TC, tanpa pemanasan, tanpa stretching, tanpa warming up kemudian dia mendapatkan medali emas, misalnya cabang olahraga yang dia ikuti akan diperlombakan atau akan dipertandingkan pada tanggal 12 April atau 13 April, tetapi ia tidak mengerjakan apapun untuk mempersiapkan dirinya , kemudian pada tanggal 12 April sesuai yang telah dijadwalkan ia datang ke Stadion untuk berlomba, apakah mungkin orang seperti ini akan menjadi juara ?

Kita semua mengetahui bahwa Olimpiade semisal ini hanya diikuti oleh atlit-atlit papan atas dunia, kemudian seseorang tanpa persiapan apapun mendatangi komite Olimpiade dan ia mendaftarkan dirinya untuk mengikuti olimpiade tersebut, apakah ia akan diterima? Tentu saja tidak, Begitu pula bulan Ramadhan yang ibarat sebuah olimpiade, maka sekarang adalah waktu untuk kita bertanya kepada diri kita sendiri, karena Ramadhan sudah di depan mata kita, apakah kita ahli tahajud papan atas? ataukah kita ahli Quran papan atas? ataukah kita ahli puasa papan atas? ataukah kita ahli infaq dan sedekah papan atas? Jika tidak, apakah pantas kita memasuki bulan Ramadhan begitu saja tanpa ada pemanasan atau persiapan kemudian kita bermimpi mendapatkan medali Taqwa dari Allah subhanahu wa ta’ala?

Pada bulan Ramadhan kita diminta untuk berada di level atas bukan 1 atau 2 hari tapi 30 hari selama satu bulan, begitupula kita diminta untuk tidak menurunkan tempo, bahkan harus meningkat terutama pada hari-hari terakhir hingga puncaknya pada sepuluh hari terakhir. Hal ini akan berat bagi kita jika kita memasuki bulan suci Ramadhan begitu saja tanpa persiapan.

Sebagian besar dari ulama terdahulu, mereka sudah mempersiapkan kedatangan bulan Ramadhan semenjak satu bulan sebelumnya, seperti Imam Amru bin Qais Al Mula`i  jika telah memasuki bulan Sya’ban, maka ia menutup kedainya dan menyibukkan diri dengan membaca Al Qur`an.. Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasannya umat Islam di masa beliau jika memasuki bulan Sya’ban, maka mereka sibuk dengan mushaf-mushaf dan mereka membacanya, mereka juga mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka untuk memperkuat orang-orang yang lemah dan miskin dalam menghadapi puasa Ramadhan. (lih.Latha`if Al Ma’arif, hal. 258)

Dari apa yang disampaikan Al Hafidz Ibnu Rajab tersebut nampaklah bahwasannya amalan-amalan bulan Ramadhan sudah mulai dikerjakan di bulan Sya’aban. Hal itu diperkuat dengan amalan para ulama.

Beberapa amalan yang dianjurkan untuk diamalkan untuk mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan ,

Memperbanyak Membaca Al Quran

Di bulan Rajab, para salaf shalih semakin memfokuskan diri untuk membaca Al Qur`an meski Ramadhan belum tiba. Sebagaimana dilakukan oleh Amru bin Qais Al Mula`i jika telah memasuki bulan Sya’ban, maka ia menutup kedainya dan menyibukkan diri dengan membaca Al Qur`an. (Latha`if Al Ma’arif, hal. 258)

Puasa Sya’ban

Puasa di bulan Sya’ban merupakan perkara yang disunnahkan. Aisyah Radhiyallahu’anhu menyampaikan,”Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyempurnakan puasa kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak mengetahui dalam suatu bulan lebih banyak puasa dibanding Sya’ban.” (Riwayat Al Bukhari)

Mengqadha puasa

Karena kedekatannya dengan Ramadhan, maka disunnahkan untuk mengqadha’ puasa sunnah di bulan Sya’ban. Namun bagi siapa yang masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan, maka dilarang untuk menangguhkan untuk menqadha’nya setelah Ramadhan ke dua tanpa udzur. Jika mengakhirkan qadha’ sampai Ramadhan ke dua tanpa udzur, maka wajib baginya disamping mengadha’ puasa memberi makan kepada orang miskin menurut madzhab Al Maliki, Asy Syafi’i dan Al Hanbali. Sedangkan untuk madzhab Al hanafi, cukup mengqadha’ saja. (lihat, Latha’if Al Ma’arif, hal. 258)

Persiapkan Fisik Hadapi Ramadhan

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwasannya Rasulullah Shallahu Alihi Wasallam bersabda,”Janganlah kalian mendahului Ramadhan (dengan berpuasa) sehari atau dua hari. Kecuali bagi siapa yang berpuasa, maka ia hendaklah berpuasa.” (Riwayat Al Bukhari)

Al Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan beberapa pandangan mengenai sebab dimakruhkannya melaksanakan puasa sunnah mutlak sehari atau dua hari menjelang Ramadhan, salah satunya adalah agar dikuatkan dalam menghadapi puasa Ramadhan. (Latha`if Al Ma’arif, hal. 273-276)

Tidak Mengumbar Nafsu Makan-Minum Sebelum Ramadhan

Meski ada dorongan untuk memperkuat fisik dalam menghadapi bulan Ramadhan, namun bukan berarti seseorang didorong untuk melampiaskan makan dan minumnya sepuas-puasnya sebelum memasuki Ramadhan, karena ketika mereka berada di bulan Ramadhan tidak bisa melakukannya. Tradisi buruk ini disebut dengan tanhis, yakni hari-hari untuk melakukan perpisahan dengan makan dan minum sebelum bulan Ramadhan

oleh Fikri hasan Abdullah/IQT 6