Di Antara takdir Alah dan kemauan manusia

iqt.unida.gontor.ac.id Pada artikel ini penulis akan menjelaskan secara singkat tentang antara takdir Allah dan kemauan manusia dalam keidupan yang di alami manusia itu sendiri. Pada awal tahun 2021 kita di sambut dengan berbagai macam cobaan yang begitu berat, banyak perisriwa dan bencana yang terjadi di awal tahun 2021. Dunia di hadapkan dengan pandemi yang tidak kunjung henti, mengawali awal tahun 2021 bencana silih berganti menguji keimanan setiap insan terkhusus di negri kita Indonesia, Allah uji kita dengan berbagai macam cobaan hampir segala lini Allah uji tidak hanya di darat bahkan lautan dan juga yang udara. Ada yang bersyair “ yang di darat di ratakan, yang di laut di tenggelamkan, yang di udara di hempaskan” dalam artian lengkap sudah cara Allah untuk mengigatkan hambanya dengan berbagai mcam cobaan itu. Salah satu kejadian yang menggemparkan Indonesia dan juga dunia yaitu dengan jatuhnya pesawat Sj 182, dengan tujuan penerbangan Jakarta – Pontianak.

Pesawat hilang kontak, jatuh dan meledak

Seperti yang terjadi pada tanggal 09 – 01 – 2021 ketika salah satu maskapai penerbangan Indonesia hendak melakukan penerbangan dengan tujuan Jakarta – Pontianak, dimana ketika waktu itu pesawat tersebut membawa penumpuang sekitar 62 jiwa didalam nya. Tidak ada 1 nyawapun yang terselamatkan dalam kejadian itu yang tua yang muda bahkan yang masih kecil tak berdosa pun Allah ambil nyawa mereka saekitika itu juga. Secara tak kasat mata itu memang merupakan sebuah musibah yang terjadi, namun secara iman itu merupakan takdir yang sudah dicatat oleh sang pencipta yaitu Allah.

Di Antara takdir Alah dan kemauan manusia

Secara naluri manusia banyak yang tidak bisa menerima akan kejadian ini dan menyalahkan satu sisi yaitu maskapai penerbangan, namun iman yang membuat hati setiap keluarga yang di tinggalkan yakin bahwa akan ada hikmah dibalik setiap kejadian yang terjadi, dalam Al-Qur’an hampir semua musibah atau semua kejadian dan bencana yang menimpa suatu umat dan kaum adalah peringatan untuk hambanya agar menjadi pribadi yang lebih baik, agar kita semua bisa memuhasabah diri dengan segala apa yang telah kita perbuat di dalam kehidupan kita sehari-hari kenapa Allah melakukan itu kepada kita. Ketika Allah hendak menguji umat nya tidak pandang bulu siapa saja yang berada di sekitar orang tersebut akan tekena imbasnya, karna tidak semua yang berada didalam kejadian itu adalah orang- orang yang memang melakukan perbuatan yang memancing amarah Allah, tapi ketika Allah hendak melakukan itu semua yang berada di sekitarnya tanpa terkecuali seketika itu juga rata dengan musibah itu.

Hikmah Dibalik Peristiwa

Akan ada hikmah yang bisa di renunangkan  di balik peristiwa yang terjadi itu, salah satu hikmah itu adalah memberikan kesadaran diri kita bahwa kita sebagai manusia sudah berbuat hal atau kesalahan yang membuat Allah murka akan apa yang kita perbuat di dalam kehidupan kita, mungkin dalam peristiwa jatuhnya pesawat itu ada bebrapa faktor yang dimana akan membuat keluarga yang di tinggal lebih sadar akan kuasa Allah, atau sadar kalau dirinya masih sangat jauh dari Allah maka dengan kejadian itu agar bisa mengingatkan setiap insan yang di tinggal agar bisa memuhasabah diri untuk bisa lebih dekat dengan Allah.

Ketokohan Mufassir Kontemporer Badiuzzaman Sa’id Nursi

Iqt.unida.gontor.ac.id Siman – kali ini penulis menggiring para pembaca yang budiman lebih mengenal Ketokohan mufassir kontemporer. Tiada lain dan bukan ialah seorang Mufassir terkemuka bernama Sa’id dan dengan kedalaman ilmunya sehingga beliau pun dikenal dengan sebutan “Badi’u Az-Zaman” karena keilmuannya yang intens melakukan penafsiran sehingga dari penafsirannya tersebut mampu menjawab berbagai persoalan keagamaan kontemporer. Nama lengkap beliau adalah Badiuzzaman Sa’id Nursi, sedangkan kata “Nurs” adalah yang dinisbahkan dari tempat kelahirannya. Oleh karenanya, agar informasi menjadi lebih jelas tentunya dengan menelusuri kehidupan beliau sebagaimana biografi singkat berikut ini:

Ketokohan Mufassir Kontemporer Badiuzzaman Sa'id Nursi
Iqt.unida.gontor.ac.id

Biografi Singkat

Badiuzzaman Sa’id Nursi lahir pada tahun 1293 H (1877 M) di desa Nurs, daerah Bitlis, Anatolia timur. Menurut sejarah keilmuan dan pendidikannya, mula-mula ia berguru kepada kakak kandungnya, Abdullah. Kemudian ia berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung yang lain, dari satu kota ke kota yang lain guna menimba ilmu dari sejumlah guru dan madrasah dengan semangat penuh ketekunan.

Sejak masa inilah ia mulai menyelam lautan ilmu seperti mempelajari tafsir, hadis, nahwu, ilmu kalam, fikih, mantiq, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Dengan kecerdasannya yang luar biasa, sebagaimana yang diakui oleh semua gurunya, ditambah dengan kekuatan ingatannya yang sangat tajam, ia mampu menghafal hampir 90 judul buku referensial. Bahkan ia mampu menghafal buku Jam‘ul Jawâmi’ (di bidang usul fikih) hanya dalam tempo satu minggu. Ia sengaja menghafal di luar kepala semua ilmu pengetahuan yang dibacanya. Dengan bekal ilmu yang telah dipelajarinya, kini Said Nursi memulai fase baru dalam kehidupannya. Seperti beberapa forum munâzharah (adu argumentasi dan perdebatan) telah dibuka dan ia tampil sebagai pemenang mengalahkan banyak pembesar dan ulama di daerahnya.  

Kedalaman Ilmu hingga julukannya

Pada tahun 1894 M, ia pergi ke kota Van. Di sana ia sibuk menelaah buku-buku tentang matematika, falak, kimia, fisika, geologi, filsafat, dan sejarah. Ia benar-benar mendalami semua ilmu tersebut hingga bisa menulis tentang subjek-subjek tersebut. Karena itulah, ia kemudian dijuluki “Badiuzzaman” (Orang yang tak ada bandingan di zamannya) sebagai bentuk pengakuan para ulama dan ilmuwan terhadap kecerdasannya, pengetahuannya yang melimpah, dan wawasannya yang luas.

Pada saat itu, di sejumlah harian lokal, tersebar berita bahwa Menteri Pendudukan Inggris, Gladstone, dalam Majelis Parlemen Inggris, mengatakan di hadapan para wakil rakyat, “Selama al-Qur’an berada di tangan kaum muslimin, kita tidak akan bisa menguasai mereka. Oleh karena itu, kita harus melenyapkannya atau memutuskan hubungan kaum muslimin dengannya.” Berita ini pun sangat mengguncang diri Sa’id Nursi hingga membuatnya tidak bisa tidur. Ia berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Akan kubuktikan kepada dunia bahwa al-Qur’an merupakan mentari hakikat yang cahayanya tak akan padam dan sinarnya tak mungkin bisa dilenyapkan.” Tegasnya.

Kiprah Dunia Perantauannya

Pada tahun 1908 M, ia pergi ke Istanbul. Ia mengajukan sebuah proyek kepada Sultan Abdul Hamid II untuk membangun Universitas Islam di Anatolia Timur dengan nama “Madrasah az-Zahra” guna melaksanakan misi penyebaran hakikat Islam. Pada universitas tersebut studi keagamaan di padukan dengan ilmu sains, sebagaimana ucapannya yang terkenal, “Cahaya kalbu adalah ilmu-ilmu agama, sementara sinar akal adalah ilmu sains. Dengan perpaduan antara keduanya, hakikat akan tersingkap. Adapun jika keduanya dipisahkan, maka fanatisme akan lahir pada pelajar ilmu agama, dan skeptisisme akan muncul pada pelajar ilmu sains.

Pada tahun 1911 M, ia pergi ke negeri Syam dan menyampaikan pidato yang sangat berkesan, di atas mimbar Masjid Jami Umawi. Dalam pidato tersebut, ia mengajak kaum muslimin untuk bangkit. Ia menjelaskan sejumlah penyakit umat Islam dan solusi cara mengatasinya. Setelah itu, ia kembali ke Istanbul dan menawarkan proyeknya terkait dengan Universitas Islam kepada Sultan Rasyad. Sultan ternyata menyambut baik proyek tersebut. Anggaran demi anggaran segera dicairkan dan peletakan batu pertama pun dilakukan di tepi Danau Van. Namun, Sangat sayang Perang Dunia Pertama membuat proyek ini terhenti.

Ada Apa Pada Perang Dunia Pertama

Sa’id Nursi tidak setuju dengan keterlibatan Turki Utsmani bergabung dalam perang tersebut. Namun ketika negara mengumumkan informasi perang, ia bersama para muridnya tetap ikut dalam perang melawan Rusia yang menyerang lewat Qafqas. Ketika itu, pasukan Rusia memasuki kota Bitlis, Sa’id Nursi bersama dengan para muridnya mati-matian mempertahankan kota tersebut hingga akhirnya terluka parah dan tertawan oleh Rusia, sehingga Ia pun dibawa ke penjara tawanan di Siberia.

Dalam penawanannya, ia terus memberikan pelajaran-pelajaran keimanan kepada para panglima yang tinggal bersamanya, yang jumlahnya mencapai 90 orang. Lalu dengan cara yang sangat luar biasa dan dengan pertolongan Allah SWT, ia berhasil melarikan diri. Ia pun berjalan menuju Warsawa, Jerman, dan Wina.

Bahkan ketika sampai di Istanbul, ia dianugerahi medali perang dan mendapatkan sambutan luar biasa dari khalifah, syeikhul Islam, pemimpin umum, dan para pelajar ilmu agama. Sa’id Nursi kemudian diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyyah oleh pimpinan militer di mana lembaga tersebut hanya diperuntukkan bagi para tokoh ulama. Di lembaga inilah sebagian besar bukunya yang berbahasa Arab diterbitkan. Di antaranya adalah tafsirnya yang berjudul Isyârât al-I’jaz fî Mazhân al-Îjâz, yang ditulis di tengah berkecamuknya perang, dan buku al-Matsnawi al-Arabî an-Nûrî.

Ketokohan Mufassir Kontemporer Badiuzzaman Sa'id Nursi
Picture: Salah satu karya kitab tafsir Badiuuzaman Sa’id Nursi

Meredupnya Kekhalifahan hingga ke pengasingan

Pada tahun 1922 M, Badiuzzaman Sa’id Nursi pergi ke kota Van dan di sana ia beruzlah (Mengasingkan diri untuk memusatkan perhatian dalam beribadah berzikir dan tafakkur lepada Allah Swt) di Gunung Erek yang dekat dari kota selama dua tahun. Ia melakukan hal tersebut dalam rangka melakukan ibadah dan kontemplasi.

Setelah Perang Dunia Pertama berakhir, kekhalifahan Turki Utsmani runtuh dan digantikan dengan Republik Turki. Pemerintah yang baru ini tidak menyukai semua hal yang berbau Islam dan membuat kebijakan-kebijakan yang anti-Islam. Akibatnya, terjadi berbagai pemberontakan dan negara yang baru berdiri ini menjadi tidak stabil. Namun, semuanya dapat dibungkam oleh rezim yang sedang berkuasa.

Meskipun tidak terlibat dalam pemberontakan, Badiuzzaman Sa’id Nursi ikut merasakan dampaknya. Ia pun diasingkan bersama banyak orang ke Anatolia Barat pada musim dingin 1926 M. Kemudian ia diasingkan lagi seorang diri ke Barla, sebuah daerah terpencil. Para penguasa yang memusuhi agama itu mengira bahwa di daerah terpencil itu riwayat Sa’id Nursi akan berakhir. Popularitasnya akan redup, namanya akan dilupakan orang, dan sumber energi dakwahnya akan mengering.

Risalah Nur: Sinar sebagai cahaya dari kegelapan

Sejarah membuktikan sebaliknya. Di daerah terpencil itulah Sa’id Nursi menulis sebagian besar Risalah Nur, kumpulan karya tulisnya. Lalu berbagai risalah itu disalin dengan tulisan tangan dan menyebar ke seluruh penjuru Turki.

Jadi, ketika Sai’d Nursi dibawa dari satu tempat pembuangan ke tempat pembuangan yang lain. Kemudian dimasukkan ke penjara dan tahanan di berbagai wilayah Turki selama seperempat abad. Allah Swt menghadirkan orang-orang yang menyalin berbagai risalah itu dan menyebarkannya kepada semua orang. Risalah-risalah itu kemudian menyorotkan cahaya iman dan membangkitkan spirit keislaman yang nyaris padam di kalangan umat Islam Turki saat itu. Risalah-risalah itu dibangun di atas pilar-pilar yang logis, ilmiah, dan retoris yang bisa dipahami oleh kalangan awam dan menjadi bekal bagi kalangan khawas.

Demikianlah, Badiuuzaman Sa’id Nursi terus menerus menulis berbagai risalah sampai tahun 1950 dan jumlahnya mencapai lebih dari 130 risalah. Semua risalah itu dikumpulkan dengan judul Kulliyyât Rasâ’il an-Nûr (Koleksi Risalah Nur), yang berisi empat seri utama, yaitu al-Kalimât, al-Maktûbât, al-Lama‘ât, dan asy-Syu‘â‘ât. Badiuuzaman Sa’id Nursi sendiri yang langsung mengawasi hingga semuanya selesai tercetak. Sehingga karya-karya beliau dibaca dan dikaji secara luas di Turki dan di berbagai belahan dunia lainnya.

Ketokohan Mufassir Kontemporer Badiuzzaman Sa'id Nursi
Picture: Wafatnya Badiuuzaman Sa’id Nursi

Mengenang wafatnya

Badiuuzaman Sa’id Nursi wafat pada tanggal 25 Ramadhan 1379 H, bertepatan pada tanggal 23 Maret 1960 M, di kota Urfa. Lebih tepatnya 61 Tahun yang lalu dalam usia 83 Tahun. Beliau tinggalkan sebuah jubah yang ada 100 tambalannya, beberapa helai pakaikan. Satu buah teko yang biasa beliau untuk membuat teh dan juga beberapa barang lainnya. Dari segi keduniaan beliau tokoh yang tidak punya apa-apa, tapi yang beliau tokoh yang meninggalkan sebuah karya monumental, Risalah Nur beserta murid-muridnya. Sedangkan Risalah Nur sudah diterjemahkan lebih dari 60 bahasa dan dibaca serta dikaji di seluruh dunia. Wallahu ‘Alam Bissawab.

Minggu Literasi: Klinik proposal dan Workshop Penulisan proposal Skripsi

Iqt.unida.gontor.ac.id. Hall Cios – Minggu literasi adalah upaya untuk meningkatkan intelektualitas mahasiswa. Sebagaimana Universitas Darussalam Gontor secara bersamaan adalah perguruan tinggi bersistem pesantren yang sangat mendukung adanya kegiatan Akademik dan Non-Akdemik. Kegiatan Non-Akademik tentunya dilaksanakan diluar perkuliahan di mana harapannya dapat memberikan sumbangsih pengetahuan dan intelektual sebagai penunjang kegiatan Akademik. Oleh karenanya klinik proposal dan workshop penulisan proposal skripsi ini adalah bagian dari rentetan acara minggu literasi yang dikhususkan bagi segenap mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir semester 6. Hari Ahad, 21 Maret 2021, pukul 08.00-10.47.

Minggu Literasi: Klinik proposal danWorkshop Penulisan proposal Skripsi
Photo: Sambutan oleh Ust. Ahmad Fadli Rahman (Kaprodi IQT) dalam acara pembukaan minggu literasi

Opening Acara

Pada pembukaan acara ini yang dibuka secara resmi oleh Kepala Program Studi IQT yaitu Al-Ustadz Ahmad Fadli Rahman Akbar. M.Us, beliau berpesan bahwa “Kegiatan ini sangatlah begitu penting, skripsi itu penting, dan dari proses yang dijalani inilah berguna untuk mencapai keinginan dalam penulisan proposal skripsi yang baik dan cepat selesai menjadi sarjana. Maka jangan lupa saling me-suport sesama teman dan sangatlah merugi bagi yang tidak memanfaatkan waktu berharga ini dengan tidak mendapatkan apa-apa dari kegiatan ini.” Jelasnya.

Adapun kegiatan pertama dalam rentetan “minggu literasi” ini, yaitu berupa “klinik proposal dan workshop penulisan proposal skripsi” yang diisi dan dipandu oleh Al-Ustadz Dr. Sujiat Zubaidi Saleh. M.A. Tentunya sebelum masuk pada klinik proposal. Ust. Sujiat menyampaiakan “Agar masing-masing memiliki motivasi yang kuat sehingga dapat mengembangkan diri, mengembangkan prestasinya serta memunculkan potensinya.” Tegasnya.

Selebihnya, beliau telah menyiapkan 5 contoh model desain proposal skripsi yang mencakup beberapa tema dari judul-judul yang akan direview yaitu terdiri dari (Kajian sains, kajian semantik, kajian munasabah, kajian tokoh dan kajian tematik). Sebagai bahan representasi dan acuan para peserta dalam menyusun proposal.

Minggu Literasi: Klinik proposal danWorkshop Penulisan proposal Skripsi
Photo: Penyampaian materi Klinik proposal dan Workshop penulisan proposal skripsi bersama Ust. Dr. Sujiat Zubaidi Saleh. M.A.

Poin Penting Acara

Pada inti acara ini adalah Ust. Sujiat juga berpesan sebagaimana dalam catatan beliau kepada para peneliti bahwa “Untuk teman-teman yang memiliki judul, juga masih perlu untuk memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan judul. Bukan hanya sebatas judul tersebut mempunyai 2 hal penting dimana terdapat objek formal dan objek pendukung, melainkan sangat perlu diperhatikan adalah apasih dari korelasi dan signifikansinya? Apakah dari judul itu mungkin dapat diambil manfaatnya? Ataukah hanya sekedar judul yang mengambang mengangkasa dan memang terlalu dalam untuk diungkapkan.” Pungkasnya.

Begitupun dalam mencari sumber data tentunya peniliti harus jeli dan harus bisa memilih serta memilah yang terpenting dari yang penting-penting.

Minggu Literasi: Klinik proposal danWorkshop Penulisan proposal Skripsi
Photo: Kebersamaan Mahasiswa IQT Semester 6 Bersama Ust. Dr. Sujiat Zubaidi, Ust. Ahmad Fadli Rahman (Kaprodi IQT), dan Ust. Mahmud Rifanuddin (Dosen Pembimbing Akademik).

Penutup

Dengan demikian, sebagai penutup dalam hal kegiatan semacam ini tentunya memiliki muara yang dituju dengan tujuan yaitu mendalami pengetahuan tentang proposal dan karya tulis ilmiah (skripsi) dengan baik dan benar, sehingga akan menjadikan penelitiannya yang bermanfaat dan sesuai dengan target lulusan program studi.

Al-Quran sebagai Hidayah ummat manusia

alquran sebagai hidayah ummat manusia

Alquran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara mutawatir (bersambung) dengan perantaraan Malaikat Jibril, dan berpahala bagi orang yang membacanya. Demikianlah makna Al-quran sebagaimana dijelaskan oleh Subhi As-Salih dalam kitabnya Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an dan Jalaluddin As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an, serta Manna’ al-Qattan dalam Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an.

Alquran berisi tentang berbagai hal, mulai dari masalah ibadah, amaliyah (perbuatan) manusia, hari akhir, kisah-kisah umat terdahulu, kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada rasul-rasul-Nya, sejarah, serta ilmu pengetahuan.

Alquran diturunkan dalam bahasa Arab untuk memudahkan Rasul SAW dalam memahaminya dan mengajarkannya kepada seluruh umat manusia. Lihat surah Ar-Ra’du ayat 37, An-Nahl : 103, Fushshilat : 3 dan 44, Al-An’am : 156, Thaaha [20]: 113, Asy-Syu’ara : 7 dan 195, Az-Zumar : 28, Az-Zukhruf : 3, dan Al-Ahqaf : 12.

”Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Alquran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (Ar-Ra’du [13]: 37.

Karena itulah, di dalamnya kemudian dikenal dengan berbagai jenis ilmu pengetahuan bahasa, seperti nahwu, sharaf, balaghah, mantiq, arudl, ma’ani, dan bayan.

Alquran diturunkan secara berangsur-angsur. Tujuannya agar lebih mudah dipahami, dihafal, serta diamalkan. Cara seperti ini, maka Nabi Muhammad SAW akan memudah memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang diajukan oleh umatnya maupun orang-orang kafir.

Asbab an-Nuzul
Dan di antara ayat-ayat Alquran itu, terdapat sejumlah ayat yang berkaitan dengan peristiwa atau pertanyaan dari para sahabat Rasul SAW. Di antaranya, seperti permintaan Umar bin Khathab agar Rasul SAW berdakwah secara terang-terangan, dan tidak lagi sembunyi-sembunyi. Lihat surah al-Mudatstsir, yang memerintahkan Rasul SAW untuk berdakwah secara terbuka.

Kemudian, kisah seorang buta yang meminta kepada Rasul SAW agar menerangkan tentang hukum-hukum Allah. Namun, karena sedang menerima tamu, Rasul merasa kurang senang menerangkannya dan terlihat wajahnya kurang ceria. Allah kemudian menegur Rasul dengan menurunkan surah ‘Abasa [80].

Selain kedua kisah tersebut di atas, banyak ayat Alquran lainnya yang diturunkan berkenaan dengan pertanyaan para sahabat Rasul SAW. Secara lengkap dapat dilihat dalam kitab Asbab an-Nuzul, karya Jalaluddin As-Suyuthi.

Dari beberapa surah atau ayat yang diturunkan berkaitan dengan pertanyaan atau sikap sahabat, terdapat beberapa nama sahabat yang dijamin oleh Rasul SAW sebagai penghuni surga (Asyarat al-Kiraam). Selain itu, diceritakan pula kisah beberapa sahabat yang dermawan (pengusaha), para wanita Muslim, dan lainnya. Di antara sahabat-sahabat itu, terdapat pula di antaranya orang-orang yang bukan berasal dari Arab, seperti Bilal bin Rabah (muazin Rasul SAW) dan Salman Al-Farisi.

Apakah yang menjadi sebab turunnya ayat (Asbab An-Nuzul) berkaitan dengan diri sahabat itu? Bila melihat keberadaan tokoh-tokoh itu sebagai ‘pelaku sejarah’ dari turunnya Alquran, menunjukkan bahwa para sahabat itu adalah orang-orang yang hebat, wara’, tawadlu, jujur, dan sepenuh hati mengamalkan Islam. Hal ini terbukti dengan sifat dan akhlak mereka dalam membela dan memperjuangan syiar Islam.

Menurut Ibnu Abbas RA, salah seorang sahabat dan mufassir hebat awal permulaan Islam, nama-nama sahabat yang menjadi ‘sebab turunnya’ ayat-ayat Alquran itu bertujuan untuk memudahkan Rasul SAW dalam menjelaskan dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan atau penolakan suatu pendapat yang diutarakan oleh para sahabat Nabi SAW maupun orang-orang kafir.

Menurut Syekh Muhammad Husain Ath-Thabathaba’i dalam kitabnya Al-Qur’an fi Al-Islam, mempelajari ilmu-ilmu sebab turunnya ayat (Asbab An-Nuzul) itu sangat penting dalam mempermudah seseorang dalam mengetahui ayat dan memahami makna serta kandungan yang ada di dalam Alquran, serta rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya.

Namun demikian, terdapat sejumlah ulama yang tidak menerima adanya ilmu (Asbab An-Nuzul) ini. Menurut mereka, Alquran tersebut sudah tertulis sejak di Lauh al-Mahfudz sebelum diturunkan kepada Rasulullah SAW.

Saatnya Diet Informasi

Infobesitas adalah sebuah kondisi dimana seseorang mengkonsumsi informasi dalam jumlah yang besar secara terus-menerus serta cenderung memberikan dampak negative pada tubuh.

Anda mungkin pernah membutuhkan suatu barang kemudian anda memutuskan mencari informasi dari dunia maya. Dalam benak anda, anda akan yakin mendapat informasi yang detail demi memutuskan barang yang akan dibeli dengan singkat dan tepat. Tetapi apa yang terjadi? Selama hampir berjam-jam anda hanya menikmati varian informasi barang tanpa memutuskan untuk membelinya. Anda belum dapat memutuskan pembelian barang tidak dikarenakan minimnya informasi yang anda dapat, melainkan kelebihan informasi yang anda terima. Yap, itu adalah infobesitas (infobesity) atau keberlebihan informasi (information overload).

Infobesitas adalah sebuah kondisi dimana seseorang mengkonsumsi informasi dalam jumlah yang besar secara terus-menerus serta cenderung memberikan dampak negative pada tubuh. Penyakit Infobesitas pertama kali didengungkan pada tahun 2010 oleh Rosa-Maria Koolhovens seorang pengamat trend remaja di Belanda. Pada dasarnya infobesitas dan obesitas hampir sama, jika obesitas adalah penyakit kelebihan berat badan karena konsumsi junkfood atau makanan cepat saji, maka sama halnya dengan infobesitas yang disebabkan oleh kelebihan junkinfo atau informasi yang kurang penting atau bisa dibilang tidak berguna. Namun ada perbedaan diantara kedua penyakit ini. Penderita obesitas menyadari bahwa dirinya mengalami kegemukan, namun tidak dengan penderita infobesitas. Penderita infobesitas tidak menyadari bahwa dirinya telah terjangkit penyakit yang mengerikan ini.

Penyebab infobesitas adalah menumpuknya informasi yang merupakan dampak dari penggunaan internet dan boomingnya gawai sebagai perangkat komunikasi yang bisa dimiliki hamper setiap orang, terjadi ledakan kuantitas informasi yang kemudian dikenal dengan era keberlimpahan informasi (abundance of information era). Tsunami informasi menerjang keseharian kita sehingga menjadi epidemi baru yang melanda dunia. Di samping permasalahan kualitas informasi (hoax, fake news, miss information) kuantitas informasi juga menjadi masalah, sebagaimana kemacetan lalu-lintas di banyak kota besar yang menjadi permasalahan serius saat ini karena jumlah kendaraan melebihi kemampuan-layanan prasarana jalan yang ada, demikian pula infobesitas. Jumlah informasi yang men-tsunami berlebih mengakibatkan terjadinya penyumbatan arus informasi di sana-sini, memperlambat system kognitif kita, bahkan menjadikan sistem dan metabolisme fisik terpaksa harus melakukan force-closed atau restart, dikarenakan kemampuan kognitif manusia yang belum terlatih untuk memproses sebegitu banyak jumlah informasi yang ada. Sebuah riset di Amerika menunjukkan bahwa rata-rata orang Amerika mengkonsumsi informasi sebesar 34 GB setiap harinya. Seperti halnya obesitas, sumber “makanan” informasi juga berasal dari banyak sumber semisal laporan- laporan, brosur, iklan, streaming video dan audio, e-mail, media sosial, dan sumber online lainnya. Yang cukup mengejutkan adalah, ternyata informasi yang mengalami penumpukan itu sendiri kebanyakan bukanlah informasi yang penting. Jika berkaca pada realita yang ada, banyak orang, khususnya remaja yang memanfaatkan jejaring sosial secara berlebihan entah hanya sekedar untuk update status ataupun membaca informasi yang sebenarnya tidak begitu penting baginya. Umumnya, gejala yang dialami penderita infobesitas adalah kesulitan dalam menyaring informasi, memahami isu, dan bahkan mengambil keputusan mengenai kebenaran sebuah informasi.Jadi, sebagai generasi muslim penerus bangsa perlukah kita untuk diet media sosial?*

Lomba Pidato 3 Bahasa dan Haflatu Tilawatil Qur’an

Lomba Pidato 3 Bahasa dan Haflatu Tilawatil Qur’an merupakan salah satu kegiatan sunnah yang ada di Gontor Putri Kampus 3. Kegiatan tersebut diadakan setiap tahunnya, dan pada tahun ini digelar pada hari Selasa (15/12) di Auditorium Gontor Putri Kampus 3. Lomba ini dibagi ke dalam dua bagian yaitu Lomba untuk siswi kelas 1-4 dan siswi kelas 5. Peserta berjumlah 13 orang siswi, 3 siswi dengan pidato bahasa Arab, 3 siswi dengan pidato bahasa Inggris, 3 siswi dengan pidato bahasa Indonesia dan 4 siswi peserta lomba Haflatu Tilawatil Qur’an.
Sebelum acara dimulai, para penonton dihibur oleh lantunan suara merdu dan dentungan gendang yang senada dari klub Marawis Gontor Putri Kampus 3, dilanjutkan dengan sambutan oleh bapak wakil pengasuh Gontor Putri Kampus 3 Al-Ustadz Suwarno TM. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa: “Manfaat pidato itu 1. Pembentukan mental, 2. Pembentukan Mundzirotul Qoum, 3. Peningkatan bahasa”. Sesuatu yang berbeda dari acara Lomba Pidato 3 Bahasa dan Haflatu Tilawatil Qur’an sebelumnya, pada acara kali ini para peserta memasuki ruangan dengan digandeng oleh wali kelas masing-masing. Hal tersebut dilakukan untuk menguatkan dan menyemangati peserta.
Acara ini bertujuan untuk melatih mental santriwati dalam hal berkomunikasi di depan khalayak ummat, dan demi mengembangkan bakat santriwati dalam bidang Qira’atul Qur’an yang dapat meningkatkan rasa percaya diri santriwati sehingga mampu menjadi orang-orang yang unggul nantinya.Salah satu peserta lomba pidato sedang menunjukkan kemampuan berpidatonya
Para penenonton sanagat antusias menyaksikan acara tersebut, apalagi ketika yang sedang tampil adalah kawan seangkatan, mereka memberikan semangat dengan tepukan tangan dan beberapa yeling yang mereka miliki. Dengan adanya acara ini, diharapkan seluruhnya dapat mengambil pelajaran yang bermanfaan bagi pengembangan diri masing-masing. Acara diakhiri oleh pembacaan nama-nama pemenang lomba oleh dewan juri sekaligus pembagian hadiah.
Nama-nama pemengang lomba Pidato 3 Bahasa dan Haflatu Tilawatil Qur’an:
Brilian Ajeng Pertiwi 1 Intensif F Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Arab
Mardina Murti Sari 3 Intensif B Juara 2 Lomba Pidato Bahasa Arab
Addina Silmi Khairun Nisa 4E Juara 3 Lomba Pidato Bahasa Arab
Naila Nur Azizah 1B Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Inggris
Fatimah Nur 3 Intensif B Juara 2 Lomba Pidato Bahasa Inggris
Tristania Nabila 3B Juara 3 Lomba Pidato Bahasa Inggris
Wardah Chiifah Qoni’Ah 1 Intensif F Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Indonesia
Ayu Dea Nabila 1 Intensif F Juara 2 Lomba Pidato Bahasa Indonesia
Fina Najma 3C Juara 3 Lomba Pidato Bahasa Indonesia
Afriliyah Rously 3 Intensif B Juara 1 Lomba Haflatu Tilawatil Qur’an
Azzahra Pramenistya Putri 1 Intensif C Juara 2 Lomba Haflatu Tilawatil Qur’an
Zahrotul Hayati 4G Juara 3 Lomba Haflatu Tilawatil Qur’an