webinar nasional qurais 2021

IQT Siman-Quranic Festival atau Qurais 2021 adalah acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dengan tujuan mengembangkan potensi dan bakat mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir universitas darussalam gontor khususnya dan umumnya pada seluruh mahasiswa indonesia. Dengan adanya acara ini diharapkan mahasiswa dapat berlomba dalam kebaikan serta memperkuat kejujuran dan sportifitas. Selain kompetisi qurais 2021 juga mengadakan webinar nasional qurais 2021

Dalam webinar nasional qurais 2021 yang diadakan di hal CIOS kamis, 28 Februaru 2021, yang diadakan secara online dan offline, Webinar ini mengangkat tema “The Qur’an as a source of science in strengthening agrotechnology in indonesia” dengan menghadirkan pemateri secara daring yang menguasai bidangnya diantaranya Ahmad Sarwat, Lc., M.A. Ketua Umum DU center yang membahas tentang sains dalam ayat Qur’an dari buku yang beliau tulis dengan judul “Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir” yang mengulas seputar Ayat-ayat kawniyah atau Sains yang lebih banyak daripada ayat muhkamat di dalam Al Qur’an.

Selain beliau pemateri lainnya adalah Prof. Dr. Agus Purwanto, M. Sc, D. Sc. selaku pakar dalam ilmu fisika dan guru besar ITS Surabaya, beliau membahas tentang 800 ayat-ayat semesta yang terlupakan.

Beliau menjelaskan perbandingan antara negara Indonesia atau negara muslim dan negara maju yang lainnya dengan perbandingan ilmuwan dan teknologi nya. Beliau menjelaskan bahwa kemunduran islam terjadi setelah al ghozali abdul falasah yng menggempur 20 persoalan yang di bahas dapam kitan ini. Yang membuat umat islam meninggal kan ilmu rasional seperti matematika,logika dan fisika hingga sampai saat ini. Meskipun ibnu Rusdi melawan dengan bukunya namun masih belum bisa mengalahkan buku imam Ghozali. Saat ini yang harus kita lakukan adalah intensifikasi atau menggali alam sesuai dengan Al-Qur’an. Menarik nya bahwa aqala dengan dhomir hum hanya di ulangi sebanyak 22 kali dan dhomir antum di ulangi sebanyak 24, dari sini kita bisa mengetahui bahwa di wajibkan nya berpikir bagi seorang muslim. Setelah itu beliau menjelaskan ayat ayat sains beserta penjelasan sains nya contohnya:

1. Hukum alam matahari (48.23)

2. Lautan terbelah (55: 19-20)

3. Fenomena petir (2:20)

4. Gunung jadi pasak ( 27:28)

5. Ratu semut ( an naml )

Dan satu lagi pemateri adalah Haris Setyaningrum, M.Sc. yang hadir secara langsung di hall cios, beliau adalah dekan fakultas SAINTEK universitas darussalam gontor, sebagai pakar agrotek beliau membahas iklim dan cuaca dalam pertanian masa keemasan islam.

Beliau menjelaskan bagaimana ketika abad 9 dan 10 ketika Cordova menjadi pusat peradaban sekitar 5 abad lamanya kita di pimpin oleh islam. Beliau merujuk pada kitab al anwa’ by arib ibn sa’d. Menjadi karya monumental di al hakam dua. Beliau melanjutkan dengan penjelasan tentang geografi cordova dan setiap iklim perbulannya sesuai dengan kalender muslim dalam pertanian (astronomis dan kondisi meteorologis). Di dalam tradisi islam kondisi ekologis sangat di apresiasi. Teknik teknik pertanian selalu di perbarui sesuai ikllim yang berbeda beda. Dua peradaban besar mesti di bangun dengan pertanian dan perdagangan.

Dengan diadakannya seminar ini diharapkan dalam acara qurais 2021 dapat menambah wawasan tentang ilmu Al-Qur’an dan Sains dalam Al-Qur’an itu sendiri.

Pembukaan Quranic Festival atau Qurais 2021

IQT Siman-Quranic Festival atau Qurais 2021 adalah acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dengan tujuan mengembangkan potensi dan bakat mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir universitas darussalam gontor khususnya dan umumnya pada seluruh mahasiswa indonesia. Dengan adanya acara ini semoga mahasiswa dapat berlomba dalam kebaikan serta memperkuat kejujuran dan sportifitas. Kompotisi nasional ini juga diharapkan dapat menjadi ajang silaturahim antar mahasiswa seindonesia.

Acara Quranic Festival atau Qurais 2021 diadakan 2 hari, mulai pada Selasa 16, februari sampai Sabtu, 20 Februari. Runtutan acara dimulai Pada Selasa malam, 16 Februari 2021 pada pukul 20.00- 21.30 WIB dengan Acara pembukaan, acara dibuka dengan prosesi simbolik pemotongan pita oleh dekan Fakultas Ushuliddin Al-Ustadz Syamsul Hadi Untung, M.A., MLS.

Dalam kesempatan malam ini beliau memberi amanat dengan mengutip perkataan Dr zakir naik “Al-Qur’an bukan buku yang berisi sains tapi Al-Qur’an yang berisi kebenaran”, sehingga perlu disemarakkan kegiatan-kegiatan Qur’ani yang mewujudkan Al_qur’an yang di baca, di kaji, di fahami, di hayati atau di renungkan isi nya dan di amalkan.

Pada kesempatan malam ini Al-Ustadz Ahmad Fadly Rahman Akbar, M.Us selaku Ketua Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Juga turut memberi sambutan pada acara pembukaan QURAIS 2021 ini, Beliau berpesan bahwa sejatinya diadakannya acaar QURAIS 2021 ini untuk meningkatkan potensi mahasiswa dan untuk melihat kemampuan diri sehingga peserta diharap dapat menunjukan kualitas terbaik dan niat terbaik.

Acara diakhiri dengan technical Meeting dengan dewan juri dari setiap cabang lomba dan peserta delegasi tiap kampus, meskipun beberapa delegasi kampus mengikutinya secara online akan tetapi acara tetap berjalan sesuai yang diharapkan.

Semoga QURAIS 2021 dapat berjalan dengan lancar hingga akhir acara.

dan Selamat berkompetisi dengan Sportif dalam Acara QURAIS 2021.

6 Proposal PKM Mahasiswa IQT lolos Pendanaan Internal

iqt.unida.gontor.ac.id– Setiap tahun, Universitas Darussalam Gontor mengadakan kompetisi Penulisan karya ilmiah dan menyalurkan dana hibah internal kepada proposal PKM yang terpilih. Pada kompetisi di tahun 2021 ini telah terpilih 26 proposal PKM untuk mendapat dana hibah internal PKM. Dan alhamdulillah atas berkah doa, usah dan atas izin Allah dari 8 proposal yang diajukan oleh perwakilan mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir diantaranya 6 Proposal PKM Mahasiswa IQT lolos Pendanaan Internal unida tahun 2021, dan mejadi prodi dengan jumlah proposal terbanyak lolos pendanaan internal PKM tahun 2021.

adapun 6 Proposal PKM Mahasiswa IQT lolos Pendanaan Internal sebagai berikut

No Skema Ketua Judul
1 PKM-K M. Rafli Rofiki “KOACH”, Produk herbal Celup dengan Pengemasan Kertas Filter Food Grade yang Praktis
2 PKM-K Muhammad Abdi Kurniawan “KORO”, Kripik Lamtoro
3 PKM-GFK Muhammad Khoerul Rizal Ekowisata Gunung Kapur Sampung Ponorogo
4 PKM-KC Ahmad Maulana Akbar Aplikasi Al-Qur’an Tani Informasi Integrasi Al-Qur’an dan Pertanian di Era Sekarang
5 PKM-KC Muhammad Sayuti Kit Edukasi Laboratorium Sains Qur’an “LABSAQU” Sebagai Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Integrasi Al-Qur’an, Sains dan laboratorium
6 PKM-KC Fahmi Akhyar Al-Farabi IoT ( Internet of Things) AQUAPONIK : “Implementasi Abasa Dalam Inovasi di Bidang Pertanian dan Perikanan”

Alhamdulillah Atas izin Allah Prestasi-Prestasi mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir kian waktu kian bertambah. Harapan kedepannya geliat aktivitas penelitian di UNIDA agar lebih hidup dan produktif.

Setiap Prestasi yang ditorehkan tak lain adalah bukti kebermanfaatan serta peran nyata mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dalam berkontribusi untuk bangsa dan agama, ilmu yang tak berhenti hanya pada ranah kelas dan nilai angka tapi juga bermanfaat bagi sesama.

El-Furqon 1.0 “Al-Qur’an Sebagai Solusi Generasi Muda Untuk Menyongsong Masa Depan”

iqt.unida.gontor.ac.id– Al-Qur’an adalah kitab suci yang menjadi pedoman bagi semua manusia disemua bidang kehidupan. Banyak permasalahan yang datang dalam kehidupan, karena pada hakikatnya kehidupan adalah gerakan untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk menghindarinya atau bahkan membuat masalah baru yang merisaukan umat. Mahasiswi sebagai agent of change dapat berperan langsung di kalangan masyarakat kelak dan dapat memberikan inovasi serta kreasinya dalam memajukan bangsa. Oleh karena itu, mereka memerlukan pedoman sebagai rujukan dalam mengatasi segala permasalahan dalam kehidupan, sehingga mereka mampu mengemban amanat serta memajukan bangsa Indonesia. Salah satu sumbangsih mahasiswa dalam hal ini adalah menciptakan lingkup pendidikan salah satunya dengan kegiatan keilmuan. Untuk itulah Himpunan mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) mengadakan El-Furqon 1.0, yaitu suatu kegiatan yang diketuai oleh Wafiq Muthiah Ulya Ibrahim (IQT/4), Ulfa Hanifah (IQT/4) dan Aliefa Rani Iswara (IQT/2),  mencakup didalamnya seminar, serta beberapa macam perlombaan yang melibatkan seluruh mahasiswi UNIDA Kampus Putri.

Acara yang berlangsung pada 3-8 Januari 2021 ini bertema “Al-Qur’an Sebagai Solusi Generasi Muda Untuk Menyongsong Masa Depan” dan dibuka dengan Webinar Nasional dengan pemateri Al-Ustadz Ilham Habibbullah, M. Ag  dan Al-Ustadzah Tsani Liziah, S.Hum, Dipl. Tujuan diadakan El-Furqon 1.0 adalah untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan spiritualitas Mahasiswi dengan cara mengkaji Al-Qur’an lebih dalam dan menjadikannya pedoman di setiap aspek kehidupan dalam lingkup Universitas pesantren. Diambil dari salah satu nama Al-Qur’an Al-Furqon (pembeda), Program Studi IQT berharap dengan diadakannya kegiatan ini, mahasiswi UNIDA dapat menjadi pribadi yang lebih baik yang dapat membedakan antara kebathilan dan kebenaran.

Pada penutupan El-Furqon 1.0, Al-Ustadz Nur Hadi Ihsan, MIRKH, selaku Dekan UNIDA Kampus Putri memberikan apresiasi atas diselenggaranya acara ini. Beliau menyampaikan bahwa dengan dimulainya El-Furqon 1.0 dapat memicu keilmuan kita dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pondasi ilmu dan akhlak kita. Karena Al-Qur’an adalah mabda’ dan mashdar ilmu pengetahuan. (Nindhya Ayomi)

Forum kajian Tafsir (FASSIR) Memahami makna lita’arofu pada surat al hujurat dalam bersosialisasi

http://iqt.unida.gontor.ac.id/ Salah satu agenda rutin yang dimiliki prodi ilmu alqur’an dan tafsir adalah forum kajian tafsir (FASSIR). Pada kajian pekan ini Senin, 21 Desember 2020, Pada kesempatan kali ini, FASSIR mengangkat materi dengan tema “Memahami Makna Lita’arofu Pada Surat Al Hujurat Dalam Bersosialisasi” yang dibawakan oleh Al Ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec. selaku Wakil Rektor III Universitas Darussalam Gontor.

Dalam kesempatan kali ini Al Ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec. mengulas makna lita’arofu pada surat al hujurat dalam bersosialisasi dan beliau merujuk pada Tafsir Jalalain yang ditulis oleh Jalal Al Makhalliy dan Jalal As Suyuti.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

dalam tafsir tersebut dijelaskan manusia memang diciptakan dalam kondisi yang berbeda-beda atau bervariatif, dan dari perbedaan inilah manusia akan saling mengenal. dijelaskan bahwa makna “Min dzakarin wa unsa” bermakna dua, yaitu (Nabi Adam dan Hawa) dan (Laki-laki dan Perempuan), dan adapun Sa’ab adalah kelompok yang paling tinggi di bangsa Arab dan khobail adalah kelompok yang posisinya di bawahnya Sa’ab.

Dalam Bersosialisasi

Dalam bersosialisasi, semua manusia sama dan setara, dan perbedaannya hanya dari segi ketaqwaan. Hal ini bukan untuk sombong dalam bergaul atau dalam pertemanan, karena buah dari ta’arofu adalah akhlaq. Mengutip dari ayat Al Qur’an; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujurat: 13).

Makna Lita’arofu

Penjelasan dari ayat tersebut, yakni;  Diciptakannya manusia berbeda-beda “Li ta’arofu” (untuk saling mengenal). dalam implementasi ta’arofu ini terdapat adab dan cara, dengan ta’arofu seharusnya kita lebih menghargai orang lain, karena tingkat ketaqwaan kita berbeda-beda dan kita tidak akan bisa menilai ketaqwaan orang lain, karena boleh jadi ketaqwaan orang lain jauh lebih tinggi daripada kita. Maka orang mu’min tidak boleh merasa lebih tinggi dan tidak boleh merasa lebih rendah dari orang lain (Inna akromakum ‘indallahi atqokum).

hadist Nabi pernah menjelaskan tentang hal ini yaitu; “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian” (HR. Muslim). 

Letak taqwa ada di dalam hati (tidak terlihat) dan muncul dalam perbuatan sehari-hari. “Taqwa itu adalah ketika kita bisa bergaul dengan siapapun, termasuk dengan orang kafir tanpa mengurangi atau menghilangkan ketaqwaan dan identitas kita sebagai seorang muslim”.

Berbagai perbedaan yang ada di dunia ini adalah tanda kebesaran Allah SWT, seperti perbedaan bahasa yang ada. Asbabun nuzul dari ayat ini adalah kisah Bilal Bin Rabbah, yang mana dia dulunya adalah seorang budak, namun dipilih untuk mengumandangkan adzan oleh Nabi, walaupun Bilal merupakan mantan seorang budak dan berkulit hitam. hal Ini adalah bukti kebenaran Islam dalam keadilan dan kesetaraan, tidak memandang seseorang dari derajat atau pun kulitnya, namun melihat dari ketaqwaan hambanya kepada Allah. sehingga bila dikaitkan dengan konsep toleransi, maka islam telah mengajarkan konsep ini sejak dahulu, sehingga jangan mengajari islam tentang tolernsi, karena dari dulu islam sudah bertoleransi. Justru orang-orang yang tidak beragama lah yang tak bertoleransi. Namun pada zaman sekarang, fakta diputar-balikkan dan justru kita lah yang diajari untuk bertoleransi, lanjut al ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec.

Forum Kajian tafsir (FASSIR) Menguatkan Aqidah dengan Akhlak Qur’ani

http://iqt.unida.gontor.ac.id/ Salah satu agenda rutin yang dimiliki prodi ilmu alqur’an dan tafsir adalah forum kajian tafsir (FASSIR). Pada kajian pekan ini Senin, 21 Desember 2020 , FASSIR menghadirkan pemateri yang sudah ahli dalam keilmuannya yakni Al Ustadz Dr. Asif Trisnani, Lc., M.A. yang membawakan materi “Menguatkan Aqidah dengan Akhlak Qur’ani”.

Pada kesempatan kajian yang diadakan di hall hotel UNIDA ini Dr. Asif Trisnani, Lc., M.A. membahas the living al-qur’an; sebuah qur’anic worldview tentang aqidah dan akhlak. Di awal kajian, beliau menyampaikan akhlak yang keluar dari syariat allah dan istilah revolusi akhlak yang akhir-akhir ini sering muncul. Didalam surat al Qalam ayat 4 yang berbunyi “و إنك لعلى خلق عظيم” yang memiliki maksud bahwasannya akhlaq rasulullah adalah al qur’an. Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar berislam harusnya menghadirkan narasi sebagai dasar kebijakan kita. Keyakinan dan perbuatan harus saling menguatkan, karena keduanya saling mencerminkan antara satu dan lainnya. “Al-Iman wal ‘amalu-sh-sholeh”.

untuk mengidupkan al-qur’an maka perlu tradisi membaca alqur’an yang baik, menganalisa dan mengamalkannya. jika terjadi ketidakseimbangan maka al qur’an dapat menjadi sumber radikalisme karena pemahaman text saja tanpa melihat Riwayat asbabun nuzulnya dan penafsiran ayatnya.

Living Al-Qur’an

Living al qur’an adalah bentuk pendekatan baru terhadap Al-Qur’an itu sendiri. Dan living al qur’an bisa di maknai sebagai teks al qur’an yang hidup dalam diri seseorang karena dipelajari, dibaca dan di amalkan. maka Menguatkan Aqidah dengan Akhlak Qur’ani tercapai ketika al qur’an menjadi dasar perilaku atau akhlak maka kemudian ia akan memperkuat aqidahnya .

Pada salah satu sesi pertanyaan beliau sempat menjawab sebuah pertanyaan tentang bentuk living al qur’an yang berkembang ditengah masyarakat kita bahwa sebagian masyarakat menjadikan nash nash al qur’an sebagai jimat, maka hal ini sudah keluar dari koridor tujuan turunnya al qur’an. Sehingga saat kita temui ada tradisi yasinan setelah kematian maka membaca al qur’annya tersebut diperbolehkan namun pengkhususan waktu membacanya yang perlu diperhatikan. Boleh meyakini bahwasannya suatu ayat mempunyai hikmah atau kelebihan tertentu, apabila ada Riwayat (shohih) tertentu yang menjelaskan dan menguatkan amalan tersebut. Sebagai contohnya adalah keutamaan membaca surat al kahfi di hari jum’at.” Lanjut al ustadz Dr. Asif Trisnani, Lc., M.A.

di penghujung acara beliau menyampaikan pesan yang sangat penting “jangan pernah berfikir bahwasannya al qur’an ini hanya buku sejarah dan buku keilmuan saja namun ini adalah kitab penunjuk.” Tutup al ustadz Dr. Asif Trisnani, Lc., M.A.