PEMBUKAAN TAHUN AJARAN BARU 2021/2022

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR

Bermutu dan Berarti dalam Pengembangan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer untuk Kesejahteraan Umat

PEMBUKAAN TAHUN AJARAN BARU UNIDA GONTOR 2021/2022

Sabtu, 29 Mei 2021 telah dilangsungkan pembukaan tahun ajaran baru di Universitas Darussalam Gontor kampus Putri Mantingan oleh bapak dekan Kulliyatul Banat Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan bahwa mahasiswi yang diterima kali ini mencapai 1060 orang mahasiswi yang terdiri dari; mahasiswi guru Gontor Putri sebanyak 400 orang, mahasiswi program matrikulasi 6 orang, dan mahasiswi reguler 554. Jumlah mahasiswi baru yang cukup spektakuler diharapkan kuantitas dapat menunjukkan kualitas yang ada.

PEMBUKAAN TAHUN AJARAN BARU 2021/2022


Dengan komitmen yang tinggi, performa yang matang dan integritas intelektual secara mendalam mahasiswi diharap mampu membangun budaya ilmu demi menyokong peradaban Islam yang lebih baik.
Pengarahan dalam pembukaan tahun ajaran baru ini semata-mata dilakukan secara terstruktur dengan dilanjutkan dengan pelatihan, penugasan, pembiasaan, dan penciptaan lingkungan yang mendukung sehingga apa yang dilihat, dirasakan, didengar tidak lain ialah bentuk dari pendidikan yang mengacu pada keteladanan.


Pengarahan yang dilakukan secara rutin sebelum berjalannya perkuliahan aktif ini diakhiri dengan pesan dari Dr.Fairuz Subakir, M.A selaku pengasuh pascasarjana kampus Putri. Beliau berpesan kepada seluruh mahasiswi untuk tidak lupa dengan toleransi terhadap konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel. Konflik yabg terus mencuat di media kiranya perlu diwaspadai yaitu dengan berhati-hati terhadap media sosial dan tidak menggunakan nya untuk membela Israel. Semoga kita semua dan seluruh umat Muslim di dunia senantiasa dalam lindungan Allah. Wassalam.

Dauroh Mukatsafah fii Rasail An-Nur

Iqt.Unida.Gontor.ac.id. Mantingan – Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Program Studi  Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir mengadakan Studi Pengayaan Lapangan (SPL) yang di isi dengan Dauroh Mukatsafah Fi Fathi Rasaili-N-Nur. Tentunya dengan mengundang berbagai pemateri dari para Asatidz dan Asatidzah  Tholabul Nur. Acara ini pun dilaksanakan dalam 2 hari yaitu mulai Selasa 06 April 2021 sampai Rabu, 7 April 2021 di gedung aula Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri.

Rasail An- Nur adalah bukti yang melimpah tentang al-Qur’an dan tafsir yang sangat kuat, berupa percikan yang luar biasa dari ijaz ma’nawi yang hakekatnya diilhamkan dari ilmu hakekat

Ustadz Muhammad Ishomuddin, M. Ud

Dalam Dauroh Mukatsafah fii Rasail Nur, terdapat 4 materi yang akan menyampaikan materi tentang Badiuzzaman Said Nursi dengan pembagian sesi yang berbeda.

Dauroh Mukatsafah fii Rasail An-Nur
Picture: Dr.Sujiat Zubaidi bersama moderator di atas panggung

Point Penting Dauroh

Pada sesi pertama yang dipandu oleh Siti Usbandiyah (satu mahasiswi Program studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir semester 4) selaku moderator. Selanjutnya dibuka oleh pemateri pertama yaitu Dr. Sujiat Zubaidi Soleh, M.A, dengan judul “Sejarah Hidup dan Biografi Bediuzzaman Said Nursi”. Dr. Sujiat pun mengajak mahasiswa IQT 4 untuk lebih mengenal latar belakang dari sejarah perjalanan hidup dan fase kehidupan Bediuzzaman Said Nursi. Selebihnya dari dauroh ini, Dr. Sujiat berharap ada pon-poin yang bisa dikaji serta dikaitkan dengan UNIDA Gontor. Kemudian acara ini dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara narasumber dan peserta webinar sampai menjelang waktu ashar.

Adapun pada sesi kedua, diadakan pada Rabu 07 April 2021. Di isi langsung oleh 3 pemateri sekaligus tentang Bediuzzaman Said Nursi dengan pembahasan yang berbeda. Tentunya materi pertama dibawa oleh Ustadz Muhammad Ishomuddin, M. Ud (Kandidat Doktoral Universitas Darussalam Gontor). Beliau merupakan pengkaji Rasaili-N-Nur dengan judul “Mukjizat al-Qur’an menurut Bediuzzaman Said Nursi” yang membahas tentang kemukjizatan al-Qur’an dari berbagai aspek menurut Beddiuzzaman Said Nursi.

Pesan Ustadz Muhammad Ishomuddin, M. Ud bahwa Rasail An- Nur adalah bukti yang melimpah tentang al-Qur’an dan tafsir yang sangat kuat, berupa percikan yang luar biasa dari ijaz ma’nawi yang hakekatnya diilhamkan dari ilmu hakekat. Tegasnya.

Dauroh Mukatsafah fii Rasail An-Nur

Kemudian dilanjutkan pemateri kedua yang dibawakan oleh Ustadzah Dhita Ayomi Purwaningtyas, M. Si (Dosen AFI Universitas Darussalam Gontor), yang merupakan pengkaji Rasaili-N-Nur. Beliau menjelaskan tentang “Thulabu An-Nur“. Sedangkan pada pemateri ketiga yang yang disusul dan disampaikan oleh Ustadzah Ridani Faulika Permana, M. Ag. (Dosen IQT Universitas Darussalam Gontor), juga pengkaji Rasaili-N-Nur dengan judul “Implementasi Pada kaum Wanita”. Beliau menjelaskan banyak tentang kumpulan nasehat Said Nursi yang termaktub dalam Risalah Nur kepada kaum wanita demi menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat dan tindakan yang menyimpang dari fitrah wanita yang mengakibatkan kesengsaraan baik di dunia dan akhirat.

Dauroh Mukatsafah fii Rasail An-Nur
Picture: Dewan Asatidz bersama peserta Dauroh

Harapannya

Dengan demikian harapannya dari Dauroh ini mampu melahirkan thulabu-n-nur di Universitas Darussalam Gontor khususnya di Program Studi  Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dan menjadi semangat baru untuk mengkaji kitab-kitab Said Nursi di Indonesia.

(oleh Nanda Misbahul Awwalia, Ed. Nindhya Ayomi, S.Ag, M.Pd dan husein)

Persiapan Menuju Bulan Ramadhan

Apakah yang harus kita lakukan agar Ramadhan yang akan datang benar-benar menjadi rahmat bagi kita. Dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan bahwa ibadah itu merupakan perlombaan, فاستبقوا الخيرات  “maka berlomba-lombalah dalam mengerjakan kebajikan” (Al Baqarah 148 ) misalnya. Maka jika satuannya adalah perlombaan, lantas Bagaimana dengan musim ibadah yang bernama Ramadan, Bagaimana dengan sebuah bulan yang isinya adalah ibadah dan berbagai macam varian ibadah ada di dalamnya, sehingga tidak heran jka sebagian orang mengatakan bahwa Ramadhan itu ibarat Olimpiade bagi ahli taqwa,  simpelnya  dengan sebuah pertanyaan ,apakah mungkin Seorang atlet mengikuti Olimpiade tanpa TC, tanpa pemanasan, tanpa stretching, tanpa warming up kemudian dia mendapatkan medali emas, misalnya cabang olahraga yang dia ikuti akan diperlombakan atau akan dipertandingkan pada tanggal 12 April atau 13 April, tetapi ia tidak mengerjakan apapun untuk mempersiapkan dirinya , kemudian pada tanggal 12 April sesuai yang telah dijadwalkan ia datang ke Stadion untuk berlomba, apakah mungkin orang seperti ini akan menjadi juara ?

Kita semua mengetahui bahwa Olimpiade semisal ini hanya diikuti oleh atlit-atlit papan atas dunia, kemudian seseorang tanpa persiapan apapun mendatangi komite Olimpiade dan ia mendaftarkan dirinya untuk mengikuti olimpiade tersebut, apakah ia akan diterima? Tentu saja tidak, Begitu pula bulan Ramadhan yang ibarat sebuah olimpiade, maka sekarang adalah waktu untuk kita bertanya kepada diri kita sendiri, karena Ramadhan sudah di depan mata kita, apakah kita ahli tahajud papan atas? ataukah kita ahli Quran papan atas? ataukah kita ahli puasa papan atas? ataukah kita ahli infaq dan sedekah papan atas? Jika tidak, apakah pantas kita memasuki bulan Ramadhan begitu saja tanpa ada pemanasan atau persiapan kemudian kita bermimpi mendapatkan medali Taqwa dari Allah subhanahu wa ta’ala?

Pada bulan Ramadhan kita diminta untuk berada di level atas bukan 1 atau 2 hari tapi 30 hari selama satu bulan, begitupula kita diminta untuk tidak menurunkan tempo, bahkan harus meningkat terutama pada hari-hari terakhir hingga puncaknya pada sepuluh hari terakhir. Hal ini akan berat bagi kita jika kita memasuki bulan suci Ramadhan begitu saja tanpa persiapan.

Sebagian besar dari ulama terdahulu, mereka sudah mempersiapkan kedatangan bulan Ramadhan semenjak satu bulan sebelumnya, seperti Imam Amru bin Qais Al Mula`i  jika telah memasuki bulan Sya’ban, maka ia menutup kedainya dan menyibukkan diri dengan membaca Al Qur`an.. Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasannya umat Islam di masa beliau jika memasuki bulan Sya’ban, maka mereka sibuk dengan mushaf-mushaf dan mereka membacanya, mereka juga mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka untuk memperkuat orang-orang yang lemah dan miskin dalam menghadapi puasa Ramadhan. (lih.Latha`if Al Ma’arif, hal. 258)

Dari apa yang disampaikan Al Hafidz Ibnu Rajab tersebut nampaklah bahwasannya amalan-amalan bulan Ramadhan sudah mulai dikerjakan di bulan Sya’aban. Hal itu diperkuat dengan amalan para ulama.

Beberapa amalan yang dianjurkan untuk diamalkan untuk mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan ,

Memperbanyak Membaca Al Quran

Di bulan Rajab, para salaf shalih semakin memfokuskan diri untuk membaca Al Qur`an meski Ramadhan belum tiba. Sebagaimana dilakukan oleh Amru bin Qais Al Mula`i jika telah memasuki bulan Sya’ban, maka ia menutup kedainya dan menyibukkan diri dengan membaca Al Qur`an. (Latha`if Al Ma’arif, hal. 258)

Puasa Sya’ban

Puasa di bulan Sya’ban merupakan perkara yang disunnahkan. Aisyah Radhiyallahu’anhu menyampaikan,”Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyempurnakan puasa kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak mengetahui dalam suatu bulan lebih banyak puasa dibanding Sya’ban.” (Riwayat Al Bukhari)

Mengqadha puasa

Karena kedekatannya dengan Ramadhan, maka disunnahkan untuk mengqadha’ puasa sunnah di bulan Sya’ban. Namun bagi siapa yang masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan, maka dilarang untuk menangguhkan untuk menqadha’nya setelah Ramadhan ke dua tanpa udzur. Jika mengakhirkan qadha’ sampai Ramadhan ke dua tanpa udzur, maka wajib baginya disamping mengadha’ puasa memberi makan kepada orang miskin menurut madzhab Al Maliki, Asy Syafi’i dan Al Hanbali. Sedangkan untuk madzhab Al hanafi, cukup mengqadha’ saja. (lihat, Latha’if Al Ma’arif, hal. 258)

Persiapkan Fisik Hadapi Ramadhan

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwasannya Rasulullah Shallahu Alihi Wasallam bersabda,”Janganlah kalian mendahului Ramadhan (dengan berpuasa) sehari atau dua hari. Kecuali bagi siapa yang berpuasa, maka ia hendaklah berpuasa.” (Riwayat Al Bukhari)

Al Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan beberapa pandangan mengenai sebab dimakruhkannya melaksanakan puasa sunnah mutlak sehari atau dua hari menjelang Ramadhan, salah satunya adalah agar dikuatkan dalam menghadapi puasa Ramadhan. (Latha`if Al Ma’arif, hal. 273-276)

Tidak Mengumbar Nafsu Makan-Minum Sebelum Ramadhan

Meski ada dorongan untuk memperkuat fisik dalam menghadapi bulan Ramadhan, namun bukan berarti seseorang didorong untuk melampiaskan makan dan minumnya sepuas-puasnya sebelum memasuki Ramadhan, karena ketika mereka berada di bulan Ramadhan tidak bisa melakukannya. Tradisi buruk ini disebut dengan tanhis, yakni hari-hari untuk melakukan perpisahan dengan makan dan minum sebelum bulan Ramadhan

oleh Fikri hasan Abdullah/IQT 6

Pandemi Covid 19 momen kuatkan iman dan imun

Wabah corona ini menjadikan kita sebagai seorang mukmin menghadapi sebuah ujian. Ujian tersebut adalah ujian keimanan. Ujian keimanan ini diberikan kepada setiap orang mukmin karena, Allah tidak akan membiarkan umatnya mengakui dirinya sebagai seorang mukmin kecuali Allah akan memberikan ujian kepadanya. Di masa pandemi ini, kita sebagai seorang mukmin diuji untuk tetap beribadah kepada Allah walaupun dengan segala rintangannya. Apabila kita bisa menghadapi ujian keimanan ini, maka luluslah keimanan kita dan insyaallah akan mencapai derajat keimanan yang lebih tinggi agar bisa lebih baik lagi dalam menjalankan kehidupan beragama.
Beragama memang harus rasional dan tidak perlu termehek-mehek, apalagi penuh dengan nafsu. Beragama itu dengan hati dan pikiran yang rasional. Jangan sampai kecintaan kepada agama menjadi sebuah api nafsu yangg membara, yang dapat membakar kesejukan iman dan tauhid. Mengendalikan “nafsu” dalam ibadah dengan tidak mengadakan acara kumpul-kumpul, dan menggantinya dengan pray from home adalah perilaku beragama yang rasional. Rasionalitasnya terletak bahwa pray from home adalah tindakan yang bermanfaat dalam memutus mata rantai penyebaran covid-19. Pray from home pun menjadi ibadah yang sangat mulia, yang keutamaannya tidak dapat diukur dengan angka-angka.
Salah satu contoh dari pray from home adalah sholat. Hal yang tepat kita lakukan di masa-masa pandemi ini adalah melakukan sholat di awal waktu, gerakan yang runtun dan sempurna dan dilakukan secara kontinue setiap hari akan membuat badan tetap sehat dan imunitas tubuh juga akan meningkat. Tidak perlu diragukan lagi sholat merupakan cara menguatkan iman dan sekaligus menguatkan imunitas tubuh. Seperti yang diungkapkan oleh dr. Sagiran bahwa, ibadah shalat pada hakekatnya terdiri dari tiga unsur. Yakni, gerakan shalat, bacaan doa, dan kekhusyukan hati menjalankan ibadah shalat yang ditandai pemahaman arti doa atau ayat suci yang diucapkan. Ketiga unsur tersebut, menjadi satu rangkaian yang tak bisa dipisahkan dalam menjalankan ibadah shalat.
Namun dari ketiga unsur yang terdapat dalam shalat tersebut, unsur gerakan ternyata tak hanya memiliki makna sebagai gerakan ibadah. Beliau telah melakukan serangkaian penelitian mengenai masalah gerakan shalat. Hasilnya, ternyata setiap tahapan yang berlangsung dalam ibadah shalat, memberi manfaat kesehatan bagi orang yang melaksanakannya. Tapi tentunya bila setiap tahapan gerakan ibadah shalat yang dilaksanakan, sesuai dengan tuntunannya. Hal ini membuktikan bahwa di kala pandemi ini tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan shalat. Walaupun kita tidak bisa melaksanakannya secara berjamaah seperti sebelum pandemi, shalat tetap akan menjadi kewajiban bagi umat islam yang dimana di samping menguatkan iman, shalat juga bisa meningkatkan imunitas tubuh agar bisa melindungi kita dari wabah virus corona ini.
Selain shalat, puasa sunnah adalah ibadah yang juga bisa dilaksanakan di masa pandemi ini. Selain meningkatkan iman, puasa sunnah juga dapat meningkatkan imunitas tubuh. Puasa merupakan salah satu cara yang dinilai mampu tingkatkan sistem imun tubuh saat pandemi corona. Dengan daya tahan tubuh yang kuat, tubuh bukan hanya mampu menangkal virus corona saja, tapi juga mampu menangkal tubuh dari penyakit berbahaya lainnya. Menjalankan puasa dengan tepat, serta mempraktikkan pola hidup sehat mampu memperbaiki fungsi tubuh dengan mengeluarkan racun di dalamnya. Terlebih lagi saat pandemi virus corona seperti sekarang ini, daya tahan tubuh yang kuat sangat diperlukan. Melakukan puasa dengan cara yang tepat, menjadikan proses detoksifikasi dapat berjalan dengan baik, sehingga daya tahan tubuh akan meningkat.
Seorang peneliti dari Jepang yang bernama Prof. Yoshinori Ohsumi melakukan penelitian kepada orang muslim yang berpuasa. Penelitian ini dapat memperlihatkan bagaimana sel-sel yang tidak diberi makan dalam beberapa waktu tertentu memberikan respons yang luar biasa. Mereka menyebutnya dengan sel-sel lapar. Pada kondisi lapar (tidak ada makanan masuk antara 8-16 jam) sel-sel akan mengalami autophagy (memakan dirinya sendiri). Di samping itu, sel-sel lapar ini mengeluarkan zat-zat spesifik sejenis protein yang kemudian disebut dengan autophagisom. Zat ini digambarkan seperti “sapu raksasa” yang menyapu bersih sel-sel rusak dan memakannya. Berdasarkan penelitian ini Prof. Yoshinori diberikan penghargaan Nobel dalam ilmu kedokteran pada tahun 2016. Penelitian ini telah membuka pintu bagi para ilmuwan dalam mengungkap system kerja yang sangat kompleks dalam sel. Ke depan riset yang terkait dengan penyembuhan penyakit degenerative yang banyak diderita oleh masyarakat dunia saat ini akan lebih baik.
Kesadaran akan pentingnya puasa dalam peningkatan derajat kesehatan manusia khususnya peningkatan imunitas tubuh sangat membantu dalam upaya mencegah penularan wabah Covid-19. Daya tahan tubuh yang baik adalah salah satu factor yang sangat penting dalam pencegahan infeksi virus. Konsumsi gizi yang seimbang sangat diperlukan dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Namun pada sisi yang lain, berpuasa sangat dibutuhkan oleh tubuh kita, karena, puasa dapat memberikan kesempatan bagi tubuh kita untuk beristirahat sehingga mengalami peningkatan fungsinya. Peningkatan fungsi tubuh inilah yang nantinya akan meningkatkan system kekebalan tubuh secara keseluruhan. Rasa lapar yang timbul pada mereka yang berpuasa sebagai penanda bahwa saat itulah berbagai racun dalam tubuh dikeluarkan dan sel-sel lama berganti menjadi sel-sel baru.
Contoh lain dari ibadah yang dapat menguatkan iman dan imun adalah memperbanyak shadaqah dan zakat. Shadaqah dan zakat adalah salah satu ibadah yang sangat dicintai oleh Allah sehingga bisa meningkatkan keimanan kita ke derajat yang lebih tinggi. Memang dampaknya bagi imun tubuh kita tidak terlihat, namun dampaknya akan terlihat jika shadaqah atau zakat kita diterima oleh orang yang lebih membutuhkan. Mereka yang lebih membutuhkan akan menjadi sehat karena mendapat asupan tambahan dari apa yang kita berikan kepada mereka.
Beberapa hal yang dapat menguatkan iman dan meningkatkan imun di atas, juga harus didukung dengan berdoa dan bertawakkal kepada Allah SWT. Karena, tidak lain tidak bukan bahwa wabah ini adalah ujian untuk kita agar kita bisa meningkat ke derajat keimanan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Di samping itu, kita juga harus melakukan olahraga ringan dengan teratur seperti aerobik, yoga, dan lain-lain. Karena, olahraga tersebut lah yang dapat menyempurnakan proses pembaruan sel-sel tubuh dan meningkatkan imunitas tubuh di masa pandemi Covid-19 ini. Dengan demikian, kita bisa bertahan di tengah wabah virus covid-19 ini karena, kita mempunyai iman yang kuat dan juga sistem imunitas tubuh yang baik.

PERUMPAMAAN PAHALA TAKZIAH

Takziah merupakan ibadah yang sangat utama. Selain mengingatkan kita agar mempersiapkan diri, takziah juga memiliki pahala yang sangat besar, kali ini akan kita ketengahkan perumpamaan pahala takziah bagi yang mengamalkannya

PERUMPAMAAN PAHALA TAKZIAH
Kiai Gontor Takziah ke Kediaman Gus Solah

Secara bahasa Ta’ziyah (التعزية) artinya menguatkan. Sedangkan secara istilah adalah menganjurkan seseorang untuk bersabar atas beban musibah yang menimpanya, mengingatan dosanya meratap, mendoakan ampunan bagi mayit dan dari orang yang tertimpa musibah dari pedihnya musibah. Imam al Khirasyi mengistilahkan Ta’ziyah dengan : “Menghibur orang yang tertimpa musibah dengan pahala-pahala yang dijanjikan oleh Allah, sekaligus mendo’akan mereka dan mayitnya”.

Diantara dalil pensyariatannya adalah sebuah hadits :

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ إِلاَّ كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ حُلَل الْكَرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seorang Mukmin bertakziyah kepada saudaranyayang terkena musibah kecuali Allah akan memakaikan pakaiankemulian kepadanya di hari kiamat.” ( HR. Ibn Majah)

Dan tidak ada perdebatan dikalangan ulama bahwasanya hukum dari ta’ziyah adalah sunnah, yang berarti dianjurkan untuk dilakukan tetapi tidak berdosa jika ditinggalkan.

Beberapa hadits tentang perumpamaan pahala takziah

Beberapa hadis menyebutkan bahwa takziah memiliki banyak keutamaan di antaranya:

Hadis dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Barang siapa yang bertakziah kepada orang yang tertimpa musibah, maka baginya pahala seperti pahala yang didapat orang tersebut.” (HR. Imam Tirmidzi dan Imam Baihaqi)

Disebutkan pula dalam hadis lainnya dari Amr bin Hazm, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Tidaklah seorang Mukmin bertakziyah kepada saudaranya yang terkena musibah kecuali Allah akan memakaikan pakaian kemulian kepadanya di hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah dan Imam Baihaqi).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa berta’ziyah kepada orang yang meninggal maka akan diganjar dengan pahala sebesar dua qirath, hadits tersebut berbunyi sebagai berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَهاَ حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam: “Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut meshalatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada Beliau; “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab: “Seperti dua gunung yang besar”. (Muttafaqun ‘Alaih,Bukhari: 1240 & Muslim: 1570)

Pahala yang Allah SWT berikan kepada hambanya yang melakukan takziyah khususnya kepada yang meninggal adalah seperti dua qirath, yang mana berarti sebesar dua gunung. dalam riwayat lain, gunung disini adalah gunung uhud, dan terbagi menjadi dua yaitu pahala bagi yang mensholatkan maka akan diberikan satu qirath, dan bagi yang mengantarkannya sampai ke liang lahat maka baginya tambahan satu qirath.

Itulah pahala bagi yang melakukan takziyah, dan tidak ada salahnya bagi kita untuk melakukan takziyah kepada saudara-sadara kita yang sedang mengalam kesusahan, karena selain diberikan pahal yang amat besar, bisa juga mempererat ukhuwah kita dan meringankan serta menghibur saudara-saudara kita yang terkena musibah

PEMBUKAAN STUDI AKADEMIK (SA) 2021

IQT Mantingan-Studi Akademik, program ini merupakan salah satu program yang wajib dilaksankan di Fakultas Ushuluddin dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan membuka wawasan mahasiswa sebelum memasuki akademi selanjutnya. Dengan diadakan nya acara ini diharapkan mahasiswa mampu membuka gerbang wawasan lebih jauh lagi dalam menjawab persoalan-persoalan era modern dengan mengunakan tafsir ilmi atau tafsir sains sosial.

Acara Studi Akademik 2021 ini diadakan pada Selasa, 23 Maret 2021. Acara dibuka dengan sambutan dari wakil dekan II Fakultas Ushuluddin Al-Ustadz Dr. Asif Trisnani, Lc, M.A.

Dalam kesempatan ini beliau memberikan apresiasi yang sangat besar kepada para peserta Studi Akademi (SA). Dr. Asif dalam sambutannya menyampaikan bahwa di masa pandemi semua kegiatan terbatas. Namun kegiatan demikian tidaklah menyurutkan semangat mahasiswi dalam mempelajari banyak hal.

Spirit dalam Studi Akademik (SA) yang dibuka oleh bapak wakil dekan II ini diharapkan dapat tersalurkan juga pada kegiatan sehari-hari terutama saat menjalani proses belajar. Belajar yang dimaksud di sini bukan hanya bermakna sebagai belajar dari buku cetak, melainkan juga melalui kehidupan.

Setelah sambutan dari wakil dekan II Fakultas Ushuluddin, acara dilanjutan dengan olahraga bersama, lomba-lomba, makan bersama dan seminar yang bertemakan “Tafsir Ilmi Sebagai Rujukan Ilmu Pengetahuan Era Modern” dengan pembicara Al-Ustadz Dr. Sujiat Zubaidi Saleh, M.A dan Al-Ustadz Dr. Asif Trisnani, Lc. M.A.

Studi Akademik yang diisi dengan kegiatan akademik dan non-akademik bagaikan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Sehingga apa yang disampaikan pada kesempatan tersebut dirasa lengkap baik dari olah fikir, olah dzikir, olah rasa dan olah raga.