Virus Corona dalam kacamata kausalitas Al-Ghazali

Virus corona yang minggu-minggu ini menjadi trending topik di berbagai belahan dunia. Menjadikan manusia berfikir postifistik. Sehingga preventisasi dan edukasi yang dilaksanakan lebih bersifat realistis dan empiristis. Sehingga aspek ilahiyah jarang untuk dijadikan alternatif berfikir dan bertindak

Virus Corona dalam kacamata kausalitas Al-Ghazali

Dalam suatu kisah. Ada seorang anak kecil yang sembuh dari lumpuh. Kisah sembuh anak ini semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita. Suatu malam ada seorang perampok yang mengaku sebagai mujahid demi mendapatkan penginapan.

Siapa yang tidak tahu dengan keutamaan seorang mujahid. Sehingga tanpa ragu, anak pemilik penginapan itu mengoleskan sisa makanan perampok tersebut dikakinya sembari berdoa dengan tulus.

Keesokan harinya. Anak itu sembuh dan bisa berjalan. Singkat cerita sang Perampok itu menangis dan bertobat dan menceritakan siapa sesungguhnya, setelah melihat ketulusan ikhtiar dan doa anak kecil itu.

Kisah yang diceritakan oleh Syaikh Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qolyubi dalam kitabnya Al-Nawadir itu relevan bagi kita yang terlalu berfikir rasional dan positivistik.

Saya sering searching tentang pengobatan herbal. Banyak situs-situs kedokteran menyatakan bahwa obat herbal tidak bisa direkomemdasikan karena tidak memiliki evidence base. Meski dunia kedokteran mengakui sejumlah manfaat dalam kandungan herbal meski tidak bisa diuji secara klinis.

Apa kaitannya dengan kisah di atas. Jangankan obat herbal. Penjahat saja bisa jadi media penyembuhan. Karena penyembuhan itu yang penting aspek spiritualnya bukan aspek kausalitasnya.

Sebenarnya bencana terbesar dari penyebaran virus corona bukan karena faktor suspect atau terinfeksi, tetapi cara pandang peradaban dunia yang sekuleristik.

Imam Al-Ghazali dalam sebuah disertasi yang ditulis oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menegaskan bahwa antara sebab dan akibat dalam realitas empiris tidak memiliki argumen logis sedikitpun.

Al-Ghazali menguatkan aspek Iradah Allah dalam menginterupsi hukum kausalitas alam dengan kisah nabi Ibrahim as yang tidak terbakar oleh api. Bahkan menurut beliau andai manusia dipotong kepalanya sekaligus. Kalau memang Allah belum mentakdirkan meninggal. Tidak akan meninggal.

Pernyataan Al-Ghazali ini ternyata relevan di alam milenial ini. Dalam sebuah youtube, dr. Reisa Brotoasmoro menceritakan kisah Bryan Jackson yang disuntik darah hiv oleh ayahnya sendiri. Karena, jika anaknya meninggal, kelak sang ayah tidak perlu membayar tunjangan anak setelah bercerai dengan ibunya Bryan. Justru Bryan bertahan hidup sampai sekarang di usia 24 tahun dan menjadi motivator.

Kisah Bryan ini tidak tunggal. Bahkan dalam sebuah acara fear factor. Ada seorang ayah yang tertusuk paku di kepalanya. Bahkan paku itu masuk ke seluruh rangka otaknya. Namun setelah dicek melalui mri. Paku itu hanya mengenai beberapa bagian otaknya. Dan akhirnya bisa disembuhkan melalui operasi.

Nasehat Al-Ghazali di atas semoga bisa membuat cooling down pemberitaan corona yang begitu massive. Tanpa menghilangkan aspek preventif dan edukatif secara maksimal. Dan mengingatkan kita semua bahwa bahaya terbesar sebenarnya adalah hilangnya keimanan. Hilangnya perhatian kita, bahwa Al-Qur’an adalah penyembuh sejak pertama kali diturunkan. Bahwa corona tidak selalu dilihat, dari kacamata teori konspirasi, politik, ekonomi, dan budaya saja. Tetapi juga dilihat dari sisi ilahiyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *