Sejarah Penulisan Khat dalam Al-Qur’an

Iqt.unida.gontor.ac.id Khat Anbar dan Al-Yad Al-Uula dalam penulisan Arab: Sejarah kodifikasi Al-Qur’an dimulai sejak masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidiq atas usulan Umar bin Khattab melihat banyaknya para quro yang meninggal pada perang Yamamah. Jauh sebelum itu, pada awal datangnya Islam, Rasullullah telah memilih beberapa shohabah untuk menjadi Kuttabul Wahyi yang bertugas untuk menuliskan wahyu Allah sesuai dengan apa yang disampaikan Rasullullah. Perlu diketahui bahwa Kuttabul wahyi merupakan tugas istimewa, mengingat banyaknya masyarakat yang tidak dapat menulis pada saat itu. Untuk itu, maqalah ini berusaha untuk membahas tentang sejarah tulisan (khat) dan perannya terhadap penulisan Al-Qur’an pada kodifikasi awal.

Sejarah Penulisan Khat dalam Al-Qur'an

Jika merujuk pada zaman munculnya tulisan Arab, maka tidak ada satupun literatur yang dapat menyebutkan secara pasti akan tanggal maupun tahunnya. Akan tetapi, sejarah sepakat bahwa tulisan (khat) Arab pertama kali dibentuk oleh Basyar bin Abdil Malik (saudara ipar Abu Sufyan) dengan model Khat Nabati. Dari Khat Nabati inilah muncul tiga pencetus pertama tulisan Arab yang memodifikasi ulang dari Khat Nabati. Ketiga pencetus ini lebih dikenal dengan sebutan “Al-Yad Al-Ulaa”, mereka adalah Maromiroh bin Marroh (مرامرة بن مرة), Aslam bin Sadroh (أسلم بن سدرة) dan ‘Amir bin Hadroh (عامر بن حدرة) yang semuanya berasal dari Anbar. sejak saat itulah kota Anbar menjadi kota pertama munculnya tulisan Arab.

Bertahun-tahun setelahnya, Khat ini dipelajari oleh Utsman bin Affan dan Marwan bin Hakam sebelum datangnya Islam dalam satu kelas yang sama. Khat yang sama juga dipelajari oleh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit. Merekalah yang nantinya akan menjadi kuttabul wahyi pilihan Rasullullah.

Rasullullah sebagai penggerak penyebaran Khat dalam Islam

Ketika Islam datang, Rasullullah sangat memperhatikan kemajuan umatnya dalam hal tulis-menulis mengingat bahwa masyarakat Jahiliyyah sangat awam dengan hal itu. Tidak heran, karena peralatan tulis-menulis jarang ditemukan pada masa Jahiliyyah di samping adat, budaya dan kebiasaan Jahiliyyah yang memang belum membutuhkan tulisan.

 Dukungan Rasullullah dalam gerakan khat dapat dilihat sejak Rasullullah hijrah ke Madinah. Hal pertama yang dilakukan Rasul adalah membangun masjid dan mengadakan halaqoh “tulis menulis”, untuk itu secara khusus Rasullulah memilih sendiri guru yang akan mengajarkan halaqoh ini, salah satunya adalah ‘Abdullah bin Sa’id bin ‘As dan ‘Ibadah bin Shomit.

Bukan hanya itu, tetapi Rasullullah juga menjadikan tebusan bagi tawanan perang yang dapat menulis dan membaca untuk mengajarkannya kepada umat muslim di Madinah.

Proses pembelajaran tulis-menulis ternyata tidak hanya terfokus pada laki-laki saja, tetapi Rasullullah juga mendukung dan menyemangati para wanita muslim untuk belajar dan mengajarkan khat. Seperti Asy-Syifa binti ‘Abdillah, Hafshoh ummul mu’minin, Ummu Kultsum binti Uqbah dan ‘Aisyah binti Sa’ad bin  ‘Ibadah

Untuk itulah Rasullullah memerintahkan Hafshoh rodhiya Allah ‘anha  untuk belajar menulis (khat) kepada Asy-Syifa binti ‘Abdillah, agar ia dapat mengajarkan para wanita muslim akan tulis-menulis. Maka disebutkan dalam sejarah bahwa Hafshoh merupakan salah satu wanita pertama yang mempelajari khat. Al-khottotoh al-ulaa fil Islam.

Berbeda dengan bentuk tulisan sebelum datangnya Islam, karena ketika Islam datang dengan semangatnya terhahap tulisan (khat) maka banyak umat muslim yang mulai memperindah bentuk dan huruf dalam Khat. Hal tersebut dimulai sejak Rasullullah memilih sendiri para kuttab –sebutan untuk penulis- untuk menuliskan wahyu dan surat-surat penting yang akan disampaikan para raja-raja sekitar. Sejak saat itu, para kuttab berlomba-lomba untuk memperindah khat masing-masing, karena Rasullullah hanya memilih Ajwad Kuttab, penulis terbaik dengan tulisan yang terindah.

Khat Kufi dan sejarah penulisan awal Al-Qur’an

Tradisi tulis-menulis pun dimulai sejak saat itu. Terlebih ketika Rasullullah memilih beberapa sahabatnya untuk menjadi “kuttab”nya. Baik penulis wahyu maupun penulis surat untuk diberikan kepada raja-raja sekitar. Kuttab, sebutan untuk penulis, seperti sekertaris pada masa sekarang. Disebutkan dalam sejarah bahwa Rasullullah memiliki 42 orang Kuttab. Dan salah satu kuttabul wahyi yang terkenal adalah Zaid bin Tsabit.

Seiring berjalannya waktu, Khat Anbar semakin berkembang. Dapat dilihat dari bentuknya yang memiliki perkembangan di setiap waktunya. Khat inilah yang dipakai oleh para shohabah “Kuttabul Wahyi” dalam penulisan ayat Al-Qur’an –masa kodifikasi awal Al-Qur’an- selama lima abad. pada masa itulah, Rasullullah menyuruh para penulis istimewa untuk menghafalkan dan menuliskannya di hadapan Rsaulullulah ketika ayat diturunkan. Keteika itu, ayat-ayat Al-Qur’an ditulis dalam lembaran-lembaran kulit, daun, tulang pipih, pelepah kurma yang berbeda sesuai turunnya ayat.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidq, dimulailah periode kedua kodifikasi Al-Qur’an atas usulan Umar bin Khattab melihat banyaknya quro (penghafal Al-Qur’an) yang meninggal pada perang Yamamah. Pada masa inilah, Al-Qur’an yang dituliskan para kuttabul wahyi dikumpulkan menjadi satu dan disimpan Abu Bakar hingga ia wafat. Beberapa lembaran ditulis menggunakan Khat Anbar, dan lembaran lainnya ditulis menggunakan Khat Makki dan Khat Madani sesuai tempat ditulisnya tiap-tiap lembaran.

 Dari Khat Anbar inilah yang menjadi asal muasal Khat Kufi dan menjadi asas tulisan dalam penulisan Al-Qur’an hingga akhir kekhilafahan Khulafa Rosyidin. Penamaan khat Kufi dikenal sejak ditaklukkannya Iraq oleh Sa’ad bin Abi Waqqosh pada masa kekhalifah Umar bin Khattab pada tahun 18 H. Ketika itu, Umar mengirim sebagian umat muslim untuk menempati kota Bashroh dan Kufah tepat setelah kota itu ditaklukkan. Sejak saat itulah, khat Arabi muncul dan berkembang di Khufah mengikuti perkembangan pemerintahan Islam yang berpusat di Kufah.

Seperti penamaan khat lainnya, disebut “Khat Kufi” karena letaknya di Kufah. Hebatnya, Khat Kufi mampu mengalahkan keindahan Khat Makki dan Khat Madani pada saat itu. Maka, tidak dapat dipungkiri jika khat Kufi menduduki peringkat teratas, bahkan nama khat ‘Arabi lebih dikenal dengan nama “Khat Kufi” karena tradisi menulis lebih banyak menyebar di Kufah dan tersebar melalui Kufah di samping banyaknya para khattat dari Kufah yang sangat memperhatikan keindahan, bentuk, gaya dan seni dari setiap hurufnya melebihi Khat Madani dan  Khat Makki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *