Sejarah Balai Pertemuan Pondok Modern

Balai Pertemuan Lama yang ada di Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut dibangun sejak tahun 1933 sampai dengan tahun 1934 dengan nama Balai Pertemuan Kaum Muslimin (BPKM), dan setelah Pondok Modern terkenal, namanya berubah menjadi Balai Pertemuan Pondok Modern ( BPPM).
Bentuk BPPM ini seperti ruangan lebar yang memanjang, tetapi dengan struktur bangunan yang belum permanen yang terdiri dari rumah yang lebih besar dan tinggi di tengah-tengahnya. Sebelah kanan dan kirinnya ditambah rumah srotongan kecil dan belakang rumah kecil tersebut dijadikan beberapa kamar. Muka bangunan ini dibangun lebih menonjol melebihi rumah yang besar dan Di tengah-tengahnya lantai berderet 3 baris tiang. Sebelah utaranya BPPM ini dibuat kamar-kamar untuk tamu dan untuk Bapak Kiyai atau Bapak Guru dan disebelah selatannya lagi ada lapangan sepak bola yang dipisah dari halaman depan dengan jalan.
Sebagian kerangka dari Bangunan ini dibuat dari kayu jati, rusuknya dari kayu kelapa dan rengnya dari bambu. Lantainya dari batu bata tidak pelester,dan tidak tegel, ada tembok dari lumpur tanah Pondasinya tinggi hampir satu meter. Dimukanya merupakan halaman yang ditinggikan juga, kurang sedikit dari pondasi utamanya. Paling selatan baru ada enpat jenjang (undak-undakan). Jadi kelihatan bentuk tempat megah. Dimukanya ditanami trembesi. Pada waktu sepuluh tahunan Pondok, trembesi itu sudah besar dan merupakan tempat berteduhnya para santri.
BPPM dulunya dipergunakan sebagai tempat para murid TA dan TI belajar. Selain itu juga BPPM ini pernah dijadikan sebagai tempat penerimaan tamu dan pertunjukan-pertunjukan seperti drama dan lain-lainnya. Saat Pondok merayakan sepuluh tahunan dan seperempat abad, BPPM ini menjadi tempat perayaan resepsi acara tersebut. Selain itu, Pada saat Masyarakat kota Ponorogo mengungsi keluar kota, BPPM ini dipinjam untuk belajar para siswa dan siswi SMP Negeri Ponorogo. Presiden R.I. pertama yaitu Bung Karno juga pernah berkunjung ke Pondok Modern pada tahun 1946 yang mana BPPM lah menjadi tempat penerimaannya.
Pada tahun 1955, Syeikh Awadh Syahbal dari Solo mengusahakan adanya kunjungan Menteri Wakaf Mesir, Syeikh Hasan Al-Baquri dan Duta Besar Mesir, Dr. Ali Fahmi Al-Amrusyi ke Pondok Modern Darussalam Gontor saat Beliau semua datang ke Indonesia. Mereka disambut di BPPM tersebut. Ketika itu sudah disambut dengan pertemuan dalam Bahasa Arab termasuk protokolnya juga berbahasa Arab. Rombongan tersebut datang ke Pondok Modern bertepatan pada bulan Puasa, sehingga para santri tidak terlalu banyak. Meskipun dalam tempat dan keadaan yang sangat sederhana itu, pertemuan itu sangat mengesankan bagi Syeikh Hasan Al-Baquri dan Dr. Ali Fahmi Al-Amrusyi.
Sepulangnya dari Pondok Modern Darussalam Gontor dan Indonesia, Syeikh Hasan Al-Baquri masih terkesan dengan penerimaan pondok terhadap beliau saat berkunjung ke PMDG. Dan kesannya itu Beliau tulis dalam Majalah di Mesir tentang eratnya hubungan Indonesia dan Mesir dalam faktor agama dan bahasa Arab. Adapun Dr. Ali Fahmi Al-Amrusyi, setelah kunjungan tersebut beliau selalu mengatakan bahwa Pondok inilah tempat pendidikan yang terbaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *