Ru’yatu Allah dalam Perspektif Islam

Al-Qur’an dan Tafsir.Com. Mantingan – Membahas akan Ru’yatu Allah, Seperti yang kita ketahui bahwasanya Sang Maha Pencipta yang menciptakan bumi beserta isinya ini selalu berada disisi kita dimanapun dan kapanpun. Tapi ada Ulama yang menyatakan bahwasanya kita para muslimin dapat melihat wujud Allah yang selalu berada disisi kita. Tapi begitupun sebaliknya, ada yang tidak mempercayainya. Pendapat para ulama yang berbeda pendapat ini berasaskan tafsir ayat Al-Qur’an.

Ru’yatu Allah dalam Perspektif Islam
pandangan para mufassir

Para mufassir berbeda pendapat mengenai ayat-ayat ru’yatu Allah. Mufassir Mu’tazilah menyatakan bahwa Allah mustahil dapat dilihat. Sementara mayoritas mufassir Sunni menetapkan bahwa Allah dapat dilihat. Seorang mufassir dari penganut Mu’tazilah adalah Al-Zamakhsyari, sementara mufassir dari penganut Suni adalah Al-Razi.

Metode penafisran yang dilakukan oleh Al-Zamkhsyari ketika menafsirkan ayat ru’yatu Allah menggunakan metode takwil, menitik beratkan pada segi bahasa, balaghah, gramatikal bahasa Arab. Hal ini sebagaimana ketika Al-Zamakhsyari memberikan dua sifat terhadap tafsirya. Sifat yang pertama; tafsir yang beralikan madzhab Mu’tazilah. Sifat kedua, yang dimiliki Tafsir Al-Kasshaf adalah keutamaan nilai bahasa Arab, baik dari segi ‘ijaz Al-Qur’an, balaghah dan fashahah, sebagai bukti bahwa Al-Qur’an diturunkan dari Allah SWT.

Adapun Ar-Razi melemahkan pendapat Mu’tazilah dengan mengajukan dalil aqliyah maupun naqliyah. Banyak memaparkan berbagai pendapat, seperti ulama tafsir, Mu’tazilah, bahasa, Ahl al-Sunnah. Cenderung pada corak falsafi dan i’tiqadi dalam penafsirannya.

Perbedaan Penafsiran

Sehingga dalam penafsiran antara Al-Zamkhsyary dan Al-Razi mengenai Ru’yatu Allah, jika dilihat dari aspek penafsirannya. Al-zamakhsyari berpendapat bahwa ia meniadakan ru’yatu Allah kapanpun, dimanapun oleh siapapun. Sementara Al-Razi meyakini bahwa kelak di Surga/akhirat orang mukmin dapat melihat Tuhan-Nya. Adapun melihat Allah didunia bisa saja terjadi. Akan tetapi karena kelemahan potensi penglihatan manusia maka Allah belum dapat dilihat.

Oleh: Andi Ghariza Qurrata A’yun IQT/4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *