Riya: Perumpamaannya Dalam Ayat Al-Qur’an

Iqt.unida.gontor.ac.id Perumpamaan riya dalam ayat Al-Qur’an, tentunya pemahaman dan pengkajian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an mempunyai peranan yang sangat besar bagi perkembangan umat. Selain itu juga sebagai cerminan perkembangan metode, corak, maupun karakteristik tafsir. Usaha untuk memahami Al-Qur’an sudah ada sejak masa Nabi dan sampai sekarang pun belum berhenti sampai akhir zaman.

Riya: Perumpamaannya Dalam Ayat Al-Qur’an

Dari ayat-ayat Al-Qur’an mengandung banyak makna yang dapat dijadikan sebagai pedoman ataupun ilmu pengetahuan bagi kita. Seperti hukum Riya dalam bersedakah. Yang mana masih terdapat orang yang belum mengetahui akan hakikatnya sedekah, tanpa harus diumbar-umbar ataupun dipublikasikan.

Hakekat Sedekah

Bersedekah adalah ibadah yang mulia. Dengan bersedekah, Islam mengajak dan mendorong bersedekah sebagai kasih sayang kepada orang-orang yang membutuhkan. Sedekah juga merupakan amalan shaleh yang diperintahakan Allah SWT. Apabila seseorang bersedekah, maka sedekahnya tersebut akan diberi balasan yang tak ternilai dsisi Allah SWT.

Salah satu keutamaan sedekah yaitu, akan mendapatkan naungan dari Allah SWT di akhirat, kemudian dapat mengahapus dosa, dapat memberi keberkahan pada harta, kemudian akan disediakan pintu khusus untuk masuk surga. Dan masih banyak hal lagi keutamaan-keutamaan dari bersedekah.

Namun, apabila seseorang bersedekah dengan niat agar mendatkan pujian dari orang lain, ataupun berniat untuk dlihat oleh orang lain. Alangkah ruginya kita jika berbuat riya , karena Allah SWT akan berlepas dari diri kita dan tidak akan mau menerima amalan kita. Hal ini diterangkan dalam surah Al-Baqarah ayat 264. Yang memperumakan orang yang bersedekah dengan riya makan diperumpamakan seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِي يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٞ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٞ فَتَرَكَهُۥ صَلۡدٗاۖ لَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَيۡءٖ مِّمَّا كَسَبُواْۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٦٤

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS.Al-Baqarah:264)

Isi kandungan surah Al-Baqarah ayat 264 menejelaskan tentang:
  1. Ketika bersedekah jangan menceritakan kepada orang lain, sedekah itu harus ikhlas
  2. Larangan merendahkan perasaan orang yang kita hendak beri dengan menyebut-nyebutkan sedekah kita
  3. Orang yang riya itu dilarang, karena amalan riya tersebut merupakan amalah yang disukai syaitan

(Pen.HalimahTussa’diah IQT/3 Mantingan. Ed.Husein)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *