perseteruan Etnis Burma dengan Muslim Rohingya.

perseteruan etnis Muslim Rohingya dan Cikal-bakal kelompok Rohingya terlacak pada awal abad ke-15. Pada 1404, pasukan dari Ava, ibukota kerajaan Burma kala itu, menyerang kerajaan Arakan yang membuat Raja Narameikhla mengungsi ke negeri Bengali (kini Bangladesh). Dua puluh empat tahun kemudian, bersama bala bantuan dari Sultan Bengali, dia kembali untuk merebut Arakan.

perseteruan etnis Burma dengan Muslim Rohingya.

Pada 1784, Bodawphaya, raja Burma dari Dinasti Konbaung, mengerahkan tentara untuk menginvasi wilayah Arakan. Ribuan orang tewas dan ditawan. “Setidaknya 20.000 tawanan termasuk simpatisan Muslim, seniman, dan ilmuwan digelandang menuju pusat Burma melintasi bukit Arakan. Ratusan di antaranya tewas selama di perjalanan,” tulis sejarawan Inggris G. E. Harvey dalam .[2]

Merasa andil dalam memenangkan Inggris, orang-orang Rohingya menuntut imbalan berupa kemerdekaan di sebuah wilayah bernama Maungdaw di Arakan. Permintaan ini dikabulkan. Para pengungsi Rohingya, yang terusir ke Bengali dalam kerusuhan tahun 1942, akhirnya kembali ke kampungnya. Untuk mengamankan kekuasaan, mereka tak memberikan jabatan-jabatan strategis kepada orang-orang Budha; suatu keadaan yang memperdalam sentimen kebencian.

Upaya “Burmanisasi”, meleburkan ajaran Islam dan menghilangkan identitasnya dalam masyarakat Budha. Umat Islam diusir dari kampung halaman mereka. Tanah-tanah dan kebun-kebun pertanian mereka dirampas.Bagi mereka yang menolak, maka tebusannya adalah nyawa dan menjadi perseteruan etnis Muslim Rohingya dengan budha . Inilah militer fasis yang tidak mengenal belas kasihan.

Pandangan islam dan Al quran.[3]

Islam sangat menjunjung tinggi rasa persaudaraan meski dengan non-Muslim. Dalam Islam, banyak sekali ajaran dan anjuran untuk menjaga hubungan baik dengan umat agama lain. Ajaran Islam, khususnya yang bersumber dari al-Qur’an sangat menjunjung tinggi etika kebebasan beragama, etika menghormati agama lain, dan etika persaudaraan. Makalah ini hendak memaparkan ketiganya yang merupakan cerminan etika al-Qur’an dalam menyikapi pluralitas umat beragama.

  1. Prinsip Kebebasan Beragama

Dalam Surat al-Baqarah ayat 256, Allah mengajarkan Umat Islam untuk menjunjung tinggi prinsip kebebasan beragama. Ayat tersebut merupakan larangan pemaksaan terhadap orang lain agar memeluk Islam. Ayat tersebut berbunyi :

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Prinsip Menghormati Agama Lain

Prinsip menghormati agama lain ini bukan berarti mendukung dan menyetujui praktik agama tersebut. Prinsip menghormati adalah sikap toleransi beragama tanpa adanya cacian dan hinaan. Ini sebagaimana tergambar dalam surah Al An’am 108 :

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”.

Prinsip Persaudaraan

Secara tegas ayat ini mengajarkan kepada Kaum Muslim untuk dapat memelihara kesucian agamanya, menciptakan rasa aman, dan menjaga hubungan harmonis antar umat beragama. Manusia sangat mudah terpancing emosinya bila agama dan kepercayaannya disinggung. Ini adalah tabiat manusia, apapun kedudukan sosial dan tingkat pengetahuannya. Hal ini karena agama bersemi di dalam hati penganutnya, sedangkan hati adalah sumber emosi. Berbeda dengan pengetahuan, yang mengandalkan akal dan pikiran. Seseorang dengan mudah mengubah pendapat ilmiahnya, tetapi sangat sulit mengubah kepercayaannya meskipun bukti-bukti kekeliruan akan kepercayaan yang dianutnya telah nyata di hadapannya.[4]

kesimpulan

Demikianlah bagaimana sikap kita sebagai umat islam dalam menanggapi perseteruan Muslim Rohingya dengan permasalahan diatas. Allah SWT mengajarkan kepada hambanya untuk menjunjung tinggi prinsip kebebasan beragama, prinsip menghormati agama lain, dan prinsip persaudaraan.Telah menjadi ketentuan Allah bahwa manusia ini diciptakan dari satu rahim, dan juga diciptakan berbeda-beda. Adanya pluralitas, keanekaragaman, ataupun perbedaan-perbedaan yang ada bukan dimaksudkan untuk menunjukkan superioritas masing-masing terhadap yang lain, melainkan untuk saling mengenal, bersatu, dan bersaudara.

Konsep ini tidak hanya terdapat dalam teks saja, tapi juga diterapkan dalam kehidupan dakwah Nabi SAW dan Umat Islam lainnya. Pada awal Islam, suku-suku di Jazirah Arab memeluk Islam secara sukarela, karena argumentasi, kagum terhadap pribadi Nabi SAW, karena konsep tauhid dalam Islam, dan lain sebagainya.

penulis : adyaksa


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *