Penanganan pandemi Covid 19 dalam worldview Islam

Dalam penanganan pandemi covid 19, anjuran untuk cuci tangan, jaga jarak, dan pakai masker, bahkan sudah kita hafal. Banyak juga poster besar di berbagai kota yang menambahkan, selain ketiga anjuran tersebut, dengan selalu berdoa. Meski kebanyakan tidak. Bagaimana negara yang menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dalam dasar negaranya, penurunan kasusnya tidak cukup signifikan

Penanganan pandemi Covid 19 dalam worldview Islam

Peran lembaga Agama di negeri ini juga sebenarnya cukup besar. Seperti terus bergulirnya berbagai fatwa dari Majlis Ulama Indonesia, dan Organisasi besar Agama di Indonesia. Kalau kita simpulkan, peran agama baru sebatas, kebijakan prosedur kegiatan sosial, penenang masyarakat, dan pendukung program pemerintah.

Kalau kita bertanya. Bisakah Islam mencegah, mengobati, bahkan menjadi solusi inti dalam penanganan pandemi Covid 19. Sebelum mengelaborasi terlalu jauh. Ada baiknya kita elaborasi dahulu paradigma sains dan agama dalam worldview Islam.

Antara sains dan Agama

Dr. Syamsuddin Arif dalam Jurnal Tsaqafah menjelaskan bahwa sains sebenarnya adalah filsafat. Dan awalnya, filsafat adalah pengetahuan tentang alam semesta, hewan, tumbuhan dan segala hal. Dahulu hubungan antara filsuf dan saintis sangat erat, bahkan apa yang disebut filsuf juga saintis. Namun situasi menjadi memburuk ketika pengetahuan hanya sebatas logical positivism dan logical empiricism sebagaimana yang dipelopori oleh Bertrand Russel, Alfred Jules Ayer, Ludwig Wittgestein, dan Rudolph carnab[1].

Lebih detilnya, sains adalah apa yang bisa diprediksi (predictable), diukur (measurable), dihitung (caountable), diulang (repeatable). Sehingga pengetahuan tentang sains merupakan pengetahuan objektif, bisa diverifikasi secara indrawi.

Karena Sains base evidencenya adalah fisik. Sehingga bisa diverifikasi secara objektif. Objektifitas inilah yang membuat sains akhinya didaulat menjadi common consensus. Sedang Agama, dalam pandangan sekuler, adalah privat. Sehingga pengetahuan yang dihasilkan subjektif. Maka agama tidak bisa menjadi common consensus, bahkan common value.

Di banyak perguruan tinggi di dunia, agama masuk dalam cluster sosial dan humaniora. Karena ia dianggap sebagai fakta sosial, yang hanya bisa diverifikasi secara historis, sosilogis, antropologis, dan psikologis. Karena Agama bukan pengetahuan objektif dalam konstruk epistemologis.

Maka tidak berlebihan jika Albert Einstein mengatakan bahwa agama tanpa sains itu buta, dan sains tanpa agama itu lumpuh. Dalam diskusi Insists Saturday forum, Dr. Meity Elvina, dalam Kedokteran funsional dan kedokteran integratif dalam perspektif Islam, menjelaskan bahwa kedokteran modern sangat reduksionis. Atau dalam penanganannya dokter hanya melihat aspek klinis. Yang berbeda dengan kedokteran zaman dahulu yang selalu mengacu pada keseimbangan alam atau natural balanching. Maka harusnya penanganan pandemi covid 19 harus ditangani secara integratif, yang mencakup seluruh elemen penting dalam world view Islam.

Peran Islam

Jika ada pertanyaan, bisakah tahajjud, misalnya, meningkatkan kesembuhan pasien. Sebelum dijawab, orang akan bertanya, bagaimana memverifikasi tahajjud. Apalagi menghubungkan dengan kesembuhan pasien. Maksimal saintis hanya akan menghubungkan dengan pengaruh pikiran positif dalam ibadah terhadap kesembuhan.

Dalam diskusi insists Saturday night. Dr. Nirwan Syafrin, dalam diskusi Ilmu Kalam sebagai basis pengembangan sains Islam, menggambarkan, meski pengetahuan agama tidak fisikal, tapi bisa diverifikasi secara epistemologis. Artinya agama sendiri sebenarnya juga bisa diprediksi (predictable), diukur (measurable), dihitung (caountable), diulang (repeatable).

Bahkan sholat saja, menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam buku barunya Minhaj, memiliki verifikasi yang jelas. Rusaknya manusia, bahkan peradaban, bisa diverifikasi lewat kualitas solat. Dan hancurnya manusia bahkan peradaban bisa diverifikasi lewat rusaknya sholat.[2]

Logika sederhananya begini, orang yang jahat misalnya, dia bisa baik, asal baik sholatnya. Teori ini bisa diuji ulang (repeatable) kepada orang lain yang ingin baik. Bahkan bisa diukur (measureble) kualitas kebaikannya lewat kualitas sholatnya.

Solusi penanganan covid 19 di tanah air

Jika kita kembali kepada penanganan covid 19 di tanah air. Ustadz. Shohibul Mujtaba, dosen Aqidah dan Filsafat UNIDA Gontor memberikan 7 langkah yang lebih komprehensif dalam Tips Mencegah dan Mengobati Virus Covid-19, diantaranya adalah tetap bersyukur dan bersabar dalam segala keadaan, menjaga konsistensi dalam membaca alQuran.[3] Menguatkan doa, untuk kesehatan dan keselamatan kita[4]. Memperbanyak istighfar[5], merutinkan sedekah[6], silaturrahim dengan menyesuaikan kondisi (offline/online). Karena silaturrahim bisa memanjangkan umur, dan makna dari ‘panjang umur’ adalah hidup yang sehat.[7] Baru menaati protokol kesehatan (Physical distancing, masker, cuci tangan, olah raga, meningkatkan imun), dan yakin bahwa setiap penyakit ada obatnya.[8]

Begitu juga dengan penanganan pandemi covid 19 di Pondok Pesantren Gontor yang extraordinary dalam menyatukan sains dan agama. Maka wajar jika dalam laporannya, Ustadz. Adib Fuadi Nuriz, M.A, dalam kasus covid 19 di Pondok Pesantren Gontor mengalami kemajuan yang signifikan. Dengan sembuhya 21 santri santri[9] pada 18 Juli 2020, sejak laporan pertama 2 kasus pada 7 Juli 2020[10], merupakan perkembangan yang cukup cepat. Jika dibandingkan dengan penanganan kasus di tanah air yang terus naik di berbagai kota.

Bagaimana bangsa yang berKetuhanan Yang Maha Esa justru melewati China yang komunis dalam penanganan pandemi covid 19[11]. Mungkinkah gugus tugas penangan covid di negri ini menjadikan olah fikir, olah zikir dan olah rasa dalam menurunkan kasus covid 19. Wallahu A’lam


[1] Lihat dalam Filsafat Islam antara tradisi dan kontriversi, Jurnal taqafah, Vol. 10, No. 1, Mei 2014

[2] Hamid fahmy Zarkasyi, Minhaj dari ritual hingga intelektual,

[3] Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zhalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian. -Surat Al-Isra’, Ayat 82

[4] لا يردُّ القضاءَ إلَّا الدُّعاءُ، ولا يزيدُ في العمُرِ إلَّا البرُّ. رواه الترمذي، وقال حديث حسن غريب.

Tidak ada yang bisa mengubah ketentuan (qadha’) Allah, kecuali doa, dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali amal kebajikan.

[5] Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan. -Surat Al-Anfal, Ayat 33

[6]

داوُوا مرضاكم بالصَّدَقةِ. رواه البيهقي، قال الألباني: حسن

Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.

[7]

مَن سَرَّهُ أنْ يُبْسَطَ له في رِزْقِهِ، أوْ يُنْسَأَ له في أثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ. رواه البخاري

Siapa yang senang, rizkinya diperluas/dipermudah dan umurnya diperpanjang (dalam keadaan sehat), maka bersilaturrahim lah.

[8] تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ. رواه أبو داود واللفظ له، والترمذي وقال حديث حسن صحيح.

Berobatlah, karena sesungguhnya Allah SWT tidak menciptakan suatu penyakit, kecuali telah menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit, yakni (penyakit) tua.

[9] https://satgascovid19.gontor.ac.id/lagi-11-santri-gontor-2-positif-covid-19-sembuh-total-pasien-sembuh-menjadi-21-orang/, diakses pada tanggal 19 Juli 2020

[10] https://surabaya.liputan6.com/read/4307529/santri-pondok-gontor-2-terinfeksi-covid-19-bertambah-15-orang, diakses pada tanggal 19 Juli 2020

[11] https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200718160704-106-526200/update-corona-18-juli-kasus-covid-19-indonesia-lewati-china, diakses pada tanggal 19 Juli 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *