Muhammad Mustafa Al-A’zami dan Studi Al-Qur’annya

Selama ini Muhammad Mustafa Al-A’zami dikenal dengan kepakarannya di bidang hadis. Terlebih lagi dalam menepis pendapat para akademisi yang meragukan otentisitas hadis sebagai sumber ajaran Islam. Hal ini ditengarai oleh banyaknya karya beliau mengenai studi hadis. Bahkan disertasi beliau di University of Cambridge berjudul Studies in Early Hadith Literature.

Sementara itu, banyak orang yang kurang menyadari perhatian beliau yang begitu besar terhadap studi Al-Qur’an. Buku terakhir yang beliau terbitkan sebelum wafat -pada tahun 2017- mengenai pembuktian keaslian Al-Qur’an secara visual. Beliau sendiri mengakui bahwa buku tersebut adalah hasil risetnya selama lebih dari lima belas tahun.

Muhammad Mustafa Al-A’zami dan Studi Al-Qur’annya
Mushthafa Al-A’zhami

Biografi Syekh Muhammad Mustafa Al-A’zami

Beliau lahir pada tahun 1350 H/1930 M di Mau, sebuah daerah di India yang merupakan bagian dari wilayah Azamgarh. Wilayah ini dalam bahasa Arab dikenal dengan Al-A’zami. Dari wilayah ini pula lahir seorang ahli hadis bernama Habiburrahman Al-A’zami yang wafat pada tahun 1412 H.

Sejak kecil Syekh Al-A’zami dikenal pintar dan jujur sehingga dijuluki al-Amin, orang yang dapat dipercaya. Saat di bangku sekolah dasar, beliau paling menyukai pelajaran matematika, bahkan becita-cita menjadi pakar matematika. Namun atas anjuran bapaknya ia mendalami ilmu-ilmu agama.

Rihlah ilmiyah beliau

Mulai kecil beliau berguru kepada beberapa ulama India. Di hadapan mereka beliau menelaah berbagai kitab hadis, fikih, sirah, dan lainnya. Seiring dengan itu beliau juga menimba ilmu di sekolah formal. Sampai akhirnya menamatkan program S1 dari Universitas Islam Darul Ulum Deoband, India, pada tahun 1952.

Kemudian meneruskan studi magister di Universitas Azhar, Kairo, dan lulus pada tahun 1955. Setelah itu mengajar bahasa Arab di Qatar selama kurang lebih 10 tahun dan menjadi direktur Perpustakaan Umum Qatar semenjak tahun 1966 sampai 1968.

Selama menetap di Qatar beliau bolak-balik Qatar-Inggris guna menempuh studi S3 di University of Cambridge. Pada tahun 1966 beliau berhasil menyelesaikan studinya itu. Disertasi yang beliau tulis berjudul “Studies in Early Hadith Literature” di bawah bimbingan seorang orientalis bernama Arthur John Arberry dan Robert Serjeant.

Pada tahun 1968 beliau memutuskan untuk menetap di Arab Saudi sebagai dosen hadis di Fakultas Syariah di Mekah yang menjadi cikal bakal Universitas Ummul Qurra’. Kemudian beliau dipindahtugaskan untuk mengajar di Universitas King Saud di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, sampai pensiun pada tahun 1991.

Selain itu, beliau juga ditunjuk sebagai dosen tamu atau visiting professor di sejumlah universitas terkenal di Barat. Sebut saja University of Michigan, St. Cross College University of Oxford, Princeton University, University of Colorado, dan University of Wales. 

Beliau wafat pada tanggal 20 Desember 2017 di rumahnya di Riyadh dan dimakamkan di Nasim, Riyadh. Selama hidupnya beliau telah mengarang 8 buah buku dan men-tahqiq (menyunting) 6 buah kitab. Mayoritas karangannya dalam bidang hadis. Lima di antaranya berbahasa Inggris.

Atas jasa-jasanya di bidang studi Islam, Muhammad Mustafa Al-A’zami mendapatkan penghargaan internasional Raja Faisal dari kerajaan Arab Saudi pada tahun 1980. Dua tahun kemudian beliau juga memperoleh mendali Istihqaq, semacam perhargaan dari pemerintah Arab Saudi kepada warganya.

Karya penting Syekh Al-A’zami dalam Studi Al-Qur’an

Akademisi yang meraih gelar doktornya di University of Cambridge ini mengarang dua buku yang khusus mengenai Al-Qur’an. Karya penting Syekh Al-A’zami dalam Studi Al-Qur’an yang pertama bejudul “The History of Qur’anic Text” (Sejarah Teks Al-Qur’an), dan kedua berjudul “Ageless Qur’an Timeless Text” (Teks Al-Qur’an yang Abadi Sepanjang Masa).

The History of The Qur’anic Text

Bukunya yang pertama mengenai Al-Qur’an terbit pada tahun 2003. Karangan yang ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Turki. Buku ini terdiri dari 3 bagian: Sejarah Teks Al-Qur’an, Sejarah Teks-Teks Bibel, dan Menilai Orientalis.

Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Aqdi Rofiq Asnawi, menjelaskan bahwa buku ini menunjukkan bahwa apa yang terekam dalam sejarah mengenai turunnya Al-Qur’an, penulisannya, dan lain sebagainya lebih baik daripada sejarah Bibel dalam hal-hal tersebut. Sedangkan studi-studi orientalis mengenai Al-Qur’an harus dikritisi dari segi metode dan tujuan.

Buku kedua beliau

Buku kedua Syekh Al-A’zami mengenai studi manuskrip Al-Qur’an. Kata pengantarnya ditulis dalam bahasa Arab dan Inggris. Dalam bahasa Arab buku ini berjudul “An-Nashsh Al-Qur’any Al-Khalid ‘Abral ‘Ushur” (Teks Al-Qur’an yang Abadi Sepanjang Masa).

Ageless Qur’ani Timeless Text

Buku yang terbit pada tahun 2017 ini menjadi buku terakhir yang beliau susun selama hidupnya. Di dalam pengantar yang dwibahasa tersebut, beliau menjelaskan sejarah teks Al-Qur’an, perkembangan bahasa, hasil penelitiannya, dan lain sebagainya. Selain itu juga terdapat lembaran-lembaran manuskrip Al-Qur’an yang disusun sedemikian rupa untuk bukti penelitian.

Pada tugas akhir (tesis) strata dua di Hamad bin Khalifa University (HBKU), Qatar, Aqdi menyimpulkan bahwa metode yang Syekh Al-A’zami yang gunakan dalam buku tersebut unik dan pertama kali digunakan dalam studi manuskrip Al-Qur’an. “Tidak seperti studi manuskrip Al-Qur’an lainnya yang dilakukan oleh Dr. Tayyar Altıkulaç, Dr. Ghanim Qaduri Al-Hamad, Syekh Muhammad Yusuf Rasyid Al-Azhari, François Déroche, Yasin Dutton, dan proyek Corpus Coranicum,” tegasnya.

Poin penting dalam karya beliau

Menurut Aqdi, pembahasan Syekh Al-A’zami mengenai Al-Qur’an dalam dua buah karyanya itu mengerucut pada tiga poin penting: hakikat Al-Qur’an, studi manuskrip Al-Qur’an, dan metodologi studi Al-Qur’an. Syekh Al-A’zami, sambung Aqdi, juga menekankan pentingnya riwayat kaum muslimin dalam menjelaskan Al-Qur’an.

“Hal ini sangat penting dilakukan seiring dengan adanya usaha untuk mengabaikan referesi Islam dalam studi Al-Qur’an di kalangan akademisi Barat. Termasuk mengabaikan metodologi dan hasil penelitian yang dihasilkan oleh ilmu-ilmu Al-Qur’an (ulumul Qur’an) dan tafsir,” jelas alumni Studi Hadis Universitas Islam Madinah ini.

Referensi:

  • Al-A’zami, Muhammad M. The History of the Qur’anic Text from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testament. Leicester: UK Islamic Academy, 2003.
  • Al-A’zami, Muhammad M. Ageless Qur’an Timeless Text. London: Turath Publishing, 2017.
  • سيد عبد الماجد الغوري، الشيخ محمد مصطفى الأعظمي ومساهماته العلمية في مجال الحديث النبوي: دراسة استقرائية، مجلة الحديث، معهد دراسات الحديث النبوي (إنهاد)، الجامعية الإسلامية العالمية بسيلانجور-ماليزيا، السنة الرابعة، العدد الثامن، صفر 1436ه (ديسمبر 2014م).
  • عقدي رفيق أسنوي، دراسة محمد مصطفى الأعظمي للمخطوطات القرآنية، رسالة ماجستير، جامعة حمد بن خليفة، كلية الدراسات الإسلامية، الدوحة-قطر، 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *