Mundzirul Qoum Hari Ini : Realisasi Adab di era Modern

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah:122)

Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa kalimat lampau dalam permulaan ayat ini digunakan sebagai bentuk celaan atas meninggalkan perkerjaan yang telah lalu dan perintah untuk masa mendatang. Tentu hal ini berkaitan dengan sebab diturunkannya ayat. Dahulu, pada masa Rasulullah SAW banyak orang yang senang pergi berperang untuk berjihad, sehingga hanya menyisakan segelintir orang yang menetap. Maka, diturunkanlah ayat yang menyatakan bahwa jihad menjadi tidak wajib jika Rasulullah SAW tidak ikut serta.

Jihad dan menuntut ilmu menjadi fardhu kifayah. Mengapa jihad dinyatakan sebagai fardhu kifayah dan bukan fardhu ain? Berdasarkan urgensi yang ada kala itu, apabila semua orang pergi berjihad, maka kepentingan umat akan terhenti. Tidak ada yang akan memegang tonggak kepemimpinan bila sang pemimpin turut pergi. Tak ada yang dapat mengadili jika sang hakim turut pergi. Tak ada yang dapat mendidik anak jika sang ayah turut pergi. Meski begitu, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, maka bagi mereka yang menetap hendaknya mendalami syariat dan mengajarkannya pada mujahidin bila mereka telah kembali.

Berjihad di zaman ini memiliki berbagai macam bentuk. Tak hanya dengan pedang bak mujahidin terdahulu, namun juga dengan pikirannya. Maka bila dari sekelompok muslim tengah mempelajari ilmu pengetahuan yang menjadi senjata andalan Barat, hendaklah sekelompok lainnya teguh mempelari ilmu agamanya dan memperingatkan muslimin lain bila tengah lalai.

Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah dalam Tafsir Al-Azhar terkait ayat ini menuliskan, “Apa yang diperjuangkan di garis muka, kalau tidak ada di belakang yang mengisi ruhani?”. Pernyataan ini sebanding lurus dengan kutipan Al-Ghazali dalam kitab Al-Hikam, “Yang terpenting bukannya tercapainya apa yang engkau cari, tetapi yang penting adalah engkau dilimpahi rezeki adab yang baik.” Bagi penuntut ilmu, terlebih para mundzirul qoum, adab selayaknya menjadi modal utama untuk mencapai hakikat ilmu itu sendiri. Tanpa adab, takkan mampu para pembelajar itu mencapai derajat ‘alim.

Mundzirul Qoum Hari Ini : Realisasi Adab di era Modern

Semangat mundzirul qoum sekiranya sangat sesuai dengan semangat Sumpah Pemuda yang digaungkan oleh Boedi Oetomo, Wage Roedolf Soepratman, Moh. Yamin, dan Sugondo Joyopuspito pada 28 Oktober 1928. Mereka bertekad dengan satu cita-cita, semangat yang sama melahirkan satu visi dan perjuangan bersama, yakni satu tanah air, satu bahasa dan satu bangsa yakni Indonesia. Sejarah pun terukir di kala

Menaati perintah guru adalah kunci utama. Ketika Rasulullah telah tiada, maka perpanjangan tangan beliau adalah para ulama. Penerus ilmu beliau adalah para ulama. Para ulama itulah yang akan menjadi gurunya umat muslim seluruh dunia. Menghormati ulama wajib hukumnya bagi umat muslim. Mencelanya ada laknat. Memakinya menjadi biadab. Namun apa yang terjadi hari ini. Fitnah tengah bertebaran di kalangan para ulama. Entah dari mana hal itu bermuara. Segala yang haq dan bathil menjadi bias dan cenderung kias.

Menjadi umat Muslim hari ini ‘memang sulit’. Menjadi seorang mundzirul qoum apa lagi. Sulit menjauhkan diri dari dosa, sulit mendekatkan diri dengan pahala, sulit membedakan mana yang haq dan bathil. Apakah benar sesulit itu? Iya. Jika kita tidak membekali diri dengan ilmu dan membentengi hati dengan iman.

Patut diperhatikan bahwa, tak mungkin pribadi dengan kapabilitas unggul tercapai tanpa adab yang tinggi pula. Bila adab telah dimiliki, maka hakikat ‘alim akan tercapai. Tak akan diragukan pula bila pribadi semacam itu memiliki akhlak yang indah. 

Penulis : Anugrah Suciati, S.Farm, (Alumni Farmasi UNIDA Gontor)
Editor : Ilham Habibullah, M.Ag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *