Menemukan Keindahan Amtsal al-Qur`an dalam Surat Yunus ayat 24

Bila negara punya undang-undang sebagai dasar dan sumber hukumnya, bila  jalan raya punya penunjuk arah agar tak sesatkan penggunanya, maka Islam punya Al-Qur’an tuk menjadi pedoman dan sumber ilmu bagi manusia dalam seluruh aspek kehidupannya. Jangankan urusan dunia yang fana, akhirat yang kekal selamanya telah dijelaskan sedemikian rupa.

Menemukan Keindahan Amtsal al-Qur`an dalam Surat Yunus ayat 24

Awal diturunkannya menimbulkan kontroversi diantara manusia yang hidup di zamannya, ada yang mengatakan itu dusta bahkan buatan tangan manusia. Padahal Kalamullah telah disampaikan dan disusun sedemikian indahnya hingga tak ada yang bisa mendatangkan semisalnya. Bahkan beberapa ayat di dalamnya menantang manusia untuk mendatangkan atau membuat surat yang menyerupai atau mungkin lebih indah kata-katanya.

Estetika atau keindahan kata-kata dalam al-Qur’an terbahas rinci dalam ilmu balaghah. Menurut Ar-Rummani Ilmu balaghah adalah penyampaian makna kedalam hati dalam bentuk lafal yang paling indah. Salah satu unsurnya adalah tasybih, yang artinya perumpamaan. Ada banyak perumpamaan-perumpamaan yang Allah SWT jabarkan dalam Al-Qur’an, salah satunya ada dalam surat Yunus ayat 24. Dalam surat Yunus ayat 24, Allah SWT berfirman :

إِنَّمَا مَثَلُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا كَمَآءٍ أَنزَلۡنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخۡتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلۡأَرۡضِ مِمَّا يَأۡكُلُ ٱلنَّاسُ وَٱلۡأَنۡعَٰمُ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَخَذَتِ ٱلۡأَرۡضُ زُخۡرُفَهَا وَٱزَّيَّنَتۡ وَظَنَّ أَهۡلُهَآ أَنَّهُمۡ قَٰدِرُونَ عَلَيۡهَآ أَتَىٰهَآ أَمۡرُنَا لَيۡلًا أَوۡ نَهَارٗا فَجَعَلۡنَٰهَا حَصِيدٗا كَأَن لَّمۡ تَغۡنَ بِٱلۡأَمۡسِۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ  ٢٤

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah sepertin air (hujan) yang kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan  (tanam-tanaman) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)”

Perumpamaan dalam al-Qur`an

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, Allah SWT membuat perumpamaan tentang keindahan dunia dengan segala perhiasan dan kenikmatan di dalamnya, seperti tumbuh-tumbuhan yang lebat dan bermekaran karena air hujan yang diturunkan-Nya dari langit. Tumbu-tumbuhan dan buah-buahan yang beraneka ragam macam dan jenisnya itu ada yang dimakan manusia, ada pula yang dimakan binatang ternak.

Dengan demikian kehidupan dunia terasa begitu indah dan nikmat, hingga manusia merasa bahwa mereka bisa menuai dan mengambil hasilnya sepuas dan sebanyak mereka mau. Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba datanglah angin kencang yang sangat dingin sehingga dedaunannya menjadi kering dan buahnya membusuk. Tanah yang sebelumnya hijau membentang menjadi kering kerontang seakan tak pernah ada yang tumbuh subur disana.

Maksud dari perumpamaan tersebut adalah agar manusia mengambil pelajaran bahwa akan datang masa dimana dunia akan lenyap, tetapi manusia telah terpedaya olehnya, mereka merasa yakin dan pasti dapat memetik hasil pada waktunya, tetapi akhirnya dunia luput dari mereka. Karena sesungguhnya watak dunia itu selalu lari dari orang yang mengejarnya, dan mengejar orang yang menjauh darinya.

Setelah menceritakan perihal dunia dan kelenyapannya yang cepat, maka Allah menyebutkan tentang surga dan menyeru kepadanya serta menamainya dengan sebutan Darussalam, yakni rumah yang aman dari semua penyakit, semua kekurangan, dan semua  musibah. 

Ayat ini hanya salah satu diantara sekian banyak ayat yang memberikan peringatan kepada manusia, bahwa keindahan dan kenikmatan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan yang Allah janjikan di surga-Nya.

Mari menutup mata sejenak dan menghirup nafas sedalam-dalamnya, mampukah kita membayangkan nasib kita di akhirat kelak? Pantaskah kita mengharap surga-Nya bila jiwa dan raga ini masih terus terpedaya akan surga dunia yang fana? Bukankah kemudahan ada setelah perjuangan dalam kesulitan? Begitu pula kenikmatan yang sesungguhnya akan dirasa setelah kesengsaraan yang penuh makna.

Jotti Azzah Hanif Fauziyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *