KEUTAMAAN MENAHAN AMARAH DALAM AL-QUR’AN

Kemarahan merupakan salah satu bentuk emosi yang sangat lekat dalam diri manusia. Sama dengan emosi lainnya, kemarahan harus diekspresikan dengan baik untuk menjaga kesehatan mental kita sebagai manusia. Ketidakmampuan dalam menahan amarah menjadi bagian dari manusia. Namun, dalam beberapa kasus, kemarahan terus menerus bisa menjadi tanda masalah yang lebih dalam, yaitu depresi.

KEUTAMAAN MENAHAN AMARAH DALAM AL-QUR’AN
Customer Experience or Human Emotional Concept. Woman Covered her Face by Paper Bag and present Angry Feeling by Drawn Line Cartoon and Body Language

Sebagai manusia, begitu banyak hal yang membuat kita marah, seperti ketika merasa diserang, ditipu/dibohongi, frustrasi, atau diperlakukan tidak adil. Sudah menjadi naluri manusia untuk berada dalam situasi yang aman. Begitu juga dengan kemarahan. Marah terjadi sebagai respon pertahanan diri kita dari situasi yang kita anggap tidak aman/berbahaya, sehingga dengan marah kita akan merasa lebih aman. Namun, itu semua tidak berarti menjadikan kemarahan kita sebagai alasan untuk berbuat hal-hal kekerasan atau kericuhan.

Dalam sudut pandang Islam, marah merupakan bencana yang merusak akal. Ketika hati dalam kondisi lemah, maka setan dan bala tentaranya melakukan serangan. Pada saat manusia marah, maka setan mempermainkan melalui kemarahannya itu, sebagaimana anak kecil yang mempermainkan bola. Telah disebutkan bahwa sebagian para wali, berkata pada iblis: “Tunjukkanlah padaku, bagaimana anda mempermainkan anak cucu Adam?” Iblis berkata: “Aku kuasai dan aku permainkan dia disaat sedang marah dan memperturutkan kesenangan hawa nafsunya”. Naudzubillah

Dalam al-Qur’an, Allah telah meyinggung orang-orang yang telah menahan marah dan seslu memaafkan kesalahan Allah adalah salah satu ciri-ciri penghuni surga, yang berbunyi:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Ayat ini mengingatkan pada sebuah kisah budak dari ‘Ali bin Al-Husain rahimahullah, ketika itu ia menuangkan air pada ‘Ali untuk persiapan shalat. Tiba-tiba wadah yang digunakan itu jatuh lalu pecah lantas melukai tuannya (‘Ali). ‘Ali lantas mengangkat kepala dan memandang budak wanita itu. Budak itu lantas mengatakan, ingatlah Allah berfirman,

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

(Ciri-ciri penghuni surga adalah) orang-orang yang menahan amarahnya.”‘Ali berkata, “Aku tidak jadi memarahimu.” Terus budak itu membacakan lagi,

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

(Ciri-ciri penghuni surga adalah) dan mema’afkan (kesalahan) orang.”‘Ali berkata, “Saya sudah memaafkanmu.” Terus budak itu membacakan lagi,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

‘Ali berkata, “Sekarang engkau bebas (merdeka).”(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 10: 545, dinukil dari Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 723)Ayat ini sangat cocok jika disandingkan dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang tertulis pada Bab ke-16 dalam Kitab Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ) رَوَاهُ البُخَارِي(

(Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.”) (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6116]

Dengan syarahnya, yang dimaksudkan “jangan marah” ada dua makna:

  • Menahan diri ketika ada sebab yang membuat kita marah, sampai kita bisa menahan amarah.
  • Jangan sampai melakukan kelanjutan dari marah. Jika ada yang mau marah hingga mau mentalak istrinya, maka kita katakan, “Bersabarlah, tahanlah diri terlebih dahulu.”

Ada lima kiat Nabi Muhammad SAW yang dapat kita amalkan sebagai pertahanan diri amarah yang memuncak, yaitu:

Membaca ta’awudz, meminta perlindungan pada Allah dari godaan setan

Meminta tolong pada Allah agar dilindungi dari setan sesuai dengan dalil-dalil berikut, akan terlihat jelas bahwa marah bisa dari setan. Maka kita mengamalkan firman Allah dari ayat berikut,

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚإِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200)

Diam

Karena yang namanya marah itu jika keluar bisa jadi keluar kata-kata yang tidak Allah ridhai. Selamatnya manusia dalam menahan amarah juga karena Menjaga Lisannya. Ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,

وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi).

Berganti posisi

Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud, no. 4782. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Mengambil air wudhu

Dari Athiyyah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Ingat wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menahan amarah

Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan dalam surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, hadits ini shahih lighairihi).

Muyassaroh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *