KAJIAN KITAB RISALAH NUR

Bagi mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) membaca kitab tafsir, seperti Risalah Nur, yang berbahasa Arab bukanlah suatu hal yang sulit. Hal ini dikarenakan pada umumnya kitab tafsir dicetak berjilid-jilid sehingga terbiasa bagi mereka untuk membacanya.

Namun membaca saja tidak cukup melainkan perlu adanya kajian secara intensif terutama mengkaji suatu kitab tertentu kepada pakarnya langsung ataupun muridnya dengan sanad yang sampai pada ahlinya.

Untuk itu pengurus HMP Unida Putri berkolaborasi dengan al-Ustadzah Ridani Faulika Permana dalam kajian kitab Risalah Nur karya Bediuzzaman Said Nursi

KAJIAN KITAB RISALAH NUR
Suasana Kajian Rsalah Nur oleh Mahasiswi IQT UNIDA Gontor 2020

Pada kesempatan tersebut ustadzah Ridani mengenalkan kitab al-Kalimāt dan al-Lama’āt yang termasuk dalam koleksi Risalah Nur dengan metode tafsir tematik. Diawali dengan pembahasan mengenai makna “Bismillah” dalam ‘Kalimat pertama’ yang berisi penegasan akan kekuatan Bismillah dimana segala sesuatu tidak dapat terpisahkan dari dimensi Tuhan.

Adapun semua yang bermula dengan menyebut Nama-Nya akan menjadi luar biasa. Namun atas semua nikmat itu Allah hanya menginginkan tiga hal dari manusia yaitu dzikr, fikr, syukr. Kemudian dilanjutkan dengan ‘Cahaya Pertama-Kedua’ dalam kitab al-Lama’āt mengenai munajat Nabi Yunus a.s dan Nabi Ayub a.s. Ujian yang ditimpa keduanya tidaklah lebih mengerikan dibanding dengan keadaan kita, karena keduanya merasakan ujian dalam bentuk fisik. Sedangkan manusia tidak mengetahui akan sakit maupun ikan Paus seperti apa yang mereka hadapi sesungguhnya.

Adapun tema yang paling diminati oleh peserta kajian adalah ‘Risalah Hijab’ yang terkandung dalam ‘Cahaya Kedua Puluh Empat’ dengan penekanan bahwa hijab adalah fitrah bagi wanita dan bukan menjadi penghalang maupun pembatas ruang gerak mereka. Sehingga melepasnya adalah suatu hal yang bertolak belakang dengan fitrahnya sebagai wanita.

Wabah dalam kajian Risalah Nur

Selanjutnya terkait dengan wabah yang sedang melanda berbagai negara di dunia maka dikaji lebih lanjut tentang sebuah dialog singkat seputar lalat yang terkandung di ‘Cahaya Kedua Puluh Delapan’ dimana dialog singkat tersebut bermula pada saat Bediuzzaman di dalam bui bersama muridnya yang bernama Sulayman Rusydi.

Lewat dialog singkat tersebut dapat dipahami bahwa Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu, bahkan makhluk yang bentuknya lebih kecil dari manusia serta mampu melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia. Dan tidak benar bagi siapapun yang menuhankan makhluk karena lalat dan sejenisnya adalah pasukan yang disiapkan oleh Allah dengan berbagai tugas yang diemban masing-masing sesuai jenisnya.

Dan yang terakhir ditutup dengan mengenal hakikat kalimat ‘Yā Bāqi anta al-Bāqi‘ dengan tidak menyertakan unsur emosi serta perasaan terlibat didalamnya dan tidak diukur dengan ukuran logika. Tema penutup ini dimaksudkan agar semua peserta senantiasa mengosongkan hati dan membersihkan kalbu serta menyadari bahwa tidak ada yang kekal selain Allah SWT.

Kajian yang diikuti oleh mahasiswi program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) ini dilakukan secara rutin dua pekan sekali. Kajian yang dikoordinir oleh HMP tersebut diharapkan mampu menjadi wadah bagi para mahasiswi dalam menelaah kitab tafsir tidak sebatas pada mengetahui judul dan mufasir nya.

Namun dengan kajian kitab seperti demikian rupa memiliki harapan yang jauh lebih matang tentunya yaitu mengkhatamkan setidaknya satu kitab tafsir. Semoga kedepannya tidak hanya Risalah Nur saja yang dikaji namun juga kitab tafsir lainnya. Subhānaka Lā ‘Ilma lanā illa mā ‘allamtanā innaka anta al-‘Alīm al-Ḥakīm.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *