Forum kajian Tafsir (FASSIR) Memahami makna lita’arofu pada surat al hujurat dalam bersosialisasi

http://iqt.unida.gontor.ac.id/ Salah satu agenda rutin yang dimiliki prodi ilmu alqur’an dan tafsir adalah forum kajian tafsir (FASSIR). Pada kajian pekan ini Senin, 21 Desember 2020, Pada kesempatan kali ini, FASSIR mengangkat materi dengan tema “Memahami Makna Lita’arofu Pada Surat Al Hujurat Dalam Bersosialisasi” yang dibawakan oleh Al Ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec. selaku Wakil Rektor III Universitas Darussalam Gontor.

Dalam kesempatan kali ini Al Ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec. mengulas makna lita’arofu pada surat al hujurat dalam bersosialisasi dan beliau merujuk pada Tafsir Jalalain yang ditulis oleh Jalal Al Makhalliy dan Jalal As Suyuti.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

dalam tafsir tersebut dijelaskan manusia memang diciptakan dalam kondisi yang berbeda-beda atau bervariatif, dan dari perbedaan inilah manusia akan saling mengenal. dijelaskan bahwa makna “Min dzakarin wa unsa” bermakna dua, yaitu (Nabi Adam dan Hawa) dan (Laki-laki dan Perempuan), dan adapun Sa’ab adalah kelompok yang paling tinggi di bangsa Arab dan khobail adalah kelompok yang posisinya di bawahnya Sa’ab.

Dalam Bersosialisasi

Dalam bersosialisasi, semua manusia sama dan setara, dan perbedaannya hanya dari segi ketaqwaan. Hal ini bukan untuk sombong dalam bergaul atau dalam pertemanan, karena buah dari ta’arofu adalah akhlaq. Mengutip dari ayat Al Qur’an; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujurat: 13).

Makna Lita’arofu

Penjelasan dari ayat tersebut, yakni;  Diciptakannya manusia berbeda-beda “Li ta’arofu” (untuk saling mengenal). dalam implementasi ta’arofu ini terdapat adab dan cara, dengan ta’arofu seharusnya kita lebih menghargai orang lain, karena tingkat ketaqwaan kita berbeda-beda dan kita tidak akan bisa menilai ketaqwaan orang lain, karena boleh jadi ketaqwaan orang lain jauh lebih tinggi daripada kita. Maka orang mu’min tidak boleh merasa lebih tinggi dan tidak boleh merasa lebih rendah dari orang lain (Inna akromakum ‘indallahi atqokum).

hadist Nabi pernah menjelaskan tentang hal ini yaitu; “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian” (HR. Muslim). 

Letak taqwa ada di dalam hati (tidak terlihat) dan muncul dalam perbuatan sehari-hari. “Taqwa itu adalah ketika kita bisa bergaul dengan siapapun, termasuk dengan orang kafir tanpa mengurangi atau menghilangkan ketaqwaan dan identitas kita sebagai seorang muslim”.

Berbagai perbedaan yang ada di dunia ini adalah tanda kebesaran Allah SWT, seperti perbedaan bahasa yang ada. Asbabun nuzul dari ayat ini adalah kisah Bilal Bin Rabbah, yang mana dia dulunya adalah seorang budak, namun dipilih untuk mengumandangkan adzan oleh Nabi, walaupun Bilal merupakan mantan seorang budak dan berkulit hitam. hal Ini adalah bukti kebenaran Islam dalam keadilan dan kesetaraan, tidak memandang seseorang dari derajat atau pun kulitnya, namun melihat dari ketaqwaan hambanya kepada Allah. sehingga bila dikaitkan dengan konsep toleransi, maka islam telah mengajarkan konsep ini sejak dahulu, sehingga jangan mengajari islam tentang tolernsi, karena dari dulu islam sudah bertoleransi. Justru orang-orang yang tidak beragama lah yang tak bertoleransi. Namun pada zaman sekarang, fakta diputar-balikkan dan justru kita lah yang diajari untuk bertoleransi, lanjut al ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *