Islamisasi Ilmu: Kepingan yang hilang DiPuzzle Peradaban Islam

UNIDA Gontor- IKPM Malaysia gelar kuliah singkat tentang Islamisasi ilmu. Menariknya pada kuliah yang singkat dan sangat istimewa kali ini ialah bersama seorang guru besar Ust. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi. wakil rektor 2 Universitas Darussalam Gontor, yang datang dan bersilaturrahim kepada IIUM khususnya IKPM malaysia. kamis (03/10/2019).

Islamisasi Ilmu: Kepingan yang hilang DiPuzlle Peradaban Islam
silaturrahim Ust.Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi kepada IIUM malaysia.
iqt.unida.gontor.ac.id
Intisari dari kuliah singkat

Pada kuliah singkat ini Ust. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi menegaskan akan Islamisasi ilmu seperti yang beliau katakan Saya umpamakan kepingan puzzle karena memang, jika ingin membangun peradaban islam secara utuh konsep ini lazim diterima. ia merupakan conceptual network yang mestinya bisa diterima oleh umat islam yang meyakini Al-Qur’an dan sunnah sebagai sumber kebenaran. lalu mengapa konsep ini tersisihkan?…ada beberapa faktor diantaranya:

Beberapa Faktor

pertama, salah paham terkait objek islamisasi. Orang salah paham ketika mengatakan “tidak perlu mengislamkan komputer, ia tergantung siapa yang menggunakan”. Padahal objek islamisasi bukanlah tekhnologi melainkan sains (ilmu), sains berbeda dengan tekhnologi, sains memiliki metodelogi dan teori yang dipengaruhi oleh paradigma atau basic believe dari sebuah ummat. Buktinya, begitu banyak khazanah keilmuan islam lahir dari proses memahami Al-Qur’an, belum lagi memahami hadist Rasulullah SAW, itu karena umat islam me-YAKINI bahwa keduanya merupakan sumber kebenaran.

Kedua, salah paham sejarah. Ada sebuah kesalahpahaman ketika orang berpendapat. “Orang barat mengambil ilmu dari islam pada zaman keemasan, sehingga ilmu barat pada saat ini pada hakekatnya juga islami”. Keilmuan islam memang berkembang setelah bersinggungan dengan peradaban lain seperti yunani, akan tetapi ulama saat itu sangat selektif dalam mengambil ilmu dari peradaban lain, mereka tidak asal comot, mereka memiliki modal pemahaman islam yang sangat kuat.

Ketiga, kesalahan dalam memahami antara ideologi dan epistimologi. Sebagian tidak setuju karena jika ada islamisasi ilmu berarti nanti akan ada kristenisasi bahkan hinduisasi ilmu. Hal itu tentu saja tidak tepat, karena ini bukan gerakan ideologi akan tetapi epistimologi. Bukankah dalam sejarah islam tidak pernah terjadi pembunuhan “Galileo Galilei”? artinya tidak pernah terekam dalam islam adanya pertentangan yang begitu serius antara agama dan ilmu.

Selain itu ada yang menolak madzhab ini karena dinilai terlalu eksklusif dan simbolik. Hemat saya memang tidak ada yang sempurna, terutama dari sikap beberapa pengikut madzhab ini atau implementasi dari konsep ini sendiri. Akan tetapi hal itu tidak menjadi alasan kita sebagai umat islam menolak gerakan islamisasi ini, justru sebaiknya kita sempurnakan dan wujudkan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *