Filosofi ibadah

Filosofi ibadah adalah filosofi aktifitas manusia. karena definisi ibadah seluruh aktifitas manusia yang dicintai Allah. Manusia sering melihat aktifitasnya secara untung rugi. Padahal ia memiliki aspek transenden filosofis, yang tidak hanya kembali kepada pelaku, namun juga mengenalkan pelaku kepada esensi hidupnya.

Filosofi ibadah

Banyak motivator menganjurkan untuk bekerja sesuai hobi. Diantara manfaatnya produktifitas meningkat, tidak memikirkan gaji, tidak mengeluh, dan kemampuan diri meningkat. Namun di dunia banyak orang bekerja tanpa hobi. Bisa jadi karena terjebak ekonomi atau terjebak keadaan. Seperti orang yang batal ke Oxford karena tidak ada lagi yang merawat ibunya yang sakit menahun.

Bagi saya ada empat hal soal hobi. Pertama : apa yang kita senangi, sejatinya, adalah relatif. Ada orang hobi mancing, namun ketika mancing menjadi sebuah profesi, terkadang terasa hambar. Mungkin berbeda dengan orang yang sibuk bekerja di kantor yang hobi mancing, saat weekend betapa menikmati hobinya.

Kedua : apa yang kita benci, sejatinya, juga relatif. Banyak orang menjalani sebuah profesi dengan paksaan. Namun perlahan ia mulai menyukai pekerjaannya dan menemukan passionnya.

Ketiga : kita sering mengasumsikan senang terhadap pekerjaan. Dan menekuni hal itu. Padahal belum tentu itu passionnya. Atau belum tentu itu panggilan hatinya. Seperti orang yang suka futsal, tapi tidak ada perkembangan meski berkali-kali main. Bisa jadi dia suka bola tapi tidak bisa main bola. Atau dia suka futsal karena faktor sekunder, seperti senang kumpul atau senang manfaatnya untuk kesehatan dsb.

Keempat : apa yang disebut bakat dari lahir. Sebenarnya masih debatable dalam teori psikologi. Karena manusia sering terbentuk dari faktor luar. Tidak ada gen pemusik, gen pemain bola, gen penyanyi dsb.

Kaitan ibadah dengan kebahagiaan

Trus bagaimana dengan proyek besar kita untuk mewujudkan mimpi selama ini. Apakah perlu ditegakkan. Ada orang yang sering fokus dengan mimpi. Tapi secara tidak sadar dia telah menciptakan masyarakat atau tatanan sosial yang egois.

Ada orang yg merasa hobi fotography, tapi karena ortunya menginginkan lain. Akhirnya menjadi konflik seumur hidup dengan ortunya. Ada yang ingin ke luar negeri. Namun karena desanya membutuhkannya untuk membangun, dia meninggalkan desanya, dan desanya menjadi rusak.

Jika kita kembali ke poin 1 dan 2. Persoalan senang dan tidak, sebenarnya, bukan faktor eksternal, tetapi internal. Dalam teori kebahagiaan. Orang barat sering menganggap bahwa happiness is inside in yorself. Atau sebenarnya bahagia itu dari dalam bukan dari luar. Bahagia bukan terletak di objek (pekerjaan, benda, dsb), tetapi di jiwa, dan bisa ditemukan

Lebih jauh tentang kebahagiaan

Lebih jauh, Islam menjelaskan bahwa, kebahagiaan itu diturunkan oleh Allah. Huwalladzi anzala al-sakinata fi qulub al-mukminin. Dialah Allah yang menurunkan kedamaian dalam hati orang-orang yang beriman.

Banyak orang yang menjalani profesi, karena tuntutan dan keadaan, dan bukan dari hobi atau kesenangan, namun karena dia ikhlas, akhirnya dia menemukan panggilan hatinya, menemukan passionnya, dan menemukan kebahagiaan.

Sebenarnya konsep meraih mimpi itu tidak sepenuhnya salah. Tapi yang salah cara pandang kita. Kita merasa memiliki suatu mimpi dan melawan keadaan demi mewujudkan mimpinya. Karena cita-cita yang sejati sebenarnya tidak ada konflik kanan kiri, berlaku integral dan holistik

Jika manusia dibiarkan mengikuti keinginannya sendiri-sendiri alangkah egoisnya dunia. Bencana kelaparan, kemiskinan, kebodohan, buta huruf, dan terutama buta agama akan merebak. Karena kita fokus pada diri sendiri dan tidak memikirkan sekitar.

Maka sudah pas jika Allah hanya menyuruh kita untuk beribadah. Adzariyat 56. Artinya manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah. Bukan menuruti egoisnya. Kita bisa lihat mentari yang terus bersinar, sungai mengalir, terjadinya berbagai musim. Karena alam semesta lebih memahami perintah Allah untuk bersujud (ibadah). Maka kesenangan belum tentu patokan, karena filosofi ibadah justru memahamkan manusia esensi hidup.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *