Muharram Cup 2020: Ada Yang Beda?

Iqt.unida.gontor.ac.id Muharram Cup 2020 pada tahun ini agak sedikit berbeda dengan melirik perbandingan pada tahun-tahun sebelumnya. Tentunya tahun ini lebih banyak ujian dan cobaan yang sedang dihadapi dunia secara umum. Namun, bukan berarti hal ini menjadi halangan maupun rintangan bagi mahasiswa santri (Mahasantri) untuk menjalankan amanah dalam berkegiatan meningkatkan potensi. Buktinya syukur alhamdulillah muharram cup 2020 tahun ini telah sukses dilaksanakan, yaitu dimulai sejak hari jum’at (28/08) dan di tutup pada jum’at malam (4/09) di depan gedung utama baru Universitas Darussalam Gontor, Kampus Siman.

Mengapa Berbeda?

Muharram Cup 2020 memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana pada tahun sebelumnya pemegang juara umum di raih oleh fakultas Ushuluddin. Tetapi tidak menutup kemungkinan fakultas yang lain akan segera menyusul karena tahun demi tahun perebutan gelar juara umum pun semakin hangat dan persaingan bertambah ketat. Seperti dari beberapa hasil perlombaan sebagaimana berikut:

Juara umum ke 2 pada perhelatan lomba Muharram Cup 2020
Hasil Peraihan Perlombaan Muharram Cup 2020

Setelah beberapa peraihan yang di raih dari fakultas ushuluddin pada beberapa lomba seperti olah raga, olah rasa, olah fikir serta olah zikir. Alhamdulillah dengan hasil gemilang yang diraih oleh mahasiswa AFI, SAA, dan IQT bisa membawa fakultas Ushuluddin meraih posisi juara umum ke 2 pada muharram cup 2020 kali ini. Walaupun sejatinya prestasi yang menurun, namun demikian tidak lain merupakan usaha yang sudah di buktikan. Selalu belajarlah dari kekalahan, kegagalan bahkan pengalaman pahit sekalipun, sehingga kelak rasa pahit itu berganti rasa menjadi kemanisan yang nikmat dan tidak sesaat. Semangat terus Allahu Akbar. Wallahu’Alam Bissawab (Ed.Husein)

Sihir Dalam Al-Qur’an (2/102)

iqt.unida.gontor.ac.id Sahabat-Sahabat Ushuluddin semuanya, apa kabar? Semoga sehat dan selalu berada dalam naungan Sang Pencipta. Apakah anda tahu apa itu Black Magic (Sihir Hitam) yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 102. Di sini akan sedikit dijelaskan apakah maksud dari Black Magic (Sihir Hitam) dalam ayat tersebut?

Tafsir Al-Misbah

Dalam tafsir al-Mishbah di jelaskan bahwa kerajaan Bani Isra’il terbagi dua setelah wafatnya Nabi Suliman as. Yang pertama adalah kerajaan putra nabi Sulaiman bernama Rahbi’am dengan ibu kotanya Yerussalem. Kerajaan ini tidak diikuti siapapun kecuali cucu Yahudza dan cucu Benyamin. Yang kedua dipimpin oleh Yurbi’am putra Banath salah seorang anak buah Nabi Suliman yang gagah dan berani serta dikasih oleh beliau kekusaan yang berpusat diSamirah. Ia digelari dengan raja Isra’il. Tetapi masyarakatnya sangat bejat dan mengaburkan ajaran agama.

Kemudian terjadilah permusuhan di antara dua kerajaan tersebut. Putra Nabi Sulaiman tentunya membanggakan dirinya sebagai anak nabi, yang memiliki nama sangat harum di masyarakat. Sedangkan musuh-musuhnya berusaha memperkecil keutamaannya dengan menyebarkan isu-isu negatif atau kebohongan ajaran nabi Sulaiman. Contohnya mereka mengatakan bahwa Nabi Sulaiman telah kafir, dan kekuasaannya yang begitu besar adalah karena sihir.

Mereka itulah yang di maksud dalam ayat ini yang menyatakan bahwa “Dan mereka mengikuti apa yang di baca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman, yakni Kitab Allah mereka tinggalkan,lalu mereka membaca kitab setan”. Orang-orang Yahudi mengikuti apa yakni sihir yang diturunkan kepada dua malaikat yang merupakan hamba-hamba Allah yang tercipta dari cahaya dan hanya dapat taat kepada nya, atau dua manusia yang saleh bagaikan malaikat. Mereka berdua berada di daerah Babil yaitu harut dan Marut. Harut dan Marut memang mengajarkan mengajarkan sihir, tetapi berbeda dengan setan dan juga kaum Yahudi yang mengikuti setan. Keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu sebab itu jangan lah kamu kafir ”.

Kedua malaikat tersebut selalu menasihati bagi siapapun yang mempelajari sihir itu dari mereka, karena sensungguh nya apa yang mereka ajarkan itu adalah cobaan. Cobaan itu bertujuan untuk membedakan yang taatan yang durhaka, serta membuktikan perbedaan antara sihir dan mukjizat. Demikian lah nasihat Harut dan Marut, tetapi sebagian dari mereka yang mempelajari nya mereka membangkang dan enggan mengikuti nasihat. Mereka menggunaan sihir tersebut untuk menceraikan seseorang dengan pasangan nya (suami istri).

Pendapat Ulama

Ulama berpendapat mengenai definisi sihir, ada yang berpendapat bahwa sihir adalah pengetahuan yang dengan nya seseorang memiliki kemampuan kejiwaan yang dapat melahirkan hal-hal aneh dan sebab-sebab tersembunyi. Ulama menilai bahwa sihir sebagai alat setan untuk memperdaya manusia. Dengan demikian kita telah mengetahui pendapat ulama mengenai sihir, yang pada inti nya dengan sihir mereka memperdaya manusia, dan inilah yang di maksud dengan Black Magic yaitu sihir. Dan jangan lupa setan hanya memperdaya manusia dengan hal-hal yang jelek, tetapi setan dapat memperindah sesuatu yang buruk dengan tipu muslihat nya.  

Allah swt berfirman : “ Tidak akan beruntung tukang sihir itu, dari mana saja ia datang ” ( QS. At-Thaha : 69 ).

Dari ayat ini juga diketahui bagaimana sikap kaum yahudi terhadap Nabi Sulaiman, kepada Nabi Sulaiman saja mereka membangkang, apalagi kepada Rasulullah saw.Untuk itu kita semuanya jangan lah mendekati perbuatan tercela tersebut,tidak hanya di dalam al-quran, dalam hadis Rasulullah juga di jelaskan bahwa sihir salah satu dari kabair (dosa besar). 

Yang telah dipaparkan ini adalah salah satu al-hadisah al-ghobiroh, yaitu peristiwa yang terjadi pada nabi-nabi terdahulu. Masih banyak peristiwa-peristiwa dalam al-qur’an yang belum di ketahui, untuk itu marilah sahabat-sahabat Ushuluddin semuanya mentadaburi ayat-ayatnya, dan semoga kita semuanya selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin Wallahu A’lam Bissawab. (Pen.Rowiyah/Ed.Husein)

BAGAIMANA CARA MENGGAPAI KHUSYU’ DALAM SHALAT

Salah satu tanda muslim-muslimah yang beriman adalah khusyu’ dalam menunaikan ibadah kepada Allah SWT terutama shalat. Kita membutuhkan kesungguhan dan fokus untuk mencapai kekhusyu’an dalam shalat sebagai tiang/pondasi agama Islam. Kesungguhan dalam melaksanakannya dengan fokus kepada Sang Khaliq, Allah SWT. Sebagaimana pemanah yang harus fokus ketika ia akan membidik anak panah menuju satu titik. Sebagaimana pula ketika pengemudi kendaraan harus memfokuskan matanya untuk melihat ke depan tanpa menoleh ke arah lain. Terfokusnya seseorang pada satu titik di depannya itulah yang disebut khusyu’ hanya kepada Sang Maha Kuasa.

BAGAIMANA CARA MENGGAPAI KHUSYU’ DALAM SHALAT
Muslim man prays in mosque

Secara bahasa arti khusyu’ yaitu tunduk, tenang, dan merendahkan diri. Sedangkan menurut para ulama, khusyu’ memiliki arti yang cukup luas yaitu kelunakan hati, ketenangan pikiran, dan tunduknya kemauan yang rendah yang disebabkan oleh emosi dan hati yang menangis ketika berada di hadapan Allah sehingga hilang segala kesombongan yang melekat dalam hati tersebut. Nah bagaimana langkah-langkah khusyu’ dalam sholat.

1. Memahami makna setiap bacaan

Khusyu’ dalam shalat adalah memahami makna setiap bacaannya dan menjiwai setiap gerakannya. Karena shalat bukan hanya sekedar menghafalkan dan melafadhkan bacaannya dan bukan sekedar pergerakan tubuh. Tapi shalat membutuhkan jiwa dan hati untuk mencapai kekhusyu’an.

عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلاً يَبْعَثُ بِلِحْيَتِهِ فِي الصَّلاَةِ فَقَالَ: لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هَذَا لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ. (رواه الترمذي)

Dari Abi Hurairah RA, bahwa Nabi SAW melihat seseorang memainkan jenggotnya ketika shalat. Maka beliau berkata,”Seandainya hatinya khusyu’ maka khusyu’ pula anggota badannya. (HR. Tirmidzi)

2. Merasakah Ketenangan dan Kedamaian

Kekhusyu’an bisa dicapai seorang hamba apabila ia mampu merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hati dan jiwanya, sehingga fikirannya terpenuhi oleh Allah dan juga sikapnya yang selalu menunjukkan kesopanan di hadapan Allah SWT. Seolah ia bisa berdialog dengan-Nya lewat dzikir-dzikir  yang ia lafadhkan dan doa-doa yang ia panjatkan. Hingga ia merenung lama menyaksikan dirinya yang setiap hari mendapatkan nikmat-nikmat Allah yang tak terduga sedang dirinya diliputi oleh dosa-dosa. Sampai pada puncaknya, air mata pun menetes di antara ketentraman hati dan jiwa yang menyambut suasana cinta, takut, khawatir, bercampur malu. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

وَيَخِرُّوْنَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا (الإسراء : 109)

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Israa’: 109). Sehingga secara otomatis, jika hati dan jiwa kita telah khusyu’, maka anggota badan dan lisan kita pun khusyu’ dalam melaksanakan shalat.

3. Fokus

Ada beberapa hal yang menyerupai makna khusyu’, namun jika ditilik lagi ternyata sangat jauh berbeda. Khusyu’ yang berarti fokus menuju Allah hingga merasakan ketentraman lahir batin, bukan berarti keluar dari dunia nyata. Seperti contoh yang telah disebutkan, khusyu’ itu ibarat mengemudi di jalan raya dengan fokus melihat ke depan. Namun fokus yang dimaksud tentu bukan berarti matanya tertutup atau telinga tersumbat sehingga tidak melihat atau mendengar apapun, agar dapat fokus tanpa gangguan. Justru jika hal-hal tersebut dilakukan, maka besar kemungkinan akan terjadi kecelakaan di jalan. Karena apa yang dilakukannya bukanlah fokus, melainkan menutup diri dari semua petunjuk dan lalu lalang di jalan raya.

Jadi, kekhusyu’an dalam shalat itu bukanlah shalat dengan menutup mata, telinga dan menutup diri dari lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, dikatakan khusyu’ jika ia sadar dan peduli dengan apa yang terjadi pada dirinya, lingkungannya, serta situasi yang ada saat itu.

Dengan shalat yang khusyu’ berarti seorang hamba telah menganggap Allah sebagai satu-satunya penolong karena ia sadar akan dirinya yang tak mampu melakukan apapun selain dengan pertolongan-Nya. Dan juga karena ia sadar shalatnya itu bukanlah sekedar perintah Tuhannya untuk dilaksanakan sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan manusia kepada Sang Penciptanya. Sebagaimana firman-firman Allah:

وَقَالُوْا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ   (ال عمران : 173)

“Dan mereka berkata: Cukuplah Allah )menjadi Penolong( bagi kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imron: 173)

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إلاَّ عَلَى الخَاشِعِيْنَ (البقرة: 45)

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS: Al Baqarah: 45)

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ  (البقرة: 153)

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS: Al Baqarah: 153)

4. Sabar dalam menggapai khusyu’

Dari ayat tersebut, shalat dikaitkan dengan sabar. Karena salah satu ciri orang yang khusyu’ dalam shalatnya ialah bersabar, sabar dalam menjalankannya. Karena dengan kesabaran maka akan merasakan ketenangan dan ketentraman lahir batin dalam menjalankan shalatnya (thuma’ninah). Bukan yang tergesa-gesa, yang hanya menjadikan shalat sebagai penggugur kewajiban belaka dan menjadikannya sebagai kewajiban selingan, yaitu sebagai pergantian antara aktifitas satu dengan lainnya.

Sebagai contoh, jika seseorang sedang mengalami rasa lapar yang sangat saat waktu shalat tiba. Maka lebih baik untuk mendahulukan makan dan melaksanakan shalat setelah hilang rasa laparnya, agar dalam melakukan shalat tidak perlu tergesa-gesa karena dililit oleh rasa lapar. Lebih baik makan sambil teringat shalat, daripada shalat sambil teringat makan. Kecuali, jika sanggup menahan rasa lapar sehingga tidak ada gangguan saat melaksanakan shalat, maka boleh menunda makan setelah shalat. Sebagaimana hadist Nabi menyebutkan:

Dari Anas RA, ia berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda: “Apabila sudah dihidangakan makanan malam, maka dahulukanlah makan, sebelum kamu (kerjakan) shalat Maghrib.” (Disetujui oleh Imam Bukhari dan Muslim)

5. Memperoleh tanda-tanda khusyu’

Adapun keutamaan khusyu’ antara lain : ia akan selalu menyegerakan kebaikan, akan beruntung, memperoleh ampunan, mendapatkan pahala yang besar, dan kekhusyu’annya membukakan jalan menuju surga.

Sebagaimana firman Allah SWT:

قَدْ أَفْلَحَ المـُــؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ (المؤمنون: 1-2)

“Telah beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang di dalam shalatnya khusyu’.” (QS: Al-Mu’minun: 1-2)

Juga seperti kisah Nabi Zakaria yang Allah firmankan di QS. Al-Anbiya’ ayat 90:

 “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” Bahwa Nabi Zakaria tertulis sebagai orang yang khusyu’, bukan hanya dalam doanya melainkan seluruh aktifitas kesehariannya.

6. Istiqomah

Maka dari itu, kekhusyu’an dalam shalat kita seharusnya menjadi alat ukur kekhusyu’an dalam ibadah-ibadah kita dan aktifitas lainnya. Bukan hanya menjadi perantara pergantian aktifitas belaka yang justru menjadikan maknanya lebih sempit dan terbalik.

Kunci untuk bisa menjaga kekhusyu’an dalam shalat yaitu dengan mengamalkan secara terus menerus dan mempertahankannya. Mencari cara untuk taqarrub kepada Allah, agar hati yang tersambung terus kepada Allah dengan berdzikir dan menyebut nama-Nya dalam hati dan jiwa. Dan mempertahankannya dalam segala aktifitas yang dijalani sepanjang waktu. Wa Allahu a’lam bisshawab.

Oleh: Riza Nurlaila

Editor : Ilham Habibullah

KISAH PERJALANAN HIDUP SEORANG WANITA BERNAMA MARYAM

Iqt.unida.gontor.ac.id Dikisahkan bahwa Maryam merupakan putri dari seorang lelaki bernama Imran dengan pasangan kekasihnya seorang wanita bernama Hana. Maryam adalah satu-satunya nama seorang perempuan yang tercantum dan diabadikan dalam Al-qur’an bernama surah Maryam. Tentunya namanya disebutkan dalam Al-qur’an karena memiliki sifat yang mulia dan suci.

Sebagaimana dalam surah Al-imran ayat 53-63 bahwa ibunya yang bernama Hana binti Fakudz, ditinggalkan suaminya dikarenakan meninggal di saat ia tengah hamil dan belum melahirkan, rasa sedih yang begitu besar sangat ia rasakan lantaran anaknya akan lahir tanpa seorang ayah, dan dia mengubah kesedihannya tersebut menjadi nazar yang baik agar kelak anak yang dilahirkannya bisa menjadi anak yang baik dan mulia.

Nazar Seseorang Bernama Hana

Dia bernazar agar kelak anaknya bisa menjadi seorang yang bisa mengabdi dan bekerja di baitul maqdis, nazar tersebut merupakan bentuk ketaatannya pada Allah dan inilah contoh yang baik bagi setiap orangtua jika akan mempunyai anak, seyogiyanya diniatkan dan mendo’akan anaknya agar kelak menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi agamanya dan bangsanya.

Selama menunggu kelahiran sang buah hati, Hana berharap ketika melahirkan supaya melahirkan seorang anak laki-laki. Namun, tak ada satu pun orang yang mengetahui nazarnya tersebut kecuali dirinya sendiri. Hana berharap anaknya seorang laki-laki agar kelak ketika telah dewasa dapat bekerja di tempat peribadatan dan mengabdi untuk bekerja disuatu gereja. Dikarenakan pada zaman dahulu lelaki di anggap lebih bisa untuk bekerja dibanding seorang wanita, karena wanita memiliki hari dimana dia akan mendapatkan datang bulan, sedangkan seorang lelaki tak mengalaminya, karena itulah wanita dianggap lemah dari pada seorang lelaki.

Namun Hana melahirkan seorang anak perempuan, ia pun memberikan nama anaknya Maryam dikarenakan pada zaman dahulu Maryam memiliki arti yang bagus yaitu seorang hamba wanita. Nama itu merupakan harapan sekaligus do’a agar kelak anaknya bisa serupa dengan nama yang ia berikan. Akan tetapi, jika di lihat artinya dalam kitab taurat dan injil telah memiliki arti yang berbeda yaitu aliran laut.

Maryam Adalah Pilihan

Kembali disebutkan dalam surah Al-imran ayat 24 -34 menjelaskan tentang terpilihnya maryam di sisi Allah sebagai salah satu wanita yang mulia dan disucikan. Maksudnya Allah mensucikannya dari segala perbuatan tercala dan dosa-dosa, Allah memilihnya menjadi satu-satunya wanita yang memiliki karomah yang tidak dimiliki wanita lain, yaitu Allah menyimpan benih janin seorang anak laki-laki yang kelak akan menjadi orang pilihan di muka bumi. Namun ia hamil tanpa ada hubungannya dengan seorang lelaki (suami). ini merupakan kejadian yang tak pernah di alami seluruh wanita di dunia ini selain dirinya.

Maryam juga memiliki karomah yaitu mendapatkan makanan yang turun dari langit, makanan tersebut merupakan pemberian dari Allah sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada Maryam. Pada suatu hari Zakaria adalah seorang lelaki yang mengurus kehidupan Maryam, ia melihat makanan dalam rumah Maryam yang tiba-tiba ada, padahal sebelumnya ia tidak memasak begitupun tak ada seorang pun yang datang untuk memberikan makanan untuk mereka berdua. Maka bertanyalah Zakaria kepada Maryam, wahai maryam dari manakah kamu mendapatkan makanan itu? Dan maryam menjawabnya: Wahai zakaria makanan ini berasal dari sisi Allah, Allah lah yang memberi rezeki kepada siapa saja yang ia kehendaki tanpa perhitungan.

Dikaruniai Seorang anak

Sewaktu datangnya berita kepada Maryam bahwa ia akan dikaruniai seorang anak tanpa seorang lelaki (suami), ia merasa takut dan gelisah lantaran dia sendiri tidak pernah bersentuhan dengan seorang lelaki manapun, sehingga ia takut akan munculnya kecurigaan orang-orang disekitarnya yang akan mengira bahwa ia telah berzina. Lebih dari itu akan munculnya berita-berita yang tidak diinginkannya. Seketika itupun malaikat jibril langsung mengabarinya bahwa ini adalah pemberian dari Allah SWT yang diberikan kepadanya, dan ini adalah bentuk kasih sayang yang diberikan kepadanya yang tidak diberikan kepada siapapun kecuali dirinya. Dengan sekejap ketika mendengar penjelasan dari jibril rasa ketakutan itupun lenyap dan berubah menjadi suatu kekaguman dan kesyukuran kepada Rabnya. Wallahu a’lam bissawab. (Penulis: Nurul atika sari/Ed: Husein)

Cerita Inspiratif Sahabat Nabi dan Sholat Ashar

Iqt.unida.gontor.ac.id Ada seseorang yang bercerita, dari sebuah Cerita inspiratif bahwa dirinya itu selalu terbiasa dengan sesuatu yang terukur. Hal ini juga terbawa dalam menilai suatu hal yang berkaitan dengan ibadah (misalnya puasa dan sholat) yang selalu ia jalani selama hidupnya. Saat itu ia tahu bahwa tujuan dari ibadah adalah Taqarrub Ilaa Allah agar menjadi manusia yang bertaqwa, maka kemudian ia pun terus mencari apa ukuran seseorang bertaqwa. Ternyata, ukuran taqwa sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 2-5, surat Al Imran ayat 133-135, dan surat Adz-dzhariat ayat 16-20.

Selain tentang keimanan, ia juga menceritakan bahwa ukuran taqwa adalah mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain dan rajin berderma (bersedekah). Dan tentu, menjalankan ibadah yang paling mendasar yaitu sholat yang juga termasuk dalam indikator ukuran atau kriteria orang-orang yang bertaqwa. Jangan merasa dan mengaku bertaqwa apabila masih enggan dan bermalas-malasan saat mengerjakan sholat baik sendiri maupun berjamaah.

Kita sepakat bahwa sholat adalah tiang agama, karenanya ibadah sholat merupakan amalan yang akan dihisab pertama kali ketika yaumil hisab. Tentunya yaumil hisab ialah dimana semua amal perbuatan manusia semasa hidupnya akan diperhitungkan, baik itu amalan yang kecil ataupun amalan yang besar, baik itu amalan yang baik maupun amalan yang buruk. Berangkat dari sini penulis menukil sebuah cerita inspiratif dari seorang guru yang biasa di panggil seorang ustadz, denganya ia mengisahkan tentang seorang sahabat Nabi dan sholat Ashar.

Benarkah Sholat Senilai 47,2 Milyar rupiah?

Umar Bin Khattab Dan Sholat Ashar

Umar bin Khattab adalah sahabat nabi dan pemimpin umat islam ketiga pada era KhulafaUrrasyidin sepeninggal Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar, dimana ia pernah memberikan teladan tentang betapa berharganya sholat berjamaah di masjid. Anaknya Umar yaitu Abdullah bin Umar pernah mengisahkan bahwa sang ayah pernah ketiduran di kebun kurma miliknya sehingga membuat sang ayah terlambat sholat ashar berjamaah di masjid.

Atas keteledoran itu, Umar bin Khattab menyumbangkan kebun kurma yang telah membuatnya terlambat tersebut kepada Baitul Maal untuk dimanfaatkan membantu fakir miskin. Konon, kebun kurma tersebut berharga 600.000 dirham. Saat ini, menurut standar dari Logam Mulia –Aneka Tambang, 1 dirham setara dengan Rp 78.610. Berarti kebun kurma milik Umar bin Khattab yang disedekahkan akibat terlambat ikut sholat Ashar di masjid senilai 600.000 x 78.610 = Rp 47.166.000.000. Apabila dibulatkan menjadi 47.2 milyar rupiah.

Hikmah

Oleh karenanya hikmah yang dapat kita ambil dari cerita inspiratif singkat diatas adalah betapa berharganya sholat Ashar berjamaah di masjid bagi Umar bin Khattab. Padahal hanya terlambat sedikit, bukan mengakhirkan sholat apalagi meninggalkannya.

Ketahuilah bahwa hidup kita benar-benar berpeluang menghasilkan ketaqwaan yang sejati apabila kita sudah menjalankan indikator taqwa, salah satunya adalah memprioritaskan sholat berjamaah.

Perbaikilah sholatmu…

Niscaya akan memperbaiki seluruh amalmu…

Kalamhikmah

Dengan demikian Kalau toh kita tidak bisa seperti Umar bin Khattab, setidaknya kita tidak mengakhirkan waktu sholat apalagi meninggalkannya. (Ed: Husein)

AL-QURU’ MENURUT AL-ANBARY DI DALAM KITAB AL-ADHDAD

Iqt.Unida.Gontor.ac.id. Sebelum membahas Al-Quru’ dalam al-Qur’an menurut Al-Anbary di dalam kitab Al-Adhdad. Bahwasanya Allah telah menurunkan Kitab al-Qur’an agar umat-Nya senantiasa mengingat dan berfikir tentang makna yang terkandung di dalamnya. Al-Qur’an adalah surat dengan Kalam Allah untuk seluruh manusia, karena al-Qur’an sebagai kitab suci, hidayah serta petunjuk bagi umat muslim, dan al-Qur’an adalah sebagai mukjizat karena lafazdnya yang fasih dan maknanya yang paling benar.

Kebenaran Al-Qur’an melahirkan banyak disiplin ilmu, diantaranya yang datang dari karangan kitab-kitab para mufasir, tentunya para mufasir menginterpretasikan ayat-ayat dengan berbagai cara/metode, corak, dan pendekatan dalam ilmu tafsir. Tafsir adalah penjelasan kalamullah atau penjelesan tentang lafadz-lafadz al-Qur’an yang sesuai dengan kaidah ilmu tafsir. Sehingga tak jarang para ulama dan mufasirun berbeda pandangan baik dari segi pemahaman maknanya dan penafsirannya, seperti diskursus mengenai Al-Quru dalam al-Qur’an sebagaimana berikut.

Kalimat Al-Quru’

Al-Quru’ dalam al-Qur’an merupakan salah satu pembahasan terpopuler dalam kalangan ulama dan mufasir, baik dari segi bahasa maupun segi fiqh. Namun, terdapat satu riset penilitian yang belum banyak di jamah oleh para ulama, sehingga terjadilah pembahsan hangat dengan adanya kalimat Quru’ dalam al-Qur’an, karena al-Quru’ adalah salah satu dari kalimat al-Adhdad yang mengandung dua makna dalam al-Qur’an, yaitu haid dan thahr.

Sebagaimana yang terjadi pada zaman sekarang, manusia mulai membahas hangat akan makna al-Quru’ yang sebenarnya, oleh karenanya dari sinilah muncul para ahli dalam ilmu al-Qur’an dan bahasa, salah satunya adalah Al-Anbary dalam bukunya Al-Adhdad.

Al-Quru’ Menurut Al-Anbary

Al-Anbary menjelaskan, bahwa lafadz Quru’ memiliki dua makna, salah satu dari maknanya adalah seperti Quru’ secara bahasa, dalam bentuk jama’nya yaitu aqra dan quru’. Adalah al-Quru’ bermakna Haid, Tahir, atau waktu ialah yang berarti pengertian akan panjangnya masa ‘iddah sebagai pertanda bolehnya menikah kembali setelah kurun waktu tertentu.

Dengan demikian kesimpulan yang dapat di ambil dari penjelasan singkat di atas adalah bahwa makna al-Quru’  menurut al-Anbary mempunyai perbedaan dalam pemahaman maknanya. Al-Anbary menjelaskan di dalam bukunya bahwa kata al-Quru’ adalah al-Adhdad, yang berarti haid dan thahr.

Dari sini bahwa pembacaan kata yang berlawanan dalam bahasa di antara dua makna, lawan adalah semacam semantik, dan asal-usul bacaan adalah pertemuan, yang disebut “imbuhan” dari pertemuan darah di dalam rahim, bacaan terbuka dan mencakup arti nasihat, suci dan waktu. Sedangkan dalam pandangan ilmu signifikan, kata al-Quru’ menurut perspektif Al-Anbary adalah thahr, Sehingga peneliti menganggap bahwa makna yang paling umum dari Al-Quru’ dalam bahasa Arab adalah thahr. (Ed: Husein)

MKDK Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UNIDA Gontor 2020

Diumumkan bagi seluruh Mahasiswa dan Mahasiswa Prodi IQT UNIDA Gontor Semester 7 yang berada di kampus Siman, Robitoh, dan Mantingan, bahwa ujian MKDK (Materi Komprehensif Dasar Khusus) akan dilaksanakan setelah UTS

Materi MKDK Prodi IQT UNIDA 2020

Dengan ini pihak Prodi menghimbau kepada seluruh Mahasiswa dan Mahasiswi untuk mempersiapkan diri dalam ujian tersebut. Dan dapat mengakses Materi MKDK Prodi IQT UNIDA Gontor 2020 yang diujikan sebagaimana terlampir di bawah ini.

MATERI MKDK

Mundzirul Qoum Hari Ini : Realisasi Adab di era Modern

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah:122)

Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa kalimat lampau dalam permulaan ayat ini digunakan sebagai bentuk celaan atas meninggalkan perkerjaan yang telah lalu dan perintah untuk masa mendatang. Tentu hal ini berkaitan dengan sebab diturunkannya ayat. Dahulu, pada masa Rasulullah SAW banyak orang yang senang pergi berperang untuk berjihad, sehingga hanya menyisakan segelintir orang yang menetap. Maka, diturunkanlah ayat yang menyatakan bahwa jihad menjadi tidak wajib jika Rasulullah SAW tidak ikut serta.

Jihad dan menuntut ilmu menjadi fardhu kifayah. Mengapa jihad dinyatakan sebagai fardhu kifayah dan bukan fardhu ain? Berdasarkan urgensi yang ada kala itu, apabila semua orang pergi berjihad, maka kepentingan umat akan terhenti. Tidak ada yang akan memegang tonggak kepemimpinan bila sang pemimpin turut pergi. Tak ada yang dapat mengadili jika sang hakim turut pergi. Tak ada yang dapat mendidik anak jika sang ayah turut pergi. Meski begitu, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, maka bagi mereka yang menetap hendaknya mendalami syariat dan mengajarkannya pada mujahidin bila mereka telah kembali.

Berjihad di zaman ini memiliki berbagai macam bentuk. Tak hanya dengan pedang bak mujahidin terdahulu, namun juga dengan pikirannya. Maka bila dari sekelompok muslim tengah mempelajari ilmu pengetahuan yang menjadi senjata andalan Barat, hendaklah sekelompok lainnya teguh mempelari ilmu agamanya dan memperingatkan muslimin lain bila tengah lalai.

Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah dalam Tafsir Al-Azhar terkait ayat ini menuliskan, “Apa yang diperjuangkan di garis muka, kalau tidak ada di belakang yang mengisi ruhani?”. Pernyataan ini sebanding lurus dengan kutipan Al-Ghazali dalam kitab Al-Hikam, “Yang terpenting bukannya tercapainya apa yang engkau cari, tetapi yang penting adalah engkau dilimpahi rezeki adab yang baik.” Bagi penuntut ilmu, terlebih para mundzirul qoum, adab selayaknya menjadi modal utama untuk mencapai hakikat ilmu itu sendiri. Tanpa adab, takkan mampu para pembelajar itu mencapai derajat ‘alim.

Mundzirul Qoum Hari Ini : Realisasi Adab di era Modern

Semangat mundzirul qoum sekiranya sangat sesuai dengan semangat Sumpah Pemuda yang digaungkan oleh Boedi Oetomo, Wage Roedolf Soepratman, Moh. Yamin, dan Sugondo Joyopuspito pada 28 Oktober 1928. Mereka bertekad dengan satu cita-cita, semangat yang sama melahirkan satu visi dan perjuangan bersama, yakni satu tanah air, satu bahasa dan satu bangsa yakni Indonesia. Sejarah pun terukir di kala

Menaati perintah guru adalah kunci utama. Ketika Rasulullah telah tiada, maka perpanjangan tangan beliau adalah para ulama. Penerus ilmu beliau adalah para ulama. Para ulama itulah yang akan menjadi gurunya umat muslim seluruh dunia. Menghormati ulama wajib hukumnya bagi umat muslim. Mencelanya ada laknat. Memakinya menjadi biadab. Namun apa yang terjadi hari ini. Fitnah tengah bertebaran di kalangan para ulama. Entah dari mana hal itu bermuara. Segala yang haq dan bathil menjadi bias dan cenderung kias.

Menjadi umat Muslim hari ini ‘memang sulit’. Menjadi seorang mundzirul qoum apa lagi. Sulit menjauhkan diri dari dosa, sulit mendekatkan diri dengan pahala, sulit membedakan mana yang haq dan bathil. Apakah benar sesulit itu? Iya. Jika kita tidak membekali diri dengan ilmu dan membentengi hati dengan iman.

Patut diperhatikan bahwa, tak mungkin pribadi dengan kapabilitas unggul tercapai tanpa adab yang tinggi pula. Bila adab telah dimiliki, maka hakikat ‘alim akan tercapai. Tak akan diragukan pula bila pribadi semacam itu memiliki akhlak yang indah. 

Penulis : Anugrah Suciati, S.Farm, (Alumni Farmasi UNIDA Gontor)
Editor : Ilham Habibullah, M.Ag

Atmosfer Baru Orientasi Perkenalan Fakultas Ushuluddin

          Rabu, 8 Juli 2020, manjadi sebuah hari yang memiliki atmosfer baru dalam Orientasi Perkenalan Fakultas Ushuluddin di Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri, Mantingan. Kegiatan ini dihadiri oleh para dosen dan staff  fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor serta seluruh mahasiswi fakultas Ushuluddin termasuk semester 1 yang baru bergabung dengan keluarga besar Ushuluddin turut berpartisipasi merasakan atmosfer tersebut yang memiliki rasa kekeluargaan tinggi.

          Dalam kesempatan ini Dekan fakultas Ushuluddin, Al-Ustadz Drs.H. Syamsul Hadi Untung, M.A, M.Ls pun menyampaikan kata sambutannya yang  mencerahkan fikiran mahasiswi khususnya mengenai ‘untuk apa kita belajar di Ushuluddin’. “Ushuluddin adalah ibu dari semua fakultas. Kita harus menjadi sebaik-baik contoh untuk semua Fakultas lain karena kita adalah sumber dari semua ilmu pengetahuan,” demikian ungkapan beliau ditengah situasi yang mengharuskan mahasiswa/i bangkit demi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di kampus bagi para penerus dakwah di masa mendatang.

          Selain perkenalan Fakultas, tentu perkenalan Prodi pun dilakukan dalam rangkaian acara tersebut. KaProdi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Al-Ustadz Ahmad Fadly Rahman Akbar, M.A beserta para dosen lainnya juga ikut andil dalam tahap perkenalan ini. Tujuannya adalah agar seluruh lapisan Mahasiswi program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir semakin mengenal para dosen baik secara personal maupun bidang khusus yang diampu.

Atmosfer Baru Orientasi Perkenalan Fakultas Ushuluddin

Tujuan Orientasi tersebut

          Acara kemarin bertujuan memberikan keyakinan bahwa Fakultas Ushuluddin khususnya Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir adalah titik acuan yang harus dijadikan sanggahan untuk Fakultas lain. Karena ilmu yang dipelajari bersumber dari wahyu, untuk itu dengan mempelajari Kalamullah diharapkan mendapat pengaruh pada ‘attitude’ mahasiswa/i sebab meningkatnya keimanan disamping bertambahnya wawasan yang diperoleh. Sejalan dengan visi misi prodi, selanjutnya turut dibahas mengenai perkembangan Tafsir Sains yang saat ini kian maraknya diperbincangkan dan perlu kiranya turut andil didalamnya. Tentunya tetap selaras dengan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer yang menjadi jargon di UNIDA.

Akhir kata, semoga kita semua dapat terus bersama dalam atmosfer baru ukhuwah dan menjadi generasi Qur’ani yang senantiasa haus ilmu sehingga terus berusaha mengkaji dan mengamalkannya. Dan kami ucapkan Selamat bergabung bagi Mahasiswa Baru.

KAJIAN KITAB RISALAH NUR

Bagi mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) membaca kitab tafsir, seperti Risalah Nur, yang berbahasa Arab bukanlah suatu hal yang sulit. Hal ini dikarenakan pada umumnya kitab tafsir dicetak berjilid-jilid sehingga terbiasa bagi mereka untuk membacanya.

Namun membaca saja tidak cukup melainkan perlu adanya kajian secara intensif terutama mengkaji suatu kitab tertentu kepada pakarnya langsung ataupun muridnya dengan sanad yang sampai pada ahlinya.

Untuk itu pengurus HMP Unida Putri berkolaborasi dengan al-Ustadzah Ridani Faulika Permana dalam kajian kitab Risalah Nur karya Bediuzzaman Said Nursi

KAJIAN KITAB RISALAH NUR
Suasana Kajian Rsalah Nur oleh Mahasiswi IQT UNIDA Gontor 2020

Pada kesempatan tersebut ustadzah Ridani mengenalkan kitab al-Kalimāt dan al-Lama’āt yang termasuk dalam koleksi Risalah Nur dengan metode tafsir tematik. Diawali dengan pembahasan mengenai makna “Bismillah” dalam ‘Kalimat pertama’ yang berisi penegasan akan kekuatan Bismillah dimana segala sesuatu tidak dapat terpisahkan dari dimensi Tuhan.

Adapun semua yang bermula dengan menyebut Nama-Nya akan menjadi luar biasa. Namun atas semua nikmat itu Allah hanya menginginkan tiga hal dari manusia yaitu dzikr, fikr, syukr. Kemudian dilanjutkan dengan ‘Cahaya Pertama-Kedua’ dalam kitab al-Lama’āt mengenai munajat Nabi Yunus a.s dan Nabi Ayub a.s. Ujian yang ditimpa keduanya tidaklah lebih mengerikan dibanding dengan keadaan kita, karena keduanya merasakan ujian dalam bentuk fisik. Sedangkan manusia tidak mengetahui akan sakit maupun ikan Paus seperti apa yang mereka hadapi sesungguhnya.

Adapun tema yang paling diminati oleh peserta kajian adalah ‘Risalah Hijab’ yang terkandung dalam ‘Cahaya Kedua Puluh Empat’ dengan penekanan bahwa hijab adalah fitrah bagi wanita dan bukan menjadi penghalang maupun pembatas ruang gerak mereka. Sehingga melepasnya adalah suatu hal yang bertolak belakang dengan fitrahnya sebagai wanita.

Wabah dalam kajian Risalah Nur

Selanjutnya terkait dengan wabah yang sedang melanda berbagai negara di dunia maka dikaji lebih lanjut tentang sebuah dialog singkat seputar lalat yang terkandung di ‘Cahaya Kedua Puluh Delapan’ dimana dialog singkat tersebut bermula pada saat Bediuzzaman di dalam bui bersama muridnya yang bernama Sulayman Rusydi.

Lewat dialog singkat tersebut dapat dipahami bahwa Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu, bahkan makhluk yang bentuknya lebih kecil dari manusia serta mampu melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia. Dan tidak benar bagi siapapun yang menuhankan makhluk karena lalat dan sejenisnya adalah pasukan yang disiapkan oleh Allah dengan berbagai tugas yang diemban masing-masing sesuai jenisnya.

Dan yang terakhir ditutup dengan mengenal hakikat kalimat ‘Yā Bāqi anta al-Bāqi‘ dengan tidak menyertakan unsur emosi serta perasaan terlibat didalamnya dan tidak diukur dengan ukuran logika. Tema penutup ini dimaksudkan agar semua peserta senantiasa mengosongkan hati dan membersihkan kalbu serta menyadari bahwa tidak ada yang kekal selain Allah SWT.

Kajian yang diikuti oleh mahasiswi program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) ini dilakukan secara rutin dua pekan sekali. Kajian yang dikoordinir oleh HMP tersebut diharapkan mampu menjadi wadah bagi para mahasiswi dalam menelaah kitab tafsir tidak sebatas pada mengetahui judul dan mufasir nya.

Namun dengan kajian kitab seperti demikian rupa memiliki harapan yang jauh lebih matang tentunya yaitu mengkhatamkan setidaknya satu kitab tafsir. Semoga kedepannya tidak hanya Risalah Nur saja yang dikaji namun juga kitab tafsir lainnya. Subhānaka Lā ‘Ilma lanā illa mā ‘allamtanā innaka anta al-‘Alīm al-Ḥakīm.