HIJRIAH: MEMBANGUN NIAT

Banyak di antara muslim di era ini yang lupa akan adanya tahun baru Hijriah bahkan sebagian dari umat Islam tidak hafal tanggal dan bulan-bulan Hijriah. Hal tersebut sangatlah miris terjadi khususnya di Indonesia dengan jumlah penduduk muslimnya yang tak kalah banyak dengan negara lain. Seakan tidak menghargai hasil kinerja kekhalifahan pada masa Umar bin Khattab. Pada saat itu, Umar mengumpulkan para sahabat untuk memusyawarahkan penetapan tahun Hijriah yang berkaitan dengan peristiwa penting di zaman Rasulullah Saw.

Beberapa sahabat memberikan pendapat mereka, adapun dari mereka yang mengusulkan awal penetapan tahun Hijriah melalui awal turunnya wahyu. Kelahiran Nabi Muhammad Saw. Bahkan ada yang mengusulkan penetapan tahun Hijriah melalui wafat Nabi Muhammad Saw, yang mana ketika tahun baru Hijriah. Umat Islam akan dirundung kesedihan mengingat wafatnya Rasulullah Saw. Hingga akhirnya tahun Hijriah ditetapkan pada awal hijrahnya Nabi Muhammad Saw. Dari Mekkah ke Madinah disebabkan dengan adanya hijrah, kita dapat membedakan yang haq dan bathil.

Macam-macam Hijrah

Sebagai generasi muslim penerus bangsa yang taat, perlu bagi kita untuk menoleh pada Sirah Nabawiyah yakni dengan berhijrah. Terdapat dua macam hijrah, yaitu hijrah makaaniyyah dan hijrah ma’nawiyyah. Hijrah makaaniyyah ialah berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, karena hijrah ini tidak lagi dilakukan setelah kejadian Fathu Makkah atau pembebasan Makkah.

Adapun hijrah secara ma’nawiyyah yakni meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah sehingga menjadi pribadi yang lebih baik. Berhijrah di tahun baru Islam dapat menjadikan pribadi-pribadi muslim yang lebih baik, dengan muhasabah diri atau mengintrospeksi diri. Dengan berkaca pada pribadi di tahun sebelumnya ataupun memperbanyak ibadah dan amal sholeh. Akan tetapi, sebelum berhijrah dan beramal diperlukan niat yang ikhlas agar amalan yang dilakukan tidak sia-sia. Seperti hadist arbain an nawawi ke 1 sebagai berikut:

HIJRIAH: MEMBANGUN NIAT
iqt.unida.gontor.ac.id
Rasulullah SAW Bersabda

عَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّما لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ الَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَ مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. (رواه  إمام المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم إبن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيها الذين هما أصح الكتب المصنفة).

Dari Amirul Mu’minin, Abu Hafsh, Umar bin Khattab ra. berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah Saw. Bersabda, “Semua amal perbuatan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau karena ingin menikahi wanita, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju.”(Diriwayatkan oleh 2 ahli hadist: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari dan Abdul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi, dalam kedua kitab shahihnya, yang merupakan kitab hadist paling shahih).

Kesimpulan

Dari hadist di atas, dapat disimpulkan bahwa membentuk niat yang ikhlas itu penting saat kita hendak beramal dan beribadah. Karena dengan niat ia dapat membedakan bentuk peribadatan dengan sebuah kebiasaan. Selain itu, niat menjadi salah satu tolak ukur dari sebuah amalan yang kita lakukan, ia yang menentukan sah tidaknya amalan tersebut.

Semisalkan kita ingin memperbaiki diri hanya karena ingin dipuji oleh orang. Maka hanya pujianlah yang akan kita dapat dan tidak terkandung sepersen pun pahala di dalamnya. Hal ini menunjukkan apa yang kita niatkan itulah yang akan kita dapatkan. Oleh karena itu, penting bagi kita membangun niat yang ikhlas yakni karena Allah dalam berhijrah di tahun baru Islam ini agar kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Oleh: Obey Destine Najiha IQT/3

PUBLIC LECTURE Bersama Syaikh Rashed

Hall siroh- Memasuki awal mula dari rentetan acara kegiatan IQT Week yang diselanggarakan oleh prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir kampus Universitas Darussalam Gontor.  Menariknya diawali dengan Public Lecture dari forum kajian FASSIR bersama syaikhul Al mukarram Dr. Rashed al-sabahi.

Semarak dan semangat, acara public lecture dilaksanakan tepat pukul 13.30 siang. yang diawali dengan pembukaan rentetan acara kegiatan IQT Week 2019 oleh Kaprodi (IQT) Ust. Fadli Rahman Akbar M.Us. yang dihadiri oleh jajaran dosen Fakultas Ushuluddin dan IQT pada umumnya. Selasa, (01/10/19).

PUBLIC LECTURE Bersama Syaikh Rashed Al-Sabahi
Pembukaan Rentetan acara IQT Week 2019 Oleh Kaprodi

Setelah pembukaan acara, dialanjutkan dengan Kajian Fassir (Public lecture) yang pada kesempatan ini kedatangan seorang syaikh, yang mana Seorang syaikh tersebut ialah salah satu pengajar yang berasal dari pondok Isykarima. Pondok Isykarima sendiri sudah tidak asing ditelinga segenap mahasiswa, khususnya bagi mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan tafsir. Jauh pada sebelumnya, ketika bulan maret 2019 prodi IQT mengadakan daurah ilmiyah, dan menjadi kegiatan rutin di setiap semester genap. kembali pada public lecture ini Banyak sekali ilmu dari kajian yang beliau sampaikan, terutama dalam hal “Cara Bagaimana Mentadabburi Al-Qur’an. Nah berikut beberapa point penting dari sambutan beliau.

PUBLIC LECTURE Bersama Syaikh Rashed Al-Sabahi.
Public lecture dan kajian Fassir Bersama.(01/10)
Point Penting Sambutan

Mentadabburi Al-Qur’an adalah maksud dan tujuan utama dalam membaca Al-Qur’an. Seyogiyanya, seorang Muslim harus berusaha untuk melakukannya dengan maksimal. Para Ulama pun telah banyak menjelaskan berbagai metode yang bisa membantu pembaca Al-Qur’an dalam merealisasikan tujuan dan maksud mulia tersebut dengan seizin Allah Azza wa Jalla. Seperti dalam firmanNya.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci? (QS.Muhammad/47:24)

Allah Azza wa Jalla juga menginformasikan bahwa Dia telah menurunkan Al-Qur’an sebagai sarana untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (Qs.Shad/38:29)

Sekedar mengingatkan para pembaca, akan disebutkan beberapa metoda tersebut dengan berharap kepada Allah Azza wa Jalla semoga bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

Faktor-faktor yang menunjang keberhasilan dalam mentadabburi al-Qur’an adalah sebagai berikut:

1.Memahami Makna-Makna Al-Qur’an Dan Kandungan Isinya.

2.Membaca Al-Qur’an Dengan Perlahan

4.Memperbagus Suara Ketika Membaca Al-Qur’an

5.Mengulang-Ulang Bacaan.

Namun disisi lain, tidak banyak orang yang mengenal seorang syaikh Rashed yang bergelar doctor, pun sebenarnya ialah bisa dikatakan seorang accesor Profesor yang ahli dalam bidang tafsir sains. Beranjak dari sini mari kita gali lebih dalam  dan menguak bersama, informasi mengenai siapakah sebenarnya beliau?…yuk berikut uraiannya dibawah ini.

Biografi  Singkat syaikh Rashed Al-Sabahi.

  • Nama lengkap      : Rashed Mansoor Mohammed Al-Sabahi
  • Negara                    : Yaman
  • Institut                   : IBB University, Yemen
  • Fakultas                  : Faculty of literature
  • Konsentrasi studi : Qur’anic science (Ilmu Al-Qur’an)

Riwayat pengalaman hidup.

  • 18 tahun pengalaman dalam mengajar administrasi dan kegiatan akademis di universitas.
  • Penulis berbagai banyak buku, dalam ilmu Qur’an yang telah dimasukkan dalam kurikulum dari beberapa universitas.
  • Seorang yang aktif di beberapa kegiatan acara-acara publik, islam dan amal.

ACEH Kota Diujung Sabang Penegak Hukum Islam

Aceh kota yang dikenal sebagai Serambi Mekkah. Kota yang terkenal dengan keislamannya yang kental. Lantas dan pantas dijuluki dengan sebutan sebagai kota diujung sabang penegak hukum islam. Terlihat jelas dari Masjid Baitur-Rahman sebagai central kehidupan masyarakat Aceh dan icon yang paling dikenal oleh tiap kalangan.

ACEH Kota Diujung Sabang Penegak Hukum Islam
Masjid Baitur-Rahman
Ciri Khas

Salah satu ciri khas Aceh yang paling banyak diketahui orang Indonesia adalah penerapan hukum pidana islam bagi masyarakat Aceh. Ini bukanlah sesuatu yang asing atau peraturan baru bagi masyarakat Aceh, karena peraturan ini sudah diresmikan oleh pemerintahan Indonesia dengan menyebutnya sebagai Qanun Aceh No.6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Hukum Jinayat berlaku pada produksi, distribusi, dan konsumsi minuman keras seperti Alkohol, perjudian, perzinahan, bermesraan diluar hubungan nikah dan hubungan suka sama suka sesama jenis. Maka jenis hukuman yang diberikan kepada  pelanggar hukum berupa cambuk, denda dan kurungan. Akan tetapi, hukum rajam tidak berlaku dalam penindakan hukum jinayat di daerah istimewa ini.

Sebenarnya hukum pidana islam seperti hukum jinayat ini bukanlah hal yang baru dalam dunia islam. Arab Saudi masih melestarikan hukum ini dan menjadikan salah satu landasan hukum di Negara Arab. Tidak perlu memandang siapa orangnya, dari kalangan mana ia berasal, berapa luas hartanya, tetaplah hukum harus ditegakkan karena sifat hukum sendiri adalah tidak pandang bulu.

ACEH Kota Diujung Sabang Penegak Hukum Islam
iqt.unida.gontor.ac.id

Lalu apa alasan hukum jinayat tetap ditegakkan?….Jawabannya adalah semata-mata untuk melindungi hakikat kesucian dan kehormatan manusia. Seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim dalam Hadits Arbain Nawawi ke 14.

Rasulullah SAW. Bersabda:

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله عليه و سلم : لا يحل دم امرئ مسلم إلا بإحد ثلاث : الثيب الزاني، والنفس بالنفس، و التارك لدينه المفارق لجماعة (روه البخاري و مسلم )

“ Dari Ibnu Mas’ud ra. Dia berkata : Rasulullah SAW bersabda :”tidak halal darah seorang muslim kecuai atas tiga sebab :’orang sudah menikah yang berzina, orang yang membbunuh orang lain dengan sengaja dan orang yang meninggalkan agamanya dan karenanya dia terpisah dari jama’ah (kaum muslimin).” (riwayat Bukhori dan Muslim).

Kandungan hadist

Dari hadits tersebut kita memahami bahwa islam sejatinya melindungi nyawa seorang muslim karena kehormatannya yang mulia serta patut dihormati dan dilindungi. Hadits ini pula menguatkan tentang eksistensi hukum pidana islam yang merupakan salah satu bagian hukum islam. Para pelaku zina, pembunuhan serta pelanggaran lainnya mampu meresahkan masyarakat luas apabila terus merajalela tanpa adannya hukuman yang membuatnya jera.

Oleh karena itu, hukum pidana secara syariat islam mentapkan qishash, rajam serta cambuk agar terdapat rasa jera dalam diri. Dan bagi pelaku dan orang-orang lain dapat mengambil pelajaran sebgai tolak ukur kaca perbandingan .

PILAR UTAMA SEORANG MUSLIM

Pilar-pilar utama bagi seorang muslim ialah asas dasar (pondasi) keimanan, yang didalamnya agama islam akan berdiri kokoh dengan melaksanakan perkara-perkara yang diperintahkan-Nya. Sebagaimana dalam sebuah hadits yaitu Hadist Al-arbain Ke 3.

PILAR UTAMA SEORANG MUSLIM
iqt.unida.gontor.ac.id
Rasulullah saw, bersabda:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ “

Dari Abu  ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah; menunaikan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji ke Baitullah; dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perumpamaan isi Hadist

Dalam hadist ini, Rasulullah saw mengumpamakan Islam sebagai sebuah bangunan, yang pilar-pilar utamanya adalah kelima hal yang beliau sebutkan dalam hadist tersebut. Maka sebagai halnya sebuah bangunan yang tidak dapat berdiri tegak tanpa adanya tiang-tiang utama, demikian pula halnya keislaman seseorang, tidak akan dapat berdiri tegak jika tidak didukung pilar-pilar tersebut. Hadist ini tidak dipahami bahwa Islam hanya terdiri dari kelima hal tersebut, akan tetapi Islam mencakup semua aspek kehidupan, yaakni: akidah, ibadah, maupun akhlak yang dijelaskan dalam Al-Quran dan hadist saja. Hanya, kelima hal tersebut merupakan pokok-pokok utamanya sebagai prinsip agama Islam.

As-Syahadatain

Ditempatkannya kalimat Asy-Syahadatain dalam urutan pertama menunjukkan keutamaan kalimat ini dalam Islam,

شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ

bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah

Secara umum, syahadatain mengandung makna: ikhlas dan ittiba’. Keduanya merupakan intisari dari seluruh ajaran Islam, yang mana setiap muslim harus selalu menyertai keduanya dalam setiap amal ibadahnya agar diterima Allah swt.

Ini adalah pintu gerbang Islam. Ini adalah sesuatu yang mutlak dalam islam yang tanpanya kita tidak dianggap islam. Dalam hadist riwayat lainnya, yaitu hadist ke-29 dari Arbain Nawawi ini, Nabi Muhammad menyebutkan ‘رَأْسُ الأَمْر ِ الإِسلاَمُ (pokok perkara adalah Islam). Dan ditafsirkan dalam riwayat lainnya, pokok perkara yang dimaksud adalah dua syahadat. Ibarat lain, syahadat merupakan gerbng menuju Islam, gerbang kita menuju pengakuan bahwa kita adalah bagian dari umat yang besar ini.

Dahulu, orang-orang musyrik zaman jahiliyyah merasa berat mengucapkan Lailaha illallah. Kenapa? Karena mereka tahu maknanya. Mereka adalah orang-orang Arab asli. Mereka adalah orang-orang yang paham apa yang dimaksud dengan kata yang agung ini, maka banyak dari mereka enggan karena tahu konsekuensinya berat. Sementara ada sebagian orang dizaman kita yang mudah untuk mengucapkan Lailahaillaallah tapi kemudian mereka masih  jatuh dalam kesalahan-kesalahan yang menunjukkan bahwasanya mereka tidak tahu apa yang mereka ucapkan tersebut. Lailahaillallah menuntut kita untuk meninggalkan ibadah kepada selain Allah dan hanya beribadah kepada Allah saja. Maka ini punya konsekuensi, menuntut diri kita untuk meninggalkan sesuatu yang berbentuk kesyirikan. Baik berupa syiri besar maupun syirik kecil. Misalnya: berdoa kepada selain Allah, menyembah pohon, meminta kesembuhan kepada dukun.        

Sholat

Sedangkan shalat merupakan rukun Islam kedua setelah Syahadatain. Hal ini menunjukkan bahwa shalat adalah ibadah yang paling mulia, sekaligus menjadi bukti utama atas pengakuan sesorang bahwa dia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Disebutkannya kata إقام  (menegakkan), menunjukkan bahwa shalat bukan hanya sekedar dikerjakan tanpa makna, tetapi ibadah yang seharusnya dilakukan secara sempurna dngan sepenuh jwa raga, lengkap syarat dan rukunnya, adab-adab, dan sunah-sunahnya agar dapat memberikan buahnya dalam diri seorang muslim, yaitu meninggalkan perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana Allah nyatakan dalam surah Al-Ankabut ayat 45.

Puasa

 Begitu pula ibadah puasa memiliki kekhususan, yaitu bahwa ibadah ini tidak tampak dalam bentuk gerakan dan bacaan tertentu seperti ibadah lainnya sehinggaorang yang berpuasa tidak dikenali karena perbuatan dan bacaan tertentu. Karena itu dalam sebuah hadist Qudsi, Allah menyatakan “ semua perbuatan anak adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya dia adalah untuk-Ku dan akulah yang membalasnya”

Zakat

Zakat sendiri dapat dilihat dari penyebutannya dalam Al-Quran yang disandingkan dengan shalat sebanyak 82 kali, sebagian berbentuk perintah, sebagian lagi berbentuk kabar tentang ciri-ciri orang ang beriman dan bertakwa. Hal ini menunnjukkan tingginya kedudukan zakat dan erat hubungan antar keduanya sehinggaketika masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddieq ra ada rakyatnya yang menolak mengeluarkan zakat, beliau dengan tegas berkata “Demi Allah, akan saya perangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat!”. Zakat adalah ibadah harta yang sangat tampak memiliki dimensi social, yang dengan pelaksanaan zakat, selain dapat menyucikan harta seseorang, juga akan memberikan dampak pada perbaikan social. Maka menyandingkan zakat dengan shalat juga memberi makna adanya tuntutan bagi seorang Muslim untuk selalu memperbaiki hubungannya kepada Alah dan juga Manusia.

Ibadah Haji

Ibadah haji sendiri merupakan rukun Islam yang terakhir dan diwajibkan bagi orang yang mampu, sekali seumur hidupnya. Fardhu haji telah Allah nyatakan dengan tegas dalam Al-Quran, surat Ali Imran:97

فِيْهِ ءَايَتُ بَيِّنَتٌ مَقَامٌ إِبْرَاهِيْمَصلي وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ ءَامِنًا قلي وللهِ عَلَي النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً ج وَمَنْ كَفَرَ فَإنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ العَلَمِيْنَ (97)

Artinya: padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) maqam Ibrahim, barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesunguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Kesimpulan

Rukun Islam yang terangkum dalam hadist ini menunnjukkan bangunan Islam yang mencakup, menyeluruh (syamil). Dia bukan hanya agama keyakinan saja, tetapi juga keyakinan (aqidah) dan pengamalan (syariat). Ibadah yang mencakup didalamnya mencakup ibadah hati, gerak, lisan, bahkan harta. Ruang lingkupnyapun bukan hanya terbatas antara hubungan manusia dengan Allah 9vertikal), tetapi juga memerhatikan hubungan antara sesama (horizontal).

Oleh: Nur Hidayaturrohmah IQT/3

Pemikir Islam: Ilmu Politik Al-Mawardi

Pemikir Islam: Ilmu Politik Al-Mawardi, menurut Khazanah intlektual islam era khalifah Abbasiyah. Telah mengukir sejarah emas dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan pemikiran keagamaan. Salah satu tokoh terkemuka sekaligus pemikir dan peletak dasar keilmuan politik yang merupakan pemikir Islam, penyangga kemajuan Abbasiyah itu adalah Al Mawardi. kini lebih masyhur dengan sebutan Bapak Politik Islam. Karena pada zamannya beliau terjun langsung sebagai politikus sekaligus sebagai tokoh intlekual.

Pemikir Islam: Ilmu Politik Al-Mawardi
iqt.unida.gontor.ac.id
Pemikiran Al-Mawardi

Pemikir islam Al-mawardi dalam pemikirannya sangat mempengaruhi alur kemajuan pemerintahan Bani Abbas kala itu, lalu kemudian beliau tuangkan dalam sebuah kitab karangannya ‘’Ahkamu As-Sulthaniyah’’ (Peraturan-peraturan Kerjaan/pemerintahan). Dalam kitab tersebut termuat pemikiranya tentang masyarakat dan negara dalam teori kontrak sosialnya meliputi kredibilitas pemimpin dengan memperhatikan kriteria yang pantas untuk dijadikan khalifah guna mencapai kebaikan bersama dalam bernegara.

Sebab beliau begitu memperhatikan apa yang terjadi pada masyarakat dan negaranya sendiri. Di satu sisi, Pemikir islam Al-Mawardi melihat dan memperhatikan ikatan-ikatan bernegara dan bermasyarakat khususnya atau peradaban secara umum, di mana peradaban itu dalam pandangannya sendiri yaitu sesuatu yang tumbuh dan tenggelam, bangkit dan runtuh.

Masyarakat dan Negara dalam Teori Kontrak Sosial Al-Mawardi

Terlepas dari apakah peradaban itu dipengaruhi suatu agama (deen, syariat) atau tidak, didatangi oleh masa kenabian (nubuwwah) atau tidak. Karena ia sendiri mengakui bahwa adanya masyarakat, negara dan peradaban itu tidak tergantung pada eksistensi apakah terdapat suatu agama didalamnya atau tidak.

Namun disisi lain, Al-Mawardi adalah seseorang yang dianugerahi hidayah dengan ajaran-ajaran Islam, lahir dan tumbuh pada masa peradaban islam. Hal ini mempengaruhinya dalam bersikap kepada Tuhan, manusia dan masyarakatnya sendiri.

Dalam teori kontrak sosial

menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk sosial, yang hidup dari kerjasama dan saling membantu satu sama lain. Namun yang menjadi ciri khas dalam teori ini adalah beliau memasukkan konsep agama dalam pendirian suatu negara dan pelaksanaan kebijakan didalamnya. Adanya suatu negara karena adanya kontrak sosial atau perjanjian atas dasar sukarela.

Atas dasar itulah Al-mawardi berpendapat bahwa kepala negara merupakan khalifah dalam memelihara agama dan mengatur sistem pemerintahan dunia. Kemudian dari situlah Al-Mawardi menarik dan merumuskan pengertian dari suatu negara, bahwa masyarakat yang sejahtera dan makmur yang memiliki pemimpin yang adil. Berwibawa dan kuat agamanya itulah yang disebut suatu negara berdaulat.

Oleh sebab itulah negara dan masyarakat atau antara keduanya itu tidak dapat dipisahkan, mengapa?… Karena negara (yang pada masa Al-Mawardi sendiri itu dihubungkan dengan pemegang kekuasaan yang disebut daulah) dalam pandangannya itu ialah merupakan bentuk suatu masyarakat. Hal ini diibaratkan seperti bentuk suatu benda tidak dapat dipisahkan dari isi substansinya.

Kemudian Masyarakat yang dimaksudkan disini oleh Al-Mawardi ialah masyarakat yang sudah menetap, membentuk dan membangun peradaban sipil atau kependudukan (‘amraaniyah, madaniyah, hadhariyah). Bukan lagi kehidupan yang nomaden seperti penghuni padang pasir yang berpindah dan mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu daerah ke daerah yang lain. Mengapa demikian?…sebab suatu negara harus memiliki peradaban dan hal itu hanya bisa dicapai ketika masyarakatnya telah menetap.

Selain itu, negara juga harus memiliki kekuasaan yang mampu memaksa kehendaknya pada warganya, kehidupan yang menetap menjadi penyebab terbentuknya kemajuan untuk berkuasa, maka kekuasaan inilah yang menjadi dasar perbedaan antara negara dan masyarakat.

Setelah negara hal berikutnya sudah pasti seorang penguasa atau kepala negara. Bagi Al-Mawardi penguasa adalah seorang yang berhadapan dengan rakyat. (gambaran langsung “khalifah” karena ia hidup di zaman daulah islamiyah), dan rakyat adalah kumpulan manusia yang tunduk (dengan berbaiat) kepada penguasa. Syarat-syarat yang dimunculkan Al-Mawardi untuk seorang kepala negara, diantaranya ;

Syarat-syarat

pertama, memiliki ‘adalah, yaitu bukan hanya bermakna adil. Namun juga mencakup jujur (shiddiq), dapat dipercaya (‘amin) dan bertanggung jawab penuh (qadir ala al-mas-ul)

kedua, berpengetahuan/berilmu untuk berijtihad (‘alim) serta memiliki kesanggupan untuk mengambil keputusan sesuai syariat. Dalam hal ini Al-Mawardi Berfikir sebagai seorang muslim yang tidak memisahkan dan melepaskan antara negara dan agama.

Ketiga memiliki kesehatan yang prima, maksudnya tidak memiliki kekurangan fisik atau psikis (mental) yang bisa membuatnya terhambat dalam melaksanakan dan menjalankan tugas sebagai kepala negara yang baik selama pemerintahannya.

Keempat, ‘’berwawasan luas dan mempunyai kesanggupan untuk melaksanakan tugas-tugas yang dituntutkan kepadanya sebagai kepala negara, termasuk di antaranya yaitu melaksanakan hukuman yang telah diputuskan dan ditetapkan sebagai konsekuen dan secara konsisten, menegakkan hukum, pergi dan memimpin peperangan membela negaranya atau hal lainnya.

Pandangan Al-Mawardi

Berbicara mengenai kepala negara, Al-Mawardi tidak membedakan antara istilah khalifah dan iman. karena istilah pertama kali itu merujuk pada pengganti Rasulullah Saw dalam urusan politik, keagamaan dan keduniaan, bukan kenabian, selain itu juga Al-Mawardi tetap memegang pendapatnya bahwa dalam Islam itu tidak ada pemisahan sekular antara agama dan negara.

Jadi hematnya  adalah jabatan khalifah itu seorang pengemban agama dalam khilafah sekaligus imam dalam imamah. Inilah yang disebut pula dengan istilah kekuasaan wibawa-politis, yaitu yang menyebabkan manusia bertindak sesuai perintah syariat untuk kepentingan mereka di dunia ini dan dunia lain setelah dunia ini (akhirat).

Sebagai kesimpulan

Bahwa pemikiran Al-Mawardi terjadi secara timbal balik (Reciprocal) dengan keadaan kala itu, dimana pemikiran beliau mewarnai dan memberikan corak pada Dinasti Abbasiyah, dan keadaan politik pada zaman itu juga mempengaruhi pemikiran beliau.

Referensi:

Rosenthal, E. (1926). political Thought in Medieval Islam : An Introductory Outline, . London: Cambridge University Press, 1962.

Sjadjali, Munawir, H, M.A, Islam dan Tata Negara: Ajaran, sejarah dan pemikiran, Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1993, edisi V. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, cetakan kedua, Jakarta, 2003

Author : Heriaman Apriandi

Mahasiswa Sukses Dan Tujuh Kebiasaannya

Sebentar lagi UAS, Tahfidz belum kelar, Akpam belum mengajukan, Wah gimana nich. Beginilah beberapa keluhan yang sering dijumpai pada mahasiswa. Civitas akademika UNIDA Gontor, tentunya diantara kita pernah menjadi mahasiswa atau sedang menjadi mahasiswa. Nah tentu menjalani aktifitas sebagai mahasiswa, ada yang menjalani dengan lurus-lurus saja dan lulus dengan baik, ada yang penuh liku-liku dan akhirnya lulus, dan tidak sedikit ada yang gagal, misalnya tidak melanjutkan kuliah atau berhenti karena keadaan dan sebagainya

Inilah ujian hidup, tentunya untuk memilih mahasiswa yang berprestasi perlu diperlukan proses penyaringan dari pihak kampus. Karena begitulah fitrah yang telah ditetapkan oleh Allah untuk menciptakan kehidupan agar manusia disaring mana yang sungguh-sungguh dan mana yang tidak sungguh-sungguh.

ALLAH SWT. Berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. [TQS Al Mulk (67) : 2]

Namun jangan khawatir guys, selama kita mengikuti aturan yang telah ditetapkan, InsyaAllah kita akan meraih kesuksesan sebagaimana yang kita cita-citakan.

Mahasiswa Sukses Dan Tujuh Kebiasaannya
iqt.unida.gontor.ac.id

Nah lalu langkah apa saja atau kebiasaan apa saja yang membuat kita bisa meraih kesuksesan. Berikut tipsnya semoga bermanfaat

Kiat-Kiat Tips Kesuksesan
1. Memetakan seluruh agenda perkuliahan

Ada baiknya di awal perkuliahan, kita mengenal kampus kita, siapa dosen-dosennya, apa saja kegiatannya. Dengan begitu kita bisa mengukur dengan cermat apa langkah yang bisa kita lakukan. Banyak mahasiswa yang gagal menjalani aktifitas, karena mereka kurang mengenal dengan baik kegiatan atau peraturan akademik yang ditetapkan oleh pihak kampus.

Seperti awal perkuliahan kita diwajibkan untuk menyusun KRS (Kartu Rencana Studi). Dengan begitu kita akan mengetahui mata kuliah apa saja yang harus diselesaikan. Lalu tiap mata kuliah itu harus kita ketahui, apakah sistem kuliahnya mewajibkan makalah, atau mengharuskan UAS atau mengharuskan UTS. Mengingat tidak semua mata kuliah sama, maka pengenalan tiap materi mutlak diperlukan agar kita bisa menyusun skala prioritas.

Selain perkuliahan, mahasiswa biasanya juga dibebani dengan tugas dari Biro Akademik, seperti tahfidz, Akpam dan sebagainya. Maka pengenalan tugas ini juga penting, agar kita bisa membuat skala prioritas antara kegiatan akademik dan biro penunjang akademik.

2. Membuat skala prioritas

Setelah kita mengenal seluruh kegiatan di kampus. Ada baiknya kita membuat roadmap perjalanan perkuliahan kita. Lebih baik ditulis bahkan ditempel di dinding kamar asrama misalnya, agar kita terus diingatkan dengan agenda-agenda yang harus kita laksanakan.

Membuat skala prioritas ini diharapkan agar kita mengenal kemampuan kita dan dinamika yang ada di kampus. Misalnya kalau saya susah tahfidz, maka porsi hafalan atau agenda hafalan harus diperbanyak. Jika saya sulit membuat makalah, maka porsi untuk membuat makalah juga harus diperbesar dengan banyak bertanya kepada senior atau teman yang bisa membantu.

3. Memilih teman yang baik

Memilih teman yang baik, bukan berarti ada teman yang jahat. Tetapi untuk mendukung aktifitas yang hendak kita capai. Misalnya saya ingin menyelesaikan tahfidz dengan cepat, maka saya harus bergaul dengan teman yang rajin tahfidz. Saya kesulitan membuat makalah maka saya harus banyak bergaul dengan teman yang sudah pakar dalam membuat makalah.

Memilih teman ini penting karena manusia tidak bisa melaksanakan aktifitas sendiri, manusia perlu dukungan secara sosial. Salah satunya dengan bergabung dengan komunitas dengan orang-orang yang sesuai dengan aktifitas yang ingin kita capai.

4. Menjauhi maksiat

Apa pentingnya maksiat terhadap prestasi? Inilah yang membedakan kita dengan pendidikan di barat. Di barat mahasiswa sering pacaran tapi kok berprestasi. Imam Syafii mengatakan ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan pernah disalurkan kepada ahli maksiat. Bisa saja manusia berprestasi secara akademik meski bermaksiat, namun keberkahannya pasti tidak ada.

Terlebih kita hidup di alam digital, dimana akses maksiat sangat mudah untuk diperoleh. Maka perlu benteng yang kuat agar kemaksiatan tidak menghampiri kita apalagi menjadi candu dan budak syaithan dalam mengikuti maksiat. Benteng yang kuat ini bisa dibentuk lewat keyakinan bahwa dorongan kemaksiatan itu pasti dari syaithan. Dan syaithan tipu dayannya sangat lemah. Yakinkan dalam diri anda bahwa anda kuat melawan syaithan, dan melakukan langkah di bawah ini.

5. Memperbaiki Ibadah

Apa kaitan ibadah dengan prestasi. Syaikh Abdul Aziz Tharifi mengatakan bahwa : Ilmu dan Ibadah itu pondasi keteguhan, sebab ilmu dapat menangkis syubhat dan ibadah dapat menepis syahwat. Ibadah yang dimaksud di sini bukan banyaknya, tetapi kualitasnya. Ibadah yang berkualitas tidak hanya bernilai pahala tetapi dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar.

Dengan kualitas ibadah yang baik, akan membuat kualitas perkuliahan juga membaik. Misalnya, mahasiswa yang rajin sholat subuh berjamaah, pasti mereka tidak akan malas dalam perkuliahan, karena di saat orang-orang masih asyik dengan tidurnya dia sudah mendisiplinkan diri menuju masjid. Terlebih jika mahasiswa rajin berjamaah di setiap sholat fardhu, pasti poin pertama dan kedua juga mudah untuk dilaksanakan dengan baik

6. Berfikir positif dan minta suport

Merasa diri ini tidak mampu, pasti berimbas kepada gagalnya aktifitas yang ingin kita capai, maka selain terus mesugesti diri kita dengan pikiran positif, kita juga butuh teman atau pembimbing yang terus menasehati dan memberi semangat.

Banyak mahasiswa yang khawatir skripsinya tidak akan lulus. Mereka diliputi penyakit hamm atau kekhawatiran terhadap masa depan. Banyak yang kemudian minta izin tidak melanjutkan kuliah, karena skripsinya selalu ditolak oleh dosen misalnya.

Berfikir negatif sama saja dengan suudzon terhadap Allah SWT. Padahal Suudzon itu termasuk salah satu dosa besar. Ada baiknya membangun energi positif dengan terus tadabbur dengan al-Qur’an. Baca ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Allah tidak pernah berbuat dzolim kepada hambanya (Annisa : 40). Allah itu maha adil. At-Taubah : 109, dan Allah sellau memberi jalan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalannya. al-Ankabut : 69 Dengan begitu pikiran negatif akan hilang.

7. Berdoa dan minta didoakan

Sering berdoa dan minta didoakan selain menjadi kebiasaan para ulama dan orang-orang sholeh. Juga membuat hati manusia tenang dalam menjalani kehidupan. Tidak ada urusan yang berat dan sulit dipecahkan. Karena kita selalu bersama Allah SWT. Berdoa juga penting untuk terus dilakukan. Selain itu kita juga diperkenankan meminta doa kepada orang lain. Terlebih orang tua kita. Karena orang tua atau keluarga kita adalah makhluk yang paling tulus kepada kita dalam kasih sayangnya.

Nah. Inilah beberapa tips dari kami. Semoga ujian tahun ini mendapat kemudahan dan keberkahan dari Allah. Selamat menempuh ujian akhir semester

IQT Camp: Rutinitas Tahunan Prodi Ilmu Qur’an dan Tafsir

IQT Camp merupakan sesi akhir penutupan dari rentetan acara IQT Week, dimana kegiatan ini merupakan program tahunan. Yang diselanggarakan oleh prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, dengan tujuan untuk meningkatkan keilmuan dalam kajian, dan meningkatkan hafalan Qur’an Mahasiswa serta kegiatan Tadabbur Alam.

Malam api unggun gembira

Acara ini di adakan selama 4 hari berturut-turut dan akhirnya di tutup dengan acara kemah (camp) yang diadakan di Pantai Mutiara Trenggalek. Adapun Rentetan acara ini. Sejak hari pertama dibuka dengan Forum kajian  Tafsir bersama syaikh dari Yaman yang bernama Dr. Rashed Mansoor Mohammed Al-Sabahi, dihari kedua diisi dengan kajian bersama ustad Dr. Khalid Muslih, lalu di sore harinya diisi dengan pertandingan futsal antar semester, dan terakhir pada hari keempat yaitu diisi dengan acara Kemah (ngecamp) di Pantai Mutiara Trenggalek.

Pada kegiatan ini dikuti segenap civitas akademika yang teridiri seluruh mahasiswa dari prodi IQT, seluruh dosen Prodi dan bebarapa dosen fakultas ushuluddin.

Rentetan acara IQT Camp

Rentetan acara ini dimulai dengan pelepasan yang dilepas oleh pak dekan Fakultas Ushuluddin. Yang mana dalam sambutan beliau “Segenap mahasiswa agar selalu ingat dengan tujuan awal yaitu belajar, belajar berinteraksi langsung dengan alam yang merupakan bagian dari pendidikan. Yang namanya rekreasi ialah ketika kita bisa melihat, mendengar akan lingkungan sekitar yang dilewati selama dalam perjalanan, dan selalu agar mempersiapkan serta memeriksa peralatan yang akan dibawa sampai transportasi yang digunakan.”tegasnya.

Sesampainya dilokasi para mahasiswa mendirikan tenda dipinggir pantai, tenda mahasiswa dan Dosen, dan menjelang malamnya tepatnya setelah sholat, di isi dengan acara Sharing ilmu dari Mahasiswa yg Berprestasi dan beberapa dari Dosen. Selanjutnya makan bersama dengan menu seafood cumi dan tenggiri bakar, dimakan dengan bersama diiringi oleh suara ombak dan angin pantai yang begitu sejuk dan ramah dikala malam itu.

Ketika sedang menikmati makan malam dengan sensasi yang baru di tepi pantai serta dinanti oleh susunan kayu yang siap di bakar untuk acara api unggun dan bakar jagung sehabis shalat isya nanti.

Pada subuh harinya di mulai dengan shalat berjamaah dan setoran tahfidz bersama para dosen serta diskusi tentang keilmuan seputar Ilmu Pendidikan islam. sehabis acara ini lomba dan foto bareng menyusul untuk seluruh dosen dan mahasiswa.

semoga acara ini kedepannya dapat meriah dan berjalan dengan lancar kembali di destinasi selanjutnya serta kajian dan diskusi yang semakin mendalam lagi untuk seluruh keluarga besar Program Studi Ilmu Qur’an dan Tafsir dengan memupuk rasa kekeluargaan yang lebih dekat dan harmonis,

MANUSIA DICIPTAKAN UNTUK APA?

Dalam menjalani kehidupan di dunia kita memiliki undang-undang dan aturan, dan dibelakang itu semua ada tujuan yang dimana setiap tujuan pasti ada hikmah. Begitu pula dengan hakikat dan tujuan penciptaan manusia. Allah SWT. Telah menjelaskan dalam Al-Qur’an surat Ad-Zariyat yang berbunyi :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya beribadah (mengabdi) kepada-Ku.” (QS. Ad-Zariyat :56).

Allah SWT. Juga telah menggambarkan proses penciptaan manusia secara rinci dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12-14, yang dimana hal tersebut juga dijelaskan dalam ilmu sains. Dalam sains, manusia adalah makhluk yang tubuhnya terdiri dari sel, yakni bagian terkecil dari makhluk hidup. Disamping kedahsyatan penciptaan manusia dan struktur yang ada dalam tubuhnya, manusia juga dianugerahi beberapa kelebihan seperti akal pikiran dan hawa nafsu. Ketika manusia keluar dari rahim dan hadir ke dalam kehidupan ini, Allah SWT. Telah menetapkan takdirnya yang lazim kita dengar dengan sebutan Qada’& Qadar Allah.

MANUSIA DICIPTAKAN UNTUK APA
iqt.unida.gontor.ac.id

Seorang hamba Allah yang beriman, tentu akan memandang kehidupan ini dengan cermat, ia akan merasakan dengan penuh keyakinan tentang adanya tuhan yang berkuasa mengatur dan Maha bijaksana. Yang menciptakan segala sesuatu dengan kadar yang tepat. Dan segala sesuatu yang ada di dunia tidak akan terlewat dengan ketentuannya. Jadi, segala sesuatu yang Allah ciptakan, baik dilangit maupun di bumi pasti ada tujuan dan hikmahnya. Tidak  ada yang sia-sia, bahkan seekor nyamuk pun tidak diciptakan sia-sia. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah surat Al-Mukminun ayat 115 yang artinya :

maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?”. (QS. Al-Mukminun :115).

Telah dijelaskan bahwa Allah SWT. Tidak menciptakan kita secara main-main atau sia-sia dan pada akhirnya kita semua pasti akan kembali kepada-Nya. Jadi, dalam tulisan ini akan membahas 2 tujuan utama penciptaan manusia.

Mengilmui tentang Allah

Allah SWT. Berfirman :

Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatum dan sesungguhnya Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu”.

 Allah telah menjelaskan tentang penciptaan langit dan bumi agar manusia mengetahui tentang ke Maha Kuasaan-Nya, bahwa Allah lah yang memiliki jagad raya ini, Allah lah berhak disembah dan mengatur segala hal yang ada di dunia ini. tidak ada satupun yang teluput dari ilmu dan pengawasan Allah, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

Untuk beribadah kepada Allah semata

Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa Allah SWT. Tidak menciptakan manusia dan selain untuk beribadah kepadanya. Ini mengisyaratkan pentingnya tauhid, karena tauhid adalah bentuk ibadah yang paling agung. Untuk segala hal dan kejadian yang ada dalam hidup, hendaklah kita kembalikan kepada Allah sepenuhnya.

Meskipun demikian, masih ada banyak hal lagi hikmah dan tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia tapi tak luput juga dari kelemahan. Kita adalah orang-orang terpilih yang di lahirkan ke dunia. Karena sebelum dilahirkan pun kita telah menjadi pemenang, ketika kita berlomba-loma dengan ribuan sperma lainnya untuk berebut masuk kedalam rahim ibu. Dan ketika dilahirkan kedunia-pun kita harus tetap menjadi pemenang. Jangan menjadi pecundang yang selalu mengeluhkan kehidupan.

Everything need struggle, meskipun tujuan utama dari hidup adalah untuk akhirat, tapi kita tidak bisa meninggalkan lmu-ilmu dunia. Ilmu akhirat memang wajib dipelajari sebagai bekal untuk bertemu Ilahi dan ilmu dunia juga sebagai panduan untuk menjalani kehidupan yang baik.

Jika kau tak keras kepada dunia, maka dunia akan keras kepadamu ! semoga tulisan singkat ini bisa menjadi motivasi bagi kita untuk tetap semngat mencari ilmu dan mengamalkan ilmu yang telah di dapatkan, dengan tetap semangat mencari ilmu dan mengamalkan ilmu yang telah di dapatkan, dengan tetap berusaha keras dan tak lupa berdoa kepada Allah SWT.

Oleh: Nadia Salsabila Munawwarah

Kebiasaan Ghasab Yang Harus Dihilangkan

Dengan seiring berjalannya zaman, moral generasi bangsa semakin merosot. Salah satunya adalah kebiasaan ghasab. Sehingga banyak orangtua memilih pondok pesantren menjadi pilihan kepada anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan. Pondok Pesantren menjadi salah satu lembaga yang bukan hanya semata-mata mencari ilmu pengetahuan, namun menciptakan insan yang bertaqwa dan dipraktekkan dalam perilaku keseharian sesuai dengan pedoman ajaran islam maupun aturan yang ada pada masyarakat.

Kebiasaan Ghasab Yang Harus Dihilangkan
Kebiasaan Ghasab

Namun, meski dilingkungan yang agamis, bukan berarti suatu hal yang bertentangan dengan nilai agama maupun norma masyarakat tidak akan terjadi. Banyak pondok pesantren yang nilai-nilainya mulai bergeser karena adanya penyimpangan dan perilaku negatif yang telah menjadi budaya di lingkungan pesantren, salah satunya adalah kebiasaan ghasab.

Ghasab merupakan tindakan menggunakan barang milik orang lain tanpa seizin pemiliknya. Penggunaan barang tersebut tidak dimaksudkan untuk menjadi kepemilikan tetap, hanya untuk memenuhi keperluan sesaat. Setelah pengunaan selesai, barang di kembalikan lagi, meski tidak selalu di tempat semula. Kebiasaan ghasab berbeda dengan mencuri, karena pelaku tidak berniat untuk menjadikan barang yang ia pakai menjadi miliknya. Namun sebagian santri melakukan hal tersebut karena sengaja untuk mengambil barang tersebut dengan tujuan umtuk menjadi miliknya. Ada juga yang memakainya tanpa mengembalikan ke pemiliknya semula. Ada juga yang mengaku mengambil brang tersebut karena merupakan barang temuan. Dalam islam hal tersebut bisa jadi dihukumi syubhat atau bahkan haram. Dan memakai barang haram majadikan hati si pemakai menjadi rusak dan tidak tenang dalam menjalankan kehidupan kesehariannya.

Peringatan Rasulullah tentang Ghasab

Rosulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang menghindari syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Bagaikan penggembala yang menggembalakan hewan di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya maka lambat laun dia akan memasukinya.”

Maka, seharusnya dalam lingkungan pesantren yang notabennya kebersamaan, dilakukanlah kesepakatan. Jika tak ada kesepakatan maka itu hukum dari barang tersebut bisa syubhat atau bahkan haram. Hampir seluruh santri mengetahui fenomena ghasab merupakan hal negatif, namun tetap di laksanakan. Perilaku santri dalam melakukan ghasab dapat memicu terjadinya perilaku ghasab lainnya. Sehingga timbulah anggapan “Barang siapa yang mengghasab, pasti dia akan dighasab”.

Upaya menanggulangi fenomena ghasab di lingkungan pesantren diantaranya dapat dilakukan dengan cara mengubah kesadaran santri untuk tidak mengghasab, memberikan sosok teladan untuk tidak berbuat ghasab, mempertegas kedisiplian. Dan seharusnya anak santri bisa mengaplikasikan apa yang ia dapat dari pondok dalam kehidupan kesehariannya dan sadar terhadap langkah yang akan ia pijak.

Mila Arum Zuli Setyawan

Berkata Baik atau Diamlah

Manusia merupakan makhluk yang memiliki keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan makhluk yang lainnya. Keistimewaan itu terletak pada perbedaan manusia dengan makhluk lainnya yakni pada akal dan pikiran. Berbagai kajian tentang manusia dilakukan karena manusia merupakan salah satu objek yang menarik untuk dikaji lebih dalam, dimulai dari pengertiannya, tujuan penciptaannya, serta hakikatnya. Manusia merupakan makhluk yang diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya dalam al Qur’an surah Al Isra 17 ayat 70 disebutkan bahwa manusia dimuliakan Allah swt. Dan diberikan kelebihan yang sempurna dari tanah dan memberinya tugas untuk memakmurkan bumi, bahkan juga menjadikan segala yang ada di muka bumi ini untuknya. Karna itu, Allah memberi manusia gelar “Khalifah di muka bumi” dengan kelebihannya itu, manusia menjadi makhluk yang berderajat paling tinggi, namun juga mempunyai kekurangan yang dapat membawanya ke derajat terendah sebagaimana yang telah termaktub pada Q.S. Al – Baqarah ayat 30.

Sedangkan dalam Al – Qur’an surah Adz – Dzariyat ayat 56 Allah menjelaskan tujuan penciptaan manusia yang kedua yaitu untuk beribadah. Beribadah kepada Allah merupakan sebuah kewajiban karena kita terikat dengan rukun islam. Ketika kita telah melaksanakan rukun islam yang pertama yakni syahadat, kita pula harus mempertanggungjawabkan persyahadatan kita kepada Allah SWT. Kita telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah sebenar – benarnya utusan Allah.

Berkata Baik atau Diamlah
Berkata baik atau diam

Ibarat seorang hamba yang taat kepada Tuannya, begitulah semestinya kita menjadi manusia yang taat kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala yang telah diperintahkan-Nya dan menjauhi segala yang telah dilarang oleh-Nya. Bahkan kita sangatlah dianjurkan untuk berlomba – lomba dalam kebaikan, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS.Al-Baqarah ayat 148 yang artinya “Dan, bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba – lombalah dalam berbuat amal kebajikan”. Akan lebih baiknya jika kita hidup sebagaimana kita diciptakan yakni untuk berbuat amal kebajikan sebanyak banyak nya karena kehidupan dunia adalah sebuah kehidupan semata – mata. Tempat terakhir yang akan menjadi tempat  persinggahan seluruh makhluk Allah  kelak yaitu akhirat.

Manusia yang sejatinya dibekali panca indera yang sempurna berupa mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium aroma, lidah untuk merasa, dan mulut untuk berbicara sudah semestinya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Dalam kitab Syarh Arba’in Nawawi hadits ke 15, Abu Hurairoh ra berkata bahwasanya Nabi SAW bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًل أَوْ لِيَصْمُتْ، وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِااللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِر فَلاَ ُؤْذِ جَارَهُ، وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِااللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِر فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Artinya : “Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir maka berkata baik atau diamlah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir maka hormatilah tetanggamu, dan barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir maka hormatilah tamu mu”.

Kalimat “barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir” maksudnya adalah barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanannya itu) menyelamatkannya dari azab Allah SWT dan membawanya mendapatkan keridaan Allah SWT maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar – benarnya iman tentu ia akan takut akan ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh – sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Dan yang terpenting dari itu semua adalah kita sebagai seorang pegang kendali atas tubuh kita sudah seyogyanya kita dapat mengendalikan gerak gerik seluruh anggota badan kita karena kelak seluruh anggota badan kita akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah kita lakukan semasa di dunia sebagaimana tersebut pada firman Allah SWT “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan isi hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya” Q.S. Al – Isra’ ayat 36.

Oleh: Laura Aprilia Hasanah