Dauroh Mukatsafah fii Rasail An-Nur

RasailAn- Nur adalah bukti yang melimpah tentang al-Qur’an dan tafsir yang sangat kuat, berupa percikan yang luar biasa dari ijaz ma’nawi yang hakekatnya diilhamkan dari ilmu hakekat

Mantingan –Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Program Studi  Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir mengadakan Studi Pengayaan Lapangan (SPL) yang diisi dengan Dauroh Mukatsafah Fi Fathi Rasaili-N-Nur dengan mengundang pemateri Asatidzah  Tholabul Nur. Acara ini dilaksanakan dalam 2 hari yaitu mulai Selasa 06 April 2021 sampai Rabu, 7 April 2021 di gedung aula Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri.

Dalam Dauroh Mukatsafah fi Rasil Nur, terdapat 4 materi yang akan menyampaikan materi tentang Badiuzzaman Said Nursi dengan pembagian sesi yang berbeda. Dibuka oleh pemateri pertama pada Dzuhur, 6 April 201 oleh Dr. Sujiat Zubaidi Soleh, M.A dengan judul “Sejarah Hidup dan Biografi Bediuzzaman Said Nursi”. Pada sesi pertama, Dr. Sujiat mengajak mahasiswa IQT 4 untuk lebih mengenal latar belakang, latar belakang, sejarah perjalanan hidup dan fase kehidupan Bediuzzaman Said Nursi. Dari dauroh ini, Dr. Sujiat berharap ada pon-poin yang bisa dikaji dan dikaitkan dengan Gontor.  Dipandu oleh Siti Usbandiyah – satu mahasiswi Program studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir semester 4- selaku moderator, acara ini dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara narasumber dan peserta webinar sampai menjelang waktu ashar.

Adapun dauroh kedua diadakan pada Rabu, 07 April 2021 yang diisi oleh 3 pemateri  tentang Bediuzzaman Said Nursi dengan pembahasan yang berbeda. Materi pertama dibawa oleh adalah Ustadz Muhammad Ishomuddin, M. Ud –Kandidat Doktoral Universitas Darussalam Gontor, pengkaji Rasaili-N-Nur – dengan judul “Mukjizat al-Qur’an menurut Bediuzzaman Said Nursi” yang membahas tentang kemukjizatan al-Qur’an dari berbagai aspek menurut Beddiuzzaman Said Nursi dengan pesannya bahwa RasailAn- Nur adalah bukti yang melimpah tentang al-Qur’an dan tafsir yang sangat kuat, berupa percikan yang luar biasa dari ijaz ma’nawi yang hakekatnya diilhamkan dari ilmu hakekat Dilanjutkan pemateri kedua yang dibawakan oleh Ustadzah Dhita Ayomi Purwaningtyas, M. Si -Dosen AFI Universitas Darussalam Gontor, pengkaji Rasaili-N-Nur – yang menjelaskan “Thulabu An-Nur” dan disusul oleh pemateri ketiga yang disampaikan oleh Ustadzah Ridani Faulika Permana, M. Ag -Dosen IQT Universitas Darussalam Gontor, pengkaji Rasaili-N-Nur – dengan judul “Implementasi Pada kaum Wanita” yang menjelaskan menjelaskan tentang kumpulan nasehat Said Nursi yang termaktub dalam Risalah Nur kepada kaum wanita demi menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat dan tindakan yang menyimpang dari fitrah wanita yang mengakibatkan kesengsaraan baik di dunia dan akhirat.

Diharapkan dari Dauroh ini melahirkan thulabu-n-nur di Universitas Darussalam Gontor khususnya di Program Studi  Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dan menjadi semangat baru untuk mengkaji kitab-kitab Said Nursi di Indonesia.

(oleh Nanda Misbahul Awwalia, Ed. Nindhya Ayomi, S.Ag, M.Pd)

Tasyakuran UAS 1442/2021: Qur’anic Tafsir Raih beberapa penghargaan

iqt.unida.gontor.ac.id Main Hall – Dalam acara penutupan Ujian Akhir Semester (UAS) UNIDA Gontor yang acap kali dikenal dengan Tasyakuran, tentunya tidak lain ialah sebagai bentuk rasa syukur civitas akademika dari terlaksananya beberapa rentetan kegiatan. Terutama berakhirnya masa-masa ujian tulis 1442 H/2021 M. Oleh karenanya, dari kesyukuran inilah acara tersebut dibalut dengan sedimikian rupa yang di isi dengan penyampaian beberapa laporan-laporan. Seperti laporan panitia ujian, laporan wakil rektor 1, laporan wakil rektor 2 dan 3 hingga diakhiri dengan sambutan Rektor UNIDA Gontor Al-Ustadz KH. Prof. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A.Ed, M.Fhil. hari selasa, 05 April 2021.

Sementara itu, acara yang sangat menarik pada tasyakuran UAS kali ini tentu tidak luput melalui beberapa hasil laporan-laporan yang disampaikan. Namun, benarkah Program studi Qur’anic Tafsir (IQT) sangat antusias dalam memeriahkan acara ini? Oleh karena itu, mari kita simak bersama isi laporan tersebut sebagaimana berikut ini.

Laporan Wakil Rektor 1, 2 dan 3

Pada laporan wakil rektor 1 yang disampaikan oleh Al-Ustadz Dr. Abdul Hafidz Zaid dalam bidang akademik dan kemahasiswaan. Beliau mengumumkan beberapa penghargaan yang diberikan kepada beberapa nominasi yaitu terdiri dari: a) mahasiswa berprestasi, b) pengawas teladan dari dosen (putra & putri), c) pengawas teladan dari staf (putra & putri), dan d) peserta UAS teladan dari mahasiswa.

Adapun laporan wakil rektor 2 yang disampaikan oleh Al-Ustadz Dr. Setiawan bin Lahuri dalam bidang administrasi dan keuangan, yang tidak luput beliau umumkan adalah terkait data-data kuantitatif berupa hasil laporan keuangan laziswaf selama satu semester. selain itu juga, beliau mengumumkan sekaligus penyerahan secara simbolis kepada para mahasiswa penerima beasiswa minhati.

Sedangkan, pada laporan wakil rektor 3 yang disampaikan oleh Al-Ustadz Dr. Khairul Umam dalam bidang hubungan kerjasama eksternal. Beliau melaporkan berupa hasil laporan LPPM/LPKM yang terdiri dari: Penghargaan lomba Program kreativitas Mahasiswa (PKM), penghargaan kepada program studi terbaik yang berkontribusi dalam PKM, dan ditutup dengan penghargaan kepada program studi terbaik dalam pengelolaan website.

Disamping itu, berdasarkan hasil laporan-laporan yang disampaikan di atas tadi, ternyata fakta mengatakan bahwa Program studi Qur’anic Tafsir (IQT) sangat antusias dalam memeriahkan tasyakuran kali ini yaitu dengan menerima beberapa penghargaan-penghargaan yang diraihnya seperti keterangan di bawah ini.

Penghargaan Yang Diraih Prodi IQT

Penghargaan yang diraih oleh program studi Qur’anic Tafsir (IQT) secara individu (mahasiswa & dosen) maupun prodi adalah sebagai berikut:

Pertama, peraih penghargaan mahasiswa teladan dengan nomor urut 1. Dianugerahkan kepada saudara Fahmi Akhyar Al Farabi mahasiswa IQT Semester 6. Selebihnya, penghargaan mahasiswa teladan dengan nomor urut 2. Diberikan kepada saudara Azhar Nur Fuadi mahasiswa IQT Semester 2.

Kedua, peraih penghargaan nominasi pengawas teladan dari dosen dan tenaga kependidikan (putra). Yang dinilai dari kerapian, ketanggapan dan kecepatan adalah Al-Ustadz Ali Mahfudz Munawar, M.Hum

ketiga, peraih penghargaan peserta UAS teladan yang dinilai dari kehadiran dan kerapian, tidak lain diberikan kembali kepada saudara Azhar Nur Fuadi mahasiswa IQT Semester 2.

Keempat, peraih penghargaan PKM hibah internal yang terdiri dari PKM-Kewirausahaan (K) adalah saudara M. Abdi Kurniawan mahasiswa IQT Semester 8. Sedangkan, PKM-Karya Cipta (KC) adalah saudara Fahmi Akhyar Al Farabi mahasiswa IQT Semester 6.

Adapun sebagai penutup, penghargaan terkakhir dari nominasi Program studi terbaik yang berkontribusi dalam PKM ialah diberikan kepada prodi Agroteknologi dengan nilai 680, dan disusul Prodi IQT sebagai nomor urut 2 dengan nilai 605.

Dengan demikian, mudah-mudahan dari pencapaian tadi semoga bisa memotivasi diri kita untuk lebih berlomba-lomba dalam hal kebaikan bahkan bisa memperbaiki dikemudian hari. Wallahu ‘alam bisawab.

Di Antara takdir Alah dan kemauan manusia

iqt.unida.gontor.ac.id Pada artikel ini penulis akan menjelaskan secara singkat tentang antara takdir Allah dan kemauan manusia dalam keidupan yang di alami manusia itu sendiri. Pada awal tahun 2021 kita di sambut dengan berbagai macam cobaan yang begitu berat, banyak perisriwa dan bencana yang terjadi di awal tahun 2021. Dunia di hadapkan dengan pandemi yang tidak kunjung henti, mengawali awal tahun 2021 bencana silih berganti menguji keimanan setiap insan terkhusus di negri kita Indonesia, Allah uji kita dengan berbagai macam cobaan hampir segala lini Allah uji tidak hanya di darat bahkan lautan dan juga yang udara. Ada yang bersyair “ yang di darat di ratakan, yang di laut di tenggelamkan, yang di udara di hempaskan” dalam artian lengkap sudah cara Allah untuk mengigatkan hambanya dengan berbagai mcam cobaan itu. Salah satu kejadian yang menggemparkan Indonesia dan juga dunia yaitu dengan jatuhnya pesawat Sj 182, dengan tujuan penerbangan Jakarta – Pontianak.

Pesawat hilang kontak, jatuh dan meledak

Seperti yang terjadi pada tanggal 09 – 01 – 2021 ketika salah satu maskapai penerbangan Indonesia hendak melakukan penerbangan dengan tujuan Jakarta – Pontianak, dimana ketika waktu itu pesawat tersebut membawa penumpuang sekitar 62 jiwa didalam nya. Tidak ada 1 nyawapun yang terselamatkan dalam kejadian itu yang tua yang muda bahkan yang masih kecil tak berdosa pun Allah ambil nyawa mereka saekitika itu juga. Secara tak kasat mata itu memang merupakan sebuah musibah yang terjadi, namun secara iman itu merupakan takdir yang sudah dicatat oleh sang pencipta yaitu Allah.

Di Antara takdir Alah dan kemauan manusia

Secara naluri manusia banyak yang tidak bisa menerima akan kejadian ini dan menyalahkan satu sisi yaitu maskapai penerbangan, namun iman yang membuat hati setiap keluarga yang di tinggalkan yakin bahwa akan ada hikmah dibalik setiap kejadian yang terjadi, dalam Al-Qur’an hampir semua musibah atau semua kejadian dan bencana yang menimpa suatu umat dan kaum adalah peringatan untuk hambanya agar menjadi pribadi yang lebih baik, agar kita semua bisa memuhasabah diri dengan segala apa yang telah kita perbuat di dalam kehidupan kita sehari-hari kenapa Allah melakukan itu kepada kita. Ketika Allah hendak menguji umat nya tidak pandang bulu siapa saja yang berada di sekitar orang tersebut akan tekena imbasnya, karna tidak semua yang berada didalam kejadian itu adalah orang- orang yang memang melakukan perbuatan yang memancing amarah Allah, tapi ketika Allah hendak melakukan itu semua yang berada di sekitarnya tanpa terkecuali seketika itu juga rata dengan musibah itu.

Hikmah Dibalik Peristiwa

Akan ada hikmah yang bisa di renunangkan  di balik peristiwa yang terjadi itu, salah satu hikmah itu adalah memberikan kesadaran diri kita bahwa kita sebagai manusia sudah berbuat hal atau kesalahan yang membuat Allah murka akan apa yang kita perbuat di dalam kehidupan kita, mungkin dalam peristiwa jatuhnya pesawat itu ada bebrapa faktor yang dimana akan membuat keluarga yang di tinggal lebih sadar akan kuasa Allah, atau sadar kalau dirinya masih sangat jauh dari Allah maka dengan kejadian itu agar bisa mengingatkan setiap insan yang di tinggal agar bisa memuhasabah diri untuk bisa lebih dekat dengan Allah.

Sejarah Perkembangan Ulumul Qur’an

Iqt.unida.gontor.ac.id. Menurut sejarah Al-Qur’an adalah sumber utama dalam ajaran Islam. Al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan kepada Nabi terakhir dan penutup, Muhammad saw. diperuntukkan kepada seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Wahyu ini mengandung mukjizat yang luar biasa. Mukjizat tersebut masih dan akan tetap kekal sampai kapan pun. Kekekalan kemukjizatan al-Qur’an dipelajari dan didalami melalui bidang ilmu Ulumul Qur’an. Sebelum menelusuri ilmu tersebut lebih jauh, ada baiknya mengetahui sejarah perkembangan Ulumul al-Qur’an ini, yang dimulai pada generasi emas Islam, yakni masa Nabi Muhammad saw. hingga masa para Sahabat.

Sejarah Perkembangan Ulumul Qur'an

Semakin berkembangannya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dewasa ini membuat kajian terhadap isi dari al-Qur’an semakin gencar. Berbagai penemuan dari penelitian-penelitian terkini dan pemanfaatan teknologi untuk mengungkap misteri dari alam semesta yang sulit dijangkau dengan panca indera semata telah sedikit banyak membuka tabir dari kabar-kabar yang diberitakan dalam al-Qur’an. Bahkan, beberapa dari penemuan dan pemanfaatan teknologi tersebut berhasil menunjukkan kemukjizatan al-Qur’an dalam menggambarkan fenomena alam semesta. Dengan demikian, sudah jelaslah bahwa dengan semakin majunya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berbanding lurus dengan semakin tampaknya validitas kemukjizatan al-Qur’an.

Pada Masa Nabi Muhammad Saw.

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk membawa umat manusia dari kegelapan hidup menuju kehidupan yang terang-benderang oleh cahaya Ilahi, dan menjadi petunjuk bagi mereka menuju jalan yang lurus. Pada mulanya, al-Qur’an disampaikan kepada penduduk asli Arab oleh Nabi Muhammad saw. yang merupakan bagian dari penduduknya. Beliau menyampaikan al-Qur’an dengan terang dan sebenar-benarnya, tanpa disisipi penambahan maupun pengurangan dari wahyu Allah tersebut. Jika penduduk Arab, khususnya para Sahabat Nabi Muhammad saw. mendapati sesuatu yang kurang jelas bagi mereka tentang ayat-ayat al-Qur’an yang diterima, maka para Sahabat langsung menanyakannya kepada sang Nabi. Kemudian, Nabi Muhammad saw. menjelaskan makna yang terkandung dalam ayat-ayat itu dengan pemahaman yang tidak sedikit pun lari dari apa yang diterimanya melalui wahyu, melainkan semuanya sesuai dengan tuntunan wahyu.

Para Sahabat merupakan contoh dari orang-orang yang bersemangat dalam menghafal, mempelajari dan mengamalkan al-Qur’an. Mereka selalu merasa antusias untuk mendapatkan pengajaran al-Qur’an dari Nabi Muhammad saw. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas r. a., ia berkata: “Ada seorang laki-laki di antara kami yang apabila membaca Surah al-Baqarah dan Ali Imran, ia begitu antusias.” Rasa antusias ini dibarengi dengan kesungguhan dalam mengamalkan dan menegakkan hukum-hukum dalam al-Qur’an.

Salah seorang Sahabat Nabi Muhammad saw., Abu Abdirrahman as-Sulami meriwayatkan, bahwa para Sahabat yang biasa membacakan kepada kami  al-Qur’an: Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, dan yang lainnya; jika mereka mempelajari sepuluh ayat dari Nabi Muhammad saw., mereka akan berusaha sampai bisa memahami dan mengamalkan isi dari ayat-ayat tersebut, sebelum mempelajari ayat-ayat yang berikutnya. Para Sahabat tersebut berkata, “Kami mempelajari al-Qur’an, ilmu, dan amal sekaligus.”

Ulumul Qur’an hingga Masa Sahabat

Dalam pengajarannya, Nabi Muhammad saw. berpesan kepada para Sahabat untuk tidak menulis sesuatu apa pun selain al-Qur’an. Tidak diizinkannya menulis selain al-Qur’an dimaksudkan agar al-Qur’an tidak tercampur aduk dengan yang lain. Hal ini seperti yang diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jangan sekali-kali menulis apa pun dariku. Barangsiapa menulis sesuatu selain al-Qur’an dariku maka hapuslah. Sampaikanlah hadisku, tidak masalah. Namun, barangsiapa mendustakan aku dengan sengaja, maka nerakalah tempatnya.” Sekali pun Nabi Muhammad saw. pernah memberikan izin kepada sebagian sahabatnya setelah itu untuk menulis hadis, perkara-perkara mengenai al-Qur’an sesungguhnya masih tetap bersandar pada riwayat melalui talqin. Demikianlah sejarah perkembangan Ulumul Qur’an pada masa Nabi Muhammad saw., masa Khalifah Abu Bakar dan masa Umar bin Khattab radiyallahu anhuma.

Referensi: Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, karya Syaikh Manna Al-Qaththan

Pergantian Pengurus Gugus Depan 15089-15 Di Pondok Modern Darussalam Gontor

Pondok Modern Darusslam Gontor, yang biasa disingkat dengan PMDG berdiri pada tanggal 19 September 1926 telah menelurkan banyak alumni yang berkualitas dan mengabdi kepada masyarakat. Tentunya semua itu tidak lepas dari pendidikan yang diberikan oleh pondok kepada para alumni tesebut. Dengan penugasan yang diberikan oleh pondok, para santri terdidik dalam segala hal. Salah satu penugasan itu adalah menjadi pengurus salah satu gugus depan di PMDG, yaitu Gugus Depan 15089-15.

Pergantian pengurus gugus depan di PMDG dilaksanakan pada hari Kamis, 7 Januari 2021. Untuk Gugus Depan 15089-15 bertempat di sebelah barat kantor bapak pimpinan PMDG dan acara berjalan dengan lancar, meskipun diguyur sedikit dengan air hujan. Acara dimulai pukul 13.45 dan selesai pada pukul 14.45 kemudian dilanjutkan dengan acara perfotoan bersama. Sesi foto bersama seperti acara ini telah ada semenjak Pondok Gontor berdiri.

            Yang menjadi pengurus baru di Gugus Depan adalah adika (anak didik pramuka) yang telah masuk menjadi Pasus (Pasukan Khusus) dan yang duduk di kelas 3 KMI (Kulliyyatu-l Mu’allimin Al-Islamiyyah). Mereka tidak menyiapkan dan melaksanakan acara tersebut seorang diri, tetapi juga dibantu adik kelas, yaitu kelas dua, kakak kelas mereka, yaitu kelas 3 intensif  kelas 4, dan seorang Bindep (Pembimbing Gugus Depan), serta dari para Mabigus (Majlis pembimbing Gugus Depan).

Acara tersebut dimulai dengan bacaan Al-Qur’an kemudian dilanjutkan dengan laporan pengurus lama, pelantikan pengurus baru, pergantian tempat, tanda tangan surat mandat, pembacaan surat mandat, sambautan pengurus baru, sambutan dari Mabigus, dan diakhiri dengan Kaffaratu-l Majlis.

            Dalam penugasan ini, pertama dalam menyiapkan acara pergantian, para santri terdidik dalam segala hal. Bagaimana adika-adika pasus menyiapkan acara dari jauh-jauh hari samapai hari H. Mereka berkorban harta, tenaga, dan fikiran untuk menghidangkan acara terbaik. Kemudian ketika sudah resmi dilantik menjadi pengurus baru, mereka berlatih kepemimpinan. Bagaimana menyikapi anggota yang susah diatur, berbicara di depan banyak orang, melatih anggota dengan skil massing-masing.

            Para pengurus baru melatih anggota dengan sungguh-sungguh serta dengan penuh tanggungjawab, karena mereka sudah membaca syahadat dan janji suci di depan banyak orang serta mereka khawatir dan takut kalau generasi setelah mereka menjadi generasi yang jelek dan lemah daripada tahun sebelumnya. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT :           

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا (النساء: 9)

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” ( An-Niisa’ : 9)

            Itulah semua proses pergantian pengurus Gugus Depan 15089-15 dan amanat yang diemban oleh pengurus baru. Dengan penugasan seperti yang dijelaskan di atas, maka para alumni PMDG telah mendapat banyak pendidikan dan pengalaman yang banyak dan siap untuk terjun dan berjuang di masyarakat.

Persiapan Menuju Bulan Ramadhan

Apakah yang harus kita lakukan agar Ramadhan yang akan datang benar-benar menjadi rahmat bagi kita. Dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan bahwa ibadah itu merupakan perlombaan, فاستبقوا الخيرات  “maka berlomba-lombalah dalam mengerjakan kebajikan” (Al Baqarah 148 ) misalnya. Maka jika satuannya adalah perlombaan, lantas Bagaimana dengan musim ibadah yang bernama Ramadan, Bagaimana dengan sebuah bulan yang isinya adalah ibadah dan berbagai macam varian ibadah ada di dalamnya, sehingga tidak heran jka sebagian orang mengatakan bahwa Ramadhan itu ibarat Olimpiade bagi ahli taqwa,  simpelnya  dengan sebuah pertanyaan ,apakah mungkin Seorang atlet mengikuti Olimpiade tanpa TC, tanpa pemanasan, tanpa stretching, tanpa warming up kemudian dia mendapatkan medali emas, misalnya cabang olahraga yang dia ikuti akan diperlombakan atau akan dipertandingkan pada tanggal 12 April atau 13 April, tetapi ia tidak mengerjakan apapun untuk mempersiapkan dirinya , kemudian pada tanggal 12 April sesuai yang telah dijadwalkan ia datang ke Stadion untuk berlomba, apakah mungkin orang seperti ini akan menjadi juara ?

Kita semua mengetahui bahwa Olimpiade semisal ini hanya diikuti oleh atlit-atlit papan atas dunia, kemudian seseorang tanpa persiapan apapun mendatangi komite Olimpiade dan ia mendaftarkan dirinya untuk mengikuti olimpiade tersebut, apakah ia akan diterima? Tentu saja tidak, Begitu pula bulan Ramadhan yang ibarat sebuah olimpiade, maka sekarang adalah waktu untuk kita bertanya kepada diri kita sendiri, karena Ramadhan sudah di depan mata kita, apakah kita ahli tahajud papan atas? ataukah kita ahli Quran papan atas? ataukah kita ahli puasa papan atas? ataukah kita ahli infaq dan sedekah papan atas? Jika tidak, apakah pantas kita memasuki bulan Ramadhan begitu saja tanpa ada pemanasan atau persiapan kemudian kita bermimpi mendapatkan medali Taqwa dari Allah subhanahu wa ta’ala?

Pada bulan Ramadhan kita diminta untuk berada di level atas bukan 1 atau 2 hari tapi 30 hari selama satu bulan, begitupula kita diminta untuk tidak menurunkan tempo, bahkan harus meningkat terutama pada hari-hari terakhir hingga puncaknya pada sepuluh hari terakhir. Hal ini akan berat bagi kita jika kita memasuki bulan suci Ramadhan begitu saja tanpa persiapan.

Sebagian besar dari ulama terdahulu, mereka sudah mempersiapkan kedatangan bulan Ramadhan semenjak satu bulan sebelumnya, seperti Imam Amru bin Qais Al Mula`i  jika telah memasuki bulan Sya’ban, maka ia menutup kedainya dan menyibukkan diri dengan membaca Al Qur`an.. Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasannya umat Islam di masa beliau jika memasuki bulan Sya’ban, maka mereka sibuk dengan mushaf-mushaf dan mereka membacanya, mereka juga mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka untuk memperkuat orang-orang yang lemah dan miskin dalam menghadapi puasa Ramadhan. (lih.Latha`if Al Ma’arif, hal. 258)

Dari apa yang disampaikan Al Hafidz Ibnu Rajab tersebut nampaklah bahwasannya amalan-amalan bulan Ramadhan sudah mulai dikerjakan di bulan Sya’aban. Hal itu diperkuat dengan amalan para ulama.

Beberapa amalan yang dianjurkan untuk diamalkan untuk mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan ,

Memperbanyak Membaca Al Quran

Di bulan Rajab, para salaf shalih semakin memfokuskan diri untuk membaca Al Qur`an meski Ramadhan belum tiba. Sebagaimana dilakukan oleh Amru bin Qais Al Mula`i jika telah memasuki bulan Sya’ban, maka ia menutup kedainya dan menyibukkan diri dengan membaca Al Qur`an. (Latha`if Al Ma’arif, hal. 258)

Puasa Sya’ban

Puasa di bulan Sya’ban merupakan perkara yang disunnahkan. Aisyah Radhiyallahu’anhu menyampaikan,”Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyempurnakan puasa kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak mengetahui dalam suatu bulan lebih banyak puasa dibanding Sya’ban.” (Riwayat Al Bukhari)

Mengqadha puasa

Karena kedekatannya dengan Ramadhan, maka disunnahkan untuk mengqadha’ puasa sunnah di bulan Sya’ban. Namun bagi siapa yang masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan, maka dilarang untuk menangguhkan untuk menqadha’nya setelah Ramadhan ke dua tanpa udzur. Jika mengakhirkan qadha’ sampai Ramadhan ke dua tanpa udzur, maka wajib baginya disamping mengadha’ puasa memberi makan kepada orang miskin menurut madzhab Al Maliki, Asy Syafi’i dan Al Hanbali. Sedangkan untuk madzhab Al hanafi, cukup mengqadha’ saja. (lihat, Latha’if Al Ma’arif, hal. 258)

Persiapkan Fisik Hadapi Ramadhan

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwasannya Rasulullah Shallahu Alihi Wasallam bersabda,”Janganlah kalian mendahului Ramadhan (dengan berpuasa) sehari atau dua hari. Kecuali bagi siapa yang berpuasa, maka ia hendaklah berpuasa.” (Riwayat Al Bukhari)

Al Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan beberapa pandangan mengenai sebab dimakruhkannya melaksanakan puasa sunnah mutlak sehari atau dua hari menjelang Ramadhan, salah satunya adalah agar dikuatkan dalam menghadapi puasa Ramadhan. (Latha`if Al Ma’arif, hal. 273-276)

Tidak Mengumbar Nafsu Makan-Minum Sebelum Ramadhan

Meski ada dorongan untuk memperkuat fisik dalam menghadapi bulan Ramadhan, namun bukan berarti seseorang didorong untuk melampiaskan makan dan minumnya sepuas-puasnya sebelum memasuki Ramadhan, karena ketika mereka berada di bulan Ramadhan tidak bisa melakukannya. Tradisi buruk ini disebut dengan tanhis, yakni hari-hari untuk melakukan perpisahan dengan makan dan minum sebelum bulan Ramadhan

oleh Fikri hasan Abdullah/IQT 6

Pandemi Covid 19 momen kuatkan iman dan imun

Wabah corona ini menjadikan kita sebagai seorang mukmin menghadapi sebuah ujian. Ujian tersebut adalah ujian keimanan. Ujian keimanan ini diberikan kepada setiap orang mukmin karena, Allah tidak akan membiarkan umatnya mengakui dirinya sebagai seorang mukmin kecuali Allah akan memberikan ujian kepadanya. Di masa pandemi ini, kita sebagai seorang mukmin diuji untuk tetap beribadah kepada Allah walaupun dengan segala rintangannya. Apabila kita bisa menghadapi ujian keimanan ini, maka luluslah keimanan kita dan insyaallah akan mencapai derajat keimanan yang lebih tinggi agar bisa lebih baik lagi dalam menjalankan kehidupan beragama.
Beragama memang harus rasional dan tidak perlu termehek-mehek, apalagi penuh dengan nafsu. Beragama itu dengan hati dan pikiran yang rasional. Jangan sampai kecintaan kepada agama menjadi sebuah api nafsu yangg membara, yang dapat membakar kesejukan iman dan tauhid. Mengendalikan “nafsu” dalam ibadah dengan tidak mengadakan acara kumpul-kumpul, dan menggantinya dengan pray from home adalah perilaku beragama yang rasional. Rasionalitasnya terletak bahwa pray from home adalah tindakan yang bermanfaat dalam memutus mata rantai penyebaran covid-19. Pray from home pun menjadi ibadah yang sangat mulia, yang keutamaannya tidak dapat diukur dengan angka-angka.
Salah satu contoh dari pray from home adalah sholat. Hal yang tepat kita lakukan di masa-masa pandemi ini adalah melakukan sholat di awal waktu, gerakan yang runtun dan sempurna dan dilakukan secara kontinue setiap hari akan membuat badan tetap sehat dan imunitas tubuh juga akan meningkat. Tidak perlu diragukan lagi sholat merupakan cara menguatkan iman dan sekaligus menguatkan imunitas tubuh. Seperti yang diungkapkan oleh dr. Sagiran bahwa, ibadah shalat pada hakekatnya terdiri dari tiga unsur. Yakni, gerakan shalat, bacaan doa, dan kekhusyukan hati menjalankan ibadah shalat yang ditandai pemahaman arti doa atau ayat suci yang diucapkan. Ketiga unsur tersebut, menjadi satu rangkaian yang tak bisa dipisahkan dalam menjalankan ibadah shalat.
Namun dari ketiga unsur yang terdapat dalam shalat tersebut, unsur gerakan ternyata tak hanya memiliki makna sebagai gerakan ibadah. Beliau telah melakukan serangkaian penelitian mengenai masalah gerakan shalat. Hasilnya, ternyata setiap tahapan yang berlangsung dalam ibadah shalat, memberi manfaat kesehatan bagi orang yang melaksanakannya. Tapi tentunya bila setiap tahapan gerakan ibadah shalat yang dilaksanakan, sesuai dengan tuntunannya. Hal ini membuktikan bahwa di kala pandemi ini tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan shalat. Walaupun kita tidak bisa melaksanakannya secara berjamaah seperti sebelum pandemi, shalat tetap akan menjadi kewajiban bagi umat islam yang dimana di samping menguatkan iman, shalat juga bisa meningkatkan imunitas tubuh agar bisa melindungi kita dari wabah virus corona ini.
Selain shalat, puasa sunnah adalah ibadah yang juga bisa dilaksanakan di masa pandemi ini. Selain meningkatkan iman, puasa sunnah juga dapat meningkatkan imunitas tubuh. Puasa merupakan salah satu cara yang dinilai mampu tingkatkan sistem imun tubuh saat pandemi corona. Dengan daya tahan tubuh yang kuat, tubuh bukan hanya mampu menangkal virus corona saja, tapi juga mampu menangkal tubuh dari penyakit berbahaya lainnya. Menjalankan puasa dengan tepat, serta mempraktikkan pola hidup sehat mampu memperbaiki fungsi tubuh dengan mengeluarkan racun di dalamnya. Terlebih lagi saat pandemi virus corona seperti sekarang ini, daya tahan tubuh yang kuat sangat diperlukan. Melakukan puasa dengan cara yang tepat, menjadikan proses detoksifikasi dapat berjalan dengan baik, sehingga daya tahan tubuh akan meningkat.
Seorang peneliti dari Jepang yang bernama Prof. Yoshinori Ohsumi melakukan penelitian kepada orang muslim yang berpuasa. Penelitian ini dapat memperlihatkan bagaimana sel-sel yang tidak diberi makan dalam beberapa waktu tertentu memberikan respons yang luar biasa. Mereka menyebutnya dengan sel-sel lapar. Pada kondisi lapar (tidak ada makanan masuk antara 8-16 jam) sel-sel akan mengalami autophagy (memakan dirinya sendiri). Di samping itu, sel-sel lapar ini mengeluarkan zat-zat spesifik sejenis protein yang kemudian disebut dengan autophagisom. Zat ini digambarkan seperti “sapu raksasa” yang menyapu bersih sel-sel rusak dan memakannya. Berdasarkan penelitian ini Prof. Yoshinori diberikan penghargaan Nobel dalam ilmu kedokteran pada tahun 2016. Penelitian ini telah membuka pintu bagi para ilmuwan dalam mengungkap system kerja yang sangat kompleks dalam sel. Ke depan riset yang terkait dengan penyembuhan penyakit degenerative yang banyak diderita oleh masyarakat dunia saat ini akan lebih baik.
Kesadaran akan pentingnya puasa dalam peningkatan derajat kesehatan manusia khususnya peningkatan imunitas tubuh sangat membantu dalam upaya mencegah penularan wabah Covid-19. Daya tahan tubuh yang baik adalah salah satu factor yang sangat penting dalam pencegahan infeksi virus. Konsumsi gizi yang seimbang sangat diperlukan dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Namun pada sisi yang lain, berpuasa sangat dibutuhkan oleh tubuh kita, karena, puasa dapat memberikan kesempatan bagi tubuh kita untuk beristirahat sehingga mengalami peningkatan fungsinya. Peningkatan fungsi tubuh inilah yang nantinya akan meningkatkan system kekebalan tubuh secara keseluruhan. Rasa lapar yang timbul pada mereka yang berpuasa sebagai penanda bahwa saat itulah berbagai racun dalam tubuh dikeluarkan dan sel-sel lama berganti menjadi sel-sel baru.
Contoh lain dari ibadah yang dapat menguatkan iman dan imun adalah memperbanyak shadaqah dan zakat. Shadaqah dan zakat adalah salah satu ibadah yang sangat dicintai oleh Allah sehingga bisa meningkatkan keimanan kita ke derajat yang lebih tinggi. Memang dampaknya bagi imun tubuh kita tidak terlihat, namun dampaknya akan terlihat jika shadaqah atau zakat kita diterima oleh orang yang lebih membutuhkan. Mereka yang lebih membutuhkan akan menjadi sehat karena mendapat asupan tambahan dari apa yang kita berikan kepada mereka.
Beberapa hal yang dapat menguatkan iman dan meningkatkan imun di atas, juga harus didukung dengan berdoa dan bertawakkal kepada Allah SWT. Karena, tidak lain tidak bukan bahwa wabah ini adalah ujian untuk kita agar kita bisa meningkat ke derajat keimanan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Di samping itu, kita juga harus melakukan olahraga ringan dengan teratur seperti aerobik, yoga, dan lain-lain. Karena, olahraga tersebut lah yang dapat menyempurnakan proses pembaruan sel-sel tubuh dan meningkatkan imunitas tubuh di masa pandemi Covid-19 ini. Dengan demikian, kita bisa bertahan di tengah wabah virus covid-19 ini karena, kita mempunyai iman yang kuat dan juga sistem imunitas tubuh yang baik.

PERUMPAMAAN PAHALA TAKZIAH

Takziah merupakan ibadah yang sangat utama. Selain mengingatkan kita agar mempersiapkan diri, takziah juga memiliki pahala yang sangat besar, kali ini akan kita ketengahkan perumpamaan pahala takziah bagi yang mengamalkannya

PERUMPAMAAN PAHALA TAKZIAH
Kiai Gontor Takziah ke Kediaman Gus Solah

Secara bahasa Ta’ziyah (التعزية) artinya menguatkan. Sedangkan secara istilah adalah menganjurkan seseorang untuk bersabar atas beban musibah yang menimpanya, mengingatan dosanya meratap, mendoakan ampunan bagi mayit dan dari orang yang tertimpa musibah dari pedihnya musibah. Imam al Khirasyi mengistilahkan Ta’ziyah dengan : “Menghibur orang yang tertimpa musibah dengan pahala-pahala yang dijanjikan oleh Allah, sekaligus mendo’akan mereka dan mayitnya”.

Diantara dalil pensyariatannya adalah sebuah hadits :

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ إِلاَّ كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ حُلَل الْكَرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seorang Mukmin bertakziyah kepada saudaranyayang terkena musibah kecuali Allah akan memakaikan pakaiankemulian kepadanya di hari kiamat.” ( HR. Ibn Majah)

Dan tidak ada perdebatan dikalangan ulama bahwasanya hukum dari ta’ziyah adalah sunnah, yang berarti dianjurkan untuk dilakukan tetapi tidak berdosa jika ditinggalkan.

Beberapa hadits tentang perumpamaan pahala takziah

Beberapa hadis menyebutkan bahwa takziah memiliki banyak keutamaan di antaranya:

Hadis dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Barang siapa yang bertakziah kepada orang yang tertimpa musibah, maka baginya pahala seperti pahala yang didapat orang tersebut.” (HR. Imam Tirmidzi dan Imam Baihaqi)

Disebutkan pula dalam hadis lainnya dari Amr bin Hazm, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Tidaklah seorang Mukmin bertakziyah kepada saudaranya yang terkena musibah kecuali Allah akan memakaikan pakaian kemulian kepadanya di hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah dan Imam Baihaqi).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa berta’ziyah kepada orang yang meninggal maka akan diganjar dengan pahala sebesar dua qirath, hadits tersebut berbunyi sebagai berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَهاَ حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam: “Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut meshalatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada Beliau; “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab: “Seperti dua gunung yang besar”. (Muttafaqun ‘Alaih,Bukhari: 1240 & Muslim: 1570)

Pahala yang Allah SWT berikan kepada hambanya yang melakukan takziyah khususnya kepada yang meninggal adalah seperti dua qirath, yang mana berarti sebesar dua gunung. dalam riwayat lain, gunung disini adalah gunung uhud, dan terbagi menjadi dua yaitu pahala bagi yang mensholatkan maka akan diberikan satu qirath, dan bagi yang mengantarkannya sampai ke liang lahat maka baginya tambahan satu qirath.

Itulah pahala bagi yang melakukan takziyah, dan tidak ada salahnya bagi kita untuk melakukan takziyah kepada saudara-sadara kita yang sedang mengalam kesusahan, karena selain diberikan pahal yang amat besar, bisa juga mempererat ukhuwah kita dan meringankan serta menghibur saudara-saudara kita yang terkena musibah

PEMBUKAAN STUDI AKADEMIK (SA) 2021

IQT Mantingan-Studi Akademik, program ini merupakan salah satu program yang wajib dilaksankan di Fakultas Ushuluddin dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan membuka wawasan mahasiswa sebelum memasuki akademi selanjutnya. Dengan diadakan nya acara ini diharapkan mahasiswa mampu membuka gerbang wawasan lebih jauh lagi dalam menjawab persoalan-persoalan era modern dengan mengunakan tafsir ilmi atau tafsir sains sosial.

Acara Studi Akademik 2021 ini diadakan pada Selasa, 23 Maret 2021. Acara dibuka dengan sambutan dari wakil dekan II Fakultas Ushuluddin Al-Ustadz Dr. Asif Trisnani, Lc, M.A.

Dalam kesempatan ini beliau memberikan apresiasi yang sangat besar kepada para peserta Studi Akademi (SA). Dr. Asif dalam sambutannya menyampaikan bahwa di masa pandemi semua kegiatan terbatas. Namun kegiatan demikian tidaklah menyurutkan semangat mahasiswi dalam mempelajari banyak hal.

Spirit dalam Studi Akademik (SA) yang dibuka oleh bapak wakil dekan II ini diharapkan dapat tersalurkan juga pada kegiatan sehari-hari terutama saat menjalani proses belajar. Belajar yang dimaksud di sini bukan hanya bermakna sebagai belajar dari buku cetak, melainkan juga melalui kehidupan.

Setelah sambutan dari wakil dekan II Fakultas Ushuluddin, acara dilanjutan dengan olahraga bersama, lomba-lomba, makan bersama dan seminar yang bertemakan “Tafsir Ilmi Sebagai Rujukan Ilmu Pengetahuan Era Modern” dengan pembicara Al-Ustadz Dr. Sujiat Zubaidi Saleh, M.A dan Al-Ustadz Dr. Asif Trisnani, Lc. M.A.

Studi Akademik yang diisi dengan kegiatan akademik dan non-akademik bagaikan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Sehingga apa yang disampaikan pada kesempatan tersebut dirasa lengkap baik dari olah fikir, olah dzikir, olah rasa dan olah raga.

Ketokohan Mufassir Kontemporer Badiuzzaman Sa’id Nursi

Iqt.unida.gontor.ac.id Siman – kali ini penulis menggiring para pembaca yang budiman lebih mengenal Ketokohan mufassir kontemporer. Tiada lain dan bukan ialah seorang Mufassir terkemuka bernama Sa’id dan dengan kedalaman ilmunya sehingga beliau pun dikenal dengan sebutan “Badi’u Az-Zaman” karena keilmuannya yang intens melakukan penafsiran sehingga dari penafsirannya tersebut mampu menjawab berbagai persoalan keagamaan kontemporer. Nama lengkap beliau adalah Badiuzzaman Sa’id Nursi, sedangkan kata “Nurs” adalah yang dinisbahkan dari tempat kelahirannya. Oleh karenanya, agar informasi menjadi lebih jelas tentunya dengan menelusuri kehidupan beliau sebagaimana biografi singkat berikut ini:

Ketokohan Mufassir Kontemporer Badiuzzaman Sa'id Nursi
Iqt.unida.gontor.ac.id

Biografi Singkat

Badiuzzaman Sa’id Nursi lahir pada tahun 1293 H (1877 M) di desa Nurs, daerah Bitlis, Anatolia timur. Menurut sejarah keilmuan dan pendidikannya, mula-mula ia berguru kepada kakak kandungnya, Abdullah. Kemudian ia berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung yang lain, dari satu kota ke kota yang lain guna menimba ilmu dari sejumlah guru dan madrasah dengan semangat penuh ketekunan.

Sejak masa inilah ia mulai menyelam lautan ilmu seperti mempelajari tafsir, hadis, nahwu, ilmu kalam, fikih, mantiq, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Dengan kecerdasannya yang luar biasa, sebagaimana yang diakui oleh semua gurunya, ditambah dengan kekuatan ingatannya yang sangat tajam, ia mampu menghafal hampir 90 judul buku referensial. Bahkan ia mampu menghafal buku Jam‘ul Jawâmi’ (di bidang usul fikih) hanya dalam tempo satu minggu. Ia sengaja menghafal di luar kepala semua ilmu pengetahuan yang dibacanya. Dengan bekal ilmu yang telah dipelajarinya, kini Said Nursi memulai fase baru dalam kehidupannya. Seperti beberapa forum munâzharah (adu argumentasi dan perdebatan) telah dibuka dan ia tampil sebagai pemenang mengalahkan banyak pembesar dan ulama di daerahnya.  

Kedalaman Ilmu hingga julukannya

Pada tahun 1894 M, ia pergi ke kota Van. Di sana ia sibuk menelaah buku-buku tentang matematika, falak, kimia, fisika, geologi, filsafat, dan sejarah. Ia benar-benar mendalami semua ilmu tersebut hingga bisa menulis tentang subjek-subjek tersebut. Karena itulah, ia kemudian dijuluki “Badiuzzaman” (Orang yang tak ada bandingan di zamannya) sebagai bentuk pengakuan para ulama dan ilmuwan terhadap kecerdasannya, pengetahuannya yang melimpah, dan wawasannya yang luas.

Pada saat itu, di sejumlah harian lokal, tersebar berita bahwa Menteri Pendudukan Inggris, Gladstone, dalam Majelis Parlemen Inggris, mengatakan di hadapan para wakil rakyat, “Selama al-Qur’an berada di tangan kaum muslimin, kita tidak akan bisa menguasai mereka. Oleh karena itu, kita harus melenyapkannya atau memutuskan hubungan kaum muslimin dengannya.” Berita ini pun sangat mengguncang diri Sa’id Nursi hingga membuatnya tidak bisa tidur. Ia berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Akan kubuktikan kepada dunia bahwa al-Qur’an merupakan mentari hakikat yang cahayanya tak akan padam dan sinarnya tak mungkin bisa dilenyapkan.” Tegasnya.

Kiprah Dunia Perantauannya

Pada tahun 1908 M, ia pergi ke Istanbul. Ia mengajukan sebuah proyek kepada Sultan Abdul Hamid II untuk membangun Universitas Islam di Anatolia Timur dengan nama “Madrasah az-Zahra” guna melaksanakan misi penyebaran hakikat Islam. Pada universitas tersebut studi keagamaan di padukan dengan ilmu sains, sebagaimana ucapannya yang terkenal, “Cahaya kalbu adalah ilmu-ilmu agama, sementara sinar akal adalah ilmu sains. Dengan perpaduan antara keduanya, hakikat akan tersingkap. Adapun jika keduanya dipisahkan, maka fanatisme akan lahir pada pelajar ilmu agama, dan skeptisisme akan muncul pada pelajar ilmu sains.

Pada tahun 1911 M, ia pergi ke negeri Syam dan menyampaikan pidato yang sangat berkesan, di atas mimbar Masjid Jami Umawi. Dalam pidato tersebut, ia mengajak kaum muslimin untuk bangkit. Ia menjelaskan sejumlah penyakit umat Islam dan solusi cara mengatasinya. Setelah itu, ia kembali ke Istanbul dan menawarkan proyeknya terkait dengan Universitas Islam kepada Sultan Rasyad. Sultan ternyata menyambut baik proyek tersebut. Anggaran demi anggaran segera dicairkan dan peletakan batu pertama pun dilakukan di tepi Danau Van. Namun, Sangat sayang Perang Dunia Pertama membuat proyek ini terhenti.

Ada Apa Pada Perang Dunia Pertama

Sa’id Nursi tidak setuju dengan keterlibatan Turki Utsmani bergabung dalam perang tersebut. Namun ketika negara mengumumkan informasi perang, ia bersama para muridnya tetap ikut dalam perang melawan Rusia yang menyerang lewat Qafqas. Ketika itu, pasukan Rusia memasuki kota Bitlis, Sa’id Nursi bersama dengan para muridnya mati-matian mempertahankan kota tersebut hingga akhirnya terluka parah dan tertawan oleh Rusia, sehingga Ia pun dibawa ke penjara tawanan di Siberia.

Dalam penawanannya, ia terus memberikan pelajaran-pelajaran keimanan kepada para panglima yang tinggal bersamanya, yang jumlahnya mencapai 90 orang. Lalu dengan cara yang sangat luar biasa dan dengan pertolongan Allah SWT, ia berhasil melarikan diri. Ia pun berjalan menuju Warsawa, Jerman, dan Wina.

Bahkan ketika sampai di Istanbul, ia dianugerahi medali perang dan mendapatkan sambutan luar biasa dari khalifah, syeikhul Islam, pemimpin umum, dan para pelajar ilmu agama. Sa’id Nursi kemudian diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyyah oleh pimpinan militer di mana lembaga tersebut hanya diperuntukkan bagi para tokoh ulama. Di lembaga inilah sebagian besar bukunya yang berbahasa Arab diterbitkan. Di antaranya adalah tafsirnya yang berjudul Isyârât al-I’jaz fî Mazhân al-Îjâz, yang ditulis di tengah berkecamuknya perang, dan buku al-Matsnawi al-Arabî an-Nûrî.

Ketokohan Mufassir Kontemporer Badiuzzaman Sa'id Nursi
Picture: Salah satu karya kitab tafsir Badiuuzaman Sa’id Nursi

Meredupnya Kekhalifahan hingga ke pengasingan

Pada tahun 1922 M, Badiuzzaman Sa’id Nursi pergi ke kota Van dan di sana ia beruzlah (Mengasingkan diri untuk memusatkan perhatian dalam beribadah berzikir dan tafakkur lepada Allah Swt) di Gunung Erek yang dekat dari kota selama dua tahun. Ia melakukan hal tersebut dalam rangka melakukan ibadah dan kontemplasi.

Setelah Perang Dunia Pertama berakhir, kekhalifahan Turki Utsmani runtuh dan digantikan dengan Republik Turki. Pemerintah yang baru ini tidak menyukai semua hal yang berbau Islam dan membuat kebijakan-kebijakan yang anti-Islam. Akibatnya, terjadi berbagai pemberontakan dan negara yang baru berdiri ini menjadi tidak stabil. Namun, semuanya dapat dibungkam oleh rezim yang sedang berkuasa.

Meskipun tidak terlibat dalam pemberontakan, Badiuzzaman Sa’id Nursi ikut merasakan dampaknya. Ia pun diasingkan bersama banyak orang ke Anatolia Barat pada musim dingin 1926 M. Kemudian ia diasingkan lagi seorang diri ke Barla, sebuah daerah terpencil. Para penguasa yang memusuhi agama itu mengira bahwa di daerah terpencil itu riwayat Sa’id Nursi akan berakhir. Popularitasnya akan redup, namanya akan dilupakan orang, dan sumber energi dakwahnya akan mengering.

Risalah Nur: Sinar sebagai cahaya dari kegelapan

Sejarah membuktikan sebaliknya. Di daerah terpencil itulah Sa’id Nursi menulis sebagian besar Risalah Nur, kumpulan karya tulisnya. Lalu berbagai risalah itu disalin dengan tulisan tangan dan menyebar ke seluruh penjuru Turki.

Jadi, ketika Sai’d Nursi dibawa dari satu tempat pembuangan ke tempat pembuangan yang lain. Kemudian dimasukkan ke penjara dan tahanan di berbagai wilayah Turki selama seperempat abad. Allah Swt menghadirkan orang-orang yang menyalin berbagai risalah itu dan menyebarkannya kepada semua orang. Risalah-risalah itu kemudian menyorotkan cahaya iman dan membangkitkan spirit keislaman yang nyaris padam di kalangan umat Islam Turki saat itu. Risalah-risalah itu dibangun di atas pilar-pilar yang logis, ilmiah, dan retoris yang bisa dipahami oleh kalangan awam dan menjadi bekal bagi kalangan khawas.

Demikianlah, Badiuuzaman Sa’id Nursi terus menerus menulis berbagai risalah sampai tahun 1950 dan jumlahnya mencapai lebih dari 130 risalah. Semua risalah itu dikumpulkan dengan judul Kulliyyât Rasâ’il an-Nûr (Koleksi Risalah Nur), yang berisi empat seri utama, yaitu al-Kalimât, al-Maktûbât, al-Lama‘ât, dan asy-Syu‘â‘ât. Badiuuzaman Sa’id Nursi sendiri yang langsung mengawasi hingga semuanya selesai tercetak. Sehingga karya-karya beliau dibaca dan dikaji secara luas di Turki dan di berbagai belahan dunia lainnya.

Ketokohan Mufassir Kontemporer Badiuzzaman Sa'id Nursi
Picture: Wafatnya Badiuuzaman Sa’id Nursi

Mengenang wafatnya

Badiuuzaman Sa’id Nursi wafat pada tanggal 25 Ramadhan 1379 H, bertepatan pada tanggal 23 Maret 1960 M, di kota Urfa. Lebih tepatnya 61 Tahun yang lalu dalam usia 83 Tahun. Beliau tinggalkan sebuah jubah yang ada 100 tambalannya, beberapa helai pakaikan. Satu buah teko yang biasa beliau untuk membuat teh dan juga beberapa barang lainnya. Dari segi keduniaan beliau tokoh yang tidak punya apa-apa, tapi yang beliau tokoh yang meninggalkan sebuah karya monumental, Risalah Nur beserta murid-muridnya. Sedangkan Risalah Nur sudah diterjemahkan lebih dari 60 bahasa dan dibaca serta dikaji di seluruh dunia. Wallahu ‘Alam Bissawab.