TIPS MENGHILANGKAN KERAGUAN

Keraguan sering menghampiri setiap manusia. tidak diragukan lagi bahwa setiap manusia memiliki keinginan untuk menghilangkan keraguan. Nah, bagaimana cara menghilangkan keraguan?

Dalam menjalani kehidupan, berbagai permasalahan akan muncul untuk mengingatkan pada setiap hamba bahwa sejatinya kehidupan itu tidak lain adalah untuk diuji oleh Allah SWT. Jika seseorang mendapat masalah, itu artinya dia masih hidup. Karena jika tidak ingin memiliki masalah, maka solusinya adalah tidak lagi hidup. Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa setiap yang hidup akan Dia uji dengan berbagai ujian kehidupan.

TIPS MENGHILANGKAN KARAGUAN

            Berbagai ujian kehidupan bermunculan. Kegelisaan, kesedihan, ketakutan, rasa kekurangan, keraguan, dan masih banyak lagi. Semua itu tidak lain adalah bukti sayangnya Allah kepada hamba-Nya. Bukankah ketika seseorang sabar dalam menghadapi masalah dia sejatinya sedang bersama Allah.

            Dalam kesempatan ini, penulis aka coba uraikan salah satu masalah yang sangat akrab dalam kehidupan manusia. Dialah Keraguan. Datang tanpa dijemput, menyapa jiwa dalam diam dan menghentikan keyakinan dengan paksa. Itulah sedikit ciri-ciri bagaimana dia bekerja siang dan malam melabui setiap jiwa insan yang berusaha mengumpulkan pundi-pundi kebaikan.

            Apakah gerangan yang menyebabkan munculnya keraguan dalam diri manusia? Apakah karena lemahnya iman? Atau banyaknya dosa? Mari kita kupas apa penyebab dari keraguan itu berkembang biak dalam diri manusia.

Menghilangkan keraguan menurut al-Qur’an

            Di dalam Al-Qur’an surat An-Naas tertuang doa memohon perlindungan dari Kejahatan Setan yang seringkali bersembunyi dan membisikkan keraguan dalam diri manusia.

من شَرِّ الْوَسْوَاسِ الخَنَّاس (4) الذي يُوَسْوِسُ في صُدُوْرِ النَّاس (5)

Berarti keraguan itu sumber utamanya adalah Bisikan Setan. Siapa kemudian Setan-setan ini yang bekerja siang malam demi menuntaskan misi mereka untuk meruntuhkan keyakinan para Hamba Allah?

Tahukah kita wahai para pembaca yang budiman, bahwasanya di dalam kehidupan ini tidak hanya kita sebagai manusia yang memiliki nama dan misi kehidupan. Setanpun ternyata demikian. Mereka hidup dan persembunyian, memiliki misi kehidupan dan yang menariknya juga memiliki nama.

Diantaranya seperti Setan Misuth, salah satu setan yang sering bermain di pasar. Menggoda manusia untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak bermanfaat dsb. Setan Dasim, setan yang berada di rumah. Seseorang yang masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam, maka Dasim akan bermain dengannya. Setan Walhan yang kemudian menggoda manusia dalam wudhunya. Menjadikan ia ragu apakah wudhunya batal atau tidak. Dan tak terkecuali dalam sholat yang seringkali menjadikan kita tidak khusyu adalah hadirnya Setan Khanzab untuk menggoda dan membisikkan agar kita mengingat ini dan itu saat sedang sholat sehingga tak sedikit orang sholat yang lupa sudah berapa rakaat sholat itu ditunaikan.

Rasa ragu walaupun terdengar biasa-biasa saja, namun pada sejatinya adalah suatu hal yang sangat berbahaya dan tidak boleh diremehkan. Bahkan Nabi Muhammad dalam haditsnya sangat tegas memerintahkan kepada Umatnya agar meninggalkan sesuatu yang mengandung keraguan atau Syubhat.

عن أبي محمد الحسن بن علي بن أبي طالب سبِِْط رسول الله صلى الله عليه وسلم وِريْحَانَتِهِ – رضي الله عنهما – قال : حفظت من رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” دعْ ما يريبك إلى ما لا يريبك “ . [رواه الترمذي، والنسائي]، وقال الترمذي : “حديث حسن صحيح”.[1]

Dari Abu Muhammad, Al Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kesayangan beliau radhiallahu ‘anhuma telah berkata: “Aku telah menghafal (sabda) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, bergantilah kepada apa yang tidak meragukan kamu“. (HR. Tirmidzi dan dia berkata: Ini adalah Hadits Hasan Shahih)

 Rasulullah memerintahkan agar setiap dari kita meninggalkan keraguan dan beralih pada hal yang tidak diragukan. Di hadits lain juga telah disebutkan bahwa ketika seseorang meninggalkan seuatu yang meragukan, maka dia seperti telah menyelamatkan Agama dan Keturunannya.

Solusi Rasulullah dalam menghilangkan keraguan

Apa kemudian solusi ketika menghadapi kondisi ragu tersebut? Kaidah Ushul Fiqh mengatakan اليقين لا يزال بالشك. Keyakinan tidak dapat digugurkan dengan keraguan. Ketika seseorang ragu, maka dia harus berusaha meyakinakan dirinya kembali. Contohnya seperti dalam Wudhu. Ketika kita ragu sah tidaknya wudhu kita, kita harus kembali meyakinkan diri kita. Adapun dalam shalat misalnya, kita harus berusaha menyempurnakan posisi kita sebelum takbir agar tidak ada cela untuk setan masuk membisikkan ini dan itu. Begitupun dalam keadaaan yang lainnya.

Ada Beberapa kaidah berlaku pada sesuatu yang belum jelas hukumnya.

فاسالوا أهل الذكر ان كنتم لا تعلمون

“Tanyakan pada orang yang lebih paham jika kita tidak mengetahui persoalan yang dimaksudkan.”

Jika dalam kondisi ragu terhadap halal atau haramnya suatu hal, maka solusinya adalah menanyakan kepada orang yang lebih tahu mengenai hal tersebut. Contoh seperti keadaan makanan ditempat-tempat makan. Jika kita ragu, maka tanyakan pada pemilik rumah makan. Bertanya bukanlah suatu aib, apalagi dalam hal kebaikan. Karena kita harus  ingat bahwa setiap Setan itu akan membuat kita ragu saat ingin melakukan kebaikan.

Jadi, sebagai muslim yang baik, hendaklah kita berhati-hati dalam melangkah dalam kehidupan. Jangan sampai setan berhasil menggelincirkan  kita yang kemudian berujung dengan menjauhkan kita dari Allah SWT. Semoga dengan tips berikut ini dapat membantu dalam menghilangkan keraguan.

Dewi Arisanti. Mahasiswi IQT UNIDA Gontor semester 3


BERKAH TAMU BAGI PENJAMU TAMU

Jangan biasakan menutup pintu dengan tujuan biar tidak ada tamu…
Apalagi menutup jalan memasang portal…

iqt.unida.gontor.ac.id Ponorogo-Tepat enam hari setelah hari kemenangan yaitu lebaran iedul Fitri. Teruntuk hari ini walaupun di masa pandemi, hanya ribuan rasa syukurlah dipanjatkan, karena telah terjalinnya silaturrahim bersama para dosen-dosen senior. kali ini, beberapa mahasiswa UNIDA berkesempatan menjadi tamu dan bersilaturrahim bersama Bapak Dekan Fakultas Ushuluddin Al-Ustadz Syamsul Hadi Untung. M.A.,MLS. Ahad, 30 mei 2020.

BERKAH TAMU BAGI PENJAMU TAMU
Photo bersama Al-Ustadz Syamsul Hadi Untung. M.A.,MLS

Oleh karenanya, silaturrahim tentu selain mengikat ukhuwwah dan keberkahan juga memiliki banyak dampak positif yang sangat bermanfaat. Seperti penggalan sebuah kisah di bawah ini yang menarik dan memiliki makna mendalam bagi tamu dan penjamu tamu sebagaimana berikut.

Kisah Seorang Perempuan Mengeluh Kepada Rasulullah SAW karena perilaku suaminya

Suatu ketika Suaminya selalu mengundang orang-orang datang ke rumahnya dan menjamunya, sehingga tamu-tamu tersebut menyebabkan sang istri menjadi repot dan merasa kelelahan. Namun ia tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Rasulullah SAW tentang hal itu.

Setelah beberapa waktu …

Rasulullah SAW pergi ke rumah suami-istri tersebut, Rasulullah SAW berkata kepada sang suami, “Sesungguhnya aku adalah tamu di rumahmu hari ini.”

Betapa bahagianya sang suami demi mendengar ucapan Rasulullah SAW tersebut, maka dia segera menghampiri istrinya untuk mengabarkan bahwa tamu hari ini adalah Rasulullah SAW.

Si istri pun merasa bahagia karena kabar tersebut, dia pun segera memasak makanan yang lezat dan nikmat. Dia melakukan hal tersebut dengan penuh rasa bahagia di dalam hatinya.

Ketika Rasulullah SAW akan pergi dari rumah itu, beliau berkata kepada sang suami :

قال للزوج عندما أخرج من بيتك دع زوجتك تنظر إلى الباب الذي أخرج منه

Rasulullah SAW berkata kepada sang suami, “Ketika aku akan keluar nanti dari rumahmu, panggil istrimu dan perintahkan dia untuk melihat ke pintu tempat aku keluar.”

Maka sang istri melihat Rasulullah SAW keluar dari rumahnya di ikuti oleh binatang-binatang melata, seperti kalajengking dan berbagai binatang yang berbahaya lainnya di belakang Rasulullah SAW. Terkejutlah sang istri dengan apa yang dilihat di depannya.

فقال لها رسول الله هكذا دائما عندما يخرج الضيوف من بيتكِ يخرج كل البلاء والضرر والدواب من منزلكِ

Maka Rasulullah SAW bersabda, “Seperti itulah yang terjadi setiap kali tamu keluar dari rumahmu, maka keluar pulalah segala bala, bahaya dan segala binatang yang membahayakan dari rumahmu.”

Maka inilah hikmah memuliakan tamu dan tidak berkeluh kesah karena kedatangannya. Rumah yang banyak dikunjungi tamu adalah rumah yang dicintai Allah. Begitu indahnya rumah yang selalu terbuka untuk anak kecil atau orang dewasa. Rumah yang di dalamnya turun rahmat dan berbagai keberkahan dari langit.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا أراد الله بقوم خيراً أهدى لهم هدية

Rasulullah SAW bersabda, “Jika Allah menginginkan kebaikan terhadap satu kaum, maka Allah akan memberikan hadiah kepada mereka. “Para sahabat bertanya, “Hadiah apakah itu, ya Rasulallah ?”

قال : الضيف ينزل برزقه، ويرتحل بذنوب أهل البيت

Rasulullah SAW bersabda, “Tamu akan menyebabkan turunnya rezeki untuk pemilik rumah dan menghapus dosa-dosa penghuni rumah.”

وقال صلى الله عليه وسلم : كل بيت لا يدخل فيه الضيف لا تدخله الملائكة

Rasulullah SAW bersabda, “Rumah yang tidak dimasuki tamu (tidak ada tamu), maka Malaikat Rahmat tidak akan masuk kedalamnya.”

وقال صلى الله عليه وسلم : ” الضيف دليل الجنة

Rasulullah Saw bersabda, “Tamu adalah penunjuk jalan menuju surga.”

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.”

Semoga Bermanfaat …

Oleh: Fatwa Emir/IQT

Epistemology Pandemi

IQT.unida.gontor.ac.id. Di masa pandemi ini. Kita sering atau selalu mendapat empat model informasi. Ada yang meremehkan, ada yang menakut-nakuti atau melebih-lebihkan, ada yang memghimbau tetap waspada, dan ada yang menenangkan.

Epistemology Pandemi

Dua model pertama kebanyakan hoax, dan konspiratif, dan biasanya datang dari orang yang tidak atau kurang bertanggung jawab. Sedang ketiga biasanya datang dari pakar yang terdiri dari para medis, virolog, lembaga pemerintah dan sebagainya. Sedang keempat, biasanya datang dari agamawan, sosiolog, antropolog, budayawan yang bertanggung jawab tanpa ikut campur terlalu jauh tentang apa yang bukan keahliannya dalam kasus pandemi covid 19.

Namun ada problem filosofis yang cukup besar dalam menyumbang kebingungan sebuah berita. Secara tidak sadar kita sering terdoktrin bahwa pengetahuan itu tidak mungkin atau knowledge is impossible. Maka ada kelompok skeptik atau menganggap semua berita adalah salah. Sehingga semua informasi tentang virus corona itu salah semua. Kelompok ini biasanya ignorant dan cenderung menganggap remeh.

Kelompok kedua adalah relatifis atau semua berita tentang virus corona itu benar semua. Meski bertentangan satu sama lain, akan selalu menganggap bahwa semua berita tentang virus corona itu benar semua. Tergantung dari sudut pandang mana melihatnya.

Efek dari kedua pandangan ini adalah kekacauan informasi atau cognitif information. Atau tidak ada lagi garis demarkasi antara yang benar dan yang salah. Kaum milenialis banyak yang menganut cara pandang seperti ini. Dan biasanya hanya memberi solusi, seperti : meski manusia tidak mampu mencapai yang benar setidaknya pengetahuan bisa mendekati kebenaran.

Bagaimana cara mengetahui informasi yang benar?

Pengetahuan itu sebenarnya tidak mustahil atau knowledge is possible. Manusia sebagai ciptaan Allah SWT yang sempurna dibekali akal untuk mengetahui (al-ilm) dan mengenal (ma’rifah), memilih (ikhtiyar) dan memilah (tafriq), membedakan (tamyiz) antara yang benar dan yang salah. Maka sangat mungkin sekali manusia bisa mengetahui informasi yang benar dan yang salah tentang virus corona.

saya meminjam istilah dalam ilmu hadits. Berita bisa dikatakan benar jika disampaikan secara mutawatir atau disampaikam melalui redaksi yang banyak dari para pakar dan tidak ada satu proposisi yang menyelisihi. Seperti corona itu ada. Atau corona itu berbahaya. Corona itu ada yang bisa sembuh. Corona bisa menular dan sebagainya. Tanpa ada informasi yang menegasikan bahwa corona itu tidak ada. Corona itu menguntungkan dan sebagainya.

Yang kedua adalah berita yang benar atau khabar shohih. Atau berita yang datang dari satu sumber namun disampaikan oleh orang yang terpercaya baik keahlian maupun integritas personalnya. Seperti, menurut hasil dari tes PCR anda dinyatakan positif corona. Berita ini tentu berbeda kualitasnya jika dibandingkan dengan, menurut seorang dukun anda positif corona.

Bagaimana jika berita itu berbeda. Jika perbedaannya masih bisa disatukan. Maka kita mengambil metode al jam’ atau mengambil dua informasi sekaligus seperti dalam teori Ushul al-fiqh. Seperti satu informasi menyatakan bahwa virus corona bisa menular lewat airborne, sedang informasi berikutnya tidak menular lewat airborne. Dua informasi yang berbeda tersebut bisa diklarifikasi bahwa penularan virus corona lewat airborne hanya pada kasus tertentu seperti uap aerosol orang yang menderita covid 19 yang sedang diuap. Sedang pada alam bebas virus corona tidak tersebar melalui airborne tetapi melalui droplet.

Jika info itu tidak bisa disatukan. Maka kita bisa mengambil salah satu yang lebih valid. Seperti jika ada seorang virolog yang menyatakan bahwa covid 19 tingkat bahayanya sangat rendah. Sedangkan kebanyakan pakar menyatakan bahwa tingkat bahaya dari covid 19 sangat tinggi dan kemungkinan bisa bermutasi dengan cepat. Maka tentu kita lebih memilih pernyataan yang lebih banyak dari pakar medis dan virolog ketimbang pernyataan satu orang meskipun pakar kompeten.

Penutup

Manusia dalam memahami pandemi covid 19 ini terbagi menjadi empat macam. Pertama adalah mereka yang paham. Atau rojulun yadri wa yadri annahu yadri. Mereka adalah para pakar baik dari himpunan medis dan virolog. Maka kita wajib mengikutinya. Kedua adalah mereka yang tidak paham atau orang awam. Mereka wajib untuk diberitahu informasi yang benar.

Kelompok ketiga adalah mereka yang salah paham. Bisa dari seorang pakar, melenialis, politikus yang cukup tahu informasi tentang pandemi covid 19 dengan berbagai tingkat pengetahuannya. Namun mereka salah dalam mencerna informasi. Nah. Orang seperti ini wajib diingatkan dan dinasehati. Yang keempat adalah mereka yang gagal paham. Mereka hampir sama dengan kelompok ketiga. Bisa dari pakar, milenialis, pilitikus, sosiolog yang salah dalam memahami fenomena pandemi covid 19. Namun mereka merasa benar, susah diingatkan. Dan suka membuat berita yang salah dan justru membuat kasus pandemi covid 19 ini semakin parah. Maka orang seperti ini segera tinggalkan. Jauhi. Dan katakan kepada mereka: Salamun alaukum la nabtaghi al jahilin. Wallahu A’lam.

Ujian adalah teman untuk memperbaiki diri

Iqt.Unida.Gontor.ac.id. Dewasa ini banyak terjadi bencana alam dan ujian yang menyangkut kepribadian seseorang maupun secara umumnya yang dapat kita perhatikan langsung tentunya di indonesia, dapat dikatakan seperti ini karena dengan adanya reaksi yang terlihat dengan kasat mata atau pengaruh negatif yang terlihat secara umum.

Dengan banyaknya ujian yang disadari maupun yang tidak disadari oleh manusia yang dihampiri, menjadikan manusia berlomba-lomba menimbulkan egoisme yang mereka miliki, tak banyak orang yang mengerti makna dari sebuah ujian.

Jika manusia membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya, dan mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari, dapat dipastikan manusia dapat membentengi segala ujian yang menghampirinya dengan kesabaran dan memaknai segala hikmah yang ada didalamnya. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, firman Allah menerangkan bahwa “tak selamanya yang terbaik dimata kita itu yang terbaik bagi Allah bahkan sebaliknya”.

Dalam surah Al-Baqarah : 216

كتب عليكم الكتاب وهو كره الكم وعشى أن تكره شيء وهو خير لكم وعشى أن تحب شيء وهو شرلكم

Sebenarnya Allah telah banyak mengingatkan kita terhadap ujian yang akan selalu datang menghampiri kita. dan jika telah dapat menciptakan kesabaran dalam diri kita maka kita akan dapat menelaah banyak hikmah yang terdapat didalamnya. Karena pada hakikatnya ujian adalah salah satu motivasi yang tepat untuk memperbaiki diri menjadi hamba yang sebenar-sebenarnya hamba di mata Sang pencipta.

Terkadang banyak faktor yang dapat mengGoyahkan bahkan dapat menggusur persahabatan manusia dengan kesabaran, diantaranya adalah pergaulan dan banyaknya tipuan dunia yaitu dengan kesenangan dunia melalui hiburan, fashion, dan makanan. dengan maksud jika manusia sudah tak dapat mengendalikan dirinya maka ia mampu mengusir sifat terbaik yang mereka miliki.

Pengaruh Dan Bukti Yang tidak memahami Ujian

Tak sedikit bukti yang kita dapatkan untuk membuktikan kebenaran yang telah dipaparkan, yaitu dengan banyaknya pemberontakan yang terjadi di lingkungan seperti tawuran dan perampokan yang tak memiliki makna yang positif, ini adalah salah satu bukti pengaruh yang dihasilkan oleh manusia yang tidak memahami arti ujian yang sesungguhnya.

Apakah ini selalu terjadi jika ujian menghampiri setiap manusia? pada hakikatnya Allah telah memberikan kita solusi yang diirsalkan kepada Rasul untuk para umatnya, akan tetapi manusia selalu menghindar dari solusi yang telah diberikan dalamAl-Qur’an, semua ini yang menjadikan penyelewengan banyak terjadi.

Banyak manusia selalu mengeluh jika menghadap ujian, jika dilihat memang sikap ini adalah sikap yang sudah sewajarnya terjadi, akan tetapi Allah telah berfirman bahwa Allah tidak akan pernah memberikan cobaan diluar batasan kekuatan para hamba-Nya

Dalam surah Al-Baqarah : 286

لايكلف الله نفسا إلا وسعها لها ما كسبت وعليهامااكتسبت

Jika manusia dapat mentadaburri makna dari ayat ini maka manusia akan sadar bahwa Allah Maha pengasih lagi maha penyayang, terkadang manusia seringkali mengucapkan basmallah akan tetapi tak banyak yang menyerapi maknanya lebih jauh, jika manusia selalu berpegang teguh terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Maka ia akan menjadi manusia yang selalu bersabar, karna sesungguhnya pertolongan Allah akan didapatkan dengan kesabaran dan menjaga shalat, dapat dikatakan demikian karna dalam Shalat pada hakikatnya adalah do’a dan dengan posisi yang paling dekat dengan Sang pencipta.

Ujian dan tantangan Orang tua

Dengan perkembangan generasi membuat para orang tua resah dengan perubahan yang di pengaruhi oleh zaman semakin modern ini meskipun banyak hal positif yang akan didapatkan. Dengan hal ini juga tidak sedikit akan tertutupi jika nilai negatif dapat menutupi semua hal positif yang telah tercipta, tanpa di sadari juga merupakan ujian yang datang kepada setiap orang tua, zaman yang semakin berkembang ini tak sedikit orang tua meneteskan air matanya dikarenakan tak mampu menanggulangi ujian tersebut.

Jika orang tua yang memiliki pengetahuan ilmu agama maka tidak akan terjadi kekecewaan yang besar yang timbul dari perasaan ornag tua,walaupun suatu kewajaran jika orang tua sempat untuk meneteskan air matanya, jika orang tua yang sudah merasa lemah dan tidak mampu, maka ini semua harus dibentengi dengan kesabaran pula dan selalu mengingat bahwasanny Allah itu dekat dan akan selalu menolong hamba-Nya walaupun tidak saat itu juga, dalam surah Al-Imran ayat 139:

ولاتهنوا ولاتحزنواوانتمالأعلون إن كنتم مؤمنين

Dengan ini Allah mengatakan janganlah manusia merasa lemah dan bersedih hati, jika manusia dapt menahan maka manusia tersebut termasuk orang orang yang mu’min.

Kesimpulan

Dengan ini dapat diambil kesimpulan bahwa berita-berita yang telah datang yang berupa ujian dapat dibentengi dengan Al-qur’an, karena Al-Qur’an lah yang diberikan Allah kepada rasul dan disampaikan kepada umatnya untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan.

Dan ujian merupakan salah satu kegelapan bagi manusia yang tak mengerti hikmah dari segala ujian. Jika menguak lebih dalam maka ini semua kembali kepada rukun Iman yang ke enam, yaitu Iman kepada taqdir Allah, maka jika manusia beriman maka Allah akan memberikan pertolongan terhadap hamba yang dikendaki-Nya.

MENUAI BERKAH SAHUR

iqt.unida.gontor.ac.id. Setiap kali ingin berpuasa kita disunnahkan untuk makan sahur. Di dalamnya banyak sekali ditemukan keberkahan. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR Bukhari dan Muslim). Berikut ini di antara keberkahan menuai berkah sahur adalah:

MENUAI BERKAH SAHUR
1. Mendapatkan Shalawat Dari Allah dan Para Malaikat-Nya.

Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

السُّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi).

Mendapatkan salawat dari Allah berarti mendapatkan pujian-Nya, sedangkan memperoleh salawat para malaikat maksudnya para malaikat mendoakannya. Seperti yang dinukilkan Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya dari seorang tabi’in, Abu Al-Aliyah (wafat 93 H).

2. Waktu Sahur Adalah Waktu Dimana Doa-doa Dikabulkan.

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Waktu Sahur Adalah Waktu yang Dianjurkan Untuk Beristighfar

Beberapa ayat dalam Al-Qur’an menunjukkan pujian Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada orang-orang yang beristigfar pada waktu sahur. Seperti ayat:

وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.”  (QS. Ali Imran: 17).

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan selalu memohonkan ampunan di waktu sahur. ” (QS. Adz-Dzariyat: 18).

4. Semakin Kuat Menjalankan Puasa

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Barokah makan sahur amat jelas yaitu semakin menguatkan dan menambah semangat orang yang berpuasa.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 206).

5. Melatih diri untuk bangun pada sepertiga malam terakhir

Orang yang terbiasa makan sahur akan terbiasa pula bangun pada sepertiga malam terakhir. Ia bisa menggunakannya untuk salat tahajjud, banyak berdoa, beristigfar, dan ibadah lainnya.

Latihan ini lebih mudah dilakukan pada bulan Ramadhan. Selama sebulan penuh umat Islam berpuasa dan makan sahur pada waktunya. Bila kebiasaan ini diteruskan pada bulan-bulan lainnya alangkah banyak kebaikan yang didapatkan.

6. Berkesempatan Untuk Sholat Subuh Berjamaah

Seperti kita ketahui bahwa batas akhir waktu sahur adalah ketika adzan subuh berkumandang. Jika diteruskan dengan salat subuh berjamaah, maka orang yang makan sahur juga akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang salat malam semalam suntuk. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

« مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ»

“Orang yang salat subuh berjama’ah seperti halnya orang yang salat malam semalam suntuk.” (HR Muslim)

Dengan menyadari berbagai macam keberkahan dalam makan sahur, hendaknya setiap muslim berusaha semaksimal mungkin untuk menuai keberkahan di dalamnya. Yaitu dengan makan sahur pada waktunya, pada akhir malam sebelum subuh. Bukan ketika akan beranjak tidur atau pada tengah malam. Selain itu juga memanfaatkan waktu tersebut untuk berdoa, beristigfar, dan ibadah lainnya.

Selamat makan sahur dan menuai berkah dari keberkahannya.

Spesial Tarhib Ramadhan

iqt.unida.gontor.ac.id. Siman-Malam kajian bertemakan spesial tarhib ramadhan bersama para ustadz-ustadz kondang, diantaranya ustadz Abdul Somad (UAS), Ustadz Bachtiar Nasir (UBN), dan Ustadz Amir faishal. Alhamdulillah penulis berkesempatan hadir menyimak kajian secara live (langsung) yang disiarkan melalui akun resmi youtube ustadz abdul somad official. selasa, 21 april 2020.

Spesial Tarhib Ramadhan
kajian online dialog bersama AQL

Jikalau kekaguman kepada hamba Allah sebegitu rindunya, bagaimana dengan kekaguman bulan yg paling dimuliakan Allah “Fihi Lailatun” lebih baik daripada seribu bulan. Kenapa muncul kehormatan dan kerinduan dalam hati?…Yaitu karena kenal dan menegenal. Oleh karenanya umat ini mesti harus mengenal dengan apa yg dirindukannya. Orang yg tidak kenal ramadhan mustahil dia rindu. Adapun syarat untuk masuk ramadhan adalah membersihkan hati serta mengenal baik apa itu ramadhan?

Kegembiraan Menyambut Ramadhan

Ketahuilah bahwa kita mengenal sebab ada yang mengenalkan, sehingga membuat kita penasaran seperti cerita. Jadi timbulnya kerinduan keinginan ialah dari cerita, karena ada yg bercerita. Sama halnya ramadhan ini ada yg menceritakan kita akan didalamnya berupa malam yg lebih baik dari pada seribu bulan.

Oleh sebab itu, dari cerita muncul keingintahuan, dari cerita itu mencari cari, kemudian menjadi penasaran akhirnya bertemu, setelah bertemu berkasih sayang, setelah itu rindu, dari rindu maka menjaga kasih sayang. Kalaulah ramadhan ini seperti pertemuan perkenalan kita, tentulah kita akan sayang dan merindukan ramadhan.

Pembinaan Umat Lebih Terstruktur lewat Pembagian Waktu

Tidak lama lagi kita akan segera dipertemukan kepada bulan suci ramadhan. Pada bulan ini hembusan nafas adalah tasbih, detak jantung adalah tahmid, langkah kaki adalah dzikir, tiang adalah fikir. Oleh karenanya jika kita tdk mensiasati kesempatan ini maka ia akan cepat berlalu dan kita mesti memanagenya (mengatur) dengan baik. Seperti kegiatan yang dicontohkan dari ide brilian Ustadz Abdul Somad (UAS) yaitu (bangun diawal hari, tahajud malam, witir, baca Qur’an, sahur).

Jika kita memanage (mengatur) bulan ramadhan dengan baik insyaAllah kita akan mendapatkan 3 aspek ini, yaitu:
-Aspek Aqidah.
-Aspek Fiqih, Sholat, Zakat, Puasa, Haji.
-Aspek Akhlaqul Karimah. Dan Iman, Ihsan dan Islam serta kesabaran yang insyaAllah semuanya menjadi ramadhan yg berkualitas.

Bagaimana dengan sholat taraweh, imam keluarga, Sholat Jum’at yang tidak dikerjaakan dimasjid karena stay at home?

Menurut pendapat Ust. Abdul Somad (UAS), beliau menjelaskan #ramadhan dirumah aja. Bahwa prinsip kita mengamalkan sunnah “Larilah engkau dari penyakit menular seperti engkau lari dari singa”. Jangan katakan kita meninggalkan jum’at, karena kata-kata itu terlalu menyakitkan, dan jangan pula kita katakan meninggalkan masjid (pilihan katanya kurang tepat), tapi katakanlah kita sedang melaksanakan sunnah. Selebihnya ketika wabah datang, larilah dari penyakit seperti lari dari singa. Ucapnya. Dan bagaimana yang tidak sholat di masjid, beliau menegaskan “sholat bisa dirumah, (menjadikan/mendirikan musholla al-bayt)”. Sambungnya.

Dengan Online Semua Bisa Dimudahkan

Seperti yang dijelaskan UAS walaupun ramadhan dirumah aja, kita dapat mengisi ramadhan kita dengan kajian-kajian online seperti kajian-kajian yang disarankan sebagaimana berikut.

  • Kajian Al-qur’an
    -AQL tadabbur qur’an (Dr. Amir Faishal).
    -Tadabbur Al-qur’an (ust. Bakhtiar Nasir)
    -Tadabbur Al-Qur’an (Syaikh Ali Jaber)
    -Metode Tahfidz Qur’an (Ust. Adi Hidayat) dan Tafsir al-Qur’an dengan ayat-ayat ahkam serta fiqh (Bahauddin Salim atau Gus Baha).
  • Kajian hadist
    – Ahli hadist pentahqiq Kitab Dzurratun nasyikhin.
    -Ilmu Hadist dengan sudut-sudut pandang atau sub-sub fiqhiyah yang detail (Ust. Abdul somad).
  • Kajian fiqh
    -kita bisa ikuti Fiqih empat Mazhab (Ust. Ahmad Sarwat).
    -Fiqih Ikhtilaf(Ust. Idrus Romli). Dan Buya Yahya.
  • Manajemen Qolbu (KH. Abdullah Gymnastiar).

Dan masih banyak ustadz-ustadz yg lainnya. Dengan intisari “khususkan bulan spesial ramadhan tahun ini adalah ilmu, amal dan amal, ilmu. InsyaAllah kita selamat dari hoax selamat dari gunjing, riba serta namimah sehingga keluar dari ramadhan insyaAllah menjadi lebih baik“. Wallahu’alam.

Kesan Ust. Amir kepada Ust. Abdul Somad.
-Bahasa UAS mudah dipahami disemua kalangan.
-Kebiasaan UAS, apa yg beliau sampaikan sudah memiliki catatannya. (jadi ketika ada orang nanya sdh siap).

Pandangan UAS tentang Gus Baha dari urgensi sanad keilmuan.
Dalam kajian gus baha semua masuk: Tafsirnya, fiqih syafi’inya, akhlaq, sejarah dan banyak mengutip dari abu hamid al ghazali dan lain-lain. Semua guru-guru kita memperkaya kita, sehingga bulan ramadhan bulan spesial tahun ini lebih meriah.

Ust. Amir Faishal
Seandainya tidak ada sanad, bisa saja setiap orang berkata apa saja yg mereka inginkan. Setiap talaqqi itu kompherensif, dengan pandangan yg luas. Yang mana benar benar ada orang yg memberi jalan sampai kita bisa menguasainya.

Ust. Bakhtiar Nasir
Para ustadz harus siap dengan Perubahan konsumen pasca covid-19, yaitu budaya online (online bumming). Dimana orang-orang dewasa ini terbiasa dengan keadaan online (belajar online, rapat online, dll). Maka insyaAllah memudahkan.

Pesan (closing statement) UAS Jelang Ramadhan.

Kutinggalkan kepadamu dua perkara, kalau kamu pegang yang dua ini kamu tidak akan sesat selamanya, yaitu adalah kitab Al Qur’an dan Sunnah-Sunnah Rasulullah Saw. Namun, qur’an & sunnah ini adalah tinta diatas kertas, dia tidak bisa menjelaskan dirinya, dia mesti dijelaskan oleh manusia yg punya akal, punya iman, punya akhlaq. Maka dijelaskan dengan satu hadist lagi “Al ulama warasatul anbiya”.

Dengan demikian menjadi tiga yaitu: Al-Qur’an, Sunnah, dan Ulama. Ulama inilah yg berijtihad dengan segala perangkat, umat akan selamat kalau dekat dengan ulama. Tapi jikalau sudah jauh dengan ulama, dia akan baca sendiri, rasa sendiri, interpretasi sendiri, hingga nyasar sendiri. Maka bulan ramadhan adalah bulan spesial untuk mendekatkan diri dengan ulama, bulan ramadhan bulan spesial guna mendekatkan diri ke Al-qur’an dan sunnah melalui pemahan para ulama.

LOCKDOWN ADALAH PENDEKATAN PREVENTIF DALAM MENGATASI PANDEMI COVID-19

Penulis : Dr. Muhammad Fajar Pramono. M.Si

Pendahuluan

Apa yang sudah dilakukan pemerintah Kabupaten Ponorogo, khususnya Dinas Kesehatan dan jajaranya sudah luar biasa. Hal ini terlihat dengan perkembangan penanganan pandemi Covid-19 dari waktu ke waktu menunjukkan progress/ kemajuan yang signifikan.

Pertanyaan apakah mungkin penyebaran Covid-19 itu dari mata rantai lain selain Asrama Haji dalam konteks Ponorogo ?

Sangat mungkin terjadi karena Ponorogo- Malaysia, Ponorogo-Hongkong dan Taiwan, Ponorogo-Cina dan negara2 zona merah tidak berbatas.

Disatu sisi tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan tidak merata. Inilah yg menyebabkan kapan berakhirnya pandemi Covid-19 tidak bisa dipastikan.

Terlebih biaya tes swab cukup mahal. Tidak semua pasien mampu membayar. Atau mereka mampu membayar, tapi tidak paham syarat dan prosedurnya.

Maka bisa jadi ada pasien positif Covid-19 tdk terdeteksi krn berbagai persoalan di atas.

Urgensi Kebijakan Lockdown

Maka dari itu, lockdown dianggap penting sebagai usaha preventif terhadap pasien yg sebenarnya `positif`(di luar 6 orang tsb) namun tidak terdeteksi.

Lockdown, social distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), karantina wilayah, ataumungkin masih banyak istilah lain mungkin punya konsekuensi dan implikasi yang berbeda satu sama lain.

Intinya, kesemua itu adalah upaya preventif memutus mata rantai Covid-19 melalui peran pemerintah dg kewenangan dan kekuasaan yg dimilikinya melalui bentuk kebijakan.

Implementasi Kebijakan Lockdown

Ada beberapa pendekatan implementasi dari kebijakan lockdown:


1) Pendekatan Edukatif.

Yaitu gerakan penyadaran “`akan bahaya Covid-19 dan sosialisasi karakteristik virus tsb, serta pola penyebarannya melalui kampanye, pamflet, penyuluhan, diskusi, dll.

Jika ini dipahami dg baik, tdk perlu waktu yg lama. Setiap individu melakukan lockdown secara mandiri. Insha Allah dalam waktu 14 hari pandemi Covid-19 bisa diatasi.

2) Pendekatan Pendampingan/Advokasi

Pendekatan edukatif efektif bagi masyarakat yg terdidik dan mandiri secara ekonomi. Namun bagi masyarakat kurang terdidik rasanya susah. Juga bagi masyarakat yg secara ekonomi belum mandiri.

Maka di sini perlunya kehadiran pemerintah untuk mendampingi masyarakat. Mengingatkan pentingnya di rumah, menghindari pertemuan dan kerumunan, tidak usah berinteraksi/ berjabat tangan langsung, jaga stamina tubuh dan selalu berdoa. Tapi di sisi lain pemerintah hrs konsekuen yaitu memenuhi kebutuhan masyarakat yg tidak mampu sebagaimana yg dilakukan pemerintah DKI.

Intinya, mendorong masyarat tetap di rumah dan di sisi lain memenuhi kebutuhan dalam waktu tertentu. Seharusnya 14 hari efektif. Asal dilakukan secara benar dan efektif serta perlu keteladanan dari Pimpinan.

3) Pendekatan Hukum


Pendekatan pendampingan akan efektif jika antara masyarakat dan pemerintah bisa berkomunikasi dan bekerjasama dengan baik.

Masyarakat itu ada yang mudah diedukasi dan ada yang tidak. Ada pemimpin yg konsisten dan ada yg tidak. Maka di sini perlunya pendekatan hukum, seperti, pelarangan walimah, pelarangan majelis-majelis ta’lim, dsb. Bagi yg masih ngotot, baiknya dibubarkan oleh aparat. Dan itu mestinya berlaku untuk siapapun yg abai terhadap kebijakan pemerintah dan protokol WHO. Itulah yg disebut pendekatan hukum. Tujuanya untuk kebaikan bersama.
Untuk menegakkan hukum, misalnya, dengan dicambuk rotan seperti di India, ditembak kembang api seperti di Malaysia, diberikan hukum kurungan dan sebagainya.

Kesimpulannya


Kebijakan lockdown adalah usaha preventif dari pemerintah dalam mengatasi ketidakpastianpandemiCovid-19,terlebih yg tidak terdeteksi secara kuratif.

Kebijakan ini akan lebih efektif jika adanya Kerjasama, sinergusitas dan kolaborasi semua pihak dalam mengatasi pandemi Covid-19 baik pemerintah, unsur Perguruan tinggi, tokoh masyarakat dan stakeholder lainya.

Demikian semoga bermanfaat. Dan teruslah kita bersatu bergandengan tangan dengan pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini.

Kurang lebihnya mohon maaf atas kekhilafan dan kekurangan saya dalam menyampaikan hal ini.

Penulis adalah Dosen UNIDA Gontor dan penulis buku Pengelolaan Bencana Longsor Kabupaten Ponorogo dari Aspek Sosiologis).

Cokromenggalan, Jumat, 17 April 2020.

Momentum Menjelang Ramadhan : Antara lagu Aisyah dan Puisi Ulil Abshar

Dalam momemtum menjelang Ramadhan ini, belum terputus jutaan pendengar menikmati bait syair tentang Aisyah. Muncul puisi Ulil Abshar tentang “Paskah”. Yang membuat umat Islam yang harusnya fokus meningkatkan imunitas tubuh ini, menjadi double fokus atas kontroversi puisi itu.

Lagu Aisyah yang begitu viral di media sosial. Tidak hanya booming karena liriknya yang bagus atau suara vokalisnya yang merdu. Namun masyarakat kita, ternyata, bisa jadi, sangat tinggi sens relijiusnya. Terlebih yang digambarkan dalam lagu itu adalah sosok panutan, baginda Nabi Muhammad SAW dan Ummahatul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar ra. Ditambah lagi penggambaran sisi romantis yang ekspresif dengan alam milenial, yang sekaligus sebagai kritik moral terhadap milenialis yang sudah terbiasa dengan pergaulan bebas.

Namun juga perlu menjadi kesadaran bersama beberapa kalangan yang keberatan dengan sejumlah lirik yang sangat fisikal dan romantisme gaya milenial dalam lagu itu. Karena kalimat nabi main lari-lari, menurut seorang kolumnis yang bernama Ahmad Asad, akan tergambar di bayangan anak muda seperti Syakh Rukh Khan yang main kejar-kejaran dengan Aiswaryai Rai Bachchan dalam film Mohabbatain.

Padahal narasi haditsnya adalah lomba lari. Dan kalimat lomba lari bisa aneh jika dituliskan dalam lirik lagu itu. Kita boleh tidak setuju. Namun kebesaran simbol keagamaan kadang tidak mudah bagi sebagian saudara kita, jika harus diungkapkan dengan sebuah lagu yang terlalu fisikal dan romantisme gaya milenial.

Kontroversi Puisi Ulil Abshar

Dalam momentum yang sama. Muncul juga puisi Ulil Abshar Abdalla yang berjudul “Paskah”. Puisi yang dalam klarifikasinya Ulil sendiri, ditulis 7 tahun silam di sebuah twitter dan dibawakan kembali oleh sosok santri remaja itu sangat kontroversial. Bahkan Prof. Dr. Rachmat Wahhab, mantan pengurus PWNU Yogyakarta menentang dengan keras bahkan puisi itu sudah menginjak-injak NU dan Umat Islam.

Dalam klarifikasinya, Ulil juga menyatakan kejelasannya dalam soal Aqidah. Namun secara dualis Ulil juga apresiatif dengan ritual keagamaan Kristen seperti dalam baitnya : “Mereka bertengkar tentang siapa yang mati di palang kayu. Aku tak tertarik pada debat ahli teologi. Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.”

Momentum Menjelang Ramadhan : Antara lagu Aisyah dan Puisi Ulil Abshar

Namun di akhir klarifikasinya Ulil agak aneh dalam menganalogikan dirinya sebagai sosok lunak di kalangan NU. Kata Ulil, dulu Mbah Hasyim saja pernah berdebat dengan Kiyai Faqih Maskumambang dalam soal boleh tidak kentongan atau al-naqus dalam memanggil sholat.

Keinginan Ulil dalam menggunakan terma keras dan lunak sebagai sebuah dinamika mungkin bisa kita terima. Namun sikap dualis para ulama nusantara tidak pernah kita temukan. Bahkan para ulama sendiri sangat tegas dalam masalah Aqidah. Bahkan dalam kajian Studi Agama di UNIDA Gontor dan kebanyakan perguruan Tinggi Islam, yang ditempuh adalah sebatas kajian objektif, bukan bentuk apresiasi yang berlebihan.

Sikap dualis dalam mendudukkan Agama tentu akan melahirkan dikotomi secara intern dan substansial dalam agama itu sendiri. Misalnya saya sebagai seorang muslim berakidah Islam namun saya sangat mengapresiasi perayaan Paskah. Aqidahnya jelas, namun wala wa al-bara’nya dipertanyakan.

Kita tahu segala bentuk kemusyrikan itu dimurkai Allah. Tapi disisi lain kita apresiasi dengan kegiatan kemusyrikan. Pernyataan ini mirip dengan : Kita harus lawan koruptor namun di saat yang sama, kita juga harus mengapresiasi kegigihan koruptor dalam menggerogoti uang negara

Aspek hermeneutis puisi

Dalam pembelaan yang lain. Ada penulis yang menjelaskan secara hermeneutis kalau ekspresi puisi harusnya tidak dihukumi sama dengan statemen biasa. Seperti pernyataan seorang Kolumnis yang bernama Aguk Irawan. Beliau mengikut pandangan hemeneut Paul Rickour, bahwa dalam setiap puisi selalu bermakna simbolik dan ada aspek filosofisnya. Tidak bisa ditangkap langsung secara tekstual. Sembari menguatkan dengan puisi Jalaludin Arrumi dan Ibn Arabi.

Namun pendekatan hermeneutis akan mentah jika kita membenturkan aspek sosial maupun antropologi. Dalam buku Misykat. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi menulis secara gamblang apa yang dimaksud dengan Blasphemy. Ketika barat menganggap Blasphemy atau penodaan terhadap simbol agama, tidak lagi menjadi ancaman pidana. Negara maju yang kebanyakan sekuler kualahan mengurus konflik agama dalam masyarakatnya. Artinya kampanye sekulerisasi dan pluralisasi model Ulil ini justru menimbulkan konflik baru. Seperti penggambaran tokoh fiksi Magdalena dalam novel Davince Code yang menimbulkan keresahan di kalangan feminis kristen di Amerika dan umat Kristiani pada umumnya soal aspek pelecehan agama.

Sens sosial warga+62 terhadap lagu Aisyah

Sedangkan Lagu Aisyah, secara sosial, menjelang ramadhan ini, telah membangkitkan sens keagamaan bagi warga +62. Karena secara historis, kita telah mengalami proses Islamisasi sejak awal berdirinya bangsa ini. Kita bukan bangsa yang lahir dari kelamnya gereja saat mengebiri masyarakat dan saintis pada massa Dark Ages.

Kita justru sudah menikmati keharmonisan dan keragaman selama berabad-abad dengan sens keagamaan. Maka wajar ketika lagu itu muncul di saat krisis identitas para milenialis. Lagu itu mengafirmasi kembali akan pentingnya kecintaan tokoh panutan yang diajarkan di TPA dulu.

Di saat derasnya gelombang wabah ini. Puisi ulil Abshor mungkin dianggap indah oleh penganut kebebasan dan pluralisme. Namun jejaknya tidak terekam sangat dalam bagi bangsa ini. Dan justru kontradiksi dengan nilai toleransi itu sendiri. Sehingga masyarakat tidak memiliki sens apa-apa. Dan yang ada justru hujatan dan potensi konflik yang bisa jadi menurunkan imunitas kita di Momentum Menjelang Ramadhan ini.

Wallahu A’lam

Fenomena Covid 19 : Peran Islamisasi Ilmu

Fenomena covid 19 ini mulai menimbulkan paradox bagi manusia. Bagi dokter, sudah di rumah saja, bantu kami tenaga medis untuk memutus mata rantai penularan. Bagaimana dengan pekerja harian, dari mana mereka mencukupi kebutuhan. Sosiolog akhirnya berteriak, pemerintah harus menjamin, jika ingin masyarakat tidak chaos.

Fenomena Covid 19 : Peran Islamisasi Ilmu

Para ulama juga kualahan. Di saat panik seperti ini. Iman seorang mulai menipis. Ada yang bilang “takut Tuhan atau takut corona?”. Kalimat ini seolah menegaskan, “Mana yang paling hebat, sains atau agama?”.

Saat ini tenaga medis memang menjadi garda terdepan. Namun medis harusnya tidak merasa sendiri. Bukan karena corona harus dilihat dari segala aspek. Tapi ada problem filosofis dalam dunia Islam saat ini terhadap cara pandang mereka kepada realitas.

Masalah filosofis

Berbicara masalah filosofis. Mungkin saat ini mending ke laut saja. Padahal baik agama, kedokteran dan politik harus dipahami secara epistemologis bukan aplikasi dan labelisasi saja.

Jika problemnya epistemologis maka problemnya adalah filsafat ilmu. Jika filsafat ilmu didudukkan ada problem dalam melihat realitas dan problem bagaimana seluruh teori dan konsep itu dibangun.

Kita bisa memakai logika membunuh ular jangan ekornya, tapi kepalanya. Inilah problemnya. Ketika sains, baik alam maupun humaniora, hanya berkutat di wilayah empiris atau indrawi. Maka aktifitas sains buntu atau deadlock. Kita bisa menemukan pasien sembuh di satu tempat, muncul penyakit di tempat lain. Dan banyak lagi penanganan yang berputar-putar dan tidak solutif.

Para ulama dulu menjelaskan bahwa penyakit fisik itu hanya efek kecil dari rusaknya hati yang kronis. Namun masalahnya, mana ada dokter yang meresepkan, kalau anda kena kanker maka banyaklah baca istighfar dulu sebelum minum obat.

Para dokter hanya melihat gejala lewat uji klinis. Terapi apa yang menghambat pertumbuhan kanker dalam tubuh. Mereka tidak melibatkan hadits Nabi SAW, bahwa di dalam jasad kita ada segumpal daging, jika rusak maka rusaklah seluruh anggota badannya. Dan jika baik maka baiklah seluruh jasadnya.

Namun masalahnya, sebagian ulama juga ikutan sekuler, serahkan urusan medis kepada ahlinya, dan serahkan masalah agama kepada kami. Maka wajar jika di saat panik ini. Agama mulai tegang dengan sains. Seolah ada bisikan halus di telinga para saintis yang terus mendengung. Andai tidak ada agama, mungkin sains akan lebih efektif dan efisien. Atau agamawan mulai suudzon apakah masyarakat yang sosial distance dan tidak berani sholat jum’at mulai hilang Imannya.

Peran Islamisasi Ilmu

Harusnya problem epistemologi mulai diperhatikan. Jika semua ilmu itu dari Allah, maka objeknya adalah semua wujud baik yang fisik maupun metafisik. Maka munculnya fenomena Covid 19 lengkap verifikasinya. Karena ilmu dipandang secara tawhidi bukan sekuler atau bercerai-berai. Sehingga sosiolog tidak perlu bersitegang dengan dokter, tetapi mulai mengerucut landasan epistemiknya dan mulai membangun paradigmanya.

Jika kita kembali melihat kepanikan dunia akibat corona. Maka sesungguhnya penyumbang kepanikan terbesar adalah sekularisme. Dan ketika agama dianggap penghambat sains maka penyumbang orang-orang murtad terbesar adalah sebagian agamawan yang tidak mengintegrasikan sains dan agama atau dzikir dan kajian turats mereka tidak merespons secara filosofis realitas alam dan sosial.