Ketokohan Mufassir Kontemporer Badiuzzaman Sa’id Nursi

Iqt.unida.gontor.ac.id Siman – kali ini penulis menggiring para pembaca yang budiman lebih mengenal Ketokohan mufassir kontemporer. Tiada lain dan bukan ialah seorang Mufassir terkemuka bernama Sa’id dan dengan kedalaman ilmunya sehingga beliau pun dikenal dengan sebutan “Badi’u Az-Zaman” karena keilmuannya yang intens melakukan penafsiran sehingga dari penafsirannya tersebut mampu menjawab berbagai persoalan keagamaan kontemporer. Nama lengkap beliau adalah Badiuzzaman Sa’id Nursi, sedangkan kata “Nurs” adalah yang dinisbahkan dari tempat kelahirannya. Oleh karenanya, agar informasi menjadi lebih jelas tentunya dengan menelusuri kehidupan beliau sebagaimana biografi singkat berikut ini:

Ketokohan Mufassir Kontemporer Badiuzzaman Sa'id Nursi
Iqt.unida.gontor.ac.id

Biografi Singkat

Badiuzzaman Sa’id Nursi lahir pada tahun 1293 H (1877 M) di desa Nurs, daerah Bitlis, Anatolia timur. Menurut sejarah keilmuan dan pendidikannya, mula-mula ia berguru kepada kakak kandungnya, Abdullah. Kemudian ia berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung yang lain, dari satu kota ke kota yang lain guna menimba ilmu dari sejumlah guru dan madrasah dengan semangat penuh ketekunan.

Sejak masa inilah ia mulai menyelam lautan ilmu seperti mempelajari tafsir, hadis, nahwu, ilmu kalam, fikih, mantiq, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Dengan kecerdasannya yang luar biasa, sebagaimana yang diakui oleh semua gurunya, ditambah dengan kekuatan ingatannya yang sangat tajam, ia mampu menghafal hampir 90 judul buku referensial. Bahkan ia mampu menghafal buku Jam‘ul Jawâmi’ (di bidang usul fikih) hanya dalam tempo satu minggu. Ia sengaja menghafal di luar kepala semua ilmu pengetahuan yang dibacanya. Dengan bekal ilmu yang telah dipelajarinya, kini Said Nursi memulai fase baru dalam kehidupannya. Seperti beberapa forum munâzharah (adu argumentasi dan perdebatan) telah dibuka dan ia tampil sebagai pemenang mengalahkan banyak pembesar dan ulama di daerahnya.  

Kedalaman Ilmu hingga julukannya

Pada tahun 1894 M, ia pergi ke kota Van. Di sana ia sibuk menelaah buku-buku tentang matematika, falak, kimia, fisika, geologi, filsafat, dan sejarah. Ia benar-benar mendalami semua ilmu tersebut hingga bisa menulis tentang subjek-subjek tersebut. Karena itulah, ia kemudian dijuluki “Badiuzzaman” (Orang yang tak ada bandingan di zamannya) sebagai bentuk pengakuan para ulama dan ilmuwan terhadap kecerdasannya, pengetahuannya yang melimpah, dan wawasannya yang luas.

Pada saat itu, di sejumlah harian lokal, tersebar berita bahwa Menteri Pendudukan Inggris, Gladstone, dalam Majelis Parlemen Inggris, mengatakan di hadapan para wakil rakyat, “Selama al-Qur’an berada di tangan kaum muslimin, kita tidak akan bisa menguasai mereka. Oleh karena itu, kita harus melenyapkannya atau memutuskan hubungan kaum muslimin dengannya.” Berita ini pun sangat mengguncang diri Sa’id Nursi hingga membuatnya tidak bisa tidur. Ia berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Akan kubuktikan kepada dunia bahwa al-Qur’an merupakan mentari hakikat yang cahayanya tak akan padam dan sinarnya tak mungkin bisa dilenyapkan.” Tegasnya.

Kiprah Dunia Perantauannya

Pada tahun 1908 M, ia pergi ke Istanbul. Ia mengajukan sebuah proyek kepada Sultan Abdul Hamid II untuk membangun Universitas Islam di Anatolia Timur dengan nama “Madrasah az-Zahra” guna melaksanakan misi penyebaran hakikat Islam. Pada universitas tersebut studi keagamaan di padukan dengan ilmu sains, sebagaimana ucapannya yang terkenal, “Cahaya kalbu adalah ilmu-ilmu agama, sementara sinar akal adalah ilmu sains. Dengan perpaduan antara keduanya, hakikat akan tersingkap. Adapun jika keduanya dipisahkan, maka fanatisme akan lahir pada pelajar ilmu agama, dan skeptisisme akan muncul pada pelajar ilmu sains.

Pada tahun 1911 M, ia pergi ke negeri Syam dan menyampaikan pidato yang sangat berkesan, di atas mimbar Masjid Jami Umawi. Dalam pidato tersebut, ia mengajak kaum muslimin untuk bangkit. Ia menjelaskan sejumlah penyakit umat Islam dan solusi cara mengatasinya. Setelah itu, ia kembali ke Istanbul dan menawarkan proyeknya terkait dengan Universitas Islam kepada Sultan Rasyad. Sultan ternyata menyambut baik proyek tersebut. Anggaran demi anggaran segera dicairkan dan peletakan batu pertama pun dilakukan di tepi Danau Van. Namun, Sangat sayang Perang Dunia Pertama membuat proyek ini terhenti.

Ada Apa Pada Perang Dunia Pertama

Sa’id Nursi tidak setuju dengan keterlibatan Turki Utsmani bergabung dalam perang tersebut. Namun ketika negara mengumumkan informasi perang, ia bersama para muridnya tetap ikut dalam perang melawan Rusia yang menyerang lewat Qafqas. Ketika itu, pasukan Rusia memasuki kota Bitlis, Sa’id Nursi bersama dengan para muridnya mati-matian mempertahankan kota tersebut hingga akhirnya terluka parah dan tertawan oleh Rusia, sehingga Ia pun dibawa ke penjara tawanan di Siberia.

Dalam penawanannya, ia terus memberikan pelajaran-pelajaran keimanan kepada para panglima yang tinggal bersamanya, yang jumlahnya mencapai 90 orang. Lalu dengan cara yang sangat luar biasa dan dengan pertolongan Allah SWT, ia berhasil melarikan diri. Ia pun berjalan menuju Warsawa, Jerman, dan Wina.

Bahkan ketika sampai di Istanbul, ia dianugerahi medali perang dan mendapatkan sambutan luar biasa dari khalifah, syeikhul Islam, pemimpin umum, dan para pelajar ilmu agama. Sa’id Nursi kemudian diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyyah oleh pimpinan militer di mana lembaga tersebut hanya diperuntukkan bagi para tokoh ulama. Di lembaga inilah sebagian besar bukunya yang berbahasa Arab diterbitkan. Di antaranya adalah tafsirnya yang berjudul Isyârât al-I’jaz fî Mazhân al-Îjâz, yang ditulis di tengah berkecamuknya perang, dan buku al-Matsnawi al-Arabî an-Nûrî.

Ketokohan Mufassir Kontemporer Badiuzzaman Sa'id Nursi
Picture: Salah satu karya kitab tafsir Badiuuzaman Sa’id Nursi

Meredupnya Kekhalifahan hingga ke pengasingan

Pada tahun 1922 M, Badiuzzaman Sa’id Nursi pergi ke kota Van dan di sana ia beruzlah (Mengasingkan diri untuk memusatkan perhatian dalam beribadah berzikir dan tafakkur lepada Allah Swt) di Gunung Erek yang dekat dari kota selama dua tahun. Ia melakukan hal tersebut dalam rangka melakukan ibadah dan kontemplasi.

Setelah Perang Dunia Pertama berakhir, kekhalifahan Turki Utsmani runtuh dan digantikan dengan Republik Turki. Pemerintah yang baru ini tidak menyukai semua hal yang berbau Islam dan membuat kebijakan-kebijakan yang anti-Islam. Akibatnya, terjadi berbagai pemberontakan dan negara yang baru berdiri ini menjadi tidak stabil. Namun, semuanya dapat dibungkam oleh rezim yang sedang berkuasa.

Meskipun tidak terlibat dalam pemberontakan, Badiuzzaman Sa’id Nursi ikut merasakan dampaknya. Ia pun diasingkan bersama banyak orang ke Anatolia Barat pada musim dingin 1926 M. Kemudian ia diasingkan lagi seorang diri ke Barla, sebuah daerah terpencil. Para penguasa yang memusuhi agama itu mengira bahwa di daerah terpencil itu riwayat Sa’id Nursi akan berakhir. Popularitasnya akan redup, namanya akan dilupakan orang, dan sumber energi dakwahnya akan mengering.

Risalah Nur: Sinar sebagai cahaya dari kegelapan

Sejarah membuktikan sebaliknya. Di daerah terpencil itulah Sa’id Nursi menulis sebagian besar Risalah Nur, kumpulan karya tulisnya. Lalu berbagai risalah itu disalin dengan tulisan tangan dan menyebar ke seluruh penjuru Turki.

Jadi, ketika Sai’d Nursi dibawa dari satu tempat pembuangan ke tempat pembuangan yang lain. Kemudian dimasukkan ke penjara dan tahanan di berbagai wilayah Turki selama seperempat abad. Allah Swt menghadirkan orang-orang yang menyalin berbagai risalah itu dan menyebarkannya kepada semua orang. Risalah-risalah itu kemudian menyorotkan cahaya iman dan membangkitkan spirit keislaman yang nyaris padam di kalangan umat Islam Turki saat itu. Risalah-risalah itu dibangun di atas pilar-pilar yang logis, ilmiah, dan retoris yang bisa dipahami oleh kalangan awam dan menjadi bekal bagi kalangan khawas.

Demikianlah, Badiuuzaman Sa’id Nursi terus menerus menulis berbagai risalah sampai tahun 1950 dan jumlahnya mencapai lebih dari 130 risalah. Semua risalah itu dikumpulkan dengan judul Kulliyyât Rasâ’il an-Nûr (Koleksi Risalah Nur), yang berisi empat seri utama, yaitu al-Kalimât, al-Maktûbât, al-Lama‘ât, dan asy-Syu‘â‘ât. Badiuuzaman Sa’id Nursi sendiri yang langsung mengawasi hingga semuanya selesai tercetak. Sehingga karya-karya beliau dibaca dan dikaji secara luas di Turki dan di berbagai belahan dunia lainnya.

Ketokohan Mufassir Kontemporer Badiuzzaman Sa'id Nursi
Picture: Wafatnya Badiuuzaman Sa’id Nursi

Mengenang wafatnya

Badiuuzaman Sa’id Nursi wafat pada tanggal 25 Ramadhan 1379 H, bertepatan pada tanggal 23 Maret 1960 M, di kota Urfa. Lebih tepatnya 61 Tahun yang lalu dalam usia 83 Tahun. Beliau tinggalkan sebuah jubah yang ada 100 tambalannya, beberapa helai pakaikan. Satu buah teko yang biasa beliau untuk membuat teh dan juga beberapa barang lainnya. Dari segi keduniaan beliau tokoh yang tidak punya apa-apa, tapi yang beliau tokoh yang meninggalkan sebuah karya monumental, Risalah Nur beserta murid-muridnya. Sedangkan Risalah Nur sudah diterjemahkan lebih dari 60 bahasa dan dibaca serta dikaji di seluruh dunia. Wallahu ‘Alam Bissawab.

Forum kajian Tafsir (FASSIR) Memahami makna lita’arofu pada surat al hujurat dalam bersosialisasi

http://iqt.unida.gontor.ac.id/ Salah satu agenda rutin yang dimiliki prodi ilmu alqur’an dan tafsir adalah forum kajian tafsir (FASSIR). Pada kajian pekan ini Senin, 21 Desember 2020, Pada kesempatan kali ini, FASSIR mengangkat materi dengan tema “Memahami Makna Lita’arofu Pada Surat Al Hujurat Dalam Bersosialisasi” yang dibawakan oleh Al Ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec. selaku Wakil Rektor III Universitas Darussalam Gontor.

Dalam kesempatan kali ini Al Ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec. mengulas makna lita’arofu pada surat al hujurat dalam bersosialisasi dan beliau merujuk pada Tafsir Jalalain yang ditulis oleh Jalal Al Makhalliy dan Jalal As Suyuti.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

dalam tafsir tersebut dijelaskan manusia memang diciptakan dalam kondisi yang berbeda-beda atau bervariatif, dan dari perbedaan inilah manusia akan saling mengenal. dijelaskan bahwa makna “Min dzakarin wa unsa” bermakna dua, yaitu (Nabi Adam dan Hawa) dan (Laki-laki dan Perempuan), dan adapun Sa’ab adalah kelompok yang paling tinggi di bangsa Arab dan khobail adalah kelompok yang posisinya di bawahnya Sa’ab.

Dalam Bersosialisasi

Dalam bersosialisasi, semua manusia sama dan setara, dan perbedaannya hanya dari segi ketaqwaan. Hal ini bukan untuk sombong dalam bergaul atau dalam pertemanan, karena buah dari ta’arofu adalah akhlaq. Mengutip dari ayat Al Qur’an; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujurat: 13).

Makna Lita’arofu

Penjelasan dari ayat tersebut, yakni;  Diciptakannya manusia berbeda-beda “Li ta’arofu” (untuk saling mengenal). dalam implementasi ta’arofu ini terdapat adab dan cara, dengan ta’arofu seharusnya kita lebih menghargai orang lain, karena tingkat ketaqwaan kita berbeda-beda dan kita tidak akan bisa menilai ketaqwaan orang lain, karena boleh jadi ketaqwaan orang lain jauh lebih tinggi daripada kita. Maka orang mu’min tidak boleh merasa lebih tinggi dan tidak boleh merasa lebih rendah dari orang lain (Inna akromakum ‘indallahi atqokum).

hadist Nabi pernah menjelaskan tentang hal ini yaitu; “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian” (HR. Muslim). 

Letak taqwa ada di dalam hati (tidak terlihat) dan muncul dalam perbuatan sehari-hari. “Taqwa itu adalah ketika kita bisa bergaul dengan siapapun, termasuk dengan orang kafir tanpa mengurangi atau menghilangkan ketaqwaan dan identitas kita sebagai seorang muslim”.

Berbagai perbedaan yang ada di dunia ini adalah tanda kebesaran Allah SWT, seperti perbedaan bahasa yang ada. Asbabun nuzul dari ayat ini adalah kisah Bilal Bin Rabbah, yang mana dia dulunya adalah seorang budak, namun dipilih untuk mengumandangkan adzan oleh Nabi, walaupun Bilal merupakan mantan seorang budak dan berkulit hitam. hal Ini adalah bukti kebenaran Islam dalam keadilan dan kesetaraan, tidak memandang seseorang dari derajat atau pun kulitnya, namun melihat dari ketaqwaan hambanya kepada Allah. sehingga bila dikaitkan dengan konsep toleransi, maka islam telah mengajarkan konsep ini sejak dahulu, sehingga jangan mengajari islam tentang tolernsi, karena dari dulu islam sudah bertoleransi. Justru orang-orang yang tidak beragama lah yang tak bertoleransi. Namun pada zaman sekarang, fakta diputar-balikkan dan justru kita lah yang diajari untuk bertoleransi, lanjut al ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec.

Forum Kajian tafsir (FASSIR) Menguatkan Aqidah dengan Akhlak Qur’ani

http://iqt.unida.gontor.ac.id/ Salah satu agenda rutin yang dimiliki prodi ilmu alqur’an dan tafsir adalah forum kajian tafsir (FASSIR). Pada kajian pekan ini Senin, 21 Desember 2020 , FASSIR menghadirkan pemateri yang sudah ahli dalam keilmuannya yakni Al Ustadz Dr. Asif Trisnani, Lc., M.A. yang membawakan materi “Menguatkan Aqidah dengan Akhlak Qur’ani”.

Pada kesempatan kajian yang diadakan di hall hotel UNIDA ini Dr. Asif Trisnani, Lc., M.A. membahas the living al-qur’an; sebuah qur’anic worldview tentang aqidah dan akhlak. Di awal kajian, beliau menyampaikan akhlak yang keluar dari syariat allah dan istilah revolusi akhlak yang akhir-akhir ini sering muncul. Didalam surat al Qalam ayat 4 yang berbunyi “و إنك لعلى خلق عظيم” yang memiliki maksud bahwasannya akhlaq rasulullah adalah al qur’an. Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar berislam harusnya menghadirkan narasi sebagai dasar kebijakan kita. Keyakinan dan perbuatan harus saling menguatkan, karena keduanya saling mencerminkan antara satu dan lainnya. “Al-Iman wal ‘amalu-sh-sholeh”.

untuk mengidupkan al-qur’an maka perlu tradisi membaca alqur’an yang baik, menganalisa dan mengamalkannya. jika terjadi ketidakseimbangan maka al qur’an dapat menjadi sumber radikalisme karena pemahaman text saja tanpa melihat Riwayat asbabun nuzulnya dan penafsiran ayatnya.

Living Al-Qur’an

Living al qur’an adalah bentuk pendekatan baru terhadap Al-Qur’an itu sendiri. Dan living al qur’an bisa di maknai sebagai teks al qur’an yang hidup dalam diri seseorang karena dipelajari, dibaca dan di amalkan. maka Menguatkan Aqidah dengan Akhlak Qur’ani tercapai ketika al qur’an menjadi dasar perilaku atau akhlak maka kemudian ia akan memperkuat aqidahnya .

Pada salah satu sesi pertanyaan beliau sempat menjawab sebuah pertanyaan tentang bentuk living al qur’an yang berkembang ditengah masyarakat kita bahwa sebagian masyarakat menjadikan nash nash al qur’an sebagai jimat, maka hal ini sudah keluar dari koridor tujuan turunnya al qur’an. Sehingga saat kita temui ada tradisi yasinan setelah kematian maka membaca al qur’annya tersebut diperbolehkan namun pengkhususan waktu membacanya yang perlu diperhatikan. Boleh meyakini bahwasannya suatu ayat mempunyai hikmah atau kelebihan tertentu, apabila ada Riwayat (shohih) tertentu yang menjelaskan dan menguatkan amalan tersebut. Sebagai contohnya adalah keutamaan membaca surat al kahfi di hari jum’at.” Lanjut al ustadz Dr. Asif Trisnani, Lc., M.A.

di penghujung acara beliau menyampaikan pesan yang sangat penting “jangan pernah berfikir bahwasannya al qur’an ini hanya buku sejarah dan buku keilmuan saja namun ini adalah kitab penunjuk.” Tutup al ustadz Dr. Asif Trisnani, Lc., M.A.