PUBLIC LECTURE Bersama Syaikh Rashed

Hall siroh- Memasuki awal mula dari rentetan acara kegiatan IQT Week yang diselanggarakan oleh prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir kampus Universitas Darussalam Gontor.  Menariknya diawali dengan Public Lecture dari forum kajian FASSIR bersama syaikhul Al mukarram Dr. Rashed al-sabahi.

Semarak dan semangat, acara public lecture dilaksanakan tepat pukul 13.30 siang. yang diawali dengan pembukaan rentetan acara kegiatan IQT Week 2019 oleh Kaprodi (IQT) Ust. Fadli Rahman Akbar M.Us. yang dihadiri oleh jajaran dosen Fakultas Ushuluddin dan IQT pada umumnya. Selasa, (01/10/19).

PUBLIC LECTURE Bersama Syaikh Rashed Al-Sabahi
Pembukaan Rentetan acara IQT Week 2019 Oleh Kaprodi

Setelah pembukaan acara, dialanjutkan dengan Kajian Fassir (Public lecture) yang pada kesempatan ini kedatangan seorang syaikh, yang mana Seorang syaikh tersebut ialah salah satu pengajar yang berasal dari pondok Isykarima. Pondok Isykarima sendiri sudah tidak asing ditelinga segenap mahasiswa, khususnya bagi mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan tafsir. Jauh pada sebelumnya, ketika bulan maret 2019 prodi IQT mengadakan daurah ilmiyah, dan menjadi kegiatan rutin di setiap semester genap. kembali pada public lecture ini Banyak sekali ilmu dari kajian yang beliau sampaikan, terutama dalam hal “Cara Bagaimana Mentadabburi Al-Qur’an. Nah berikut beberapa point penting dari sambutan beliau.

PUBLIC LECTURE Bersama Syaikh Rashed Al-Sabahi.
Public lecture dan kajian Fassir Bersama.(01/10)
Point Penting Sambutan

Mentadabburi Al-Qur’an adalah maksud dan tujuan utama dalam membaca Al-Qur’an. Seyogiyanya, seorang Muslim harus berusaha untuk melakukannya dengan maksimal. Para Ulama pun telah banyak menjelaskan berbagai metode yang bisa membantu pembaca Al-Qur’an dalam merealisasikan tujuan dan maksud mulia tersebut dengan seizin Allah Azza wa Jalla. Seperti dalam firmanNya.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci? (QS.Muhammad/47:24)

Allah Azza wa Jalla juga menginformasikan bahwa Dia telah menurunkan Al-Qur’an sebagai sarana untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (Qs.Shad/38:29)

Sekedar mengingatkan para pembaca, akan disebutkan beberapa metoda tersebut dengan berharap kepada Allah Azza wa Jalla semoga bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

Faktor-faktor yang menunjang keberhasilan dalam mentadabburi al-Qur’an adalah sebagai berikut:

1.Memahami Makna-Makna Al-Qur’an Dan Kandungan Isinya.

2.Membaca Al-Qur’an Dengan Perlahan

4.Memperbagus Suara Ketika Membaca Al-Qur’an

5.Mengulang-Ulang Bacaan.

Namun disisi lain, tidak banyak orang yang mengenal seorang syaikh Rashed yang bergelar doctor, pun sebenarnya ialah bisa dikatakan seorang accesor Profesor yang ahli dalam bidang tafsir sains. Beranjak dari sini mari kita gali lebih dalam  dan menguak bersama, informasi mengenai siapakah sebenarnya beliau?…yuk berikut uraiannya dibawah ini.

Biografi  Singkat syaikh Rashed Al-Sabahi.

  • Nama lengkap      : Rashed Mansoor Mohammed Al-Sabahi
  • Negara                    : Yaman
  • Institut                   : IBB University, Yemen
  • Fakultas                  : Faculty of literature
  • Konsentrasi studi : Qur’anic science (Ilmu Al-Qur’an)

Riwayat pengalaman hidup.

  • 18 tahun pengalaman dalam mengajar administrasi dan kegiatan akademis di universitas.
  • Penulis berbagai banyak buku, dalam ilmu Qur’an yang telah dimasukkan dalam kurikulum dari beberapa universitas.
  • Seorang yang aktif di beberapa kegiatan acara-acara publik, islam dan amal.

KAJIAN FASSIR Menjawab Metode Tahfidz dan Murojaah di UNIDA Gontor

Senin (11/3) Gedung  Siroh  Nabawiyyah  – Kajian Fassir kali ini bertajuk  Menjawab Metode Tahfidz Al-Quran dan Murojaah Qur’an di UNIDA Gontor yang disampaikan oleh Al-Ustadz Shohibul Mujtaba M.A. selaku Dosen dari Markaz Al-Qur’an Universitas Darussalam Gontor. seperti biasa kajian ini dikhususkan untuk mahasiswa program studi ilmu al-quran dan tafsir dan di buka untuk umum.  Acara ini dipimpin oleh moderator ananda Fadhil Ali selaku ketua Kajian FASSIR.

Hal yang pertama disampaikan adalah mengenai “apa motivasi kita menghafal Al-Qur’an?” pertanyaan yang sangat penting yang akan membuat semangat menghafal kita tinggi. Dengan niat dan motivasi yang kuat maka tidak ada yang tak mungkin dalam menghafal Al-Qur’an semua akan terasa mudah. Kemudian dari pada itu  untuk menunjang keberhasilan dalam menghafal Al-Quran juga diperlukan lingkungan dan kondisi yang suci atau terhindar dari suatu yang haram atau syubhat dan kemudian terhindar dari perbuatan maksiat.

KAJIAN FASSIR Menjawab Metode Tahfidz dan Murojaah di UNIDA Gontor
Mahasiswa IQT UNIDA dalam kajian Fassir

“Nikmatilah lezatnya Al-Quran! Karena Al-Quran adalah makanan hati paling enak dan bergizi bagi seorang mukmin..” beliau pun menjelaskan tentang 5 tingkatan level hafalan seperti hafalan perjuangan, hafalan harapan, hafalan pertahanan, hafalan menguatkan dan sampai pada tahap menikmati lezatnya Al-Quran. Ini pun mengarah pada satu kegiatan penting dalam menghafal yaitu murojaah.

Murojaah adalah alat untuk menjaga hafalan agar tidak lupa. Jika kita memiliki hafalan yang banyak maka diwajibkan jangan sampai tidak murojaah selama sepekan karena akan menyebabkan lupa. Oleh karenanya murojaah merupakan kegiatan wajib yang harus dilakukan oleh setiap penghafal Al-Qur’an.

Dan yang terakhir adalah sebagai pengingat kita semuanya bahwa menjawab metode tahfidz UNIDA Gontor mengarah pada 3M1T (Talqin, Tafahhum, Tahfidz, dan Murojaah).

Al-Qur’an Dengan Sahabat Rasulullah

“Al-Qur’an Dengan Sahabat Rasulullah”

Abdullah bin Mas’ud merupakan sahabat Rasulullah yang akan dibahas dalam kajian kali ini, karena beliau merupakan sahabat yang terkenal dekat dengan Al-Qur’an. Sesuai dengan tema yang akan kita kaji pada sore hari ini.

Dengan demikian Ustadz Ilham Habibullah, M.Ag melalui kajian FASSIR beriktiar menanggulangi kekosongan figure islam dengan menyampaikan sosok sahabat Nabi, Abdullah Ibn Mas’ud. Nama beliau ialah Abdullah Ibn Mas’ud bin Ghafil bin Habib. Beliau masuk Islam karena kekagumannya dengan figure Rasulullah, Khadijah, dan paman Nabi Muhammad.

“Abdullah Ibnu Mas’ud hafal Al-Qur’an beserta asbabun nuzulnya, beliau juga menjadi qira’ah para sahabat, dan belaiu termasuk empat sahabat yang paling tau Al-Qur’an, beliau mnejadi duta tafsir ke Iraq dan orang yang paling tau Al-Qur’an setelah Ibnu Abbas, Ibnu mas’ud juga merupakan sosok guru dari Abu Al aswad Ad du’aily, sang pencetus ilmu nahwu.” Kata ustadz ilham dalam kajiannya.

Beliau menuturkan sebenarnya banyak sahabat Rasulullah yang dekat dengan Al-Qur’an. Akan tetapi sosok Abdullah bin Mas’ud ini memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh sahabat lainnya.

Islam zaman ini mengalami krisis figur, sehingga banyak pandangan yang menyeleweng dari cara pandang islam. Sebagaimana praktik sunnah dipandang ekstrim, bahkan sahabat Nabi direlatifkan. Susah kalo harus hidup tanpa figur, banyak anak yang besar tanpa ayah.

 

Al-Qur’an Sebagai Pusat Islamisasi Ilmu

 “Al-Qur’an Sebagai Pusat Islamisasi Ilmu”

Ide islamisasi ilmu lahir dikarenakan adanya perbedaan cara pandang (worldview) yang menjadi dasar keilmuan. Setiap orang   pasti memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menyikapi berbagai keilmuan. Sehingga, cara pandang tersebut memiliki pengaruh krusial dalam mencetuskan suatu konsep ilmu.

Dalam kajiannya, Ustadz Shohibul Mujtaba’ memaparkan, bahwa ideologi dan kultur merupakan bagian dari pembentuk worldview seseorang. melalui worldview, mengantarkan manusia pada pemaknaan segala sesuatu yang ada di alam semesta, termasuk bagi ilmu pengetahuan. Jika keyakinannya mengajarkan kebaikan, maka akan muncul sebuah cara pandang yang baik. Maka, inilah letak perbedaan dari sesebuah worldview.

“sumber keilmuan islam adalah khobar shodiq yang melalui dari dua sumber otentik, yaitu Al-Qur’an dan sunnah yang berbanding terbalik dengan keilmuan barat yang hanya menggunakan pengalaman empiris saja”. jelas beliau pada kajian sore hari di Masjid.(25/09)

Seraya berkata demikian, beliau menjelaskan makna islamisasi menurut Syeikh Muhammad Naquib al-Attas yaitu membebaskan manusia yang berawal dari tradisi magis, mitologi, animistis, kultur nasional yang bertentangan dengan islam, kemudian dari belenggu paham sekuler atas pikiran dan bahasanya.

Dan dapat disimpulkan bahwa umat muslim sekarang sedang berhadapan dengan peradaban barat yang sedang mendominasi dunia pada saat ini. Hegemoni barat saat ini juga telah menyebar luas, khususnya melalui IPTEK, dan mereka tidak mempercayai dan tidak mengakui akan adanya wahyu sebagai sumber utama segala keilmuan. Dan ini sangat berbeda dengan sumber keilmuan islam yang telah di sebutkan dan mutlak kebenaran sumbernya.

Ibadah Merupakan Media Pendidikan Karakter

“Ibadah Merupakan Media Pendidikan Karakter”

 

Kegiatan spiritual atau yang disebut dengan ibadah merupakan basis kewajiban setiap manusia yang beragama. Melalui spiritual, manusia mampu mengembangkan atau mengendalikan potensi emosianal maupun intelegensinya. Sebab itu ibadah memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk perilaku manusia.

Dalam kajian Fassir yang diadakan setiap minggunya, Ustadz Hikmatiar Pasya menyampaikan, bahwa ibadah tidak hanya sebagai media komunikasi antara manusia dengan Tuhannya, namun memiliki pengaruh dalam pembentukan identitas manusia, yaitu sebagai pendidikan karakter. Sebagaimana sholat yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an memiliki peran bagi pembentukan perilaku manusia, yaitu menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Begitu pula dengan puasa yang membentuk kemuliaan akhlak yaitu takwa.

“Mulanya, perbuatan baik terbentuk karena adanya unsur paksa (wajib), yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan dan akhirnya melahirkan kegiatan-kegiatan positif lainnya, itulah salah satu fungsi dari nilai-nilai ibadah.” Ujar beliau pada kajian Fassir sore hari di Masjid Jami’ UNIDA Gontor.

Beliau juga menjelaskan makna ibadah menurut Syeikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, bahwa ibadah adalah segala perbuatan yang dilakukan atas dasar ketaatan dan menjauhi apa-apa yang dilarang. Sehingga, segala perbuatan yang tidak dilandasi dengan keikhlasan dan bentuk ketaatan tidak bisa dikatakan sebagai ibadah. Itulah mengapa di dalam Al-Qur’an surah Al-Ma’un 107: 4, disebutkan beberapa golongan orang-orang yang beribadah tetapi tidak dianggap sebagai amalan ibadah.

Aktualisasi Al-Qur’an Dalam Masyarakat

“Aktualisasi Al-Qur’an dalam Masyarakat”

Krisis pemahaman terhadap Al-Qur’an dalam masyarakat, menjadikan kebaikan yang ada di dalamnya tidak nampak dalam kehidupan. Sehingga nilai-nilai kebaikan yang tertuang dalam Al-Qur’an tidak teraktualisasikan dalam kehidupan secara nyata.

Pada kajian Fassir yang bertemakan living Qur’an : ‘’ hidup akrab dengan Al-Qur’an’’, yang diisi oleh Al-Ustadz Ali Mahfuz Munawar, dalam paparannya beliau menyampaikan, bagaiamana masyarakat bisa mengaktualisasikan nilai-nilai dalam Al-Qur’an untuk kehidupan bermasyarakat sehari-hari, sehingga menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an termanifestasi dalam kehidupan manusia.

“harusnya, Al-Qur’an tidak hanya untuk dihafal, tetapi bagaimana menjadikan aya-ayat Al-Qur’an sebuah tradisi dalam kehidupan di masyarakat.” Ungkap beliau dalam sebuah kajian sore di Masjid Jami’ UNIDA Gontor.(18/09)

Sehingga tema living Qur’an penting untuk dilakukan dalam mileu kehidupan berasrama, sebagaimana, sistem pendidikan yang diterapkan oleh Universitas Darussalam Gontor, dengan tujuan agar mahasiswa mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kesehariannya.