TIPS MENGHILANGKAN KERAGUAN

Keraguan sering menghampiri setiap manusia. tidak diragukan lagi bahwa setiap manusia memiliki keinginan untuk menghilangkan keraguan. Nah, bagaimana cara menghilangkan keraguan?

Dalam menjalani kehidupan, berbagai permasalahan akan muncul untuk mengingatkan pada setiap hamba bahwa sejatinya kehidupan itu tidak lain adalah untuk diuji oleh Allah SWT. Jika seseorang mendapat masalah, itu artinya dia masih hidup. Karena jika tidak ingin memiliki masalah, maka solusinya adalah tidak lagi hidup. Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa setiap yang hidup akan Dia uji dengan berbagai ujian kehidupan.

TIPS MENGHILANGKAN KARAGUAN

            Berbagai ujian kehidupan bermunculan. Kegelisaan, kesedihan, ketakutan, rasa kekurangan, keraguan, dan masih banyak lagi. Semua itu tidak lain adalah bukti sayangnya Allah kepada hamba-Nya. Bukankah ketika seseorang sabar dalam menghadapi masalah dia sejatinya sedang bersama Allah.

            Dalam kesempatan ini, penulis aka coba uraikan salah satu masalah yang sangat akrab dalam kehidupan manusia. Dialah Keraguan. Datang tanpa dijemput, menyapa jiwa dalam diam dan menghentikan keyakinan dengan paksa. Itulah sedikit ciri-ciri bagaimana dia bekerja siang dan malam melabui setiap jiwa insan yang berusaha mengumpulkan pundi-pundi kebaikan.

            Apakah gerangan yang menyebabkan munculnya keraguan dalam diri manusia? Apakah karena lemahnya iman? Atau banyaknya dosa? Mari kita kupas apa penyebab dari keraguan itu berkembang biak dalam diri manusia.

Menghilangkan keraguan menurut al-Qur’an

            Di dalam Al-Qur’an surat An-Naas tertuang doa memohon perlindungan dari Kejahatan Setan yang seringkali bersembunyi dan membisikkan keraguan dalam diri manusia.

من شَرِّ الْوَسْوَاسِ الخَنَّاس (4) الذي يُوَسْوِسُ في صُدُوْرِ النَّاس (5)

Berarti keraguan itu sumber utamanya adalah Bisikan Setan. Siapa kemudian Setan-setan ini yang bekerja siang malam demi menuntaskan misi mereka untuk meruntuhkan keyakinan para Hamba Allah?

Tahukah kita wahai para pembaca yang budiman, bahwasanya di dalam kehidupan ini tidak hanya kita sebagai manusia yang memiliki nama dan misi kehidupan. Setanpun ternyata demikian. Mereka hidup dan persembunyian, memiliki misi kehidupan dan yang menariknya juga memiliki nama.

Diantaranya seperti Setan Misuth, salah satu setan yang sering bermain di pasar. Menggoda manusia untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak bermanfaat dsb. Setan Dasim, setan yang berada di rumah. Seseorang yang masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam, maka Dasim akan bermain dengannya. Setan Walhan yang kemudian menggoda manusia dalam wudhunya. Menjadikan ia ragu apakah wudhunya batal atau tidak. Dan tak terkecuali dalam sholat yang seringkali menjadikan kita tidak khusyu adalah hadirnya Setan Khanzab untuk menggoda dan membisikkan agar kita mengingat ini dan itu saat sedang sholat sehingga tak sedikit orang sholat yang lupa sudah berapa rakaat sholat itu ditunaikan.

Rasa ragu walaupun terdengar biasa-biasa saja, namun pada sejatinya adalah suatu hal yang sangat berbahaya dan tidak boleh diremehkan. Bahkan Nabi Muhammad dalam haditsnya sangat tegas memerintahkan kepada Umatnya agar meninggalkan sesuatu yang mengandung keraguan atau Syubhat.

عن أبي محمد الحسن بن علي بن أبي طالب سبِِْط رسول الله صلى الله عليه وسلم وِريْحَانَتِهِ – رضي الله عنهما – قال : حفظت من رسول الله صلى الله عليه و سلم : ” دعْ ما يريبك إلى ما لا يريبك “ . [رواه الترمذي، والنسائي]، وقال الترمذي : “حديث حسن صحيح”.[1]

Dari Abu Muhammad, Al Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kesayangan beliau radhiallahu ‘anhuma telah berkata: “Aku telah menghafal (sabda) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, bergantilah kepada apa yang tidak meragukan kamu“. (HR. Tirmidzi dan dia berkata: Ini adalah Hadits Hasan Shahih)

 Rasulullah memerintahkan agar setiap dari kita meninggalkan keraguan dan beralih pada hal yang tidak diragukan. Di hadits lain juga telah disebutkan bahwa ketika seseorang meninggalkan seuatu yang meragukan, maka dia seperti telah menyelamatkan Agama dan Keturunannya.

Solusi Rasulullah dalam menghilangkan keraguan

Apa kemudian solusi ketika menghadapi kondisi ragu tersebut? Kaidah Ushul Fiqh mengatakan اليقين لا يزال بالشك. Keyakinan tidak dapat digugurkan dengan keraguan. Ketika seseorang ragu, maka dia harus berusaha meyakinakan dirinya kembali. Contohnya seperti dalam Wudhu. Ketika kita ragu sah tidaknya wudhu kita, kita harus kembali meyakinkan diri kita. Adapun dalam shalat misalnya, kita harus berusaha menyempurnakan posisi kita sebelum takbir agar tidak ada cela untuk setan masuk membisikkan ini dan itu. Begitupun dalam keadaaan yang lainnya.

Ada Beberapa kaidah berlaku pada sesuatu yang belum jelas hukumnya.

فاسالوا أهل الذكر ان كنتم لا تعلمون

“Tanyakan pada orang yang lebih paham jika kita tidak mengetahui persoalan yang dimaksudkan.”

Jika dalam kondisi ragu terhadap halal atau haramnya suatu hal, maka solusinya adalah menanyakan kepada orang yang lebih tahu mengenai hal tersebut. Contoh seperti keadaan makanan ditempat-tempat makan. Jika kita ragu, maka tanyakan pada pemilik rumah makan. Bertanya bukanlah suatu aib, apalagi dalam hal kebaikan. Karena kita harus  ingat bahwa setiap Setan itu akan membuat kita ragu saat ingin melakukan kebaikan.

Jadi, sebagai muslim yang baik, hendaklah kita berhati-hati dalam melangkah dalam kehidupan. Jangan sampai setan berhasil menggelincirkan  kita yang kemudian berujung dengan menjauhkan kita dari Allah SWT. Semoga dengan tips berikut ini dapat membantu dalam menghilangkan keraguan.

Dewi Arisanti. Mahasiswi IQT UNIDA Gontor semester 3


Momentum Menjelang Ramadhan : Antara lagu Aisyah dan Puisi Ulil Abshar

Dalam momemtum menjelang Ramadhan ini, belum terputus jutaan pendengar menikmati bait syair tentang Aisyah. Muncul puisi Ulil Abshar tentang “Paskah”. Yang membuat umat Islam yang harusnya fokus meningkatkan imunitas tubuh ini, menjadi double fokus atas kontroversi puisi itu.

Lagu Aisyah yang begitu viral di media sosial. Tidak hanya booming karena liriknya yang bagus atau suara vokalisnya yang merdu. Namun masyarakat kita, ternyata, bisa jadi, sangat tinggi sens relijiusnya. Terlebih yang digambarkan dalam lagu itu adalah sosok panutan, baginda Nabi Muhammad SAW dan Ummahatul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar ra. Ditambah lagi penggambaran sisi romantis yang ekspresif dengan alam milenial, yang sekaligus sebagai kritik moral terhadap milenialis yang sudah terbiasa dengan pergaulan bebas.

Namun juga perlu menjadi kesadaran bersama beberapa kalangan yang keberatan dengan sejumlah lirik yang sangat fisikal dan romantisme gaya milenial dalam lagu itu. Karena kalimat nabi main lari-lari, menurut seorang kolumnis yang bernama Ahmad Asad, akan tergambar di bayangan anak muda seperti Syakh Rukh Khan yang main kejar-kejaran dengan Aiswaryai Rai Bachchan dalam film Mohabbatain.

Padahal narasi haditsnya adalah lomba lari. Dan kalimat lomba lari bisa aneh jika dituliskan dalam lirik lagu itu. Kita boleh tidak setuju. Namun kebesaran simbol keagamaan kadang tidak mudah bagi sebagian saudara kita, jika harus diungkapkan dengan sebuah lagu yang terlalu fisikal dan romantisme gaya milenial.

Kontroversi Puisi Ulil Abshar

Dalam momentum yang sama. Muncul juga puisi Ulil Abshar Abdalla yang berjudul “Paskah”. Puisi yang dalam klarifikasinya Ulil sendiri, ditulis 7 tahun silam di sebuah twitter dan dibawakan kembali oleh sosok santri remaja itu sangat kontroversial. Bahkan Prof. Dr. Rachmat Wahhab, mantan pengurus PWNU Yogyakarta menentang dengan keras bahkan puisi itu sudah menginjak-injak NU dan Umat Islam.

Dalam klarifikasinya, Ulil juga menyatakan kejelasannya dalam soal Aqidah. Namun secara dualis Ulil juga apresiatif dengan ritual keagamaan Kristen seperti dalam baitnya : “Mereka bertengkar tentang siapa yang mati di palang kayu. Aku tak tertarik pada debat ahli teologi. Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.”

Momentum Menjelang Ramadhan : Antara lagu Aisyah dan Puisi Ulil Abshar

Namun di akhir klarifikasinya Ulil agak aneh dalam menganalogikan dirinya sebagai sosok lunak di kalangan NU. Kata Ulil, dulu Mbah Hasyim saja pernah berdebat dengan Kiyai Faqih Maskumambang dalam soal boleh tidak kentongan atau al-naqus dalam memanggil sholat.

Keinginan Ulil dalam menggunakan terma keras dan lunak sebagai sebuah dinamika mungkin bisa kita terima. Namun sikap dualis para ulama nusantara tidak pernah kita temukan. Bahkan para ulama sendiri sangat tegas dalam masalah Aqidah. Bahkan dalam kajian Studi Agama di UNIDA Gontor dan kebanyakan perguruan Tinggi Islam, yang ditempuh adalah sebatas kajian objektif, bukan bentuk apresiasi yang berlebihan.

Sikap dualis dalam mendudukkan Agama tentu akan melahirkan dikotomi secara intern dan substansial dalam agama itu sendiri. Misalnya saya sebagai seorang muslim berakidah Islam namun saya sangat mengapresiasi perayaan Paskah. Aqidahnya jelas, namun wala wa al-bara’nya dipertanyakan.

Kita tahu segala bentuk kemusyrikan itu dimurkai Allah. Tapi disisi lain kita apresiasi dengan kegiatan kemusyrikan. Pernyataan ini mirip dengan : Kita harus lawan koruptor namun di saat yang sama, kita juga harus mengapresiasi kegigihan koruptor dalam menggerogoti uang negara

Aspek hermeneutis puisi

Dalam pembelaan yang lain. Ada penulis yang menjelaskan secara hermeneutis kalau ekspresi puisi harusnya tidak dihukumi sama dengan statemen biasa. Seperti pernyataan seorang Kolumnis yang bernama Aguk Irawan. Beliau mengikut pandangan hemeneut Paul Rickour, bahwa dalam setiap puisi selalu bermakna simbolik dan ada aspek filosofisnya. Tidak bisa ditangkap langsung secara tekstual. Sembari menguatkan dengan puisi Jalaludin Arrumi dan Ibn Arabi.

Namun pendekatan hermeneutis akan mentah jika kita membenturkan aspek sosial maupun antropologi. Dalam buku Misykat. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi menulis secara gamblang apa yang dimaksud dengan Blasphemy. Ketika barat menganggap Blasphemy atau penodaan terhadap simbol agama, tidak lagi menjadi ancaman pidana. Negara maju yang kebanyakan sekuler kualahan mengurus konflik agama dalam masyarakatnya. Artinya kampanye sekulerisasi dan pluralisasi model Ulil ini justru menimbulkan konflik baru. Seperti penggambaran tokoh fiksi Magdalena dalam novel Davince Code yang menimbulkan keresahan di kalangan feminis kristen di Amerika dan umat Kristiani pada umumnya soal aspek pelecehan agama.

Sens sosial warga+62 terhadap lagu Aisyah

Sedangkan Lagu Aisyah, secara sosial, menjelang ramadhan ini, telah membangkitkan sens keagamaan bagi warga +62. Karena secara historis, kita telah mengalami proses Islamisasi sejak awal berdirinya bangsa ini. Kita bukan bangsa yang lahir dari kelamnya gereja saat mengebiri masyarakat dan saintis pada massa Dark Ages.

Kita justru sudah menikmati keharmonisan dan keragaman selama berabad-abad dengan sens keagamaan. Maka wajar ketika lagu itu muncul di saat krisis identitas para milenialis. Lagu itu mengafirmasi kembali akan pentingnya kecintaan tokoh panutan yang diajarkan di TPA dulu.

Di saat derasnya gelombang wabah ini. Puisi ulil Abshor mungkin dianggap indah oleh penganut kebebasan dan pluralisme. Namun jejaknya tidak terekam sangat dalam bagi bangsa ini. Dan justru kontradiksi dengan nilai toleransi itu sendiri. Sehingga masyarakat tidak memiliki sens apa-apa. Dan yang ada justru hujatan dan potensi konflik yang bisa jadi menurunkan imunitas kita di Momentum Menjelang Ramadhan ini.

Wallahu A’lam

Fenomena Covid 19 : Peran Islamisasi Ilmu

Fenomena covid 19 ini mulai menimbulkan paradox bagi manusia. Bagi dokter, sudah di rumah saja, bantu kami tenaga medis untuk memutus mata rantai penularan. Bagaimana dengan pekerja harian, dari mana mereka mencukupi kebutuhan. Sosiolog akhirnya berteriak, pemerintah harus menjamin, jika ingin masyarakat tidak chaos.

Fenomena Covid 19 : Peran Islamisasi Ilmu

Para ulama juga kualahan. Di saat panik seperti ini. Iman seorang mulai menipis. Ada yang bilang “takut Tuhan atau takut corona?”. Kalimat ini seolah menegaskan, “Mana yang paling hebat, sains atau agama?”.

Saat ini tenaga medis memang menjadi garda terdepan. Namun medis harusnya tidak merasa sendiri. Bukan karena corona harus dilihat dari segala aspek. Tapi ada problem filosofis dalam dunia Islam saat ini terhadap cara pandang mereka kepada realitas.

Masalah filosofis

Berbicara masalah filosofis. Mungkin saat ini mending ke laut saja. Padahal baik agama, kedokteran dan politik harus dipahami secara epistemologis bukan aplikasi dan labelisasi saja.

Jika problemnya epistemologis maka problemnya adalah filsafat ilmu. Jika filsafat ilmu didudukkan ada problem dalam melihat realitas dan problem bagaimana seluruh teori dan konsep itu dibangun.

Kita bisa memakai logika membunuh ular jangan ekornya, tapi kepalanya. Inilah problemnya. Ketika sains, baik alam maupun humaniora, hanya berkutat di wilayah empiris atau indrawi. Maka aktifitas sains buntu atau deadlock. Kita bisa menemukan pasien sembuh di satu tempat, muncul penyakit di tempat lain. Dan banyak lagi penanganan yang berputar-putar dan tidak solutif.

Para ulama dulu menjelaskan bahwa penyakit fisik itu hanya efek kecil dari rusaknya hati yang kronis. Namun masalahnya, mana ada dokter yang meresepkan, kalau anda kena kanker maka banyaklah baca istighfar dulu sebelum minum obat.

Para dokter hanya melihat gejala lewat uji klinis. Terapi apa yang menghambat pertumbuhan kanker dalam tubuh. Mereka tidak melibatkan hadits Nabi SAW, bahwa di dalam jasad kita ada segumpal daging, jika rusak maka rusaklah seluruh anggota badannya. Dan jika baik maka baiklah seluruh jasadnya.

Namun masalahnya, sebagian ulama juga ikutan sekuler, serahkan urusan medis kepada ahlinya, dan serahkan masalah agama kepada kami. Maka wajar jika di saat panik ini. Agama mulai tegang dengan sains. Seolah ada bisikan halus di telinga para saintis yang terus mendengung. Andai tidak ada agama, mungkin sains akan lebih efektif dan efisien. Atau agamawan mulai suudzon apakah masyarakat yang sosial distance dan tidak berani sholat jum’at mulai hilang Imannya.

Peran Islamisasi Ilmu

Harusnya problem epistemologi mulai diperhatikan. Jika semua ilmu itu dari Allah, maka objeknya adalah semua wujud baik yang fisik maupun metafisik. Maka munculnya fenomena Covid 19 lengkap verifikasinya. Karena ilmu dipandang secara tawhidi bukan sekuler atau bercerai-berai. Sehingga sosiolog tidak perlu bersitegang dengan dokter, tetapi mulai mengerucut landasan epistemiknya dan mulai membangun paradigmanya.

Jika kita kembali melihat kepanikan dunia akibat corona. Maka sesungguhnya penyumbang kepanikan terbesar adalah sekularisme. Dan ketika agama dianggap penghambat sains maka penyumbang orang-orang murtad terbesar adalah sebagian agamawan yang tidak mengintegrasikan sains dan agama atau dzikir dan kajian turats mereka tidak merespons secara filosofis realitas alam dan sosial.

Qur’anic Competition: Prodi Ilmu Al-Qur’an dan tafsir UNIDA Gontor

Qur’anic Competition adalah perlombaan yang melibatkan mahasiswi Universitas Darussalam Gontor Kampus Mantingan Program Studi Ilmu Qur’an dan Tafsir, yang mana perlombaan ini merupakan wadah untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan kekreatifan dan spiritualitas Mahasiswi dengan cara mengkaji Al-Qur’an lebih dalam dan menjadikannya pedoman di setiap aspek kehidupan. Acara ini berjalan dengan baik dan memiliki banyak sekali manfaat. Perlombaan yang dilakukan sangat membantu meningkatkan kreatifitas Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dan juga sebagai ajang persiapan untuk menghadapi Mahrojan Ushuluddin yang diadakan oleh Kampus Siman, Ponorogo.

Qur’anic Competition: Prodi Ilmu Al-Qur'an dan tafsir UNIDA Gontor
Qur’anic Competition: Prodi Ilmu Al-Qur’an dan tafsir UNIDA Gontor

Tema dari kegiatan ini adalah “Al- Qur’an is The Best Guide Ever: Apapun Masalahnya Al-Qur’an Jawabannya”. Dikarenakan pada hari ini banyak sekali pemuda yang khususnya memegang andil dalam perubahan dunia belum terlalu meyakini bahwa Al-Qur’an memiliki semua jawaban dari pertanyaan ataupun masalah kita terkait urusan dunia. Selain daripada itu, tujuan yang sangat ingin diwujudkan oleh pengurus HMP Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yaitu Qur’anic Competition 2020 sebagai wadah bagi mahasiswi program studi Ilmu Qur’an dan Tafsir untuk bersama-sama mengkaji Al-Qur’an. Selain itu diharapkan dengan adanya acara ini dapat menjalin persaudaraan antar mahasiswi, dan yang terpenting ialah mengajak semua mahasiswi program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir untuk ikut berpartisipasi secara aktif dalam pengkajian Al-Qur’an.

Qur’anic Competition: Prodi Ilmu Al-Qur'an dan tafsir UNIDA Gontor
Qur’anic Competition: Prodi Ilmu Al-Qur’an dan tafsir UNIDA Gontor

Jenis jenis Lomba

          Adapun perlombaan yang diadakan oleh HMP Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sebagai berikut :

  1. Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an
  2. Debat 3 Bahasa (Arab, Inggris, Indonesia)
  3. Pidato 3 Bahasa (Arab, Inggris, Indonesia)
  4. Lomba Cerdas Cermat
  5. Musabaqah Hifdzil Qur’an
  6. Musabaqah Tilawatil Qur’an
  7. Essay
  8. Puisi

       Perlombaan berlangsung selama beberapa hari dan di tutup dengan acara Pembagian Hadiah dan Family Gathering antara mahasiswi reguler dan dosen pengajar. Adapun hasil perlombaan :

  1. Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an

        Juara I Tiara Savana Gunawan, Syifa’ Nadia Rizka, Liana Isma Aprianti

        Juara II Obey Destine Najiha, Anggia Puspa, Ega Davanty

        Debat 3 Bahasa (Arab, Inggris, Indonesia)

        Debat Bahasa Arab    

        Juara I Asma Lathifah Wafi, Tasya Putri Nurhayat, Ega Davanty

        Juara II Nurul Gian, Nelyn Nur Chofifah,Aisyah Sa’adah

        Debat Bahasa Inggris

        Juara I Syazwani,Liana Isma Aprianti, Tiara Savana Gunawan

        Juara II Kartika Cahya, Sania Arini, Relya Aura Thayyibah

        Debat Bahasa Indonesia

        Juara I Nadia Salsabila M, Finia Khairani, Nur Hidayaturrahmah

        Juara II Evi Fatunniswah, Sri Rianti, Vani Angel

  • Pidato 3 Bahasa (Arab, Inggris, Indonesia)

        Pidato Bahasa Arab   

        Juara I Asma Latifah Wafi

        Juara II Fitriani

        Pidato Bahasa Inggris

        Juara I Luthfiatul Kamelia

        Juara II Gina Atikah Hasni

        Pidato Bahasa Indonesia       

        Juara I Euis Badriyah

        Juara II Lidya Dwiyanti

  • Lomba Cerdas Cermat

        Juara I Ulfatul Halimah, Dewi Arisanti, Vania Anasya

        Juara II Annisa Nur Afifah, Afwa Haninah, Septi Badriyah

        Juara III Anggia Puspa Pertiwi, Nur Hidayaturrohmah, Asma Latifah Wafi

  • Musabaqah Hifdzil Qur’an

        Juara I Obey Destine Najiha

        Juara II Annisa Nur Afifah

        Juara III Nur Nadiah Islamiah

  • Musabaqah Tilawatil Qur’an

        Juara I Mila Arum Zuli Setyawan

        Jara II Fina Nuqoyatul millah

Juara III Luthfiatul Kamelia

  • Essay

        Juara I Alia Nur Tafrijiyah

        Juara II Syifa’ Nadia Rizka

        Juara III Tasya Putri Nurhidayat

  • Puisi

        Juara I Ulfatul Halimah

        Juara II Aulia Zahratun

        Juara III Adinda Zayinatunnisa

          Besar harapan yang ingin dicapai oleh HMP Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir selaku pelaksana acara. Semoga diacara selanjutnya, Qur’anic Competition 2020 dapat melibatkan seluruh Mahasiswi aktif dari seluruh program studi untuk menjadi peserta dan bagian dari acara ini. Dan juga akan banyak manfaat yang akan di dapatkan apabila kita terus belajar, mengkaji serta mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari kita. Aamiin ya Rabbal’alamin

Khofifah IQT 4 Mantingan

Virus Corona dalam kacamata kausalitas Al-Ghazali

Virus corona yang minggu-minggu ini menjadi trending topik di berbagai belahan dunia. Menjadikan manusia berfikir postifistik. Sehingga preventisasi dan edukasi yang dilaksanakan lebih bersifat realistis dan empiristis. Sehingga aspek ilahiyah jarang untuk dijadikan alternatif berfikir dan bertindak

Virus Corona dalam kacamata kausalitas Al-Ghazali

Dalam suatu kisah. Ada seorang anak kecil yang sembuh dari lumpuh. Kisah sembuh anak ini semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita. Suatu malam ada seorang perampok yang mengaku sebagai mujahid demi mendapatkan penginapan.

Siapa yang tidak tahu dengan keutamaan seorang mujahid. Sehingga tanpa ragu, anak pemilik penginapan itu mengoleskan sisa makanan perampok tersebut dikakinya sembari berdoa dengan tulus.

Keesokan harinya. Anak itu sembuh dan bisa berjalan. Singkat cerita sang Perampok itu menangis dan bertobat dan menceritakan siapa sesungguhnya, setelah melihat ketulusan ikhtiar dan doa anak kecil itu.

Kisah yang diceritakan oleh Syaikh Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qolyubi dalam kitabnya Al-Nawadir itu relevan bagi kita yang terlalu berfikir rasional dan positivistik.

Saya sering searching tentang pengobatan herbal. Banyak situs-situs kedokteran menyatakan bahwa obat herbal tidak bisa direkomemdasikan karena tidak memiliki evidence base. Meski dunia kedokteran mengakui sejumlah manfaat dalam kandungan herbal meski tidak bisa diuji secara klinis.

Apa kaitannya dengan kisah di atas. Jangankan obat herbal. Penjahat saja bisa jadi media penyembuhan. Karena penyembuhan itu yang penting aspek spiritualnya bukan aspek kausalitasnya.

Sebenarnya bencana terbesar dari penyebaran virus corona bukan karena faktor suspect atau terinfeksi, tetapi cara pandang peradaban dunia yang sekuleristik.

Imam Al-Ghazali dalam sebuah disertasi yang ditulis oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menegaskan bahwa antara sebab dan akibat dalam realitas empiris tidak memiliki argumen logis sedikitpun.

Al-Ghazali menguatkan aspek Iradah Allah dalam menginterupsi hukum kausalitas alam dengan kisah nabi Ibrahim as yang tidak terbakar oleh api. Bahkan menurut beliau andai manusia dipotong kepalanya sekaligus. Kalau memang Allah belum mentakdirkan meninggal. Tidak akan meninggal.

Pernyataan Al-Ghazali ini ternyata relevan di alam milenial ini. Dalam sebuah youtube, dr. Reisa Brotoasmoro menceritakan kisah Bryan Jackson yang disuntik darah hiv oleh ayahnya sendiri. Karena, jika anaknya meninggal, kelak sang ayah tidak perlu membayar tunjangan anak setelah bercerai dengan ibunya Bryan. Justru Bryan bertahan hidup sampai sekarang di usia 24 tahun dan menjadi motivator.

Kisah Bryan ini tidak tunggal. Bahkan dalam sebuah acara fear factor. Ada seorang ayah yang tertusuk paku di kepalanya. Bahkan paku itu masuk ke seluruh rangka otaknya. Namun setelah dicek melalui mri. Paku itu hanya mengenai beberapa bagian otaknya. Dan akhirnya bisa disembuhkan melalui operasi.

Nasehat Al-Ghazali di atas semoga bisa membuat cooling down pemberitaan corona yang begitu massive. Tanpa menghilangkan aspek preventif dan edukatif secara maksimal. Dan mengingatkan kita semua bahwa bahaya terbesar sebenarnya adalah hilangnya keimanan. Hilangnya perhatian kita, bahwa Al-Qur’an adalah penyembuh sejak pertama kali diturunkan. Bahwa corona tidak selalu dilihat, dari kacamata teori konspirasi, politik, ekonomi, dan budaya saja. Tetapi juga dilihat dari sisi ilahiyah.

Revolusi Industri 4.0 dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Sosial Islam

iqt.unida.gontor.ac.id Ponorogo – Revolusi industri 4.0 adalah nama tren otomatis dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-pabrik, internet untuk segala, komputasi awan dan komputasi kognitif. Industri 4.0 mengahsilkan “ pabrik cerdas”. Didalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan unia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat.

Pengaruh Revolusi Industri 4.0  Terhadap Kehidupan Sosial  Islam

Menteri Sosial Republik Indonesia Agus Gumiwang Kartasasmita menyinggung dampak negatif dari revolusi industri 4.0. Menurutnya, era industri 4.0 menghadirkan perubahan yang signifikan bagi kehidupan manusia di mana smua kegiatan berbasiskan digitalisasi dan muncul kegiatan usaha baru yang sebelum era digitalisasi tidak pernah ada.

Contoh dari industri 4.0 adalah mesin, mesin telah menggantikan pekerjaan manusia sejak awal revolusi industri pertama. Adanya mesin menciptakan pabrik-pabrik baru untuk menampung mesin-mesin manufakur. Mesin akan bekerja dengan waku dan upaya yang diawasi untuk efesiensi dalam menciptakan produk baru

Dampak Buruk-nya

Beberapa dampak buruk dari revolusi industri 4.0 seperti, mengurangi interaksi sosial hingga menjadi sarana penyebaran kebohongan ( Hoax ) yang dapat merusak pilar kehidupan manusia.

Fenomena ini merupakan sebuah keniscayaan yang mesti harus dihadapi oleh umat islam. Jika sebagai seorang muslim pada perannya masing-masing telah memanfaatkan teknologi internet untuk melakukan keputusan-keputusan strategis seperti bebisnis, berdakwah, menggali dan menyatukan potensi umat muslim, berarti mereka yang paling dapat menangkap peluang dan bisa menghadapi tantangan revolusi industri 4.0.

Dari sisi ini intelektual islam dan pemuda islam khususnya harus melihat kemajuan teknologi dan informasi untuk meneguhkan dan menguatkan ketauhidan kepada Allah SWT dan juga alat untuk mengembangkan dakwah islam yang objektif. Disisi lain kita sebagai pemuda pemudi islam yang akan meneruskan tombak perjuangan dakwah juga harus pandai-padai memanfaatkan objek industri 4.0, karena jika kita tidak memanfaatkannya orang kafir disana akan meraja rela dalam menyebarkan fitnah atau hoax yang akan menyebabkan perpecahan umat islam didunia.

Kemajuan teknologi modern yang begitu pesat telah memasyarakatkan produk-produk teknologi canggih seperti radio, televisi, internet, alat-alat komunikasi dan barang-barang mewah lainnya serta menawarkan aneka jenis hiburan bagi tiap orang tua, kaum muda, atau anak-anak. Namun tentunya alat-alat itu tidak bertanggung jawab atas apa yang diakibatkannya. Justru di atas pundak manusianyalah terletak semua tanggung jawab itu. Sebab adanya pelbagai media informasi dan alat-alat canggih yang dimiliki dunia saat ini dapat berbuat apa saja kiranya faktor manusianyalah yang menentukan operasionalnya. Adakalanya menjadi manfaat yaitu manakala manusia menggunakan dengan baik dan tepat.

Author : Iqlima Nurul Ainun / IQT

PERMASALAHAN SOSIAL DAN AYAT AL-QUR’AN SEBAGAI SOLUSINYA

iqt.unida.gontor.ac.id. Ponorogo – Manusia yang diciptakan oleh Allah SWT sentiasa hidup dengan keluh kesah. Hidup di dunia adalah medan ujian yang disediakan oleh Allah SWT supaya manusia bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT. Hidup di dunia adalah kehidupan sementara waktu sahaja, di akhiratlah merupakan kehidupan yang kekal abadi. Dari banyaknya permasalahan yang menimpa manusia, tidak serta merta manusia ditimpa masalah begitu saja, tapi Allah menakar kemampuan manusia itu sendiri dengan masalah yang dihadapi. Allah SWT semata-mata menciptakan masalah kepada manusia untuk memberikan pelajaran dan hikmah dari sebuah permasalahan sosial tersebut.

PERMASALAHAN SOSIAL DAN AYAT AL-QUR’AN SEBAGAI SOLUSINYA

Dalam permasalahan sosial mereka yang sabar maka akan mendapat ganjaran pahala dari Allah, berbeda dengan yang tidak kuasa, maka senantiasa arogan dan putus asa terhadap suatu masalah hingga nilai ibadah dan pahala tidak serta merta didapatnya. Maka dengan begitu Al-Quran menjadi penolong dan tempat mencari jawaban dari permasalahan yang sedang dihadapi. Al-Qur’an pula merupakan kalam Allah dan kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Quran diturunkan untuk menyelasaikan semua persoalan hidup yang dihadapi oleh manusia. Semua jawaban terdapat di dalam al-Quran.

Kenapa aku diuji?

Firman Allah SWT maksudnya : “Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan sahaja mengatakan; “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta,” (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Kenapa aku tidak dapat apa yang aku hajatkan?

Firman Allah SWT maksudnya : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui,”  QS. al-Baqarah: 216)

Firman Allah SWT maksudnya : “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertakwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan),”(QS. Ali-Imran: 200)

Firman-Nya lagi yang bermaksud : “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk” (QS. Al-Baqarah: 45)

Tidak salah jika Islam merupakan ajaran yang paling komprohensif, Islam sangat rinci mengatur kehidupan umatnya, melalui kitab suci al-Qur’an. Allah SWT memberikan petunjuk kepada umat manusia bagaimana menjadi insan kamil atau pemeluk agama Islam yang kafah atau sempurna. Secara garis besar ajaran Islam bisa dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Hablum Minallah (hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan) dan Hablum Minannas (hubungan manusia dengan manusia). Allah menghendaki kedua hubungan tersebut seimbang walaupun hablumminannas lebih banyak di tekankan. Namun itu semua bukan berarti lebih mementingkan urusan kemasyarakatan, namun hal itu tidak lain karena hablumminannas lebih komplek dan lebih komprehensif. Oleh karena itu suatu anggapan yang salah jika Islam dianggap sebagai agama transedental.

Author: Siti Nur’Aini/IQT

KEUTAMAAN MENAHAN AMARAH DALAM AL-QUR’AN

Kemarahan merupakan salah satu bentuk emosi yang sangat lekat dalam diri manusia. Sama dengan emosi lainnya, kemarahan harus diekspresikan dengan baik untuk menjaga kesehatan mental kita sebagai manusia. Ketidakmampuan dalam menahan amarah menjadi bagian dari manusia. Namun, dalam beberapa kasus, kemarahan terus menerus bisa menjadi tanda masalah yang lebih dalam, yaitu depresi.

KEUTAMAAN MENAHAN AMARAH DALAM AL-QUR’AN
Customer Experience or Human Emotional Concept. Woman Covered her Face by Paper Bag and present Angry Feeling by Drawn Line Cartoon and Body Language

Sebagai manusia, begitu banyak hal yang membuat kita marah, seperti ketika merasa diserang, ditipu/dibohongi, frustrasi, atau diperlakukan tidak adil. Sudah menjadi naluri manusia untuk berada dalam situasi yang aman. Begitu juga dengan kemarahan. Marah terjadi sebagai respon pertahanan diri kita dari situasi yang kita anggap tidak aman/berbahaya, sehingga dengan marah kita akan merasa lebih aman. Namun, itu semua tidak berarti menjadikan kemarahan kita sebagai alasan untuk berbuat hal-hal kekerasan atau kericuhan.

Dalam sudut pandang Islam, marah merupakan bencana yang merusak akal. Ketika hati dalam kondisi lemah, maka setan dan bala tentaranya melakukan serangan. Pada saat manusia marah, maka setan mempermainkan melalui kemarahannya itu, sebagaimana anak kecil yang mempermainkan bola. Telah disebutkan bahwa sebagian para wali, berkata pada iblis: “Tunjukkanlah padaku, bagaimana anda mempermainkan anak cucu Adam?” Iblis berkata: “Aku kuasai dan aku permainkan dia disaat sedang marah dan memperturutkan kesenangan hawa nafsunya”. Naudzubillah

Dalam al-Qur’an, Allah telah meyinggung orang-orang yang telah menahan marah dan seslu memaafkan kesalahan Allah adalah salah satu ciri-ciri penghuni surga, yang berbunyi:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Ayat ini mengingatkan pada sebuah kisah budak dari ‘Ali bin Al-Husain rahimahullah, ketika itu ia menuangkan air pada ‘Ali untuk persiapan shalat. Tiba-tiba wadah yang digunakan itu jatuh lalu pecah lantas melukai tuannya (‘Ali). ‘Ali lantas mengangkat kepala dan memandang budak wanita itu. Budak itu lantas mengatakan, ingatlah Allah berfirman,

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

(Ciri-ciri penghuni surga adalah) orang-orang yang menahan amarahnya.”‘Ali berkata, “Aku tidak jadi memarahimu.” Terus budak itu membacakan lagi,

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

(Ciri-ciri penghuni surga adalah) dan mema’afkan (kesalahan) orang.”‘Ali berkata, “Saya sudah memaafkanmu.” Terus budak itu membacakan lagi,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

‘Ali berkata, “Sekarang engkau bebas (merdeka).”(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 10: 545, dinukil dari Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 723)Ayat ini sangat cocok jika disandingkan dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang tertulis pada Bab ke-16 dalam Kitab Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ) رَوَاهُ البُخَارِي(

(Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.”) (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6116]

Dengan syarahnya, yang dimaksudkan “jangan marah” ada dua makna:

  • Menahan diri ketika ada sebab yang membuat kita marah, sampai kita bisa menahan amarah.
  • Jangan sampai melakukan kelanjutan dari marah. Jika ada yang mau marah hingga mau mentalak istrinya, maka kita katakan, “Bersabarlah, tahanlah diri terlebih dahulu.”

Ada lima kiat Nabi Muhammad SAW yang dapat kita amalkan sebagai pertahanan diri amarah yang memuncak, yaitu:

Membaca ta’awudz, meminta perlindungan pada Allah dari godaan setan

Meminta tolong pada Allah agar dilindungi dari setan sesuai dengan dalil-dalil berikut, akan terlihat jelas bahwa marah bisa dari setan. Maka kita mengamalkan firman Allah dari ayat berikut,

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚإِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200)

Diam

Karena yang namanya marah itu jika keluar bisa jadi keluar kata-kata yang tidak Allah ridhai. Selamatnya manusia dalam menahan amarah juga karena Menjaga Lisannya. Ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,

وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi).

Berganti posisi

Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud, no. 4782. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Mengambil air wudhu

Dari Athiyyah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Ingat wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menahan amarah

Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan dalam surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, hadits ini shahih lighairihi).

Muyassaroh

Daurah I’jaz Al-‘Ilmi : Program Studi IQT UNIDA 2020

Pendahuluan

Daurah I’jaz Al-‘Ilmi : Program Studi IQT UNIDA 2020 muncul dari keprihatinan ulama mufassir, seperti Thantawi Jauhari, tentang meredupnya kajian ilmiah ayat-ayat kauniyah dalam al-Qur’an.  Hal tersebut didasari oleh terfokusnya kebanyakan ulama dan cendikiawan muslim dalam memahami al-Qur’an hanya dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum dan fiqh saja. Sedang ayat hukum hanya berjumlah seperlima dari ayat kauniyah di dalam al-Qur’an. Dengan perbandingan ayat tentang Alam yang berjumlah 800 sedang ayat tentang fiqh 160, hal ini menandakan akan perhatian wahyu al-Qur’an juga untuk mentadabburi al-Qur’an  kepada penciptaan alam semesta atau ayat-ayat kauniyah.

Daurah I'jaz Al-'Ilmi : Program Studi IQT UNIDA 2020
Daurah I’jaz Al-‘Ilmi : Program Studi IQT UNIDA 2020

Terlebih di dalam Al-Qur’an terdapat perintah kepada pembacanya untuk selalu mentadabburi dan memahami, serta mempelajari isi kandungan dari setiap ayatnya. Hal tersebut dibuktikan dengan perintah al-Qur’an yang menunjukkan untuk berfikir dengan akal, diantaranya ada sekitar 49 kata akal dan semuanya dalam bentuk fi’il yang artinya umat muslim diperintah untuk terus berfikir.

Sejalan dengan kebutuhan akan pemahaman ayat-ayat kauniyah, yang merupakan I’jaz Al-‘Ilmi dari pewahyuan al-Qur’an, kemudian Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir di Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor hadir dengan mengusung visi “menjadi program studi yang unggul dalam bidang Tafsir Sains dengan sistem perguruan tinggi pesantren”. Dengan visi ini dimaksudkan akan tercapai semangat pemahaman al-Qur’an dari sisi sains, yaitu dengan lebih giat memahami dan melihat ayat-ayat Kauniyah dalam al-Qur’an sebagai bentuk I’jaz Al-‘Ilmi. Sebuah terobosan yang sengaja dihadirkan untuk memberikan sumbangsih khazanah keilmuan umat Islam.

Untuk meningkatkan pemahaman akan tafsir ayat-ayat kauniyah melalui tafsir ‘ilmi semakin baik, dengan melihat hasil MoU UNIDA Gontor dengan Yayasan Rabithah Alamiyah li Ta’lim wa Dakwah, maka Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir menindaklanjuti kerjasama tersebut dengan  mengadakan kegiatan “Daurah  I’jaz Al-‘Ilmi” yang diperuntukkan kepada para Dosen dan pengajar Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Dengan tujuan pengenalan dan pemahaman akan I’jaz ‘ilmi dalam ayat-ayat Kauniyah  di dalam Al-Qur’an, sehingga dapat mengetahui makna yang terkandung ayat tersebut semakin  mendalam, yang nantinya akan mendorong perkembangan keilmuan umat Islam, serta dapat mengajarkannya kepada khalayak luas dalam pendidikan formal di Perguruan tingi dan masyarakat umum.

Nama Kegiatan

Kegiatan ini bernama: Daurah I’jaz Al-‘Ilmi. Kajian kitab “ al-I’jaz al-‘Ilmi fi al-Qur’an wa al-Sunnah

Tujuan Kegiatan

Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Pengenalan I’jaz Ilmi al-Qur’an
  2. Pemahaman kandungan ayat-ayat kauniyah di dalam kitab  “ al-I’jaz al-‘Ilmi fi al-Qur’an wa al-Sunnah
  3. Menjadikan rujukan dan bahan ajar dalam pemahaman I’jaz al-Qur’an
  4. Pembekalan bagi pengajar materi I’jaz Ilmi

Waktu Kegiatan

Kegiatan direncanakan akan dilaksanakan selama 2 hari terhitung dari Sabtu – Ahad, tanggal 14-15 Maret 2020.

Tempat Kegiatan

Kegiatan pelatihan direncanakan akan dilaksanakan di Kampus UNIDA Gontor Ponorogo dengan jadwal yang tersusun. Berikut rincian tempat kegiatan:

No Kegiatan Rencana Lokasi
1. Pembukaan kegiatan Hall UNIDA INN Lt 2
2. Sesi Seminar Hall UNIDA INN Lt 2
3. Kantor Panitia Kantor Prodi IQT, Gd. Utama Lt 2
4. Rapat panitia Kantor Prodi IQT, Gd. Utama Lt 2
5. Rapat koordinasi pengajar Hall UNIDA INN Lt 2

Jadwal Kegiatan

Adapun jadwal kegiatan yang direncanakan adalah sebagai berikut:

Hari Jam Kegiatan Penanggungjawab
Jum’at, 13 Maret 2020 09.00 Wib Kedatangan di Bandara  Solo Bag. Transportasi
  14.00-19.00 Perjalanan dari bandara Menuju UNIDA Gontor Bag. Transportasi
Sabtu, 14 Maret 2020 07.30-08.30 Pembukaan Daurah I’jaz ‘Ilmi Dekan Fakultas Ushuluddin
  08.30-10.00 Sesi 1: Kajian kitab “ al-I’jaz al-‘Ilmi fi al-Qur’an wa al-Sunnah Tutor
  10.00-10.15 Cofee break Konsumtor
  10.15-12.00 Lanjutan Sesi 1 Tutor
  12.00-13.00 Ishoma Konsumtor
  13.00-15.00 Sesi 2: Kajian kitab “ al-I’jaz al-‘Ilmi fi al-Qur’an wa al-Sunnah Tutor
  15.00-15.30 Penutupan sesi 1 dan 2 Ketua Panitia
Ahad,15 Maret 2020 08.00-12.00 Sesi 3: Kajian kitab “ al-I’jaz al-‘Ilmi fi al-Qur’an wa al-Sunnah Tutor
  10.00-10.15 Cofee break Konsumtor
  10.15-12.00 Lanjutan Sesi 3 Tutor
  12.00-13.00 Ishoma Konsumtor
  13.00-15.00 Sesi 4: Kajian kitab “ al-I’jaz al-‘Ilmi fi al-Qur’an wa al-Sunnah Tutor
  15.00-15.30 Penutupan kegitan Daurah I’jaz Ilmi Ketua Panitia
Senin, 16 Maret 2020 08.00-09.45 Perpulangan Transportasi
       

Islamofobia di Australia

iqt.unida.gontor.ac.id. UNIDA Gontor – Wanita berjilbab atau berhijab ditempat keramaian seperti mall dan pusat perbelanjaan lainnya paling sering mengalami serangan berbau Islamphobia di Australia. Banyaknya orang ataupun adanya anak-anak bersama mareka tidak menghentikan sedikitpun tindak pelecehan yang ada di sana, bahkan dalam beberapa kasus lebih meningkat.


Dengan adanya peristiwa seperti yang terjadi kepada umat muslim yang ada di Australia, menjadikan suatu campakan bagi umat muslim yang lainnya untuk selalu menutup auratnya dimanapun dan kapan pun itu, karena tidak dapat dipungkiri bahwa orang yang memakai hijab bisa saja mendapatkan pelecehan yang tidak diinginkan, apalagi dengan tidak menutup aurat akan menjadi lebih parah lagi.

Akan tetapi terjadinya suatu pelecehan bagi umat muslim yang berhijab di Australia menjadikan beberapa dari wanita yang berhijab menjadi takut akan pemakaian hijab itu sendiri. Pada hakikatnya Allah telah menganjurkan dan memerintahkan bagi seluruh wanita Islam untuk menutup auratnya seperti yang dikatakan dalam Al-Qur’an Sebagaimana berikut:

Surat An-Nur ayat 31:

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣١

31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung

Ayat diatas memerintahkan kepada para wanita untuk memanjangkan kain penutup ke bagian dada yang diambil dari kata juyuub. Serta seperti yang dijelaskan di dalam surat berikut:

Surat Al-Ahzab ayat 59:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٥٩

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat ini mengatatakan bahwa istri nabi diperintahkan untuk memekai hijab, walaupun ayat diatas turun untuk para istri Nabi Muhammad SAW, akan tetapi para ulama’ sepakat bahwa semua wanita muslimah juga termasuk dalam ayat di atas. Karena wanita yang memakai hijab adalah lebih baik untuk dirinya dan juga untuk laki-laki lain yang sedang berkepentingan dengannya.

Masih banyak kejadian pelecehan yang terjadi seperti yang kita lihat sekarang ini, tidak hanya di Autralia tetapi diseluruh negara yang minoritasnya orang muslim lebih berdampak besar dalam mendapatkan hal seperti itu. Berani dalam melakukan kebenaran di negara luar itu adalah suatu hal yang sulit, sama halnya dengan pemakaian hijab yang mana tidak sedikit orang non muslim yang risih melihat itu semua.

Akan tetapi demi melakukan dan melaksanakan perintah dari Allah tidak seharusnya umat muslim merasa terancam dengan kondisi yang seperti itu, banyaknya Islamphobia menjadikan ketidakstabilitasan antar berwarganegara, disebakan oleh ancaman atau teror yang ada.


Tidak sepatutnya kaum non muslim melakukan hal tersebut, karena harus adanya toleransi dalam beragama, Allah telah menurunkan ayat yang jelas dalam berbagai permasalahan di kehidupan manusia, tidak perlu merasa bingung jikalau memang terjadi suatu hal yang tidak diinginkan. Pada dasarnya Allah memberikan masalah tetapi memberikan jalan keluarnya di dalam Al-Qur’an. Dan jangan merasa sedih apabila ada yang melecehkan kita seperti yang diterangkan oleh Allah SWT sebagai berikut:

Surat Al-Baqarah ayat 25:

وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡهَا مِن ثَمَرَةٖ رِّزۡقٗا قَالُواْ هَٰذَا ٱلَّذِي رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُۖ وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَٰبِهٗاۖ وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ وَهُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢٥

25. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rizki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah dibeeri (buah-buahan) yang serupa. Dan disana mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.”

Begitulah Allah memperlakukan makhluknya karena hakikatnya semakin kuat keimanan seseorang maka semakin berat ujian yang akan diberika begitu pula sebaliknya, oleh sebab itu jika kita merasa ujian yang kita dapatkan berat maka kita harus bersabar dan bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kita rasa kasih sayang-Nya kepada setiap hambanya yang bertakwa.Oleh :

Baiq Ikhlasul Amalia