Epistemology Pandemi

IQT.unida.gontor.ac.id. Di masa pandemi ini. Kita sering atau selalu mendapat empat model informasi. Ada yang meremehkan, ada yang menakut-nakuti atau melebih-lebihkan, ada yang memghimbau tetap waspada, dan ada yang menenangkan.

Epistemology Pandemi

Dua model pertama kebanyakan hoax, dan konspiratif, dan biasanya datang dari orang yang tidak atau kurang bertanggung jawab. Sedang ketiga biasanya datang dari pakar yang terdiri dari para medis, virolog, lembaga pemerintah dan sebagainya. Sedang keempat, biasanya datang dari agamawan, sosiolog, antropolog, budayawan yang bertanggung jawab tanpa ikut campur terlalu jauh tentang apa yang bukan keahliannya dalam kasus pandemi covid 19.

Namun ada problem filosofis yang cukup besar dalam menyumbang kebingungan sebuah berita. Secara tidak sadar kita sering terdoktrin bahwa pengetahuan itu tidak mungkin atau knowledge is impossible. Maka ada kelompok skeptik atau menganggap semua berita adalah salah. Sehingga semua informasi tentang virus corona itu salah semua. Kelompok ini biasanya ignorant dan cenderung menganggap remeh.

Kelompok kedua adalah relatifis atau semua berita tentang virus corona itu benar semua. Meski bertentangan satu sama lain, akan selalu menganggap bahwa semua berita tentang virus corona itu benar semua. Tergantung dari sudut pandang mana melihatnya.

Efek dari kedua pandangan ini adalah kekacauan informasi atau cognitif information. Atau tidak ada lagi garis demarkasi antara yang benar dan yang salah. Kaum milenialis banyak yang menganut cara pandang seperti ini. Dan biasanya hanya memberi solusi, seperti : meski manusia tidak mampu mencapai yang benar setidaknya pengetahuan bisa mendekati kebenaran.

Bagaimana cara mengetahui informasi yang benar?

Pengetahuan itu sebenarnya tidak mustahil atau knowledge is possible. Manusia sebagai ciptaan Allah SWT yang sempurna dibekali akal untuk mengetahui (al-ilm) dan mengenal (ma’rifah), memilih (ikhtiyar) dan memilah (tafriq), membedakan (tamyiz) antara yang benar dan yang salah. Maka sangat mungkin sekali manusia bisa mengetahui informasi yang benar dan yang salah tentang virus corona.

saya meminjam istilah dalam ilmu hadits. Berita bisa dikatakan benar jika disampaikan secara mutawatir atau disampaikam melalui redaksi yang banyak dari para pakar dan tidak ada satu proposisi yang menyelisihi. Seperti corona itu ada. Atau corona itu berbahaya. Corona itu ada yang bisa sembuh. Corona bisa menular dan sebagainya. Tanpa ada informasi yang menegasikan bahwa corona itu tidak ada. Corona itu menguntungkan dan sebagainya.

Yang kedua adalah berita yang benar atau khabar shohih. Atau berita yang datang dari satu sumber namun disampaikan oleh orang yang terpercaya baik keahlian maupun integritas personalnya. Seperti, menurut hasil dari tes PCR anda dinyatakan positif corona. Berita ini tentu berbeda kualitasnya jika dibandingkan dengan, menurut seorang dukun anda positif corona.

Bagaimana jika berita itu berbeda. Jika perbedaannya masih bisa disatukan. Maka kita mengambil metode al jam’ atau mengambil dua informasi sekaligus seperti dalam teori Ushul al-fiqh. Seperti satu informasi menyatakan bahwa virus corona bisa menular lewat airborne, sedang informasi berikutnya tidak menular lewat airborne. Dua informasi yang berbeda tersebut bisa diklarifikasi bahwa penularan virus corona lewat airborne hanya pada kasus tertentu seperti uap aerosol orang yang menderita covid 19 yang sedang diuap. Sedang pada alam bebas virus corona tidak tersebar melalui airborne tetapi melalui droplet.

Jika info itu tidak bisa disatukan. Maka kita bisa mengambil salah satu yang lebih valid. Seperti jika ada seorang virolog yang menyatakan bahwa covid 19 tingkat bahayanya sangat rendah. Sedangkan kebanyakan pakar menyatakan bahwa tingkat bahaya dari covid 19 sangat tinggi dan kemungkinan bisa bermutasi dengan cepat. Maka tentu kita lebih memilih pernyataan yang lebih banyak dari pakar medis dan virolog ketimbang pernyataan satu orang meskipun pakar kompeten.

Penutup

Manusia dalam memahami pandemi covid 19 ini terbagi menjadi empat macam. Pertama adalah mereka yang paham. Atau rojulun yadri wa yadri annahu yadri. Mereka adalah para pakar baik dari himpunan medis dan virolog. Maka kita wajib mengikutinya. Kedua adalah mereka yang tidak paham atau orang awam. Mereka wajib untuk diberitahu informasi yang benar.

Kelompok ketiga adalah mereka yang salah paham. Bisa dari seorang pakar, melenialis, politikus yang cukup tahu informasi tentang pandemi covid 19 dengan berbagai tingkat pengetahuannya. Namun mereka salah dalam mencerna informasi. Nah. Orang seperti ini wajib diingatkan dan dinasehati. Yang keempat adalah mereka yang gagal paham. Mereka hampir sama dengan kelompok ketiga. Bisa dari pakar, milenialis, pilitikus, sosiolog yang salah dalam memahami fenomena pandemi covid 19. Namun mereka merasa benar, susah diingatkan. Dan suka membuat berita yang salah dan justru membuat kasus pandemi covid 19 ini semakin parah. Maka orang seperti ini segera tinggalkan. Jauhi. Dan katakan kepada mereka: Salamun alaukum la nabtaghi al jahilin. Wallahu A’lam.