TAFSIR SAINS RAHASIA DI DALAM AL-QUR’AN SURAT AL-KAHF : 9-25

Di Ambil Dari novel Ketika Embun Merindukan Cahaya

http://iqt.unida.gontor.ac.id/Teori relativitas Enstein, sebuah teori yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum Enstein mereumuskannya. Seorang ilmuan muslim Yusuf Ibnu Ishaq Al-Kindi, telah meletakan dasar-dasar teori relativitas ini terlebih dahulu. Tertulis di kitabnya Al-Falsafah Al-Ula pada abad ke-9 Masehi. Teori yang berbunyi “sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan tertentu maka benda tersebut akan mengalami dalasati waktu dan mengalami kontraksi panjang”. Dilasati waktu ialah jika suatu benda, makhluk hidup atau apa saja yang bergerak dengan kecepatan tertentu yang mendekati kecepatan cahaya, maka benda tersebut mengalami dilasati waktu atau kontraksi Panjang. Contohnya saat pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta, pasti waktu yang dirasakan sangatlah singkat. Karena mereka sedang asyik menikmati masa-masa kasmaran. Berbeda dengan seorang dari tim gegana yang sedang menjinakkan bom, waktu satu menit bagi mereka akan terasa seperti satu jam lamanya. sehingga artikel ini akan membahas tentang Tafsir Sains Rahasia Di Dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahf : 9-25.

Teori relativitas Enstein, sebuah teori yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum Enstein mereumuskannya. Seorang ilmuan muslim Yusuf Ibnu Ishaq Al-Kindi, telah meletakan dasar-dasar teori relativitas ini terlebih dahulu. Tertulis di kitabnya Al-Falsafah Al-Ula pada abad ke-9 Masehi. Teori yang berbunyi “sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan tertentu maka benda tersebut akan mengalami dalasati waktu dan mengalami kontraksi panjang”. Dilasati waktu iyalah jika suatu benda, makhluk hidup atau apa saja yang bergerak dengan kecepatan tertentu yang mendekati kecepatan cahaya, maka benda tersebut mengalami dilasati waktu atau kontraksi Panjang. Contohnya saat pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta, pasti waktu yang dirasakan sangatlah singkat. Karena mereka sedang asyik menikmati masa-masa kasmaran. Berbeda dengan seorang dari tim gegana yang sedang menjinakan bom, waktu yang mereka rasakan ialah satu menit akan terasa seperti satu jam lamanya. sehingga pembahasan surat Al-Kahfi dengan metode ini akan menjadi Tafsir Sains Rahasia Di Dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahf : 9-25.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Frisc dan Smith. Mereka meneliti sebuah partikel elementer yang disebut Moun. Mereka membandingkan Moun dibumi yang relative diam dengan Moun yang bergerak jatuh ke bumi dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Hasilnya sangat menajubkan, kedua partiket tersebut ternyata memiliki usia yang berbeda usia Moun di bumi memiliki usia 9x lebih tua dibandingkan dengan Moun yang bergerak dengan kecepatan cahaya. Contoh sederhananya, seperti anak kembar yang mana salah satunya pergi keluar angkasa sementara kembarannya tinggal di bumi. Kecepatan pesawat antariksa yang di gunakan salah satu anak kembar tersebut mendekati kecepatan cahaya. Maka 1 tahun yang dilalui salah satu anak kembar dalam pesawat antariksa setara dengan 9 tahun kembarannya di bumi. Contoh lainnya seperti yang di kisahkan di QS. Al-Kahf ayat 9-17 yaitu para pemuda yang tertidur bertahun-tahun di gua. Hal ini bisa saja terjadi karena mereka bergerak mendakati kecepatan cahaya.

Rumus dilasati waktu:                                                                                   

Rumus inilah yang digunakan untuk menganalisis kisah ashabul kahf berdasarkan surat Al-Kahf ayat 9-25

“Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka itu tidur, dan kami bolak-balikan mereka ke kanan dan kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentu kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka” QS. Al-Kahf : 18.

Pada ayat tersebut kita ketahui bahwa para pemuda dalam gua itu tertidur dalam keadaan bergerak. Tuhan telah menggerakan mereka dengan cara membolak-balikannya ke kanan dan ke kiri dengan kecepatan tertentu. Dan kecepatan mereka mestinya sangat cepat sehingga mereka dapat hidup melintasi zaman.

Analisa dan Pembuktian Tafsir Sains Rahasia Di Dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahf : 9-25

Menganalisis sekaligus membuktikan kebenaran cerita ashabul kahfi dalam Al-Qur’an dengan teori-teori ilmuan muslim tersebut. Dengan Rumus itu kita dapat mengetahui berapa kecepatan gerakan para pemuda tersebut. Kisah ketujuh pemuda itu bermula dari ayat ke-9 dan berakhir pada ayat ke-25. Pada ayat ke-9 bisa di mendapatkan informasi bahwa mereka hanya merasakan tidur selama satu hari. Sementara itu, waktu sebenarnya yang mereka lalui adalah selama 309 tahun. Memversikannya menjadi jumlah hari dalam kalender Qomariah. Jika satu tahunnya berjumlah 354 hari maka yang kita dapati ialah 109.386 hari. Jadi :

Jadi kecepatan cahaya yang diketahui akan konstan pada 299.792.458 meter perdetik. dari hasil penjelasan rumus tentang ashabul kahfi itu bergerak mendekati kecepatan cahaya. Artinya mereka telah mengalami dilasati waktu. Selain mengalami dilasati waktu, benda yang bergerak dengan kecepatan tinggi juga akan mengalami kontraksi waktu Panjang. Jadi, saat pemuda tersebut bergerak dengan mendekati kecepatan cahaya maka orang lain hampir tidak bisa melihat wujudnya. Mereka bergerak ke kanan ke kiri bergerak bolak balik. Jika sebuah benda bergerak berlawanan dengan arah semula maka benda-benda tersebut akan mengalami berhenti sesaat sebelum berbalik arah. Pada saat berhenti sesaat inilah terjadi perubahan bentuk pada para pemuda tersebut. Mulai bentuk normal, mengecil, menghilang, membesar, dan kembali lagi ke ukuran semula begitu pun seterusnya. Seperti halnya nyamuk yang mengepakan sayapnya 600 perdetik yang kita pun tidak bisa melihatnya dengan jelas karena kecepatannya yang mendekati kecepatan cahaya yang menimbulkan suara nging,,,, pada nyamuk.

Pada ayat ke-11 dijelaskan bahwa Allah menutup telinga mereka, “Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu”. Gerakan mereka yang sangat cepat mendekati kecepatan cahaya itu menimbulkan ledakan suara. Maka dari itu, Allah melindunginya dengan menutup dendang telinga mereka. Dan sebab itu pula nyamuk tidak memiliki telinga.

Al-Qur’an itu memiliki gaya bahasa yang penuh makna, tidak ada yang sia-sia tiap kata yang tertulis di dalamnya. Allah telah menjabarkan sebegitu rincinya di dalam Al-Qur’an, tentu ada maksudnya. Angka 300 tahun adalah perkiraan lama waktu ke tujuh pemuda tersebut tertidur di dalam gua menurut perhitungan kalender matahari. Sementara 365 adalah jumlah hari dalam satu tahun dalam perhitungan kalender matahari. Kemudian jumlah tersebut dibagi dengan 354 yaitu jumlah hari dalam satu tahun dalam hitungan kalender qomariyah.

Jadi menurut perhitungan di atas lama para pemuda itu tertidur iyalah 309 tahun menurut kalender dangan perhitungan peredaran bulan. Sementara menurut perhitungan kelender tahun matahari lama pemuda tersebeut tertidur iyalah semala 300 tahun.

Wallahu a’alam, kenapa tidak langsung saja di sebutkan menurut jumlah tahun dalam kalender qomariyah. Sesuai dengan tradisi bangsa Arab, kenapa mesti di buat dua versi perhitungan. Mungkin karena peristiwa para pemuda itu terjadi di daerah yang menjadi kekuasaan Romawi, yang mereka menggunakan perhitungan kalender matahari. Sementara Al-Qur’an di turunkan di negara Arab yang menggunakan perhitungan kalender qomariyah.

Penyebutan suatu jumlah waktu dengan gaya bahasa seperti itu tidak hanya di dalam surat Al-Kahf saja. Allah juga menggunakan gaya bahasa yang sama saat memberitahukan umur Nabi Nuh alaihi salam saat berdakwah dengan kaumnya. Terdapat di surat Al-Ankabut ayat 14 “Dan sungguh, kami telah mangutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun, kemudian, mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim”. Dakwah Nabi Nuh selama 950 tahun sesuai perhitungan hari menurut kalender qomariah. Sebab pada saat ayat itu diturunkan di negeri Arab, mereka menggunakan penanggalan dengan perhitungan peredaran bulan. Sementara seribu tahun itu bisa jadi menurut perhitungan kaum Nabi Nuh pada saat itu. Sebab berdasarkan penelitian pada ilmuan, durasi rotasi bumi pada zaman dahulu berbeda dengan saat ini.[1Http://www.astronomicafe.net/qodir/q395:html]

Wallahu a’alam, ada atau tidak adanya perubahan rotasi tersebut, hanya Allah yang mengetahui tentang kepastiannya. Dari hasil penelitian para ilmuan itu bukan sebagai harga mati sebagai penafsiran final Al-Qur’an. Jika pada suatu saat terdapat penelitian yang lebih mutkhir dan bertentangan dengan penemuan sebelumnya maka tidak menggugurkan kemurnian Al-Qur’an sebagai firman Allah. penelitian bisa berubah-ubah tapi firman Allah kekal selamanya.

“Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) itu benar-benar wahyu (yang diturukan kepada) Rasul yang mulia, dan ia (Al-Qur’an) bukanlah perkataan seorang penyair sedikit sekali kamu beriman kepadanyadan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya, ia (Al-Qur’an) adalah wahyu yang diturukan dari Tuhan semsta alam”. QS. Al-Haqqah ayat 40-43, manjadi bukti bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah, bukan perkataan manusia yang penuh kelemahan.

Dan hebatnya lagi, Jumlah keseluruhan kata hingga kata kahfihim pada ayat ke-25 ada 308 kata. dan Itu menjadi awal kalimat selanjutnya ketika Allah menyebutkan lamanya waktu tertidurnya para pemuda di dalam gua. Kalimat “tiga ratus tahun dan di tambah sembilan tahun”, “tsalaasta miatin siniina wazdaaduu tis’an” di awali sebanyak 308 kata sebelumnya.

(penulis. Hadis Mevlana/ed. Zaky Al-haidar)


[1] Http://www.astronomicafe.net/qodir/q395:html

Makna Waadin, Hadiiqah dan Jaan

iqt.unida.gontor.ac.id Kajian rutin ahad malam, masjid jami Universitas Darussalam Gontor, 12 oktober 2020, oleh Wakil Rektor Universitas Darusslam Gontor, Dr. Abdul Hafidz Zeid, M.A. Pada kesempatan kali ini Al Ustadz Dr. Abdul Hafidz Zeid, M.A. membahas beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan menjelaskan Makna Waadin, Hadiiqah dan Jaan, serta mengajak untuk lebih memahami ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Karena menurut beliau salah memahami ayat dalam Al-Qur’an akan berakibat pada penafsirannya

Makna Kata “Waadin

Ayat yang pertama yang beliau bahas adalah surat As-syura ayat 215 juz 19, yaitu:

وَٱخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang -orang yang beriman.”

Qs. As-syura, Ayat 215

Aya diatas menerangkan tentang jalan-jalan kesesatan yang ditempuh para penyair dalam menyusun sya’irnya. Asyuara ini membuat syair yaminan wasyimalan, yaitu tanpa tujuan yang jelas, kadang-kadang mereka memuji apa yang mereka cela, mengagungkan apa yang mereka hina, dan mengakui sesuatu yang pernah mereka ingkari kebenarannya.

Para penyair ini juga sering mengatakan apa yang tidak mereka lakukan. Mereka menganjurkan agar manusia pemurah dan suka memberi, tetapi mereka kikir dan bakhil.

Kemudian allah SWT berfirman, A lam tara annahum fī kulli wādiy yahīmụn, wadin yaitu lembah, seperti lembah Nil, atau lembah-lembah lainnya. akan tetapi apakah yang dimaksud lembah disini artinya lembah seperti apa yang kita lihat?

Kalimat Wadin disini adalah kalimat majas, bahwa mereka berbicara dalam kegelapan, berbicara bukan pada tempatnya, sebagai contoh: mereka mengatakan bahwa Ahmad adalah orang yang bakhil dan kikir, akan tetapi tanpa ada asas atau bukti yang jelas. wadin yaitu lapangan yang luas, jadi mereka berbicara  kemana-kemana, dan berbicara yang tidak benar dalam segala sesuatu.

Makna kata “Jaan”

Adapun Ayat yang  kedua adalah dalam surat an-naml ayat 10, allah SWT berfirman:

وَأَلْقِ عَصَاكَ ۚ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ لَا تَخَفْ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ

Artinya : “dan lemparkanlah tongkatmu”. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku.”

(Q.S An-Naml :10)

Ayat ini adalah rentetan pembicaraan lansung antara allah dan musa dilembah suci Tuwa. Setelah musa diangkat sebagai nabi dan Rasul, allah memerintahkan musa untuk melempaparkan tongkatnya, kemudian musa melihat tongkatnya bergerak, dan musa melihatnya seperti Jann. Kemudian musa lari karena takut, kemudian Allah berfirman “janganlah kamu takut, Sungguh akulah yang mengirimnya.”

Banyak orang berpendapat kalimat jaan adalah jin tapi yang dimaksud adalah yang hidup, yaitu sejenis ular yang sangat gesit geraknya.

Makna Kata “Hadiiqah”

Kemudian ayat ketiga masih dalam surat an-naml ayat 60.


أَمَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَنۢبَتْنَا بِهِۦ حَدَآئِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَّا كَانَ لَكُمْ أَن تُنۢبِتُوا۟ شَجَرَهَآ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُون

Artinya: “Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).”

(Q.S An-Naml :60)

Yaitu kaliamat hadaaiq. apa perbedaan antara Bustan dan Hadiiqah. Bustan  yaitu taman Yang berpagar, Seperti halaman rumah, atau taman kota. Sedangkan yang tidak ada pagarnya itu adalah hadiiqah. Hadiqah disini adalah kebun-kebun yang indah, yang manusia sendiri sama sekali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohon itu.

Kemudian kalimat Ya’diluun. Banyak orang mengatakan ini artinya adalah adil. ‘adlun disini bermakna sesat dari kebenaran atau orang-orang yang benar-benar menyimpang dari kebenaran, dan Ya’dilunn adalah yanharifuun.

Itulah penejelasan Makna Waadin, Hadiiqah dan Jaan yang di sampaikan oleh Dr. Abdul Hafidz Zeid, M.A. pada kesempatan kajian rutin ahad pada 12 oktober 2020, di masjid jami’ UNIDA Gontor.

(Pen.Riski Maulana Fadhilah/IQT3 siman. Ed.Zaky)

Pengertian Qira’at, Riwayah, Thariq, dan Wajh

Iqt.Unida.Gontor.ac.id Al-Qur’an berperan sebagai kitab umat Islam sepanjang zaman, menjadi pedoman bagi kehidupan, juga pusat dari sumber keilmuan. Kemudian as-sunnah sebagai penjelasan dari al-Qur’an. Dalam mengarungi beratnya kehidupan dengan tantangan zaman, kedua sumber ini kaya akan solusi dari segala masalah kehidupan manusia, di dalamnya terdapat perintah dan larangan, juga ilmu yang berlimpah lainnya. Salah satu ilmu dalam Al-Qur’an yang harus kita ketahui adalah Ilmu Qira’at. Oleh karenanya penulis akan mengajak para pembaca yang budiman mengenal pengertian tentang Qira’at, Riwayah, Thariq, dan Wajh

Pengertian Qira’at, Riwayah, Thariq, dan Wajh
Mengenal Definisi Qira’at

Ilmu Qira’at adalah Suatu ilmu untuk mengetahui kesepakatan serta perbedaan para ahli qira’at tentang cara pengucapan lafaz-lafaz dari Al-Qur’an, baik yang menyangkut aspek kebahasan, I’rab, hafz, isbat, fashl, washl, ibdal, yang diperoleh dengan cara periwayatan. Menurut Abd al-Fattah al-Qadi dalam al-Budur al-Zahirah Ilmu Qira’at adalah

“Ilmu yang berbicara tentang tata cara pengucapan kata-kata dalam Al-Qur’an dan metode penyampaiannya, baik disepakati ataupun yang ikhtilaf dengan cara menyandarkan setiap qira’at atau bacaannya kepada salah seorang perawinya”.

Eksistensi ilmu Qira’at sangatlah penting, karena sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa qira’at ini bukanlah ijtihadi para sahabat atau tabi’in akan tetapi tauqifi yang langsung diberikan Allah kepada Rasul-Nya dan disandarkan pada sistem sanad. Didalam ilmu Qira’at terdapat pengertian-pengertian yang harus kita pahami, diantaranya; Pengertian tentang Qira’at, Riwayah, Thariq, dan Wajh

Pengertian Qira’at, Riwayah, Thariq, dan Wajh

Qira’at secara behasa berarti bacaan. Maksud dari istilah ini adalah setiap bacaan yang disandarkan kepada salah seorang Qari’ (Ulama ahli bacaan Al-Qur’an) tertentu. Maka, kita akan mendengan istilah Qira’at Ashim, Qira’at Nafi’, Qira’at Ibnu Katsir, dan lainnya. Mereka adalah para imam yang menjadi sumber qira’at tertentu.

Riwayah adalah sesuatu yang disandarkan kepada perawi atau orang yang mengutip qira’at secara langsung dari Imam Qira’at tertentu. Para Imam Qira’at memiliki murid-murid yang melalui ilmu qira’at tersebar luas. Misalnya riwayah Warasy dari Nafi’, Riwayah Hafsh dari ‘Ashim, riwayah Ibnu Wardan dari Abu Ja’far.

Thariq secara bahasa berarti jalur, jalan. Maksudnya adalah rangkaina sanad (yakni para perawi) yang berakhir pada seorang perawi dari Imam Qira’at atau guru (Syaikh) bacaan Al-Qur’an tertentu. Istilah ini dipergunakan untuk menunjuk apa yang diriwayatkan oleh seorang Qari’ dari generasi lebih akhir (yakni, yang hidup sesudah Rawi pertama dari Qari’ tertentu). Misalnya Tharhq atau jalur al-Azraq dari Warasy, thariq Abu Rabi’ah dari al-Bazzy, thariq ‘Ubaid Ibnu ash-Shabbah dari Hafsh.

Tiga istilah diatas disebut juga dengan khilaf wajib, dengan kata lain seseorang yang membaca al-Qur’an dengan riwayat tertentu harus mengikuti kaeda-kaedah yang berlaku dalam Qira’at, riwayah thariq tersebut.

Sedangkan Wajh secara bebas dapat dimaknai versi atau ragam, yaitu semua bentuk perbedaan atau khilafnya yang diriwayatkan dari Qari’ tertentu, lalu dalam kasus ini seseorang dipersilahkan untuk memilih mana yang akan dibacanya, karena semuanya shahih dari Qira’ tersebut. Namun disandarkan oleh Ibnul Jazari agar kita memilih satu versi saja dalam satu kali pengkhataman.

Yang terakhir ini disebut juga dengan Khilaf Jaiz yaitu perbedaan para qurra dalam memilih bentuk bacaan, seperti bacaan istia’dzah, bacaan basmalah antara dua surah, memilih untuk berhenti secara sukun, roum atau isymama, memilih bacaan dengan kadar panjang ishba’ (panjang) 6 harakat, tawassut (pertengahan) 4 harakat atau qashar (pendek) 2 harakat dalam mad’aridh lissukun.

(Pen.Haila Fardyatullail IQT/7 Mantingan. Ed.Husein)

Riya: Perumpamaannya Dalam Ayat Al-Qur’an

Iqt.unida.gontor.ac.id Perumpamaan riya dalam ayat Al-Qur’an, tentunya pemahaman dan pengkajian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an mempunyai peranan yang sangat besar bagi perkembangan umat. Selain itu juga sebagai cerminan perkembangan metode, corak, maupun karakteristik tafsir. Usaha untuk memahami Al-Qur’an sudah ada sejak masa Nabi dan sampai sekarang pun belum berhenti sampai akhir zaman.

Riya: Perumpamaannya Dalam Ayat Al-Qur’an

Dari ayat-ayat Al-Qur’an mengandung banyak makna yang dapat dijadikan sebagai pedoman ataupun ilmu pengetahuan bagi kita. Seperti hukum Riya dalam bersedakah. Yang mana masih terdapat orang yang belum mengetahui akan hakikatnya sedekah, tanpa harus diumbar-umbar ataupun dipublikasikan.

Hakekat Sedekah

Bersedekah adalah ibadah yang mulia. Dengan bersedekah, Islam mengajak dan mendorong bersedekah sebagai kasih sayang kepada orang-orang yang membutuhkan. Sedekah juga merupakan amalan shaleh yang diperintahakan Allah SWT. Apabila seseorang bersedekah, maka sedekahnya tersebut akan diberi balasan yang tak ternilai dsisi Allah SWT.

Salah satu keutamaan sedekah yaitu, akan mendapatkan naungan dari Allah SWT di akhirat, kemudian dapat mengahapus dosa, dapat memberi keberkahan pada harta, kemudian akan disediakan pintu khusus untuk masuk surga. Dan masih banyak hal lagi keutamaan-keutamaan dari bersedekah.

Namun, apabila seseorang bersedekah dengan niat agar mendatkan pujian dari orang lain, ataupun berniat untuk dlihat oleh orang lain. Alangkah ruginya kita jika berbuat riya , karena Allah SWT akan berlepas dari diri kita dan tidak akan mau menerima amalan kita. Hal ini diterangkan dalam surah Al-Baqarah ayat 264. Yang memperumakan orang yang bersedekah dengan riya makan diperumpamakan seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِي يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٞ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٞ فَتَرَكَهُۥ صَلۡدٗاۖ لَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَيۡءٖ مِّمَّا كَسَبُواْۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٦٤

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS.Al-Baqarah:264)

Isi kandungan surah Al-Baqarah ayat 264 menejelaskan tentang:
  1. Ketika bersedekah jangan menceritakan kepada orang lain, sedekah itu harus ikhlas
  2. Larangan merendahkan perasaan orang yang kita hendak beri dengan menyebut-nyebutkan sedekah kita
  3. Orang yang riya itu dilarang, karena amalan riya tersebut merupakan amalah yang disukai syaitan

(Pen.HalimahTussa’diah IQT/3 Mantingan. Ed.Husein)

Kiat-kiat Menguatkan Hafalan dan Kecerdasan

Iqt.unida.gontor.ac.id Wahai sahabat pembaca yang budiman, berikut ini penulis akan berbagi tips, langkah-langkah atau kiat-kiat mengenai cara menguatkan hafalan dan meningkatkan kecerdasan. Berhubungan dengan itu, tentunya langkah awal yang sangat kondusif ialah memantapkan niat. Mengapa mesti dengan niat? karena niat adalah bagaikan surat, jika anda salah tulis alamat maka pasti akan salah tempat. Berangkat dari sini sebelum melakukan amalan-amalan alangkah baiknya memperbaiki serta memantapkan niat semata-mata karena Allah Ta’ala. Dan jangan lupa selalu istiqomah untuk melakukan amalan-amalan sunnah yang bisa disebut tips dan kiat-kiatnya sebagaimana berikut:

Kiat-kiat Menguatkan Hafalan dan Kecerdasan
Ilustration

Menghafalkan Al-Qur’an itu tidak perlu cepet-cepet dan banyak-banyak dalam sehari…
Namun yang penting tiap hari hafalan tadi dibawa dalam sholat…
Jika tidak dibawa dalam sholat, maka hafalannya mudah hilang…

Kalamun Mufid
Tips dan Kiat-kiatnya adalah:
  1. Membaca Al-Qur’an dengan melihat Mushaf
  2. Perbanyak Dzikir
  3. Perbanyak Sholawat ketika lupa
  4. Memakai siwak
  5. Menipiskan rambut kepala atau gundul
  6. Membaca ayat ke 6 dari surah Al-A’la 7 kali sebelum menghafal
  7. Sering-sering membaca Al-Qur’an setelah sholat maghrib dan
  8. Sering-sering membaca Al-Qur’an setelah sholat shubuh.

Hai nak jika hafalanmu sering lupa…

cobalah perbanyak Sholawat…Lupa lagi…Sholawat lagi…

Terus lakukanlah berulang-ulang…

Ust. H. Syamsul Hadi Untung, M.A., M,Ls. (Dekan Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor)

Demikianlah tips atau kiat-kiat yang bisa penulis sampaikan dan bagikan, selebihnya akan kembali kepada diri kita masing-masing. Oleh karena itu mari bersihkan hati untuk membina diri agar terhindar dari segala macam-macam gangguan ataupun penyakit, maka tutuplah celah-celah jendela yang membuka peluang gangguan untuk masuk. Seperti patah kata berikut ini.

Kenapa anda merasa hati anda kotor dan penuh dengan penyakit hati…
Karena anda biarkan jendela-jendelanya terbuka dan anda biarkan segala kotoroan masuk sampai membuat hati anda menjadi tempat sampah…
Ingat…Jendelanya ada tiga yaitu mata, telinga, dan mulut…

Kalamun Mufid

Harapannya Dengan mengamalkan amalan-amalan sunnah, dan menutup celah atau jendela dari segala penyakit yaitu mata, telingan dan mulut seperti yang dijelaskan di atasa tadi. InsyaAllah mudah-mudahan kita terjaga oleh Allah Swt sehingga memudahkan kita untuk menguatkan hafalan dan meningkatkan kecerdasan intelektual. Aamiin Allahumma Aamiin. Wallahu A’lam Bissawab. (Ed.Husein)

Analisis Tentang Wacana Bias Gender

Iqt.unida.gontor.ac.id Memebahas Analisis Tentang Wacana Bias Gender tentunya dengan besarnya pengaruh ideologi patriarki, Angelina Sondakh adalah salah satu perempuan yang mendapatkan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri dan menunjukkan kemampuannya sebagai seorang perempuan yang berpendidikan. Hal ini memberikan sebuah kekuatan publik yang cukup tinggi terhadap Angelina Sondakh. Angelina Sondakh berhasil menggebrak segala stereotip tentang perempuan yang dianggap lemah. Menyusul kemudian Angelina Sondakh membuktikan bahwa dia adalah kaum intelektual yang terpilih menjadi wakil rakyat di DPR RI. Kekuatan tersebut semakin bersinar karena didukung melalui sebuah partai besar yang sedang berkembang di masa itu. Posisi Angelina Sondakh sedikitnya membuktikan bahwa perempuan juga berhak dan mampu berada pada sektor publik.

Angelina Sondakh dan Bias Gender

Angelina Sondakh dapat dikatakan sebagai seorang perempuan yang mendobrak ideologi patriarki yang selama ini membungkam posisi perempuan. Sehingga sebenarnya, jika dilihat dari hasil analisis wacana, ada bias gender yang cukup ekstrim jika dikaitkan dengan posisi Angelina Sondakh di ruang publik. Perilaku korupsi tentu tidak dapat disetujui oleh siapapun. Pelakunya juga tidak terbatas gender. Perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah selama tidak terjadi ketimpangan atau ketidakadilan gender. Namun yang menjadi persoalan ternyata perbedaan gender telah menghasilkan berbagai ketimpangan yang menjadi sistem dan struktur masyarakat. Kemudian perempuan menjadi salah satu korban dari struktur dan sistem yang terbentuk tersebut. Hal inilah yang disebut dengan bias gender. 

Berita tentang kasus korupsi yang melibatkan koruptor perempuan seperti Angelina Sondakh tidak harus memunculkan persoalan-persoalan lain diluar proses hukum yang melibatkan dirinya. Pemberitaan dalam surat kabar cenderung mendeskripsikan permasalahan yang terjadi dengan penambahanpenambahan cerita lain sebagai bumbu berita tersebut. Terkadang tidak sadar bahwa hal tersebut dapat membentuk realitas sosial yang semakin melekat dalam masyarakat. Terkesan bumbu-bumbu cerita yang tidak seharusnya digunakan dalam pemberitaan berfungsi untuk membuat berita menjadi lebih menarik untuk dibaca. Sifat penelitian ini berada pada level mikro, sehingga analisis data akan membuktikan kecenderungan bias gender dalam kalimat yang digunakan dalam sebuah teks pemberitaan.

Hal ini juga akan membuktikan ideologi ataupun perspektif gender yang dimiliki oleh Kompas. Fakta-fakta kecenderungan perempuan menangis, lemah lembut, tidak berdaya adalah realitas yang telah terhegemoni dalam masyarakat. Penting sekali media membukakan informasi yang dapat membuka wawasan masyarakat dalam persfektif gender. Pemberitaan dalam harian Kompas juga memiliki warna lain, selain dari fokus utama pemberitaan tentang kasus korupsi itu sendiri. Ada hal-hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan perilaku korupsinya yang ditambahkan dalam pemberitaan. Tidak relevan membahas kasus korupsi dari sisi penyebab dengan status atau jenis kelamin. 

Warna Berita harian Kompas

Secara kritis, peneliti menemukan bahwa harian Kompas, walaupun tidak secara dominan telah menjadi sarana dimana kelompok dominan dapat mengontrol kelompok yang tidak dominan. Dalam hal ini, Angelina Sondakh selalu diposisikan sebagai objek pemberitaan. Pemberitaan yang mengandung bias gender tidaklah objektif. Dengan melihat hasil analisis data, dapat dibenarkan bahwa perjuangan kaum feminis wajar diperjuangkan  demi kepentingan hak-hak perempuan. Harian Kompas, dalam menyajikan pemberitaan mengenai koruptor perempuan menampilkan semua proses hukum dengan baik. Namun, dalam kaitannya dalam menampilkan perempuan, harian Kompas juga turut memberikan warna lain dari pemberitaan kasus korupsi.

Dalam pemberitaan di harian Kompas, Angelina Sondakh direpresentasikan sebagai seorang pejabat perempuan yang melakukan tindak pidana korupsi. Pembaca menikmati setiap alur pemberitaan dengan baik tanpa melihat ketimpangan dalam pemberitaan tersebut, pembaca dapat terhegemoni dengan cepat dan akibat hegemoni tersebut, pemikiran akan perempuan sebagai kaum nomor dua tidak akan pernah dapat terselesaikan. Terdapat negosiasi antara pembaca dan penulis, dimana penulis menempatkan posisi pembaca sebagai penikmat alur pemberitaan dan perkembangan kasus korupsi Angelina Sondakh.

Kompas sebagai media massa professional dalam produksi teks berita khususnya mengenai pemberitaan kasus korupsi yang dilakukan perempuan hendaknya tetap menyajikan informasi dengan persfektif adil gender, agar tidak bias dalam menampilkan perempuan. Representasi subjek dalam sebuah pemberitaan akan menghasilkan muatan ideologi tertentu. Diharapkan setiap media massa memiliki sebuah misi pemberdayaan bagi posisi kesetaraan gender. Setiap wartawan juga semakin memperhatikan penggunaan bahasa dalam menulis sebuah berita.Wallahu’Alam Bissawab. (Pen.Safirah IQT Mantingan/Ed.Husein)

Bukti Analisis Tentang Ruh Dalam Tafsir

Iqt.Unida.Gontor.ac.id Kali ini penulis akan mencoba memberikan bukti analisis dengan menjelaskan makna ruh. Term mengenai ruh sendiri memiliki makna beragam dengan ditinjau dari berbagai sudut pandang. Dalam ilmu semantik sendiri memiliki dua cara dalam pendekatan makna, yaitu makna dasar dan makna relasional. Makna dasar ruh yang ada dalam Al-Qur’an ada 6 makna, yaitu wahyu, Jibril, rahmat, Isa, malik, dan hidup. Sedangkan makna dasarnya adalah ruh, angin, dan nyaman. Apabila dikaitkan semua makna tersebut akan menjadi sebuah pengertian, bahwa ruh itu adalah sesuatu yang ghoib, hidup, bersih, dan suci dari segala keburukan, dan menjadikan manusia itu hidup, sehingga dia dapat melakukan kebajikan.

Ruh Menurut Ibnu Ma’dzum

Ibnu Ma’dzum dalam kitabnya mengatakan bahwa Ruh berarti tiupan. dinamakan tiupan karena didalam ruh itu seperti angin, yaitu dzat yang lembut dan bersih yang ada dalam diri manusia. Ruh itu sendiri merupakan dasar kehidupan manusia. Ketika kita membicarakan tentang ruh itu sendiri, kita tidak akan dapat menemukan jawaban yang tepat atau jawaban yang pastitentang ruh itu sendiri. Hal itu dikarenakan bahwasannya ruh tidak dapat dilihat atau dirasakan oleh panca indra. Ruh merupakan ilmu yang tidak mampu dipelajari oleh manusia, seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an tentang ruh:

وَ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُوْحُ قُلِ الرُوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَ ما أُوتِيْتُمْ منَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيْلاً

Memahami makna Ruh

Bukti analisis bahwa Ruh diartikan sebagai wahyu, karena wahyu merupakan sebuah kabar atau berita yang Allah turunkan kepada para Nabi untuk menegakkan kalimat Allah di dunia. Wahyu merupakan sebuah hal yang dikatakan didalam Mu’jam Wasit bahwasannya wahyu berbentuk seperti sebuah suara yang disampaikan oleh Allah SWT lewat Jibril.

Ruh diartikan sebagai sebagai Jibril karena Jibril merupakan salah satu nama malaikat. Dalam agama Nasrani, Jibril disebut sebagai salah satu ketua dari para malaikat. Dalam Islam, Jibril merupakan malaikat yang paling dekat dengan Rasul. Jibril mempunyai pengaruh besar dalam hal sampainya wahyu kepada Rasulullah SAW.

Ruh diartikan sebagai rahmat, karena rahmat merupakan sebuah hadiah atau pemberian dari Allah kepada hambanya. Rahmat artinya adalah kebaikan dan nikmat. Hubungan antara ruh dan rahmat adalah bahwa ruh merupakan perintah dari Allah. Dan rahmat merupakan nikmat dan kebaikan dari Allah. Semua itu menyebabkan pada pergerakan dalam diri manusia.

Ruh diartikan sebagai Isa, karena Isa merupakan salah satu Nabi yang dikirim oleh Allah kepada orang-orang Nasrani. Ketika itu manusia sedang dalam keadaan melenceng, tidak berada pada jalan yang lurus, maka Allah menunjuk Nabi Isa untuk menuntun mereka ke jalan yang lurus. Nabi Isa membawa kitab Injil kepada manusia sebagai wahyu dari Allah.

Ruh diartikan sebagai malik. Malik merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah yang terkenal dengan ketaatan nya kepada Allah SWT. malik merupakan jamak dari dari malaikat.

Ruh diartikan sebagai kehidupan. Kehidupan merupakan sebab hadirnya manusia didunia ini. Kehidupan merupakan kebalikan  dari kematian. Kehidupan merupakan sesuatu yang berbicara. Dan ruh merupakan suatu hal yang menyebabkan sebuah makhluk dapat hidup. Wallahu’Alam Bissawab. (Pen.Sarah IQT Mantingan/Ed.Husein)

Cerita Inspiratif Sahabat Nabi dan Sholat Ashar

Iqt.unida.gontor.ac.id Ada seseorang yang bercerita, dari sebuah Cerita inspiratif bahwa dirinya itu selalu terbiasa dengan sesuatu yang terukur. Hal ini juga terbawa dalam menilai suatu hal yang berkaitan dengan ibadah (misalnya puasa dan sholat) yang selalu ia jalani selama hidupnya. Saat itu ia tahu bahwa tujuan dari ibadah adalah Taqarrub Ilaa Allah agar menjadi manusia yang bertaqwa, maka kemudian ia pun terus mencari apa ukuran seseorang bertaqwa. Ternyata, ukuran taqwa sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 2-5, surat Al Imran ayat 133-135, dan surat Adz-dzhariat ayat 16-20.

Selain tentang keimanan, ia juga menceritakan bahwa ukuran taqwa adalah mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain dan rajin berderma (bersedekah). Dan tentu, menjalankan ibadah yang paling mendasar yaitu sholat yang juga termasuk dalam indikator ukuran atau kriteria orang-orang yang bertaqwa. Jangan merasa dan mengaku bertaqwa apabila masih enggan dan bermalas-malasan saat mengerjakan sholat baik sendiri maupun berjamaah.

Kita sepakat bahwa sholat adalah tiang agama, karenanya ibadah sholat merupakan amalan yang akan dihisab pertama kali ketika yaumil hisab. Tentunya yaumil hisab ialah dimana semua amal perbuatan manusia semasa hidupnya akan diperhitungkan, baik itu amalan yang kecil ataupun amalan yang besar, baik itu amalan yang baik maupun amalan yang buruk. Berangkat dari sini penulis menukil sebuah cerita inspiratif dari seorang guru yang biasa di panggil seorang ustadz, denganya ia mengisahkan tentang seorang sahabat Nabi dan sholat Ashar.

Benarkah Sholat Senilai 47,2 Milyar rupiah?

Umar Bin Khattab Dan Sholat Ashar

Umar bin Khattab adalah sahabat nabi dan pemimpin umat islam ketiga pada era KhulafaUrrasyidin sepeninggal Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar, dimana ia pernah memberikan teladan tentang betapa berharganya sholat berjamaah di masjid. Anaknya Umar yaitu Abdullah bin Umar pernah mengisahkan bahwa sang ayah pernah ketiduran di kebun kurma miliknya sehingga membuat sang ayah terlambat sholat ashar berjamaah di masjid.

Atas keteledoran itu, Umar bin Khattab menyumbangkan kebun kurma yang telah membuatnya terlambat tersebut kepada Baitul Maal untuk dimanfaatkan membantu fakir miskin. Konon, kebun kurma tersebut berharga 600.000 dirham. Saat ini, menurut standar dari Logam Mulia –Aneka Tambang, 1 dirham setara dengan Rp 78.610. Berarti kebun kurma milik Umar bin Khattab yang disedekahkan akibat terlambat ikut sholat Ashar di masjid senilai 600.000 x 78.610 = Rp 47.166.000.000. Apabila dibulatkan menjadi 47.2 milyar rupiah.

Hikmah

Oleh karenanya hikmah yang dapat kita ambil dari cerita inspiratif singkat diatas adalah betapa berharganya sholat Ashar berjamaah di masjid bagi Umar bin Khattab. Padahal hanya terlambat sedikit, bukan mengakhirkan sholat apalagi meninggalkannya.

Ketahuilah bahwa hidup kita benar-benar berpeluang menghasilkan ketaqwaan yang sejati apabila kita sudah menjalankan indikator taqwa, salah satunya adalah memprioritaskan sholat berjamaah.

Perbaikilah sholatmu…

Niscaya akan memperbaiki seluruh amalmu…

Kalamhikmah

Dengan demikian Kalau toh kita tidak bisa seperti Umar bin Khattab, setidaknya kita tidak mengakhirkan waktu sholat apalagi meninggalkannya. (Ed: Husein)

Siraman Rohani Di Tengah Pandemi

iqt.unida.gontor.ac.id Pada malam yang bertajuk family Gathering Universitas Darussalam Gontor. Al ustadz Khasib Amrullah, M.Ud selaku narasumber, telah begitu banyak menyiram siraman yang sangat sarat dengan kesegaran dan kebangkitan. Bak sebuah tanaman yang layu akan segar dengan siraman. Tentunya siraman yang dimaksud ialah siraman rohani penggugah jiwa bagi civitas akademika walaupun sejatinya kini sedang berada pada situasi yang sulit ditengah masa pandemi.

Dalam konteks kekeluargaan, seperti halnya kewajiban keluarga mengingatkan akan kebaikan kepada keluarga yang lainnya. Berikut ini terdapat beberapa poin penting siraman rohani kepada keluarga besar civitas akademika UNIDA secara khususnya.

Poin Penting

Berawal dengan sebuah pertanyaan yang membuka kerangka berpikir.

Apakah selama hidup Anda itu sama saja dengan satu hari?

Al Ustadz Khasib Amrullah, M.Ud

Dari pertanyaan ini mengajak kita agar bermunasabah diri dan mencoba merenung sejenak, karena tidak ada bedanya kita sehari hidup dan beberapa tahun hidup, jika mengulang-ulang kegiatan yang sama tanpa peningkatan. Oleh karenanya carilah kegiatan yang bermutu yang bisa meningkatkan kualitas kita dan jangan sampai membuang peluang kemungkinan hebat kita untuk 20 tahun yang akan datang.

kenapa orang itu mempunyai keinginan (Iradah) ?…

Dan kapan munculnya keinginan (Iradah) dalam diri kita?…

Al Ustadz Khasib Amrullah, M.Ud

Seseorang mempunyai (Iradah) keinginan tentunya karena tidak memiliki pilihan lain, dan amal yang lahir dengan bukan kehendak pasti tidak akan berkualitas. Sedangkan munculnya keinginan (Iradah) dalam diri kita ialah karena adanya sesuatu ketertarikan, dan sesuatu yang menariklah yang akan melahirkan sebuah (iradah) kehendak untuk melakukan sebuah perbuatan sehingga menjadi berkualitas.

Bagaimana membangun sesuatu yang menarik?…

Al Ustadz Khasib Amrullah, M.Ud

Sesuatu yang menarik bisa jadi karena adanya sebuah bisikan, dan dari bisikan itulah yang membangun. Perlu kiranya untuk diketahui bisikan itu ada dua, yaitu bisikan yang membisikkan itu jahat (Waswasa), dan bisikan yang membisikkan itu baik (Ilham atau huda). Maka jika yang membisikkan itu baik akan lahirlah sebuah kekuatan yang baik.

Apa sumber bisikan itu?…

Al Ustadz Khasib Amrullah, M.Ud

Sumber dari bisikan ialah mata dan telinga, contoh kecilnya saja dari telinga dan mata terbiasa mendengarkan dan melihat hal-hal yang tidak baik atau bahkan mendengarkan bisikan tentang makanan, maka secara spontan kita akan mencari tempat makan, restoran, wisata dan kuliner. Sebaliknya jika kita mendengar dan melihat sesuatu informasi yang baik maka yang timbul ialah sesuatu yang jauh lebih bermanfaat dan berkualitas. Oleh karenanya buatlah sesuatu komunitas-komunitas kecil yang membicarakan suatu hal yang berkualitas.

Ada 3 Hal Perusak Dalam Umur

Kecenderungan manusia itu adalah Rusak dan kepada yang kosong yang rusak.

إن السباب و الفراغ والجدة مفسدة للمرء أي مفسدة

Berikut ini perusak dalam umur yaitu:

1.Masamu. Perusak dalam hidupmu adalah masamu. Tidak ada masa yang paling indah dari pada masa yang kalian rasakan ini. Dan solusinya ialah pergunakanlah masa mudamu.

2. Farago dari bahasa arab yang artinya kosong, kosong bukan hanya tidak melakukan apa-apa, begitupun farago dari suatu amal yang tidak berkualitas atau mengerjakan apa-apa yang tidak bermutu. (Min Husni Islamil Mar’i, Tarkuhu Maa laa ya’nihi) Maa laa ya’nihi inilah di sebut dengan Farago karena itu menghabiskan waktu yang tidak berguna.

3. Jiddata Amal yang tidak bermanfaat

Kenapa Al fatihah dibaca setiap kali kita sholat? Karena kita meminta petunjuk kepada Allah SWT, ialah jalan yang benar. Sehingga dari sini timbullah pertanyaan dari seorang kaum liberal “kenapa di islam ada ihdinashirathal mustaqim?… “hingga mereka berargumen “Berarti kebenaran itu belum turun di islam”.

Jawaban dari ust Hamid: ihdinashirathal mustaqim artinya kita meminta untuk menetapkan kebenaran didalam diri kita. Al haqqu min rabbika fala takun minal mumtarin. Misalnya saja handphone yang ada dihadapan kita. Itu banyak sekali mengundang godaan, bahkan media yang membuat kita terjerumus. Sehingga dari sini dapat di ketajui Ujiannya adalah bagaimana kita bisa tetap baik dan melakukan kebenaran.

Sebagai akhir prakata yang di ambil dari nasehat kiyai adalah jangan bosan untuk berbuat baik, karena hal ini sama konteksnya seperti dengan ihdinashirathal mustaqim yakni tidak lain ialah menetapkan kebenaran didalam kehidupan kita. Dan kita tidak ragu-ragu melakukan apapun itu jika kita mempunyai hidayah, petunjuk, dan prinsip.

Dengan demikian bergabunglah bersama orang-orang yang bisa menjadi contoh dan bisa mempelajari dengan melihat biografi, historis hidupnya. Dengan meniru agar supaya kalian tahu bagaimana tokoh tersebut mengisi ilmunya dan pada kegiatan kosongnya. Karena Sejatinya tidak ada kegiatan yang bermutu jika kita tidak mengerti cara membangun diri kita sendiri.

Dimensi Politik dalam Kisah Al-Qur’an

Banyak dimensi dalam kandungan kisah Al-Qur’an salahsatunya dimensi yang berkaitan dengan politik. Sejumlah ayat menerangkan bagaimana hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin, interaksi langsung para Nabi dengan para penguasa zamanya yang mana menguatkan relasi antara Islam dan Politik. Dalam kajian Al-Qur’an ayat-ayat kisah memiliki peranan yang sangat vital, baik dari sisi keberadaan maupun dari sisi ruang. Dari sisi keberadaan, kisah merupakan bagian dari media yang kerap digunakan oleh Al-Qur’an untuk menanamkan pelajaran bagi pembacanya adapun dari sisi ruang ayat-ayat kisah dalam Al-Qur’an yang mencapai sepertiga bahkan dari jumlah dalam Al-Qur’an secara keseluruhan, selain itu beberapa ulama salah satunya al-mawardi turut membahas tentang politik.

Definisi politik juga merupakan seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan, interaksi para nabi dengan sejumlah tokoh politik dari kalangan para penguasa yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Suatu penelitian menjelaskan bahwa teori Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam artian yang luas dalam menjalankan misinya sebagai makhluk yang diberi amanah untuk memakmurkan bumi. Pengertian dari kata politik dapat dikatakan adanya hubungan khusus antara manusia yang hidup bersama, dalam hubungan timbul aturan, kewenangan, perilaku pejabat, legalitas dan kekuasaan, politik juga terbagi menjadi dua yaitu politik yang adil dan politik yang zhalim. Sebuah politik yang adil adalah yang mengeluarkan kebenaran dari kezhaliman dan politik yang zhalim merupakan sebuah praktek yang berdasarkan hawa nafsu semata dan tidak memperdulikan kemudharatan, kerusakan yang menimpa umat.

Islam tidak bisa dipisahkan dengan politik. Diantara beberapa fenomena yang menguatkan hal ini dalam persepektif Al-Qur’an adalah :pertama, Interaksi sejumlah nabi dengan para penguasa zamannya yang diabadikan dalam sejumlah ayat Al-Qur’an. Kedua, Keberadaan sejumlah ayat Al-Qur’an secara eksplisit mengatur hubungan antara rakyat dan penguasanya.

Karakteristik Pemimpin

Dimensi Politik dalam Kisah Al-Qur’an juga menjelaskan tentang bagaiamana karakteristik suatu pemimpin seperti Egalitarianisme kepemimpinan Rasulullah Saw dan juga Diktatorisme kepemimpinan Fir’aun. Egalitarianisme merupakan salah satu karakter penting yang dimiliki oleh politik Islam. Terlalu banyak ajaran Islam yang bermuara pada terwujudnya egalitarianisme, seperti: sikap Islam berkaitan dengan praktek perbudakan di muka bumi ini, sedangkan diktatorisme merupakan musuh kemanusiaan. Islam ketika mensyariatkan konsep musyawarah dalam menjalankan roda pemerintahan, sejatinya Islam hendak memberangus segala bentuk diktatorisme. Maka Bersikap  Tegas bagi seorang pemimpin merupakan sebuah keniscayaan, dikarenakan kemandirian sebuah bangsa diantaranya ditentukan dengan ketegasan sikap pemimpinnya.