Balaghah Qur’aniyyah: Antara Balaghah Arabiyyah dan Balaghah Samiyyah

Sebagai mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Qur’an mengandung keindahan bahasa dan tersusun sedemikian rupa sehingga tidak dapat ditiru oleh pakar di bidang bahasa Arab sekalipun. Bahkan di dalam al-Qur’an tercantum tantangan untuk membuat karangan yang semisal dengan al-Qur’an, seperti pada surah al-Baqarah ayat 23. Namun, tidak ada yang dapat melakukannya.

Balaghah Qur’aniyyah: Antara Balaghah Arabiyyah dan Balaghah Samiyyah

Kemukjizatan al-Qur’an dapat dilihat dari sisi balaghah atau retorika di dalamnya. Dalam bahasa Arab, al-Balaghah diartikan sebagai:

“وضع الكلام في موضعه من طول وإيجاز، وتأدية المعنى أداء واضحا بعبارة صحيحة فصيحة، لها في النفس أثر خلاب، مع ملاءمته كل كلام للمقام الذي يقال فيه، وللمخاطبين به.” [1]

“Penempatan suatu perkataan yang panjang maupun ringkas sesuai dengan letaknya, dan penyampaian maknanya dengan jelas melalui ungkapan yang benar serta fasih, sehingga dapat mempesona jiwa. Penyampaian tersebut disesuaikan dengan tempat di mana perkataan itu disampaikan dan disesuaikan pula dengan lawan bicaranya.”

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, “retorika” diartikan sebagai sebuah studi tentang pemakaian bahasa secara efektif dalam karang-mengarang.[2] 

Hampir sama dengan retorika dalam bahasa Indonesia, kata “Rhetoric” dalam bahasa Inggris berarti the art of using language in impressive way, especially to influence people in public speaking (seni menggunakan bahasa di depan umum dengan cara yang mengesankan untuk mempengaruhi orang-orang yang menyimaknya).[3]

Dari uraian makna dalam tiga bahasa tersebut dapat disimpulkan bahwa retorika berarti tata cara menggunakan bahasa dengan baik dalam bentuk perkataan maupun tulisan agar tepat sasaran dan mengesankan. Retorika dalam al-Qur’an menempati posisi tertinggi sehingga tidak ada yang dapat menandinginya.

Menurut Aqdi Rofiq Asnawi, dosen pengampu mata kuliah Balaghah Qur’aniyyah UNIDA Gontor, pembahasan mengenai balaghah di dalam al-Qur’an dapat dilakukan melalui dua pendekatan: Balaghah Arabiyyah (Retorika Arab) dan Balaghah Samiyyah (Retorika Semit).

“Keduanya mempunyai perbedaan yang signifikan. Dari sisi objek kajiannya, Balaghah Arabiyyah cenderung membahas keindahan kata atau ungkapan dalam bahasa Arab dari segi majas, metafora, perumpaan, sajak, dan lain sebagainya. Sedangkan Balaghah Samiyyah membicarakan susunan kata dalam suatu teks berdasarkan prinsip simetris.” Ungkap lulusan Diploma Tingkat Tinggi dalam bidang Sastra Arab dan Balaghah dari Universitas Islam Madinah ini.

Balaghah Arabiyah telah banyak dikenal dan dipelajari dengan disertai pembagiannya ke dalam tiga ilmu: Ilmu bayan, ilmu ma’ani, dan ilmu badi’. “Sedangkan Balaghah Samiyyah masih terasa asing di dunia akademis, padahal mampu membuktikan koherensi teks al-Qur’an dan kemukjizatannya,” lanjut Aqdi.

Dengan demikian, kemukjizatan al-Qur’an dapat dilihat dari sisi keindahan bahasa pada setiap kalimat dalam al-Qur’an melalui Balaghah Arabiyyah. Sementara itu, kemukjizatan dari segi susunan kata, kalimat, maupun ayatnya dalam diperoleh melalui Balaghah Samiyyah.


[1] ‘Ali al-Jarim, al-Bala>ghah al-Wa>d}ih}ah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 2014), 7.  

[2] Dendy Sugono, dkk., Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), 1308.  

[3] Albert Sidney Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary (Oxford: Oxford University Press, 1995), 1008.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *