BAGAIMANA CARA MENGGAPAI KHUSYU’ DALAM SHALAT

Salah satu tanda muslim-muslimah yang beriman adalah khusyu’ dalam menunaikan ibadah kepada Allah SWT terutama shalat. Kita membutuhkan kesungguhan dan fokus untuk mencapai kekhusyu’an dalam shalat sebagai tiang/pondasi agama Islam. Kesungguhan dalam melaksanakannya dengan fokus kepada Sang Khaliq, Allah SWT. Sebagaimana pemanah yang harus fokus ketika ia akan membidik anak panah menuju satu titik. Sebagaimana pula ketika pengemudi kendaraan harus memfokuskan matanya untuk melihat ke depan tanpa menoleh ke arah lain. Terfokusnya seseorang pada satu titik di depannya itulah yang disebut khusyu’ hanya kepada Sang Maha Kuasa.

BAGAIMANA CARA MENGGAPAI KHUSYU’ DALAM SHALAT
Muslim man prays in mosque

Secara bahasa arti khusyu’ yaitu tunduk, tenang, dan merendahkan diri. Sedangkan menurut para ulama, khusyu’ memiliki arti yang cukup luas yaitu kelunakan hati, ketenangan pikiran, dan tunduknya kemauan yang rendah yang disebabkan oleh emosi dan hati yang menangis ketika berada di hadapan Allah sehingga hilang segala kesombongan yang melekat dalam hati tersebut. Nah bagaimana langkah-langkah khusyu’ dalam sholat.

1. Memahami makna setiap bacaan

Khusyu’ dalam shalat adalah memahami makna setiap bacaannya dan menjiwai setiap gerakannya. Karena shalat bukan hanya sekedar menghafalkan dan melafadhkan bacaannya dan bukan sekedar pergerakan tubuh. Tapi shalat membutuhkan jiwa dan hati untuk mencapai kekhusyu’an.

عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلاً يَبْعَثُ بِلِحْيَتِهِ فِي الصَّلاَةِ فَقَالَ: لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هَذَا لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ. (رواه الترمذي)

Dari Abi Hurairah RA, bahwa Nabi SAW melihat seseorang memainkan jenggotnya ketika shalat. Maka beliau berkata,”Seandainya hatinya khusyu’ maka khusyu’ pula anggota badannya. (HR. Tirmidzi)

2. Merasakah Ketenangan dan Kedamaian

Kekhusyu’an bisa dicapai seorang hamba apabila ia mampu merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hati dan jiwanya, sehingga fikirannya terpenuhi oleh Allah dan juga sikapnya yang selalu menunjukkan kesopanan di hadapan Allah SWT. Seolah ia bisa berdialog dengan-Nya lewat dzikir-dzikir  yang ia lafadhkan dan doa-doa yang ia panjatkan. Hingga ia merenung lama menyaksikan dirinya yang setiap hari mendapatkan nikmat-nikmat Allah yang tak terduga sedang dirinya diliputi oleh dosa-dosa. Sampai pada puncaknya, air mata pun menetes di antara ketentraman hati dan jiwa yang menyambut suasana cinta, takut, khawatir, bercampur malu. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

وَيَخِرُّوْنَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا (الإسراء : 109)

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Israa’: 109). Sehingga secara otomatis, jika hati dan jiwa kita telah khusyu’, maka anggota badan dan lisan kita pun khusyu’ dalam melaksanakan shalat.

3. Fokus

Ada beberapa hal yang menyerupai makna khusyu’, namun jika ditilik lagi ternyata sangat jauh berbeda. Khusyu’ yang berarti fokus menuju Allah hingga merasakan ketentraman lahir batin, bukan berarti keluar dari dunia nyata. Seperti contoh yang telah disebutkan, khusyu’ itu ibarat mengemudi di jalan raya dengan fokus melihat ke depan. Namun fokus yang dimaksud tentu bukan berarti matanya tertutup atau telinga tersumbat sehingga tidak melihat atau mendengar apapun, agar dapat fokus tanpa gangguan. Justru jika hal-hal tersebut dilakukan, maka besar kemungkinan akan terjadi kecelakaan di jalan. Karena apa yang dilakukannya bukanlah fokus, melainkan menutup diri dari semua petunjuk dan lalu lalang di jalan raya.

Jadi, kekhusyu’an dalam shalat itu bukanlah shalat dengan menutup mata, telinga dan menutup diri dari lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, dikatakan khusyu’ jika ia sadar dan peduli dengan apa yang terjadi pada dirinya, lingkungannya, serta situasi yang ada saat itu.

Dengan shalat yang khusyu’ berarti seorang hamba telah menganggap Allah sebagai satu-satunya penolong karena ia sadar akan dirinya yang tak mampu melakukan apapun selain dengan pertolongan-Nya. Dan juga karena ia sadar shalatnya itu bukanlah sekedar perintah Tuhannya untuk dilaksanakan sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan manusia kepada Sang Penciptanya. Sebagaimana firman-firman Allah:

وَقَالُوْا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ   (ال عمران : 173)

“Dan mereka berkata: Cukuplah Allah )menjadi Penolong( bagi kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imron: 173)

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إلاَّ عَلَى الخَاشِعِيْنَ (البقرة: 45)

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS: Al Baqarah: 45)

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ  (البقرة: 153)

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS: Al Baqarah: 153)

4. Sabar dalam menggapai khusyu’

Dari ayat tersebut, shalat dikaitkan dengan sabar. Karena salah satu ciri orang yang khusyu’ dalam shalatnya ialah bersabar, sabar dalam menjalankannya. Karena dengan kesabaran maka akan merasakan ketenangan dan ketentraman lahir batin dalam menjalankan shalatnya (thuma’ninah). Bukan yang tergesa-gesa, yang hanya menjadikan shalat sebagai penggugur kewajiban belaka dan menjadikannya sebagai kewajiban selingan, yaitu sebagai pergantian antara aktifitas satu dengan lainnya.

Sebagai contoh, jika seseorang sedang mengalami rasa lapar yang sangat saat waktu shalat tiba. Maka lebih baik untuk mendahulukan makan dan melaksanakan shalat setelah hilang rasa laparnya, agar dalam melakukan shalat tidak perlu tergesa-gesa karena dililit oleh rasa lapar. Lebih baik makan sambil teringat shalat, daripada shalat sambil teringat makan. Kecuali, jika sanggup menahan rasa lapar sehingga tidak ada gangguan saat melaksanakan shalat, maka boleh menunda makan setelah shalat. Sebagaimana hadist Nabi menyebutkan:

Dari Anas RA, ia berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda: “Apabila sudah dihidangakan makanan malam, maka dahulukanlah makan, sebelum kamu (kerjakan) shalat Maghrib.” (Disetujui oleh Imam Bukhari dan Muslim)

5. Memperoleh tanda-tanda khusyu’

Adapun keutamaan khusyu’ antara lain : ia akan selalu menyegerakan kebaikan, akan beruntung, memperoleh ampunan, mendapatkan pahala yang besar, dan kekhusyu’annya membukakan jalan menuju surga.

Sebagaimana firman Allah SWT:

قَدْ أَفْلَحَ المـُــؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ (المؤمنون: 1-2)

“Telah beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang di dalam shalatnya khusyu’.” (QS: Al-Mu’minun: 1-2)

Juga seperti kisah Nabi Zakaria yang Allah firmankan di QS. Al-Anbiya’ ayat 90:

 “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” Bahwa Nabi Zakaria tertulis sebagai orang yang khusyu’, bukan hanya dalam doanya melainkan seluruh aktifitas kesehariannya.

6. Istiqomah

Maka dari itu, kekhusyu’an dalam shalat kita seharusnya menjadi alat ukur kekhusyu’an dalam ibadah-ibadah kita dan aktifitas lainnya. Bukan hanya menjadi perantara pergantian aktifitas belaka yang justru menjadikan maknanya lebih sempit dan terbalik.

Kunci untuk bisa menjaga kekhusyu’an dalam shalat yaitu dengan mengamalkan secara terus menerus dan mempertahankannya. Mencari cara untuk taqarrub kepada Allah, agar hati yang tersambung terus kepada Allah dengan berdzikir dan menyebut nama-Nya dalam hati dan jiwa. Dan mempertahankannya dalam segala aktifitas yang dijalani sepanjang waktu. Wa Allahu a’lam bisshawab.

Oleh: Riza Nurlaila

Editor : Ilham Habibullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *