6 Proposal PKM Mahasiswa IQT lolos Pendanaan Internal

iqt.unida.gontor.ac.id– Setiap tahun, Universitas Darussalam Gontor mengadakan kompetisi Penulisan karya ilmiah dan menyalurkan dana hibah internal kepada proposal PKM yang terpilih. Pada kompetisi di tahun 2021 ini telah terpilih 26 proposal PKM untuk mendapat dana hibah internal PKM. Dan alhamdulillah atas berkah doa, usah dan atas izin Allah dari 8 proposal yang diajukan oleh perwakilan mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir diantaranya 6 Proposal PKM Mahasiswa IQT lolos Pendanaan Internal unida tahun 2021, dan mejadi prodi dengan jumlah proposal terbanyak lolos pendanaan internal PKM tahun 2021.

adapun 6 Proposal PKM Mahasiswa IQT lolos Pendanaan Internal sebagai berikut

No Skema Ketua Judul
1 PKM-K M. Rafli Rofiki “KOACH”, Produk herbal Celup dengan Pengemasan Kertas Filter Food Grade yang Praktis
2 PKM-K Muhammad Abdi Kurniawan “KORO”, Kripik Lamtoro
3 PKM-GFK Muhammad Khoerul Rizal Ekowisata Gunung Kapur Sampung Ponorogo
4 PKM-KC Ahmad Maulana Akbar Aplikasi Al-Qur’an Tani Informasi Integrasi Al-Qur’an dan Pertanian di Era Sekarang
5 PKM-KC Muhammad Sayuti Kit Edukasi Laboratorium Sains Qur’an “LABSAQU” Sebagai Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Integrasi Al-Qur’an, Sains dan laboratorium
6 PKM-KC Fahmi Akhyar Al-Farabi IoT ( Internet of Things) AQUAPONIK : “Implementasi Abasa Dalam Inovasi di Bidang Pertanian dan Perikanan”

Alhamdulillah Atas izin Allah Prestasi-Prestasi mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir kian waktu kian bertambah. Harapan kedepannya geliat aktivitas penelitian di UNIDA agar lebih hidup dan produktif.

Setiap Prestasi yang ditorehkan tak lain adalah bukti kebermanfaatan serta peran nyata mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dalam berkontribusi untuk bangsa dan agama, ilmu yang tak berhenti hanya pada ranah kelas dan nilai angka tapi juga bermanfaat bagi sesama.

El-Furqon 1.0 “Al-Qur’an Sebagai Solusi Generasi Muda Untuk Menyongsong Masa Depan”

iqt.unida.gontor.ac.id– Al-Qur’an adalah kitab suci yang menjadi pedoman bagi semua manusia disemua bidang kehidupan. Banyak permasalahan yang datang dalam kehidupan, karena pada hakikatnya kehidupan adalah gerakan untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk menghindarinya atau bahkan membuat masalah baru yang merisaukan umat. Mahasiswi sebagai agent of change dapat berperan langsung di kalangan masyarakat kelak dan dapat memberikan inovasi serta kreasinya dalam memajukan bangsa. Oleh karena itu, mereka memerlukan pedoman sebagai rujukan dalam mengatasi segala permasalahan dalam kehidupan, sehingga mereka mampu mengemban amanat serta memajukan bangsa Indonesia. Salah satu sumbangsih mahasiswa dalam hal ini adalah menciptakan lingkup pendidikan salah satunya dengan kegiatan keilmuan. Untuk itulah Himpunan mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) mengadakan El-Furqon 1.0, yaitu suatu kegiatan yang diketuai oleh Wafiq Muthiah Ulya Ibrahim (IQT/4), Ulfa Hanifah (IQT/4) dan Aliefa Rani Iswara (IQT/2),  mencakup didalamnya seminar, serta beberapa macam perlombaan yang melibatkan seluruh mahasiswi UNIDA Kampus Putri.

Acara yang berlangsung pada 3-8 Januari 2021 ini bertema “Al-Qur’an Sebagai Solusi Generasi Muda Untuk Menyongsong Masa Depan” dan dibuka dengan Webinar Nasional dengan pemateri Al-Ustadz Ilham Habibbullah, M. Ag  dan Al-Ustadzah Tsani Liziah, S.Hum, Dipl. Tujuan diadakan El-Furqon 1.0 adalah untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan spiritualitas Mahasiswi dengan cara mengkaji Al-Qur’an lebih dalam dan menjadikannya pedoman di setiap aspek kehidupan dalam lingkup Universitas pesantren. Diambil dari salah satu nama Al-Qur’an Al-Furqon (pembeda), Program Studi IQT berharap dengan diadakannya kegiatan ini, mahasiswi UNIDA dapat menjadi pribadi yang lebih baik yang dapat membedakan antara kebathilan dan kebenaran.

Pada penutupan El-Furqon 1.0, Al-Ustadz Nur Hadi Ihsan, MIRKH, selaku Dekan UNIDA Kampus Putri memberikan apresiasi atas diselenggaranya acara ini. Beliau menyampaikan bahwa dengan dimulainya El-Furqon 1.0 dapat memicu keilmuan kita dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pondasi ilmu dan akhlak kita. Karena Al-Qur’an adalah mabda’ dan mashdar ilmu pengetahuan. (Nindhya Ayomi)

Forum kajian Tafsir (FASSIR) Memahami makna lita’arofu pada surat al hujurat dalam bersosialisasi

http://iqt.unida.gontor.ac.id/ Salah satu agenda rutin yang dimiliki prodi ilmu alqur’an dan tafsir adalah forum kajian tafsir (FASSIR). Pada kajian pekan ini Senin, 21 Desember 2020, Pada kesempatan kali ini, FASSIR mengangkat materi dengan tema “Memahami Makna Lita’arofu Pada Surat Al Hujurat Dalam Bersosialisasi” yang dibawakan oleh Al Ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec. selaku Wakil Rektor III Universitas Darussalam Gontor.

Dalam kesempatan kali ini Al Ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec. mengulas makna lita’arofu pada surat al hujurat dalam bersosialisasi dan beliau merujuk pada Tafsir Jalalain yang ditulis oleh Jalal Al Makhalliy dan Jalal As Suyuti.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

dalam tafsir tersebut dijelaskan manusia memang diciptakan dalam kondisi yang berbeda-beda atau bervariatif, dan dari perbedaan inilah manusia akan saling mengenal. dijelaskan bahwa makna “Min dzakarin wa unsa” bermakna dua, yaitu (Nabi Adam dan Hawa) dan (Laki-laki dan Perempuan), dan adapun Sa’ab adalah kelompok yang paling tinggi di bangsa Arab dan khobail adalah kelompok yang posisinya di bawahnya Sa’ab.

Dalam Bersosialisasi

Dalam bersosialisasi, semua manusia sama dan setara, dan perbedaannya hanya dari segi ketaqwaan. Hal ini bukan untuk sombong dalam bergaul atau dalam pertemanan, karena buah dari ta’arofu adalah akhlaq. Mengutip dari ayat Al Qur’an; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujurat: 13).

Makna Lita’arofu

Penjelasan dari ayat tersebut, yakni;  Diciptakannya manusia berbeda-beda “Li ta’arofu” (untuk saling mengenal). dalam implementasi ta’arofu ini terdapat adab dan cara, dengan ta’arofu seharusnya kita lebih menghargai orang lain, karena tingkat ketaqwaan kita berbeda-beda dan kita tidak akan bisa menilai ketaqwaan orang lain, karena boleh jadi ketaqwaan orang lain jauh lebih tinggi daripada kita. Maka orang mu’min tidak boleh merasa lebih tinggi dan tidak boleh merasa lebih rendah dari orang lain (Inna akromakum ‘indallahi atqokum).

hadist Nabi pernah menjelaskan tentang hal ini yaitu; “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian” (HR. Muslim). 

Letak taqwa ada di dalam hati (tidak terlihat) dan muncul dalam perbuatan sehari-hari. “Taqwa itu adalah ketika kita bisa bergaul dengan siapapun, termasuk dengan orang kafir tanpa mengurangi atau menghilangkan ketaqwaan dan identitas kita sebagai seorang muslim”.

Berbagai perbedaan yang ada di dunia ini adalah tanda kebesaran Allah SWT, seperti perbedaan bahasa yang ada. Asbabun nuzul dari ayat ini adalah kisah Bilal Bin Rabbah, yang mana dia dulunya adalah seorang budak, namun dipilih untuk mengumandangkan adzan oleh Nabi, walaupun Bilal merupakan mantan seorang budak dan berkulit hitam. hal Ini adalah bukti kebenaran Islam dalam keadilan dan kesetaraan, tidak memandang seseorang dari derajat atau pun kulitnya, namun melihat dari ketaqwaan hambanya kepada Allah. sehingga bila dikaitkan dengan konsep toleransi, maka islam telah mengajarkan konsep ini sejak dahulu, sehingga jangan mengajari islam tentang tolernsi, karena dari dulu islam sudah bertoleransi. Justru orang-orang yang tidak beragama lah yang tak bertoleransi. Namun pada zaman sekarang, fakta diputar-balikkan dan justru kita lah yang diajari untuk bertoleransi, lanjut al ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec.

Forum Kajian tafsir (FASSIR) Menguatkan Aqidah dengan Akhlak Qur’ani

http://iqt.unida.gontor.ac.id/ Salah satu agenda rutin yang dimiliki prodi ilmu alqur’an dan tafsir adalah forum kajian tafsir (FASSIR). Pada kajian pekan ini Senin, 21 Desember 2020 , FASSIR menghadirkan pemateri yang sudah ahli dalam keilmuannya yakni Al Ustadz Dr. Asif Trisnani, Lc., M.A. yang membawakan materi “Menguatkan Aqidah dengan Akhlak Qur’ani”.

Pada kesempatan kajian yang diadakan di hall hotel UNIDA ini Dr. Asif Trisnani, Lc., M.A. membahas the living al-qur’an; sebuah qur’anic worldview tentang aqidah dan akhlak. Di awal kajian, beliau menyampaikan akhlak yang keluar dari syariat allah dan istilah revolusi akhlak yang akhir-akhir ini sering muncul. Didalam surat al Qalam ayat 4 yang berbunyi “و إنك لعلى خلق عظيم” yang memiliki maksud bahwasannya akhlaq rasulullah adalah al qur’an. Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar berislam harusnya menghadirkan narasi sebagai dasar kebijakan kita. Keyakinan dan perbuatan harus saling menguatkan, karena keduanya saling mencerminkan antara satu dan lainnya. “Al-Iman wal ‘amalu-sh-sholeh”.

untuk mengidupkan al-qur’an maka perlu tradisi membaca alqur’an yang baik, menganalisa dan mengamalkannya. jika terjadi ketidakseimbangan maka al qur’an dapat menjadi sumber radikalisme karena pemahaman text saja tanpa melihat Riwayat asbabun nuzulnya dan penafsiran ayatnya.

Living Al-Qur’an

Living al qur’an adalah bentuk pendekatan baru terhadap Al-Qur’an itu sendiri. Dan living al qur’an bisa di maknai sebagai teks al qur’an yang hidup dalam diri seseorang karena dipelajari, dibaca dan di amalkan. maka Menguatkan Aqidah dengan Akhlak Qur’ani tercapai ketika al qur’an menjadi dasar perilaku atau akhlak maka kemudian ia akan memperkuat aqidahnya .

Pada salah satu sesi pertanyaan beliau sempat menjawab sebuah pertanyaan tentang bentuk living al qur’an yang berkembang ditengah masyarakat kita bahwa sebagian masyarakat menjadikan nash nash al qur’an sebagai jimat, maka hal ini sudah keluar dari koridor tujuan turunnya al qur’an. Sehingga saat kita temui ada tradisi yasinan setelah kematian maka membaca al qur’annya tersebut diperbolehkan namun pengkhususan waktu membacanya yang perlu diperhatikan. Boleh meyakini bahwasannya suatu ayat mempunyai hikmah atau kelebihan tertentu, apabila ada Riwayat (shohih) tertentu yang menjelaskan dan menguatkan amalan tersebut. Sebagai contohnya adalah keutamaan membaca surat al kahfi di hari jum’at.” Lanjut al ustadz Dr. Asif Trisnani, Lc., M.A.

di penghujung acara beliau menyampaikan pesan yang sangat penting “jangan pernah berfikir bahwasannya al qur’an ini hanya buku sejarah dan buku keilmuan saja namun ini adalah kitab penunjuk.” Tutup al ustadz Dr. Asif Trisnani, Lc., M.A.

TAFSIR SAINS RAHASIA DI DALAM AL-QUR’AN SURAT AL-KAHF : 9-25

Di Ambil Dari novel Ketika Embun Merindukan Cahaya

http://iqt.unida.gontor.ac.id/Teori relativitas Enstein, sebuah teori yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum Enstein mereumuskannya. Seorang ilmuan muslim Yusuf Ibnu Ishaq Al-Kindi, telah meletakan dasar-dasar teori relativitas ini terlebih dahulu. Tertulis di kitabnya Al-Falsafah Al-Ula pada abad ke-9 Masehi. Teori yang berbunyi “sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan tertentu maka benda tersebut akan mengalami dalasati waktu dan mengalami kontraksi panjang”. Dilasati waktu ialah jika suatu benda, makhluk hidup atau apa saja yang bergerak dengan kecepatan tertentu yang mendekati kecepatan cahaya, maka benda tersebut mengalami dilasati waktu atau kontraksi Panjang. Contohnya saat pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta, pasti waktu yang dirasakan sangatlah singkat. Karena mereka sedang asyik menikmati masa-masa kasmaran. Berbeda dengan seorang dari tim gegana yang sedang menjinakkan bom, waktu satu menit bagi mereka akan terasa seperti satu jam lamanya. sehingga artikel ini akan membahas tentang Tafsir Sains Rahasia Di Dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahf : 9-25.

Teori relativitas Enstein, sebuah teori yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum Enstein mereumuskannya. Seorang ilmuan muslim Yusuf Ibnu Ishaq Al-Kindi, telah meletakan dasar-dasar teori relativitas ini terlebih dahulu. Tertulis di kitabnya Al-Falsafah Al-Ula pada abad ke-9 Masehi. Teori yang berbunyi “sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan tertentu maka benda tersebut akan mengalami dalasati waktu dan mengalami kontraksi panjang”. Dilasati waktu iyalah jika suatu benda, makhluk hidup atau apa saja yang bergerak dengan kecepatan tertentu yang mendekati kecepatan cahaya, maka benda tersebut mengalami dilasati waktu atau kontraksi Panjang. Contohnya saat pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta, pasti waktu yang dirasakan sangatlah singkat. Karena mereka sedang asyik menikmati masa-masa kasmaran. Berbeda dengan seorang dari tim gegana yang sedang menjinakan bom, waktu yang mereka rasakan ialah satu menit akan terasa seperti satu jam lamanya. sehingga pembahasan surat Al-Kahfi dengan metode ini akan menjadi Tafsir Sains Rahasia Di Dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahf : 9-25.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Frisc dan Smith. Mereka meneliti sebuah partikel elementer yang disebut Moun. Mereka membandingkan Moun dibumi yang relative diam dengan Moun yang bergerak jatuh ke bumi dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Hasilnya sangat menajubkan, kedua partiket tersebut ternyata memiliki usia yang berbeda usia Moun di bumi memiliki usia 9x lebih tua dibandingkan dengan Moun yang bergerak dengan kecepatan cahaya. Contoh sederhananya, seperti anak kembar yang mana salah satunya pergi keluar angkasa sementara kembarannya tinggal di bumi. Kecepatan pesawat antariksa yang di gunakan salah satu anak kembar tersebut mendekati kecepatan cahaya. Maka 1 tahun yang dilalui salah satu anak kembar dalam pesawat antariksa setara dengan 9 tahun kembarannya di bumi. Contoh lainnya seperti yang di kisahkan di QS. Al-Kahf ayat 9-17 yaitu para pemuda yang tertidur bertahun-tahun di gua. Hal ini bisa saja terjadi karena mereka bergerak mendakati kecepatan cahaya.

Rumus dilasati waktu:                                                                                   

Rumus inilah yang digunakan untuk menganalisis kisah ashabul kahf berdasarkan surat Al-Kahf ayat 9-25

“Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka itu tidur, dan kami bolak-balikan mereka ke kanan dan kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentu kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka” QS. Al-Kahf : 18.

Pada ayat tersebut kita ketahui bahwa para pemuda dalam gua itu tertidur dalam keadaan bergerak. Tuhan telah menggerakan mereka dengan cara membolak-balikannya ke kanan dan ke kiri dengan kecepatan tertentu. Dan kecepatan mereka mestinya sangat cepat sehingga mereka dapat hidup melintasi zaman.

Analisa dan Pembuktian Tafsir Sains Rahasia Di Dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahf : 9-25

Menganalisis sekaligus membuktikan kebenaran cerita ashabul kahfi dalam Al-Qur’an dengan teori-teori ilmuan muslim tersebut. Dengan Rumus itu kita dapat mengetahui berapa kecepatan gerakan para pemuda tersebut. Kisah ketujuh pemuda itu bermula dari ayat ke-9 dan berakhir pada ayat ke-25. Pada ayat ke-9 bisa di mendapatkan informasi bahwa mereka hanya merasakan tidur selama satu hari. Sementara itu, waktu sebenarnya yang mereka lalui adalah selama 309 tahun. Memversikannya menjadi jumlah hari dalam kalender Qomariah. Jika satu tahunnya berjumlah 354 hari maka yang kita dapati ialah 109.386 hari. Jadi :

Jadi kecepatan cahaya yang diketahui akan konstan pada 299.792.458 meter perdetik. dari hasil penjelasan rumus tentang ashabul kahfi itu bergerak mendekati kecepatan cahaya. Artinya mereka telah mengalami dilasati waktu. Selain mengalami dilasati waktu, benda yang bergerak dengan kecepatan tinggi juga akan mengalami kontraksi waktu Panjang. Jadi, saat pemuda tersebut bergerak dengan mendekati kecepatan cahaya maka orang lain hampir tidak bisa melihat wujudnya. Mereka bergerak ke kanan ke kiri bergerak bolak balik. Jika sebuah benda bergerak berlawanan dengan arah semula maka benda-benda tersebut akan mengalami berhenti sesaat sebelum berbalik arah. Pada saat berhenti sesaat inilah terjadi perubahan bentuk pada para pemuda tersebut. Mulai bentuk normal, mengecil, menghilang, membesar, dan kembali lagi ke ukuran semula begitu pun seterusnya. Seperti halnya nyamuk yang mengepakan sayapnya 600 perdetik yang kita pun tidak bisa melihatnya dengan jelas karena kecepatannya yang mendekati kecepatan cahaya yang menimbulkan suara nging,,,, pada nyamuk.

Pada ayat ke-11 dijelaskan bahwa Allah menutup telinga mereka, “Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu”. Gerakan mereka yang sangat cepat mendekati kecepatan cahaya itu menimbulkan ledakan suara. Maka dari itu, Allah melindunginya dengan menutup dendang telinga mereka. Dan sebab itu pula nyamuk tidak memiliki telinga.

Al-Qur’an itu memiliki gaya bahasa yang penuh makna, tidak ada yang sia-sia tiap kata yang tertulis di dalamnya. Allah telah menjabarkan sebegitu rincinya di dalam Al-Qur’an, tentu ada maksudnya. Angka 300 tahun adalah perkiraan lama waktu ke tujuh pemuda tersebut tertidur di dalam gua menurut perhitungan kalender matahari. Sementara 365 adalah jumlah hari dalam satu tahun dalam perhitungan kalender matahari. Kemudian jumlah tersebut dibagi dengan 354 yaitu jumlah hari dalam satu tahun dalam hitungan kalender qomariyah.

Jadi menurut perhitungan di atas lama para pemuda itu tertidur iyalah 309 tahun menurut kalender dangan perhitungan peredaran bulan. Sementara menurut perhitungan kelender tahun matahari lama pemuda tersebeut tertidur iyalah semala 300 tahun.

Wallahu a’alam, kenapa tidak langsung saja di sebutkan menurut jumlah tahun dalam kalender qomariyah. Sesuai dengan tradisi bangsa Arab, kenapa mesti di buat dua versi perhitungan. Mungkin karena peristiwa para pemuda itu terjadi di daerah yang menjadi kekuasaan Romawi, yang mereka menggunakan perhitungan kalender matahari. Sementara Al-Qur’an di turunkan di negara Arab yang menggunakan perhitungan kalender qomariyah.

Penyebutan suatu jumlah waktu dengan gaya bahasa seperti itu tidak hanya di dalam surat Al-Kahf saja. Allah juga menggunakan gaya bahasa yang sama saat memberitahukan umur Nabi Nuh alaihi salam saat berdakwah dengan kaumnya. Terdapat di surat Al-Ankabut ayat 14 “Dan sungguh, kami telah mangutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun, kemudian, mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim”. Dakwah Nabi Nuh selama 950 tahun sesuai perhitungan hari menurut kalender qomariah. Sebab pada saat ayat itu diturunkan di negeri Arab, mereka menggunakan penanggalan dengan perhitungan peredaran bulan. Sementara seribu tahun itu bisa jadi menurut perhitungan kaum Nabi Nuh pada saat itu. Sebab berdasarkan penelitian pada ilmuan, durasi rotasi bumi pada zaman dahulu berbeda dengan saat ini.[1Http://www.astronomicafe.net/qodir/q395:html]

Wallahu a’alam, ada atau tidak adanya perubahan rotasi tersebut, hanya Allah yang mengetahui tentang kepastiannya. Dari hasil penelitian para ilmuan itu bukan sebagai harga mati sebagai penafsiran final Al-Qur’an. Jika pada suatu saat terdapat penelitian yang lebih mutkhir dan bertentangan dengan penemuan sebelumnya maka tidak menggugurkan kemurnian Al-Qur’an sebagai firman Allah. penelitian bisa berubah-ubah tapi firman Allah kekal selamanya.

“Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) itu benar-benar wahyu (yang diturukan kepada) Rasul yang mulia, dan ia (Al-Qur’an) bukanlah perkataan seorang penyair sedikit sekali kamu beriman kepadanyadan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya, ia (Al-Qur’an) adalah wahyu yang diturukan dari Tuhan semsta alam”. QS. Al-Haqqah ayat 40-43, manjadi bukti bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah, bukan perkataan manusia yang penuh kelemahan.

Dan hebatnya lagi, Jumlah keseluruhan kata hingga kata kahfihim pada ayat ke-25 ada 308 kata. dan Itu menjadi awal kalimat selanjutnya ketika Allah menyebutkan lamanya waktu tertidurnya para pemuda di dalam gua. Kalimat “tiga ratus tahun dan di tambah sembilan tahun”, “tsalaasta miatin siniina wazdaaduu tis’an” di awali sebanyak 308 kata sebelumnya.

(penulis. Hadis Mevlana/ed. Zaky Al-haidar)


[1] Http://www.astronomicafe.net/qodir/q395:html

Makna Waadin, Hadiiqah dan Jaan

iqt.unida.gontor.ac.id Kajian rutin ahad malam, masjid jami Universitas Darussalam Gontor, 12 oktober 2020, oleh Wakil Rektor Universitas Darusslam Gontor, Dr. Abdul Hafidz Zeid, M.A. Pada kesempatan kali ini Al Ustadz Dr. Abdul Hafidz Zeid, M.A. membahas beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan menjelaskan Makna Waadin, Hadiiqah dan Jaan, serta mengajak untuk lebih memahami ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Karena menurut beliau salah memahami ayat dalam Al-Qur’an akan berakibat pada penafsirannya

Makna Kata “Waadin

Ayat yang pertama yang beliau bahas adalah surat As-syura ayat 215 juz 19, yaitu:

وَٱخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang -orang yang beriman.”

Qs. As-syura, Ayat 215

Aya diatas menerangkan tentang jalan-jalan kesesatan yang ditempuh para penyair dalam menyusun sya’irnya. Asyuara ini membuat syair yaminan wasyimalan, yaitu tanpa tujuan yang jelas, kadang-kadang mereka memuji apa yang mereka cela, mengagungkan apa yang mereka hina, dan mengakui sesuatu yang pernah mereka ingkari kebenarannya.

Para penyair ini juga sering mengatakan apa yang tidak mereka lakukan. Mereka menganjurkan agar manusia pemurah dan suka memberi, tetapi mereka kikir dan bakhil.

Kemudian allah SWT berfirman, A lam tara annahum fī kulli wādiy yahīmụn, wadin yaitu lembah, seperti lembah Nil, atau lembah-lembah lainnya. akan tetapi apakah yang dimaksud lembah disini artinya lembah seperti apa yang kita lihat?

Kalimat Wadin disini adalah kalimat majas, bahwa mereka berbicara dalam kegelapan, berbicara bukan pada tempatnya, sebagai contoh: mereka mengatakan bahwa Ahmad adalah orang yang bakhil dan kikir, akan tetapi tanpa ada asas atau bukti yang jelas. wadin yaitu lapangan yang luas, jadi mereka berbicara  kemana-kemana, dan berbicara yang tidak benar dalam segala sesuatu.

Makna kata “Jaan”

Adapun Ayat yang  kedua adalah dalam surat an-naml ayat 10, allah SWT berfirman:

وَأَلْقِ عَصَاكَ ۚ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ لَا تَخَفْ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ

Artinya : “dan lemparkanlah tongkatmu”. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku.”

(Q.S An-Naml :10)

Ayat ini adalah rentetan pembicaraan lansung antara allah dan musa dilembah suci Tuwa. Setelah musa diangkat sebagai nabi dan Rasul, allah memerintahkan musa untuk melempaparkan tongkatnya, kemudian musa melihat tongkatnya bergerak, dan musa melihatnya seperti Jann. Kemudian musa lari karena takut, kemudian Allah berfirman “janganlah kamu takut, Sungguh akulah yang mengirimnya.”

Banyak orang berpendapat kalimat jaan adalah jin tapi yang dimaksud adalah yang hidup, yaitu sejenis ular yang sangat gesit geraknya.

Makna Kata “Hadiiqah”

Kemudian ayat ketiga masih dalam surat an-naml ayat 60.


أَمَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَنۢبَتْنَا بِهِۦ حَدَآئِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَّا كَانَ لَكُمْ أَن تُنۢبِتُوا۟ شَجَرَهَآ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُون

Artinya: “Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).”

(Q.S An-Naml :60)

Yaitu kaliamat hadaaiq. apa perbedaan antara Bustan dan Hadiiqah. Bustan  yaitu taman Yang berpagar, Seperti halaman rumah, atau taman kota. Sedangkan yang tidak ada pagarnya itu adalah hadiiqah. Hadiqah disini adalah kebun-kebun yang indah, yang manusia sendiri sama sekali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohon itu.

Kemudian kalimat Ya’diluun. Banyak orang mengatakan ini artinya adalah adil. ‘adlun disini bermakna sesat dari kebenaran atau orang-orang yang benar-benar menyimpang dari kebenaran, dan Ya’dilunn adalah yanharifuun.

Itulah penejelasan Makna Waadin, Hadiiqah dan Jaan yang di sampaikan oleh Dr. Abdul Hafidz Zeid, M.A. pada kesempatan kajian rutin ahad pada 12 oktober 2020, di masjid jami’ UNIDA Gontor.

(Pen.Riski Maulana Fadhilah/IQT3 siman. Ed.Zaky)