Penanganan pandemi Covid 19 dalam worldview Islam

Dalam penanganan pandemi covid 19, anjuran untuk cuci tangan, jaga jarak, dan pakai masker, bahkan sudah kita hafal. Banyak juga poster besar di berbagai kota yang menambahkan, selain ketiga anjuran tersebut, dengan selalu berdoa. Meski kebanyakan tidak. Bagaimana negara yang menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dalam dasar negaranya, penurunan kasusnya tidak cukup signifikan

Penanganan pandemi Covid 19 dalam worldview Islam

Peran lembaga Agama di negeri ini juga sebenarnya cukup besar. Seperti terus bergulirnya berbagai fatwa dari Majlis Ulama Indonesia, dan Organisasi besar Agama di Indonesia. Kalau kita simpulkan, peran agama baru sebatas, kebijakan prosedur kegiatan sosial, penenang masyarakat, dan pendukung program pemerintah.

Kalau kita bertanya. Bisakah Islam mencegah, mengobati, bahkan menjadi solusi inti dalam penanganan pandemi Covid 19. Sebelum mengelaborasi terlalu jauh. Ada baiknya kita elaborasi dahulu paradigma sains dan agama dalam worldview Islam.

Antara sains dan Agama

Dr. Syamsuddin Arif dalam Jurnal Tsaqafah menjelaskan bahwa sains sebenarnya adalah filsafat. Dan awalnya, filsafat adalah pengetahuan tentang alam semesta, hewan, tumbuhan dan segala hal. Dahulu hubungan antara filsuf dan saintis sangat erat, bahkan apa yang disebut filsuf juga saintis. Namun situasi menjadi memburuk ketika pengetahuan hanya sebatas logical positivism dan logical empiricism sebagaimana yang dipelopori oleh Bertrand Russel, Alfred Jules Ayer, Ludwig Wittgestein, dan Rudolph carnab[1].

Lebih detilnya, sains adalah apa yang bisa diprediksi (predictable), diukur (measurable), dihitung (caountable), diulang (repeatable). Sehingga pengetahuan tentang sains merupakan pengetahuan objektif, bisa diverifikasi secara indrawi.

Karena Sains base evidencenya adalah fisik. Sehingga bisa diverifikasi secara objektif. Objektifitas inilah yang membuat sains akhinya didaulat menjadi common consensus. Sedang Agama, dalam pandangan sekuler, adalah privat. Sehingga pengetahuan yang dihasilkan subjektif. Maka agama tidak bisa menjadi common consensus, bahkan common value.

Di banyak perguruan tinggi di dunia, agama masuk dalam cluster sosial dan humaniora. Karena ia dianggap sebagai fakta sosial, yang hanya bisa diverifikasi secara historis, sosilogis, antropologis, dan psikologis. Karena Agama bukan pengetahuan objektif dalam konstruk epistemologis.

Maka tidak berlebihan jika Albert Einstein mengatakan bahwa agama tanpa sains itu buta, dan sains tanpa agama itu lumpuh. Dalam diskusi Insists Saturday forum, Dr. Meity Elvina, dalam Kedokteran funsional dan kedokteran integratif dalam perspektif Islam, menjelaskan bahwa kedokteran modern sangat reduksionis. Atau dalam penanganannya dokter hanya melihat aspek klinis. Yang berbeda dengan kedokteran zaman dahulu yang selalu mengacu pada keseimbangan alam atau natural balanching. Maka harusnya penanganan pandemi covid 19 harus ditangani secara integratif, yang mencakup seluruh elemen penting dalam world view Islam.

Peran Islam

Jika ada pertanyaan, bisakah tahajjud, misalnya, meningkatkan kesembuhan pasien. Sebelum dijawab, orang akan bertanya, bagaimana memverifikasi tahajjud. Apalagi menghubungkan dengan kesembuhan pasien. Maksimal saintis hanya akan menghubungkan dengan pengaruh pikiran positif dalam ibadah terhadap kesembuhan.

Dalam diskusi insists Saturday night. Dr. Nirwan Syafrin, dalam diskusi Ilmu Kalam sebagai basis pengembangan sains Islam, menggambarkan, meski pengetahuan agama tidak fisikal, tapi bisa diverifikasi secara epistemologis. Artinya agama sendiri sebenarnya juga bisa diprediksi (predictable), diukur (measurable), dihitung (caountable), diulang (repeatable).

Bahkan sholat saja, menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam buku barunya Minhaj, memiliki verifikasi yang jelas. Rusaknya manusia, bahkan peradaban, bisa diverifikasi lewat kualitas solat. Dan hancurnya manusia bahkan peradaban bisa diverifikasi lewat rusaknya sholat.[2]

Logika sederhananya begini, orang yang jahat misalnya, dia bisa baik, asal baik sholatnya. Teori ini bisa diuji ulang (repeatable) kepada orang lain yang ingin baik. Bahkan bisa diukur (measureble) kualitas kebaikannya lewat kualitas sholatnya.

Solusi penanganan covid 19 di tanah air

Jika kita kembali kepada penanganan covid 19 di tanah air. Ustadz. Shohibul Mujtaba, dosen Aqidah dan Filsafat UNIDA Gontor memberikan 7 langkah yang lebih komprehensif dalam Tips Mencegah dan Mengobati Virus Covid-19, diantaranya adalah tetap bersyukur dan bersabar dalam segala keadaan, menjaga konsistensi dalam membaca alQuran.[3] Menguatkan doa, untuk kesehatan dan keselamatan kita[4]. Memperbanyak istighfar[5], merutinkan sedekah[6], silaturrahim dengan menyesuaikan kondisi (offline/online). Karena silaturrahim bisa memanjangkan umur, dan makna dari ‘panjang umur’ adalah hidup yang sehat.[7] Baru menaati protokol kesehatan (Physical distancing, masker, cuci tangan, olah raga, meningkatkan imun), dan yakin bahwa setiap penyakit ada obatnya.[8]

Begitu juga dengan penanganan pandemi covid 19 di Pondok Pesantren Gontor yang extraordinary dalam menyatukan sains dan agama. Maka wajar jika dalam laporannya, Ustadz. Adib Fuadi Nuriz, M.A, dalam kasus covid 19 di Pondok Pesantren Gontor mengalami kemajuan yang signifikan. Dengan sembuhya 21 santri santri[9] pada 18 Juli 2020, sejak laporan pertama 2 kasus pada 7 Juli 2020[10], merupakan perkembangan yang cukup cepat. Jika dibandingkan dengan penanganan kasus di tanah air yang terus naik di berbagai kota.

Bagaimana bangsa yang berKetuhanan Yang Maha Esa justru melewati China yang komunis dalam penanganan pandemi covid 19[11]. Mungkinkah gugus tugas penangan covid di negri ini menjadikan olah fikir, olah zikir dan olah rasa dalam menurunkan kasus covid 19. Wallahu A’lam


[1] Lihat dalam Filsafat Islam antara tradisi dan kontriversi, Jurnal taqafah, Vol. 10, No. 1, Mei 2014

[2] Hamid fahmy Zarkasyi, Minhaj dari ritual hingga intelektual,

[3] Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zhalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian. -Surat Al-Isra’, Ayat 82

[4] لا يردُّ القضاءَ إلَّا الدُّعاءُ، ولا يزيدُ في العمُرِ إلَّا البرُّ. رواه الترمذي، وقال حديث حسن غريب.

Tidak ada yang bisa mengubah ketentuan (qadha’) Allah, kecuali doa, dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali amal kebajikan.

[5] Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan. -Surat Al-Anfal, Ayat 33

[6]

داوُوا مرضاكم بالصَّدَقةِ. رواه البيهقي، قال الألباني: حسن

Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.

[7]

مَن سَرَّهُ أنْ يُبْسَطَ له في رِزْقِهِ، أوْ يُنْسَأَ له في أثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ. رواه البخاري

Siapa yang senang, rizkinya diperluas/dipermudah dan umurnya diperpanjang (dalam keadaan sehat), maka bersilaturrahim lah.

[8] تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ. رواه أبو داود واللفظ له، والترمذي وقال حديث حسن صحيح.

Berobatlah, karena sesungguhnya Allah SWT tidak menciptakan suatu penyakit, kecuali telah menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit, yakni (penyakit) tua.

[9] https://satgascovid19.gontor.ac.id/lagi-11-santri-gontor-2-positif-covid-19-sembuh-total-pasien-sembuh-menjadi-21-orang/, diakses pada tanggal 19 Juli 2020

[10] https://surabaya.liputan6.com/read/4307529/santri-pondok-gontor-2-terinfeksi-covid-19-bertambah-15-orang, diakses pada tanggal 19 Juli 2020

[11] https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200718160704-106-526200/update-corona-18-juli-kasus-covid-19-indonesia-lewati-china, diakses pada tanggal 19 Juli 2020.

Filosofi ibadah

Filosofi ibadah adalah filosofi aktifitas manusia. karena definisi ibadah seluruh aktifitas manusia yang dicintai Allah. Manusia sering melihat aktifitasnya secara untung rugi. Padahal ia memiliki aspek transenden filosofis, yang tidak hanya kembali kepada pelaku, namun juga mengenalkan pelaku kepada esensi hidupnya.

Filosofi ibadah

Banyak motivator menganjurkan untuk bekerja sesuai hobi. Diantara manfaatnya produktifitas meningkat, tidak memikirkan gaji, tidak mengeluh, dan kemampuan diri meningkat. Namun di dunia banyak orang bekerja tanpa hobi. Bisa jadi karena terjebak ekonomi atau terjebak keadaan. Seperti orang yang batal ke Oxford karena tidak ada lagi yang merawat ibunya yang sakit menahun.

Bagi saya ada empat hal soal hobi. Pertama : apa yang kita senangi, sejatinya, adalah relatif. Ada orang hobi mancing, namun ketika mancing menjadi sebuah profesi, terkadang terasa hambar. Mungkin berbeda dengan orang yang sibuk bekerja di kantor yang hobi mancing, saat weekend betapa menikmati hobinya.

Kedua : apa yang kita benci, sejatinya, juga relatif. Banyak orang menjalani sebuah profesi dengan paksaan. Namun perlahan ia mulai menyukai pekerjaannya dan menemukan passionnya.

Ketiga : kita sering mengasumsikan senang terhadap pekerjaan. Dan menekuni hal itu. Padahal belum tentu itu passionnya. Atau belum tentu itu panggilan hatinya. Seperti orang yang suka futsal, tapi tidak ada perkembangan meski berkali-kali main. Bisa jadi dia suka bola tapi tidak bisa main bola. Atau dia suka futsal karena faktor sekunder, seperti senang kumpul atau senang manfaatnya untuk kesehatan dsb.

Keempat : apa yang disebut bakat dari lahir. Sebenarnya masih debatable dalam teori psikologi. Karena manusia sering terbentuk dari faktor luar. Tidak ada gen pemusik, gen pemain bola, gen penyanyi dsb.

Kaitan ibadah dengan kebahagiaan

Trus bagaimana dengan proyek besar kita untuk mewujudkan mimpi selama ini. Apakah perlu ditegakkan. Ada orang yang sering fokus dengan mimpi. Tapi secara tidak sadar dia telah menciptakan masyarakat atau tatanan sosial yang egois.

Ada orang yg merasa hobi fotography, tapi karena ortunya menginginkan lain. Akhirnya menjadi konflik seumur hidup dengan ortunya. Ada yang ingin ke luar negeri. Namun karena desanya membutuhkannya untuk membangun, dia meninggalkan desanya, dan desanya menjadi rusak.

Jika kita kembali ke poin 1 dan 2. Persoalan senang dan tidak, sebenarnya, bukan faktor eksternal, tetapi internal. Dalam teori kebahagiaan. Orang barat sering menganggap bahwa happiness is inside in yorself. Atau sebenarnya bahagia itu dari dalam bukan dari luar. Bahagia bukan terletak di objek (pekerjaan, benda, dsb), tetapi di jiwa, dan bisa ditemukan

Lebih jauh tentang kebahagiaan

Lebih jauh, Islam menjelaskan bahwa, kebahagiaan itu diturunkan oleh Allah. Huwalladzi anzala al-sakinata fi qulub al-mukminin. Dialah Allah yang menurunkan kedamaian dalam hati orang-orang yang beriman.

Banyak orang yang menjalani profesi, karena tuntutan dan keadaan, dan bukan dari hobi atau kesenangan, namun karena dia ikhlas, akhirnya dia menemukan panggilan hatinya, menemukan passionnya, dan menemukan kebahagiaan.

Sebenarnya konsep meraih mimpi itu tidak sepenuhnya salah. Tapi yang salah cara pandang kita. Kita merasa memiliki suatu mimpi dan melawan keadaan demi mewujudkan mimpinya. Karena cita-cita yang sejati sebenarnya tidak ada konflik kanan kiri, berlaku integral dan holistik

Jika manusia dibiarkan mengikuti keinginannya sendiri-sendiri alangkah egoisnya dunia. Bencana kelaparan, kemiskinan, kebodohan, buta huruf, dan terutama buta agama akan merebak. Karena kita fokus pada diri sendiri dan tidak memikirkan sekitar.

Maka sudah pas jika Allah hanya menyuruh kita untuk beribadah. Adzariyat 56. Artinya manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah. Bukan menuruti egoisnya. Kita bisa lihat mentari yang terus bersinar, sungai mengalir, terjadinya berbagai musim. Karena alam semesta lebih memahami perintah Allah untuk bersujud (ibadah). Maka kesenangan belum tentu patokan, karena filosofi ibadah justru memahamkan manusia esensi hidup.

Wallahu a’lam

Epistemology Pandemi

IQT.unida.gontor.ac.id. Di masa pandemi ini. Kita sering atau selalu mendapat empat model informasi. Ada yang meremehkan, ada yang menakut-nakuti atau melebih-lebihkan, ada yang memghimbau tetap waspada, dan ada yang menenangkan.

Epistemology Pandemi

Dua model pertama kebanyakan hoax, dan konspiratif, dan biasanya datang dari orang yang tidak atau kurang bertanggung jawab. Sedang ketiga biasanya datang dari pakar yang terdiri dari para medis, virolog, lembaga pemerintah dan sebagainya. Sedang keempat, biasanya datang dari agamawan, sosiolog, antropolog, budayawan yang bertanggung jawab tanpa ikut campur terlalu jauh tentang apa yang bukan keahliannya dalam kasus pandemi covid 19.

Namun ada problem filosofis yang cukup besar dalam menyumbang kebingungan sebuah berita. Secara tidak sadar kita sering terdoktrin bahwa pengetahuan itu tidak mungkin atau knowledge is impossible. Maka ada kelompok skeptik atau menganggap semua berita adalah salah. Sehingga semua informasi tentang virus corona itu salah semua. Kelompok ini biasanya ignorant dan cenderung menganggap remeh.

Kelompok kedua adalah relatifis atau semua berita tentang virus corona itu benar semua. Meski bertentangan satu sama lain, akan selalu menganggap bahwa semua berita tentang virus corona itu benar semua. Tergantung dari sudut pandang mana melihatnya.

Efek dari kedua pandangan ini adalah kekacauan informasi atau cognitif information. Atau tidak ada lagi garis demarkasi antara yang benar dan yang salah. Kaum milenialis banyak yang menganut cara pandang seperti ini. Dan biasanya hanya memberi solusi, seperti : meski manusia tidak mampu mencapai yang benar setidaknya pengetahuan bisa mendekati kebenaran.

Bagaimana cara mengetahui informasi yang benar?

Pengetahuan itu sebenarnya tidak mustahil atau knowledge is possible. Manusia sebagai ciptaan Allah SWT yang sempurna dibekali akal untuk mengetahui (al-ilm) dan mengenal (ma’rifah), memilih (ikhtiyar) dan memilah (tafriq), membedakan (tamyiz) antara yang benar dan yang salah. Maka sangat mungkin sekali manusia bisa mengetahui informasi yang benar dan yang salah tentang virus corona.

saya meminjam istilah dalam ilmu hadits. Berita bisa dikatakan benar jika disampaikan secara mutawatir atau disampaikam melalui redaksi yang banyak dari para pakar dan tidak ada satu proposisi yang menyelisihi. Seperti corona itu ada. Atau corona itu berbahaya. Corona itu ada yang bisa sembuh. Corona bisa menular dan sebagainya. Tanpa ada informasi yang menegasikan bahwa corona itu tidak ada. Corona itu menguntungkan dan sebagainya.

Yang kedua adalah berita yang benar atau khabar shohih. Atau berita yang datang dari satu sumber namun disampaikan oleh orang yang terpercaya baik keahlian maupun integritas personalnya. Seperti, menurut hasil dari tes PCR anda dinyatakan positif corona. Berita ini tentu berbeda kualitasnya jika dibandingkan dengan, menurut seorang dukun anda positif corona.

Bagaimana jika berita itu berbeda. Jika perbedaannya masih bisa disatukan. Maka kita mengambil metode al jam’ atau mengambil dua informasi sekaligus seperti dalam teori Ushul al-fiqh. Seperti satu informasi menyatakan bahwa virus corona bisa menular lewat airborne, sedang informasi berikutnya tidak menular lewat airborne. Dua informasi yang berbeda tersebut bisa diklarifikasi bahwa penularan virus corona lewat airborne hanya pada kasus tertentu seperti uap aerosol orang yang menderita covid 19 yang sedang diuap. Sedang pada alam bebas virus corona tidak tersebar melalui airborne tetapi melalui droplet.

Jika info itu tidak bisa disatukan. Maka kita bisa mengambil salah satu yang lebih valid. Seperti jika ada seorang virolog yang menyatakan bahwa covid 19 tingkat bahayanya sangat rendah. Sedangkan kebanyakan pakar menyatakan bahwa tingkat bahaya dari covid 19 sangat tinggi dan kemungkinan bisa bermutasi dengan cepat. Maka tentu kita lebih memilih pernyataan yang lebih banyak dari pakar medis dan virolog ketimbang pernyataan satu orang meskipun pakar kompeten.

Penutup

Manusia dalam memahami pandemi covid 19 ini terbagi menjadi empat macam. Pertama adalah mereka yang paham. Atau rojulun yadri wa yadri annahu yadri. Mereka adalah para pakar baik dari himpunan medis dan virolog. Maka kita wajib mengikutinya. Kedua adalah mereka yang tidak paham atau orang awam. Mereka wajib untuk diberitahu informasi yang benar.

Kelompok ketiga adalah mereka yang salah paham. Bisa dari seorang pakar, melenialis, politikus yang cukup tahu informasi tentang pandemi covid 19 dengan berbagai tingkat pengetahuannya. Namun mereka salah dalam mencerna informasi. Nah. Orang seperti ini wajib diingatkan dan dinasehati. Yang keempat adalah mereka yang gagal paham. Mereka hampir sama dengan kelompok ketiga. Bisa dari pakar, milenialis, pilitikus, sosiolog yang salah dalam memahami fenomena pandemi covid 19. Namun mereka merasa benar, susah diingatkan. Dan suka membuat berita yang salah dan justru membuat kasus pandemi covid 19 ini semakin parah. Maka orang seperti ini segera tinggalkan. Jauhi. Dan katakan kepada mereka: Salamun alaukum la nabtaghi al jahilin. Wallahu A’lam.

Momentum Menjelang Ramadhan : Antara lagu Aisyah dan Puisi Ulil Abshar

Dalam momemtum menjelang Ramadhan ini, belum terputus jutaan pendengar menikmati bait syair tentang Aisyah. Muncul puisi Ulil Abshar tentang “Paskah”. Yang membuat umat Islam yang harusnya fokus meningkatkan imunitas tubuh ini, menjadi double fokus atas kontroversi puisi itu.

Lagu Aisyah yang begitu viral di media sosial. Tidak hanya booming karena liriknya yang bagus atau suara vokalisnya yang merdu. Namun masyarakat kita, ternyata, bisa jadi, sangat tinggi sens relijiusnya. Terlebih yang digambarkan dalam lagu itu adalah sosok panutan, baginda Nabi Muhammad SAW dan Ummahatul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar ra. Ditambah lagi penggambaran sisi romantis yang ekspresif dengan alam milenial, yang sekaligus sebagai kritik moral terhadap milenialis yang sudah terbiasa dengan pergaulan bebas.

Namun juga perlu menjadi kesadaran bersama beberapa kalangan yang keberatan dengan sejumlah lirik yang sangat fisikal dan romantisme gaya milenial dalam lagu itu. Karena kalimat nabi main lari-lari, menurut seorang kolumnis yang bernama Ahmad Asad, akan tergambar di bayangan anak muda seperti Syakh Rukh Khan yang main kejar-kejaran dengan Aiswaryai Rai Bachchan dalam film Mohabbatain.

Padahal narasi haditsnya adalah lomba lari. Dan kalimat lomba lari bisa aneh jika dituliskan dalam lirik lagu itu. Kita boleh tidak setuju. Namun kebesaran simbol keagamaan kadang tidak mudah bagi sebagian saudara kita, jika harus diungkapkan dengan sebuah lagu yang terlalu fisikal dan romantisme gaya milenial.

Kontroversi Puisi Ulil Abshar

Dalam momentum yang sama. Muncul juga puisi Ulil Abshar Abdalla yang berjudul “Paskah”. Puisi yang dalam klarifikasinya Ulil sendiri, ditulis 7 tahun silam di sebuah twitter dan dibawakan kembali oleh sosok santri remaja itu sangat kontroversial. Bahkan Prof. Dr. Rachmat Wahhab, mantan pengurus PWNU Yogyakarta menentang dengan keras bahkan puisi itu sudah menginjak-injak NU dan Umat Islam.

Dalam klarifikasinya, Ulil juga menyatakan kejelasannya dalam soal Aqidah. Namun secara dualis Ulil juga apresiatif dengan ritual keagamaan Kristen seperti dalam baitnya : “Mereka bertengkar tentang siapa yang mati di palang kayu. Aku tak tertarik pada debat ahli teologi. Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.”

Momentum Menjelang Ramadhan : Antara lagu Aisyah dan Puisi Ulil Abshar

Namun di akhir klarifikasinya Ulil agak aneh dalam menganalogikan dirinya sebagai sosok lunak di kalangan NU. Kata Ulil, dulu Mbah Hasyim saja pernah berdebat dengan Kiyai Faqih Maskumambang dalam soal boleh tidak kentongan atau al-naqus dalam memanggil sholat.

Keinginan Ulil dalam menggunakan terma keras dan lunak sebagai sebuah dinamika mungkin bisa kita terima. Namun sikap dualis para ulama nusantara tidak pernah kita temukan. Bahkan para ulama sendiri sangat tegas dalam masalah Aqidah. Bahkan dalam kajian Studi Agama di UNIDA Gontor dan kebanyakan perguruan Tinggi Islam, yang ditempuh adalah sebatas kajian objektif, bukan bentuk apresiasi yang berlebihan.

Sikap dualis dalam mendudukkan Agama tentu akan melahirkan dikotomi secara intern dan substansial dalam agama itu sendiri. Misalnya saya sebagai seorang muslim berakidah Islam namun saya sangat mengapresiasi perayaan Paskah. Aqidahnya jelas, namun wala wa al-bara’nya dipertanyakan.

Kita tahu segala bentuk kemusyrikan itu dimurkai Allah. Tapi disisi lain kita apresiasi dengan kegiatan kemusyrikan. Pernyataan ini mirip dengan : Kita harus lawan koruptor namun di saat yang sama, kita juga harus mengapresiasi kegigihan koruptor dalam menggerogoti uang negara

Aspek hermeneutis puisi

Dalam pembelaan yang lain. Ada penulis yang menjelaskan secara hermeneutis kalau ekspresi puisi harusnya tidak dihukumi sama dengan statemen biasa. Seperti pernyataan seorang Kolumnis yang bernama Aguk Irawan. Beliau mengikut pandangan hemeneut Paul Rickour, bahwa dalam setiap puisi selalu bermakna simbolik dan ada aspek filosofisnya. Tidak bisa ditangkap langsung secara tekstual. Sembari menguatkan dengan puisi Jalaludin Arrumi dan Ibn Arabi.

Namun pendekatan hermeneutis akan mentah jika kita membenturkan aspek sosial maupun antropologi. Dalam buku Misykat. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi menulis secara gamblang apa yang dimaksud dengan Blasphemy. Ketika barat menganggap Blasphemy atau penodaan terhadap simbol agama, tidak lagi menjadi ancaman pidana. Negara maju yang kebanyakan sekuler kualahan mengurus konflik agama dalam masyarakatnya. Artinya kampanye sekulerisasi dan pluralisasi model Ulil ini justru menimbulkan konflik baru. Seperti penggambaran tokoh fiksi Magdalena dalam novel Davince Code yang menimbulkan keresahan di kalangan feminis kristen di Amerika dan umat Kristiani pada umumnya soal aspek pelecehan agama.

Sens sosial warga+62 terhadap lagu Aisyah

Sedangkan Lagu Aisyah, secara sosial, menjelang ramadhan ini, telah membangkitkan sens keagamaan bagi warga +62. Karena secara historis, kita telah mengalami proses Islamisasi sejak awal berdirinya bangsa ini. Kita bukan bangsa yang lahir dari kelamnya gereja saat mengebiri masyarakat dan saintis pada massa Dark Ages.

Kita justru sudah menikmati keharmonisan dan keragaman selama berabad-abad dengan sens keagamaan. Maka wajar ketika lagu itu muncul di saat krisis identitas para milenialis. Lagu itu mengafirmasi kembali akan pentingnya kecintaan tokoh panutan yang diajarkan di TPA dulu.

Di saat derasnya gelombang wabah ini. Puisi ulil Abshor mungkin dianggap indah oleh penganut kebebasan dan pluralisme. Namun jejaknya tidak terekam sangat dalam bagi bangsa ini. Dan justru kontradiksi dengan nilai toleransi itu sendiri. Sehingga masyarakat tidak memiliki sens apa-apa. Dan yang ada justru hujatan dan potensi konflik yang bisa jadi menurunkan imunitas kita di Momentum Menjelang Ramadhan ini.

Wallahu A’lam

Fenomena Covid 19 : Peran Islamisasi Ilmu

Fenomena covid 19 ini mulai menimbulkan paradox bagi manusia. Bagi dokter, sudah di rumah saja, bantu kami tenaga medis untuk memutus mata rantai penularan. Bagaimana dengan pekerja harian, dari mana mereka mencukupi kebutuhan. Sosiolog akhirnya berteriak, pemerintah harus menjamin, jika ingin masyarakat tidak chaos.

Fenomena Covid 19 : Peran Islamisasi Ilmu

Para ulama juga kualahan. Di saat panik seperti ini. Iman seorang mulai menipis. Ada yang bilang “takut Tuhan atau takut corona?”. Kalimat ini seolah menegaskan, “Mana yang paling hebat, sains atau agama?”.

Saat ini tenaga medis memang menjadi garda terdepan. Namun medis harusnya tidak merasa sendiri. Bukan karena corona harus dilihat dari segala aspek. Tapi ada problem filosofis dalam dunia Islam saat ini terhadap cara pandang mereka kepada realitas.

Masalah filosofis

Berbicara masalah filosofis. Mungkin saat ini mending ke laut saja. Padahal baik agama, kedokteran dan politik harus dipahami secara epistemologis bukan aplikasi dan labelisasi saja.

Jika problemnya epistemologis maka problemnya adalah filsafat ilmu. Jika filsafat ilmu didudukkan ada problem dalam melihat realitas dan problem bagaimana seluruh teori dan konsep itu dibangun.

Kita bisa memakai logika membunuh ular jangan ekornya, tapi kepalanya. Inilah problemnya. Ketika sains, baik alam maupun humaniora, hanya berkutat di wilayah empiris atau indrawi. Maka aktifitas sains buntu atau deadlock. Kita bisa menemukan pasien sembuh di satu tempat, muncul penyakit di tempat lain. Dan banyak lagi penanganan yang berputar-putar dan tidak solutif.

Para ulama dulu menjelaskan bahwa penyakit fisik itu hanya efek kecil dari rusaknya hati yang kronis. Namun masalahnya, mana ada dokter yang meresepkan, kalau anda kena kanker maka banyaklah baca istighfar dulu sebelum minum obat.

Para dokter hanya melihat gejala lewat uji klinis. Terapi apa yang menghambat pertumbuhan kanker dalam tubuh. Mereka tidak melibatkan hadits Nabi SAW, bahwa di dalam jasad kita ada segumpal daging, jika rusak maka rusaklah seluruh anggota badannya. Dan jika baik maka baiklah seluruh jasadnya.

Namun masalahnya, sebagian ulama juga ikutan sekuler, serahkan urusan medis kepada ahlinya, dan serahkan masalah agama kepada kami. Maka wajar jika di saat panik ini. Agama mulai tegang dengan sains. Seolah ada bisikan halus di telinga para saintis yang terus mendengung. Andai tidak ada agama, mungkin sains akan lebih efektif dan efisien. Atau agamawan mulai suudzon apakah masyarakat yang sosial distance dan tidak berani sholat jum’at mulai hilang Imannya.

Peran Islamisasi Ilmu

Harusnya problem epistemologi mulai diperhatikan. Jika semua ilmu itu dari Allah, maka objeknya adalah semua wujud baik yang fisik maupun metafisik. Maka munculnya fenomena Covid 19 lengkap verifikasinya. Karena ilmu dipandang secara tawhidi bukan sekuler atau bercerai-berai. Sehingga sosiolog tidak perlu bersitegang dengan dokter, tetapi mulai mengerucut landasan epistemiknya dan mulai membangun paradigmanya.

Jika kita kembali melihat kepanikan dunia akibat corona. Maka sesungguhnya penyumbang kepanikan terbesar adalah sekularisme. Dan ketika agama dianggap penghambat sains maka penyumbang orang-orang murtad terbesar adalah sebagian agamawan yang tidak mengintegrasikan sains dan agama atau dzikir dan kajian turats mereka tidak merespons secara filosofis realitas alam dan sosial.

Virus Corona dalam kacamata kausalitas Al-Ghazali

Virus corona yang minggu-minggu ini menjadi trending topik di berbagai belahan dunia. Menjadikan manusia berfikir postifistik. Sehingga preventisasi dan edukasi yang dilaksanakan lebih bersifat realistis dan empiristis. Sehingga aspek ilahiyah jarang untuk dijadikan alternatif berfikir dan bertindak

Virus Corona dalam kacamata kausalitas Al-Ghazali

Dalam suatu kisah. Ada seorang anak kecil yang sembuh dari lumpuh. Kisah sembuh anak ini semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita. Suatu malam ada seorang perampok yang mengaku sebagai mujahid demi mendapatkan penginapan.

Siapa yang tidak tahu dengan keutamaan seorang mujahid. Sehingga tanpa ragu, anak pemilik penginapan itu mengoleskan sisa makanan perampok tersebut dikakinya sembari berdoa dengan tulus.

Keesokan harinya. Anak itu sembuh dan bisa berjalan. Singkat cerita sang Perampok itu menangis dan bertobat dan menceritakan siapa sesungguhnya, setelah melihat ketulusan ikhtiar dan doa anak kecil itu.

Kisah yang diceritakan oleh Syaikh Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qolyubi dalam kitabnya Al-Nawadir itu relevan bagi kita yang terlalu berfikir rasional dan positivistik.

Saya sering searching tentang pengobatan herbal. Banyak situs-situs kedokteran menyatakan bahwa obat herbal tidak bisa direkomemdasikan karena tidak memiliki evidence base. Meski dunia kedokteran mengakui sejumlah manfaat dalam kandungan herbal meski tidak bisa diuji secara klinis.

Apa kaitannya dengan kisah di atas. Jangankan obat herbal. Penjahat saja bisa jadi media penyembuhan. Karena penyembuhan itu yang penting aspek spiritualnya bukan aspek kausalitasnya.

Sebenarnya bencana terbesar dari penyebaran virus corona bukan karena faktor suspect atau terinfeksi, tetapi cara pandang peradaban dunia yang sekuleristik.

Imam Al-Ghazali dalam sebuah disertasi yang ditulis oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menegaskan bahwa antara sebab dan akibat dalam realitas empiris tidak memiliki argumen logis sedikitpun.

Al-Ghazali menguatkan aspek Iradah Allah dalam menginterupsi hukum kausalitas alam dengan kisah nabi Ibrahim as yang tidak terbakar oleh api. Bahkan menurut beliau andai manusia dipotong kepalanya sekaligus. Kalau memang Allah belum mentakdirkan meninggal. Tidak akan meninggal.

Pernyataan Al-Ghazali ini ternyata relevan di alam milenial ini. Dalam sebuah youtube, dr. Reisa Brotoasmoro menceritakan kisah Bryan Jackson yang disuntik darah hiv oleh ayahnya sendiri. Karena, jika anaknya meninggal, kelak sang ayah tidak perlu membayar tunjangan anak setelah bercerai dengan ibunya Bryan. Justru Bryan bertahan hidup sampai sekarang di usia 24 tahun dan menjadi motivator.

Kisah Bryan ini tidak tunggal. Bahkan dalam sebuah acara fear factor. Ada seorang ayah yang tertusuk paku di kepalanya. Bahkan paku itu masuk ke seluruh rangka otaknya. Namun setelah dicek melalui mri. Paku itu hanya mengenai beberapa bagian otaknya. Dan akhirnya bisa disembuhkan melalui operasi.

Nasehat Al-Ghazali di atas semoga bisa membuat cooling down pemberitaan corona yang begitu massive. Tanpa menghilangkan aspek preventif dan edukatif secara maksimal. Dan mengingatkan kita semua bahwa bahaya terbesar sebenarnya adalah hilangnya keimanan. Hilangnya perhatian kita, bahwa Al-Qur’an adalah penyembuh sejak pertama kali diturunkan. Bahwa corona tidak selalu dilihat, dari kacamata teori konspirasi, politik, ekonomi, dan budaya saja. Tetapi juga dilihat dari sisi ilahiyah.

Selamat Jalan Pejuang Penuntut Ilmu : Keluarga Universitas Darussalam berduka

Jum’at, 17 Januari 2020, Keluarga Universitas Darussalam berduka. Tidak hanya kehilangan mahasiswa yang baik. Tetapi juga kehilangan satu sinar lentera yang selama ini tengah bersinar dalam aktifitas kegiatan dan belajar di kampus kita. Afrizal Damanik bin Lamsiren Damanik. Itulah nama lengkap mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, yang pada 17 januari 2020 pukul 07.00 WIB, menghembuskan nafas terakhir.

Selamat Jalan Pejuang Penuntut Ilmu : Universitas Darussalam berduka

Mahasiswa kelahiran Pasar Baru, Medan, 20 Januari 1998, tidak hanya aktif sebagai mahasiswa Prodi Tafsir. Tetapi dia juga sebagai staff Lembaga Zakat, Infaq, dan Sedekah atau LAZIFWAF UNIDA Gontor. Dan selama penulis berjumpa dengan dia, baik saat setoran tahfidz atau urusan prodi yang lain, putra kedua dari tiga bersaudara ini dari pasangan Salmiah Saragih dan Lamsiren Damanik ini, terkenal sopan dan penuh ta’dzim dengan dosen-dosen yang ada di prodi.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Demikianlah ketetapan yang telah ditentukan Allah SWT. Meski demikian, tidak setiap peristiwa tidak memiliki sebab. Mahasiswa yang menjadi Pengurus Departemen Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa, Dewan Mahasiswa (DEMA) UNIDA Gontor ini, pada 8 Januari 2020 mengeluh dengan sakit perut. Sehingga keesokan harinya, 9 Januari 2020, kawan-kawan dekatnya mengantar dia ke RSU Darmayu Ponorogo. hasil USG menunjukkan Almarhum menderita gejala maag

Kronologi Kejadian

Sore harinya, Almarhum merasakan demam dan perutnya bertambah nyeri. Lalu Almarhum dibawa ke BKSM Gontor untuk menjalani rawat inap sampai hari Sabtu, 11 Januari 2020. Di malam hari yang sama, almarhum meminta untuk dipindahkan ke RS Muslimat Ponorogo untuk menjalani rawat inap intensif. Sehingga pada hari Selasa, 14 Januari 2020, dilakukan USG untuk kedua kalinya di RS Muslimat. Hasil USG menunjukkan bahwa Almarhum menderita radang usus buntu dan lambung mengeluarkan cairan hingga diputuskan untuk melakukan operasi di hari yang sama.

Pada malam di hari yang sama, Almarhum menjalani pemulihan setelah operasi namun mengalami muntah-muntah karena efek operasi. Namun pada Rabu, 15 Januari 2020 Almarhum menunjukkan tanda-tanda semakin membaik. Hanya terasa demam dan mengigau.

Pada hari Kamis malam, 16 Januari 2020, ayah Almarhum tiba dari Medan ke RS Muslimat untuk menjenguk dan kondisi Almarhum dan masih stabil. Namun Jumat pagi, 17 Januari 2020 Almarhum mengalami kejang-kejang dan mendapat penanganan dari dokter hingga pada pukul 07:00 Almarhum dinyatakan meninggal dunia.

Semoga Khusnul Khotimah

Tak hanya cuaca pada hari itu yang mendung pekat. Civitas Akademika UNIDA Gontor khususnya Prodi IQT juga diliputi kesedihan yang pekat. Keluarga Universitas Darussalam berduka. Satu penuntut ilmu telah pergi ke haribaan ilahi rabbi. Yang menurut Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr : Barangsiapa yang mati dalam keadaan menuntut ilmu, maka ia berada dalam tanda husnul khatimah (mati yang baik) karena ia telah mati dalam ketaatan yang sangat besar.

Allah SWT berfirman : Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’: 100)

Kami seluruh Dosen dan Staff Prodi IQT mewakili seluruh mahasiswa dan civitas akademika UNIDA Gontor mengucapkan selamat jalan mahasiswaku. Semoga Khusnul Khotimah dan semoga engkau mendapat tempat mulia di sisi-Nya. Dan keluarga selalu dalam kesabaran dan ketabahan. Amin

Review Film Joker : Kritik Problem Kejahatan Kaum Teodisi

Al-Qur’an dan Tafsir.com. Berkaitan dengan review film joker. Dalam sebuah grup ateis, saya pernah membaca sebuah postingan aneh : “Jika Tuhan maha pengasih, kenapa ada kejahatan di muka bumi ini”. Kaum teodisi dari kalangan ateis, politeis dan dualis tidak hanya gemar mencari-cari kontradiksi dalam agama namun juga ingin menguatkan sisi esensialis dari sebuah kejahatan

Dari Review tersebut. Film Joker sebenarnya ingin menguatkan problem kejahatan secara esensialis. Bagi kaum dualis kejahatan itu wujud bukan efek. Jika kebaikan dibangun di atas falsafah dan nilai-nilai kenapa kenapa kejahatan tidak. Jika kebaikan reasonable, kejahatan juga bisa reasonable.

Review Film Joker : Kritik Problem Kejahatan Kaum Teodisi

Dalam sebuah vlog tentang review film di sebuah youtube pada akhirnya membenarkan. “Kayaknya joker ada ya di kehidupan nyata”. Sebenarnya tidak ada yang baru dalam film joker. Kebanyakan film barat lebih mengutamakan kekuatan reason ketimbang sisi hitam putih seperti kebanyakan film mandarin atau asia pada umumnya.

Namun yang perlu kita khawatirkan adalah efek abstraksinya dalam wacana pemikiran Islam. MH Ainun Najib, dalam sebuah ceramah, pernah mengapresiasi iblis karena dia rela menjadi antagonis, agar orang-orang sholih bisa meraih surga. Meski kebanyakan budayawan sering tidak konsisten dalam menyebarkan pandangan-pandangannya.

Kita juga perlu khawatir jika kelak generasi kita mulai memproduksi pemikiran bahwa. “Mungkinkah Abu Jahal juga sering menangis dan mengasihi dirinya, bahwa dirinya ditakdirkan Allah untuk kafir dan sulit beriman, karena beliau rela menjadi antagonis untuk memuliakan kelompok Nabi Muhammad.

Jika kita sedikit menengok cara pandang Islam, sebenarnya mudah untuk dijelaskan. Pertama : Al-Qur’an sebenarnya selalu memberi alternatif bagi manusia dalam kehidupan dunia ini. bahkan fir’aun sekalipun. Dalam surat thoha dijelaskan.

Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (Thaha: 43-44).

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa Firaun sekalipun bisa menjadi sadar dan beriman. Bahkan dakwah Musa kepada fir’aun tidak hanya berkali-kali. Namun memang Fir’aun sendiri yang pada akhirnya mengkonfirmaai dirinya jika dia berada di pihak kekufuran.

Bahkan kelak penghuni neraka akan mengakui kesalahan mereka dan menerima keputusan Allah :

Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk: 11)

Dalam sebuah hadits :

لَنْ يَهْلِكَ النَّاسُ حَتَّى يُعْذِرُوا مِنْ أَنْفُسِهِمْم

“Seorang tidak akan merasa dirinya binasa hingga ia pun mengakui kesalah-kesalahan yang dirinya lakukan sendiri. HR. Ahmad, 5/293.

Kedua : Murtadha Muthahhari dalam bukunya Keadilan ilahi, (Bandung, Mizan, 1992). hlm. 116. menegaskan dualisme wujud, yakni kejahatan dan kebaikan pada, tataran fenomenalnya, memang ada tetapi pada essensinya hanya ada kebaikan.

Sebenarnya di film joker sendiri. Logika kejahatannya juga tidak tuntas penjelasan logisnya. Namun warganet kebanyakan buru-buru mengambil kesimpulan tentang esensialisasi kejahatan joker. Seperti kasus joker dalam membunuh tiga orang karyawan waine corporation dan alasan dia membunuh ibu angkatnya. Padahal banyak alasan, menurut saya, untuk memilih alternatif yang lain selain membunuh mereka.