Sejarah Penulisan Khat dalam Al-Qur’an

Iqt.unida.gontor.ac.id Khat Anbar dan Al-Yad Al-Uula dalam penulisan Arab: Sejarah kodifikasi Al-Qur’an dimulai sejak masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidiq atas usulan Umar bin Khattab melihat banyaknya para quro yang meninggal pada perang Yamamah. Jauh sebelum itu, pada awal datangnya Islam, Rasullullah telah memilih beberapa shohabah untuk menjadi Kuttabul Wahyi yang bertugas untuk menuliskan wahyu Allah sesuai dengan apa yang disampaikan Rasullullah. Perlu diketahui bahwa Kuttabul wahyi merupakan tugas istimewa, mengingat banyaknya masyarakat yang tidak dapat menulis pada saat itu. Untuk itu, maqalah ini berusaha untuk membahas tentang sejarah tulisan (khat) dan perannya terhadap penulisan Al-Qur’an pada kodifikasi awal.

Sejarah Penulisan Khat dalam Al-Qur'an

Jika merujuk pada zaman munculnya tulisan Arab, maka tidak ada satupun literatur yang dapat menyebutkan secara pasti akan tanggal maupun tahunnya. Akan tetapi, sejarah sepakat bahwa tulisan (khat) Arab pertama kali dibentuk oleh Basyar bin Abdil Malik (saudara ipar Abu Sufyan) dengan model Khat Nabati. Dari Khat Nabati inilah muncul tiga pencetus pertama tulisan Arab yang memodifikasi ulang dari Khat Nabati. Ketiga pencetus ini lebih dikenal dengan sebutan “Al-Yad Al-Ulaa”, mereka adalah Maromiroh bin Marroh (مرامرة بن مرة), Aslam bin Sadroh (أسلم بن سدرة) dan ‘Amir bin Hadroh (عامر بن حدرة) yang semuanya berasal dari Anbar. sejak saat itulah kota Anbar menjadi kota pertama munculnya tulisan Arab.

Bertahun-tahun setelahnya, Khat ini dipelajari oleh Utsman bin Affan dan Marwan bin Hakam sebelum datangnya Islam dalam satu kelas yang sama. Khat yang sama juga dipelajari oleh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit. Merekalah yang nantinya akan menjadi kuttabul wahyi pilihan Rasullullah.

Rasullullah sebagai penggerak penyebaran Khat dalam Islam

Ketika Islam datang, Rasullullah sangat memperhatikan kemajuan umatnya dalam hal tulis-menulis mengingat bahwa masyarakat Jahiliyyah sangat awam dengan hal itu. Tidak heran, karena peralatan tulis-menulis jarang ditemukan pada masa Jahiliyyah di samping adat, budaya dan kebiasaan Jahiliyyah yang memang belum membutuhkan tulisan.

 Dukungan Rasullullah dalam gerakan khat dapat dilihat sejak Rasullullah hijrah ke Madinah. Hal pertama yang dilakukan Rasul adalah membangun masjid dan mengadakan halaqoh “tulis menulis”, untuk itu secara khusus Rasullulah memilih sendiri guru yang akan mengajarkan halaqoh ini, salah satunya adalah ‘Abdullah bin Sa’id bin ‘As dan ‘Ibadah bin Shomit.

Bukan hanya itu, tetapi Rasullullah juga menjadikan tebusan bagi tawanan perang yang dapat menulis dan membaca untuk mengajarkannya kepada umat muslim di Madinah.

Proses pembelajaran tulis-menulis ternyata tidak hanya terfokus pada laki-laki saja, tetapi Rasullullah juga mendukung dan menyemangati para wanita muslim untuk belajar dan mengajarkan khat. Seperti Asy-Syifa binti ‘Abdillah, Hafshoh ummul mu’minin, Ummu Kultsum binti Uqbah dan ‘Aisyah binti Sa’ad bin  ‘Ibadah

Untuk itulah Rasullullah memerintahkan Hafshoh rodhiya Allah ‘anha  untuk belajar menulis (khat) kepada Asy-Syifa binti ‘Abdillah, agar ia dapat mengajarkan para wanita muslim akan tulis-menulis. Maka disebutkan dalam sejarah bahwa Hafshoh merupakan salah satu wanita pertama yang mempelajari khat. Al-khottotoh al-ulaa fil Islam.

Berbeda dengan bentuk tulisan sebelum datangnya Islam, karena ketika Islam datang dengan semangatnya terhahap tulisan (khat) maka banyak umat muslim yang mulai memperindah bentuk dan huruf dalam Khat. Hal tersebut dimulai sejak Rasullullah memilih sendiri para kuttab –sebutan untuk penulis- untuk menuliskan wahyu dan surat-surat penting yang akan disampaikan para raja-raja sekitar. Sejak saat itu, para kuttab berlomba-lomba untuk memperindah khat masing-masing, karena Rasullullah hanya memilih Ajwad Kuttab, penulis terbaik dengan tulisan yang terindah.

Khat Kufi dan sejarah penulisan awal Al-Qur’an

Tradisi tulis-menulis pun dimulai sejak saat itu. Terlebih ketika Rasullullah memilih beberapa sahabatnya untuk menjadi “kuttab”nya. Baik penulis wahyu maupun penulis surat untuk diberikan kepada raja-raja sekitar. Kuttab, sebutan untuk penulis, seperti sekertaris pada masa sekarang. Disebutkan dalam sejarah bahwa Rasullullah memiliki 42 orang Kuttab. Dan salah satu kuttabul wahyi yang terkenal adalah Zaid bin Tsabit.

Seiring berjalannya waktu, Khat Anbar semakin berkembang. Dapat dilihat dari bentuknya yang memiliki perkembangan di setiap waktunya. Khat inilah yang dipakai oleh para shohabah “Kuttabul Wahyi” dalam penulisan ayat Al-Qur’an –masa kodifikasi awal Al-Qur’an- selama lima abad. pada masa itulah, Rasullullah menyuruh para penulis istimewa untuk menghafalkan dan menuliskannya di hadapan Rsaulullulah ketika ayat diturunkan. Keteika itu, ayat-ayat Al-Qur’an ditulis dalam lembaran-lembaran kulit, daun, tulang pipih, pelepah kurma yang berbeda sesuai turunnya ayat.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidq, dimulailah periode kedua kodifikasi Al-Qur’an atas usulan Umar bin Khattab melihat banyaknya quro (penghafal Al-Qur’an) yang meninggal pada perang Yamamah. Pada masa inilah, Al-Qur’an yang dituliskan para kuttabul wahyi dikumpulkan menjadi satu dan disimpan Abu Bakar hingga ia wafat. Beberapa lembaran ditulis menggunakan Khat Anbar, dan lembaran lainnya ditulis menggunakan Khat Makki dan Khat Madani sesuai tempat ditulisnya tiap-tiap lembaran.

 Dari Khat Anbar inilah yang menjadi asal muasal Khat Kufi dan menjadi asas tulisan dalam penulisan Al-Qur’an hingga akhir kekhilafahan Khulafa Rosyidin. Penamaan khat Kufi dikenal sejak ditaklukkannya Iraq oleh Sa’ad bin Abi Waqqosh pada masa kekhalifah Umar bin Khattab pada tahun 18 H. Ketika itu, Umar mengirim sebagian umat muslim untuk menempati kota Bashroh dan Kufah tepat setelah kota itu ditaklukkan. Sejak saat itulah, khat Arabi muncul dan berkembang di Khufah mengikuti perkembangan pemerintahan Islam yang berpusat di Kufah.

Seperti penamaan khat lainnya, disebut “Khat Kufi” karena letaknya di Kufah. Hebatnya, Khat Kufi mampu mengalahkan keindahan Khat Makki dan Khat Madani pada saat itu. Maka, tidak dapat dipungkiri jika khat Kufi menduduki peringkat teratas, bahkan nama khat ‘Arabi lebih dikenal dengan nama “Khat Kufi” karena tradisi menulis lebih banyak menyebar di Kufah dan tersebar melalui Kufah di samping banyaknya para khattat dari Kufah yang sangat memperhatikan keindahan, bentuk, gaya dan seni dari setiap hurufnya melebihi Khat Madani dan  Khat Makki

Kaum Hawa: Tabarruj Dan Gaya Hijab Di Era Digital

Di era modern ini, para Kaum hawa sedang berlomba -lomba dalam mengenakan model hijab dan make up yang berlebihan, sehingga menutupi wajah aslinya. Dalam istilah islam hal ini disebut Tabarruj, yaitu seorang wanita yang berhias berlebihan sehingga mengundang syahwat kaum Adam. Dengan perkembangan zaman telah muncul berbagai macam model hijab yang menjadi trending topik di kaum hawa yang selalu berlomba –lomba dalam mengenakannya. Dengan adanya model hijab yang tak karuan, maka tidak sedikit dari kaum hawa yang mengistilahkan kata Hijrah pada diri mereka.

Salah satu faktor yang mendorong komunitas hijabers adalah dengan adanya model hijab yang semakin tidak karuan, dari model hijab yang membentuk punuk unta sampai model hijab yang hanya menutupi rambut sedangkan lehernya terbuka.

Kaum Hawa: Tabarruj Dan Gaya Hijab Di Era Digital
ilustration

Apabila kita melihat dan menela’ah fashion hijab yang sedang trendy di kaum hawa, model seperti itu sudah keluar dari syari’at islam. Karena yang disyari’atkan oleh islam bukan berlomba –lomba dalam mengenakan hijab dengan berbagai varian modelnya , akan tetapi niat dari hati yang bersih untuk mengenakan hijab semata –mata hanya karena Allah SWT dan untuk menutupi aurat bukan malah memperlihatkan aurat.

Hakikat Hijab

Hijab bukan dilihat dari modelnya, bukan dilihat dari harganya, akan tetapi hijab yang melindungi aurat seorang wanita lah yang di syariatkan islam. Banyak disekitar kita yang mengenakan hijab akan tetapi ia masih menggunakan celana jins yang ngetat, masih mengggunakan baju yang ketat dan menggunakan hijab yang tidak menutup dada. Meskipun dengan menggunakan pakaian yang seperti itu dianggap telah menutup aurat, namun tidak sama sekali menurut islam. Karena percuma seorang wanita menggunakan hijab yang tidak menutupi dadanya dengan menggunkan baju dan celana jins yang ketat yang sampai membentuk tubuhnya itu sama saja ia memperlihatkan aurat tubuhnya meskipun secara pandangan mata ia telah menggunakan hijab dan pakaian lengakap.

Hijab Dalam Syari’at Islam

Hijab yang disyari’atkan oleh islam bukanlah hijab yang hanya menutupi rambut dan bagian aurat lainnya, melainkan yang tidak membentuk lekuk tubuh seorang wanita. Karena apabila seorang wanita telah memperlihatkan lekuk tubuhnya itu sama saja seperti iya memperlihatkan seluruh aurat pada tubuhnya.

Seperti yang kita ketahui di zaman digital seperti sekarang ini, tidak sedikit dari para wanita yang berlomba -lomba dalam memakai model hijab dan make up dan mempublikasikannya di dunia maya. Dari ajang yang seperti inilah para wanita semakin berkeinginan untuk memperlihatkan karya hijab dan make up mereka ke dunia.

Sedangkan sebagaimana yang kita tahu islam sangat melarang keras hal ini, karena selain memperlihatkan aurat yang akan mengundang syahwat, dengan ini juga akan menimbulkan sikap iri antara kaum hawa lainya. Karena seperti yang kita tahu wanita akan mudah sekali menimbulkan rasa iri. Tidak dipungkiri muncul banyaknya akun youtube fashion hijab dan tutorial make up dikarenakan sifat dasar seorang wanita yang mempunyai sifat iri dan tidak mau mengalah.

Ketentuan Hijab Syari’

Seperti yang kita ketahui ketentuan hijab syari’ menurut syari’at islam adalah sebagai berikut:

  1. Hijab yang menutupi seluruh aurat dan tidak membentuk lekukan tubuh
  2. Hijab bukan sebagai perhiasan, akan tetapi hijab sebagai kewajiban seorang Muslimah, seperti yang telah di tetapkan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 59

یا أَیهَا النَّبِی قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَ بَنَاتِكَ وَ نِسَاءِ الْمُؤْمِنِینَ یدْنِینَ عَلَیهِنَّ مِن جَلَابِیبِهِنَّ ذَٰلِكَ أَدْنَیٰ أَن یعْرَفْنَ فَلَا یؤْذَینَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّححیمًا

  • Tidak berbahan tipis, karena apabila hijab atau pakaian yang kita kenakan berbahan tipis atau menerawang akan menjadi pusat perhatian, mengundang syahwat kaum Adam dan itu sama saja dengan terlanjang tanpa sehelai kainpun.
  • Longgar dan tidak membentuk lekuk tubuh
  • Tidak menyerupai laki -laki
  • Tanpa wewangian yang berlebihan yang akan menarik perhatian lawan jenis, bahkan Rasululloh SAW menyamakan hal seperti ini dengan Zina.

Oleh karena itu, kita sebagai kaum Muslimah harus berprilaku sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan apa yang telah di contojlan oleh Rasululloh SWT. Karena tidak semua yang menurut kita sukai itu baik untuk kita, dan tidak semua yang tidak kita sukai itu buruk untuk kita.

Jadi pintar -pintarlah dalam memilih segala sesuatu. Jadilah wanita yang telah dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an dan yang telah ditegaskan Nabi dalam Sunnahnya. Dan jadilah wanita penghuni surga. (Penulis. Mila Rizki Amelia, Ed.Husein)

Makna ruh dalam Al-Qur’an : kajian semantik tafsir

Kali ini kami akan mencba menjelaskan makna ruh. Term ruh sendiri memiliki makna beragam dengan ditinjau dari berbagai sudut pandang. Dalam ilmu semantik sendiri memiliki dua cara dalam pendekatan makna, yaitu makna dasar dan makna relasional. Makna dasar ruh yang ada dalam Al-Qur’an ada 6 makna, yaitu wahyu, Jibril, rahmat, Isa, malik, dan hidup. Sedangkan makna dasarnya adalah ruh, angin, dan nyaman. Apabila dikaitkan semua makna tersebut akan menjadi sebuah pengertian, bahwa ruh itu adalah sesuatu yang ghoib, hidup, bersih, dan suci dari segala keburukan, dan menjadikan manusia itu hidup, sehingga dia dapat melakukan kebajikan.

Makna ruh dalam Al-Qur'an : kajian semantik tafsir

Ibnu Ma’dzum dalam kitabnya mengatakan bahwa Ruh berarti tiupan. dinamakan tiupan karena didalam ruh itu seperti angin, yaitu dzat yang lembut dan bersih yang ada dalam diri manusia. Ruh itu sendiri merupakan dasar kehidupan manusia. Ketika kita membicarakan tentang ruh itu sendiri, kita tidak akan dapat menemukan jawaban yang tepat atau jawaban yang pastitentang ruh itu sendiri. Hal itu dikarenakan bahwasannya ruh tidak dapat dilihat atau dirasakan oleh panca indra. Ruh merupakan ilmu yang tidak mampu dipelajari oleh manusia, seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an tentang ruh :

وَ يَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُوْحُ قُلِ الرُوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَ ما أُوتِيْتُمْ منَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيْلاًً

Ruh diartikan sebagai wahyu, karena wahyu merupakan sebuah kabar atau berita yang Allah turunkan kepada para Nabi untuk menegakkan kalimat Allah di dunia. Wahyu merupakan sebuah hal yang dikatakan didalam Mu’jam Wasit bahwasannya wahyu berbentuk seperti sebuah suara yang disampaikan oleh Allah SWT lewat Jibril.

Makna ruh

Ruh diartikan sebagai sebagai Jibril karena Jibril merupakan salah satu nama malaikat. Dalam agama Nasrani, Jibril disebut sebagai salah satu ketua dari para malaikat. Dalam Islam, Jibril merupakan malaikat yang paling dekat dengan Rasul. Jibril mempunyai pengaruh besar dalam hal sampainya wahyu kepada Rasulullah SAW.

Ruh diartikan sebagai rahmat, karena rahmat merupakan sebuah hadiah atau pemberian dari Allah kepada hambanya. Rahmat artinya adalah kebaikan dan nikmat. Hubungan antara ruh dan rahmat adalah bahwa ruh merupakan perintah dari Allah. Dan rahmat merupakan nikmat dan kebaikan dari Allah. Semua itu menyebabkan pada pergerakan dalam diri manusia.

Ruh diartikan sebagai Isa, karena Isa merupakan salah satu Nabi yang dikirim oleh Allah kepada orang-orang Nasrani. Ketika itu manusia sedang dalam keadaan melenceng, tidak berada pada jalan yang lurus, maka Allah menunjuk Nabi Isa untuk menuntun mereka ke jalan yang lurus. Nabi Isa membawa kitab Injil kepada manusia sebagai wahyu dari Allah.

Ruh diartikan sebagai malik. Malik merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah yang terkenal dengan ketaatan nya kepada Allah SWT. malik merupakan jamak dari dari malaikat.

Ruh diartikan sebagai kehidupan. Kehidupan merupakan sebab hadirnya manusia didunia ini. Kehidupan merupakan kebalikan  dari kematian. Kehidupan merupakan sesuatu yang berbicara. Dan ruh merupakan suatu hal yang menyebabkan sebuah makhluk dapat hidup.

SOLUSI AL-QUR’AN TERHADAP PERILAKU PENYIMPANGAN SEXUAL

Beberapa tahun terakhir, penyimpangan sexual merupakan salah satu permasalahan yang sedang hangat di perbincangkan, terlebih pada tahun 2008 ada seorang tokoh Islam sendiri yang memperbolehkan homo dan lesbi, karena menurut nya tidak ada perbedaan antara homo dan lesbi dengan yang tidak homo dan lesbi.

SOLUSI AL-QUR'AN TERHADAP PERILAKU PENYIMPANGAN SEXUAL

            Menurut mereka, penyimpangan sosial ini masih bisa berpotensi menjadi orang yang bertakwa selama dia masih menjunjung tinggi nilai-nilai agama, yaitu tidak menduakan Tuhan (Syirik), meyakini kerasulan Muhammad SAW, dan tetap menjalankan ibadah yang Allah perintahkan.

            Mereka juga menyatakan bahwa dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan hidup berpasangan (ar-Rum/30:21, az-Zariyat/51:49 & Yasin: 30/36) ayat-ayat tersebut tidak menjelaskan mengenai jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah gender. Artinya, berpasangan itu tidak harus dalam konteks hetero, melainkan bisa homo ataupun lesbi.

            Penyimpangan sexual ini terjadi karena sedikit nya ilmu pengetahuan yang harus diperhatikan untuk memahami setiap ayat dalam al-Qur’an, belum banyak membaca Tafsir & Hadist, Ushul Fiqh serta sarana ijtihad lainnya. Mereka bahkan berusaha untuk mencari legitimasi dalil dari al-Qur’an, memelintir makna nya agar sesuai dengan hawa nafsu mereka. Padahal ayat-ayat al-Qur’an saling menafsirkan antara ayat satu dengan yang lainnya.

            Salah satu ayat yang dijadikan dalil bagi mereka yang memperobolehkan homoseksual dan lesbian adalah surah ar-Rum/30:21. Maka ini merupakan suatu kesalahan yang fatal. Menurut Ibnu Katsir bahwa pengertian surah ar-Rum ayat 21 yaitu “Dan diantara tanda-tand kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri mu dari jensimu sendiri” yakni menciptakan kaum wanita dari jenismu sebagai pasangan hidup “supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya” yakin agar terciptalah keserasian antara mereka, karena kalau pasangan itu bukan dari jenismu, maka timbulah keganjilan, maka diantara rahmat-Nya ialah dia menciptakan kamu semua laki-laki dan perempuan dari jenis yang satu sehingga timbulah rasa kasih sayang, cinta dan senang.

Penyimpangan Sexual dalam Al Qur’an

Menurut Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama Republik Indonesia dalam Tafsir Maudhu’i (Tafsir al-Qur’an tematik) penyimpangan sexual tersebut merupakan suatu tindak pidana berat (dosa besar), karena dapat merusak keperibadian, moral dan agama. Sesuai dengan firman Allah dalam surah al-A’raf ayat 80 dan 81:

وَلُوْطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ مَسَبَقَكَمْ بِهاَ مِنْ اَحَدِ مِّنَ العَالَمِيْنَ (80) إِنَّكُمْ لَتَاْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّنْ دُوْنِ النِّسَاءِ، بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ (81)

Artinya:

            “Dan (kami juga telah mengutus) Lut, ketika dia berkata kepada kaum nya. “mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini) sungguh, kamu telah melapiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan, kamu benar-benar kaum yang melampaui batas. (Q.S al-A’raf/7:80-81)

            Dan begitu juga pada Q.S Asy-Syu’ara ayat 165 dan 166 yang menerangkan bahwa perbuatan kaum nabi Luth yang melakukan homoseksual dan lesbian yang akhirnya Allah berikan hukuman kepada mereka berupa memutarbalikan negeri mereka sehingga penduduk Sodom, termasuk istri Nabi Luth tertanam bersamaan bersama tebalik nya negeri itu.

Solusi Ulama Terhadap LGBT

            Dari berbagai ijtihad yang dilakukan oleh para ulama, ditinjau dari ayat-ayat al-Qur’an, Hadist serta kaidah fiqhiyyah, maka ulama sepakat bahwa penyimpangan seksual tesebut merupakan perbuatan yang haram untuk di lakukan, bukan hanya merusak kemuliaan dan martabat kemanusiaan, namun juga dapat menimbulkan HIV/AIDS, Spilis dan lain sebagainya.

            Demikian pula dengan para waria yang telah menjalani operasi pergantian kelamin menjadi laki-laki, dikategorikan sebagai praktek homoseksual, karena dokter tidak bisa mengubah tabiat nya sebagai laki-laki.

            Jika hal ini terus berkelanjutan, maka hal ini tentu akan membahayakan masyarakat. Karena dampak yang ditimbulkan adalah suatu penyakit HIV/AIDS, diamana penyakit tersebut merupakan suatu penyakit atau wabah yang sangat mematikan, disamping itu penyebaran penyakit ini begitu cepat, hingga hari ini belum ada ahli yang dapat menemukan obat apa yang bisa mengobati penyakit ini. Bahkan Dadang Hawari menuliskan bahwa HIV/AIDS itu memiliki global effect.

            Berdasarkan hal ini, maka upaya penanggulangan perbuatan penyimpangan seksual (homoseksual dan lesbian) bisa dilakukan dengan cara memperkuat iman dan takwa melalui dakwah dan pendidikan. Terbukti dengan adanya penelitian dari seorang ahli di Amerika Serikat Gray Ramafedi pada tahun 1992, dari University of Minnesota, Minneapolis, Amerika serikat yang menyatakan bahwa melalui pendidkan agama sejak dini, maka peluang untuk menjadi homoseksual menjadi amat kecil.

            Upaya pencegahan ini juga bisa dilakukan degan menanamkan dan meningkatkan pendidikan ahlak yang mulia, khusus nya terhadap anak-anak dan masyarakat pada umumnya, serta meningkatkan peran orang tua terhadap kecenderungan seksualitas anak.

            Maka, dalam islam pendidikan agama merupakan hal yang sangat penting, oleh karena itu setiap orang tua muslim harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan tentang cara mendidik anak.

            Pendidikan agama dan pendidikan seks untuk anak merupakan sebuah antisipasi. Karena Islam telah mengatur cara memberikan pendidikan seks kepada anak, dengan cara melakukan treatment yang berbeda antara anak laki-laki dan perepuan.

Penulis: Tasya Amelia Ashari

CERDAS CERMAT GONTOR KAMPUS 2 2020-2021

     Semangat yang dulu patah, kini kembali hidup dan akan lebih hebat. Sebagai santri kelas 3 Intensif dan kelas 4 tidak ada hal yang lebih ditunggu selain kepanitiaan acara-acara Sintesa. Kepanitiaan cerdas cermat ini menjadi ajang untuk menunjukkan jati diri kami sebagai santri yang mulai beranjak dewasa.

CERDAS CERMAT GONTOR KAMPUS 2  2020-2021

Selain itu, seluruh rentetan acara akan memupuk rasa persatuan kami, yang akan selalu bersama hingga kelulusan nanti. Kepanitiaan telah terlewati dengan ribuan cerita yang tak terlupakan. Namun sayang, semangat yang sudah tumbuh harus terpatahkan karena keadaan pandemi Covid-19, memaksa seluruh acara tertunda hingga waktu yang tidak ditentukan.

Kekecewaan dirasakan seluruh santri kelas 3 Intensif dan kelas 4, serta Guru pembimbing. Semua perencanaan yang matang dan penuh inovasi harus dihentikan untuk sementara waktu. Disamping itu, kami tetap menjalankan aktivitas sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19, segala ikhtiar batin juga dikerahkan agar acara pondok segera berjalan normal kembali.   Atas izin Allah SWT, situasi darurat ini tak berjalan panjang. Semua itu berkat kedisiplinan penghuni Gontor Kampus 2.

Roda pendidikan juga berangsur pulih secara bertahap. Kepanitiaan juga telah bekerja normal kembali. Dari yang sempat pudar kini bangkit dan akan menjadi lebih hebat, dan semangat kita tumbuhkan Kembali demi semuanya berjalan dengan Menjadi

Menjadi Acara Pertama setelah Pandemi

   Cerdas Cermat menjadi acara pertama yang akan diselenggarakan setelah masa pandemi Covid-19. Acara ini akan digelar pada Sabtu, 8 Agustus 2020 di depan Masjid Jami’. Rayon Al-Azhar Lantai 2, Palestina, dan Syria Lantai 2 yang akan memperebutkan gelar juara.

Ketiga finalis tersebut merupakan pemenang dari babak penyisihan antar zona yang telah diselenggarakan pada Senin (3/8).

     Semua peserta akan berlomba mengumulkan poin dari soal-soal yang diberikan pada 3 babak dan seluruh pertanyaan berkaitan dengan Ad-Durus Ad-Diniyyah, Al-Kauniyah, Al-Lughowiyah dan Kepondokmodernan.

Berhubung dengan acara cerdas cermat ini yang di dalamnya terdapat perlombaan yang berkenaan tentang akademik, dan menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimat, maka Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqoroh : 148

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا۟ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ  قَدِيرٌ

Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Jelas, Cerdas Cermat ini menjadi ajang bagi seluruh santri untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Santri kelas 3 Intensif dan kelas 4 dilatih untuk menjadi panitia yang baik. “Semoga semua santri dapat menambah ilmu dan seluruh panitia dapat mengambil evaluasi dalam acara Cerdas Cermat ini” -Ujar Brian Surya selaku Ketua Panitia Cerdas Cermat.

Kedepannya, acara sintesa akan bergulir hingga pertengahan September. Semangat anak-anak kelas 3 int dan 4 juga akan terus tumbuh pada setiap kepanitiaan, Dan semoga kita semua di beri kesehatan selalu dan di jauhkan dari penyakit Covid-19 ini.

Peran Ilmu Dalalah dalam Prodi IQT UNIDA Gontor

Oleh: Nindhya Ayomi

Ilmu Dalalah merupakan salah satu mata kuliah penting khususnya bagi prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT)) Semester 6  untuk memahami makna yang terkandung dalam suatu kata dalam ayat Al-Qur’an. Karena ilmu dalalah atau semantik membahas tentang makna dalam suatu bahasa, maka ilmu ini juga sering disebut dengan ilmu makna. Karena sejatinya, suatu bahasa tidak akan dapat dipahami kecuali dengan memahami maknanya. Untuk memahami makna itu sendiri, dapat ditinjau melalui bermacam-macam aspek, baik aspek suara (ma’na shouti), aspek morfologi (ma’na shouti), aspek nahwu (ma’na nahwi), aspek kamus (ma’na mu’jami) dan aspek konteks (ma’na siyaqi).

Peran Ilmu Dalalah dalam Prodi IQT UNIDA Gontor

Ketika meninjau makna melalui aspek konteks (ma’na siyaqi), maka ditemukan bahwa dalam satu kata mengandung banyak arti (al-musytarak al-lafdzi). Seperti kata ash-shofwu yang memiliki arti memukul, sisi segala sesuatu, maaf dan masih banyak lagi. Jika diibaratkan, suatu lafaz bagaikan badan dan makna adalah pakaian  yang menutupinya. Maka, menjadi suatu hal yang wajib untuk memakai baju yang tepat sesuai dengan acara yang akan dihadiri. Begitupula dengan memahami ayat Al-Qur’an, bahwa setiap kata memiliki tempat pemakaiannya masing-masing. Jika salah memahami arti yang dimaksud pada suatu kata dalam ayat Al-Qur’an  maka ia akan salah memahami makna dan hikmah yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an tersebut. Beberapa ulama bahkan berpendapat, jika seseorang salah memahami makna dalam ayat Al-Qur’an maka ia akan berdosa, bahkan dapat menyebabkan kekafiran.   

Kehebatan Bahasa Dalam Al-Qur`an

Dari pembahasan semantik juga ditemukan adanya perbedaan linguistik yang terdapat pada kata-kata yang sering dianggap sinonim (at-taraduf). . Sebagaimana kata al-qudrah, at-thoqoh dan al’istitho’ah. Begitu pula dengan dengan kata al’am dan as-sanah, al-ghoits dan mathor. Menurut Abu ‘Audah setiap kata dalam Al-Qur’an mengandung makna yang tidak dimiliki oleh kata lainnya dalam ayat Al-Qur’an sehingga tidak mungkin untuk menggantikan suatu kata pada kata lainnya pada ayat Al-Qur’an. Bahkan Bintun Syathi’ dalam bukunyaal-I’jaz al-bayani lil-Qur’ani wa Masail Ibni Al-Azroq menekankan bahwa jika setiap kata –yang sering dianggap sinonim- dalam Al-Qur’an dapat mewakili kata yang lainnya, maka bangsa Arab dahulu akan dapat membuat ayat bahkan surat yang serupa dengan Al-Qur’an ketika Allah menguji mereka untuk mengalahkan kehebatan bahasa dalam Al-Qur’an.

Salah seorang ulama klasik yang terkenal dalam pembahasan perbedaan linguistik seperti ini adalah Abu Hilal Al-‘Askari dengan bukunya yang berjudul al-furugh al-lughowiyyah. Dari buku yang ditulis oleh Al-‘Askari ini, telah memberikan inspirasi tersendiri bagi  Dr. Muhammad Muhammad Daud -salah satu ulama bahasa kontemporer- untuk  menjelaskan lebih lanjut terkait perbedaan linguitik dalam Al-Qur’an yang kemudian ditulis dalam bukunya yang berjudul bukunya al-i’jaz Al-Bayani dan mu’jam al-furugh ad-dalaliyah fil Qur’an.

Tidak kalah dari itu, Universitas Darussalam sendiri telah melahirkan buku berjudul Ilmu Al-Dalalah Al-Qur’aniyyah  yang ditulis oleh Dr. Sujiat Zubaidi, salah satu dosen pascasarjana UNIDA Gontor dan dosen prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT)) dengan kata pengantar langsung oleh Dr. Muhammad Muhammad Daud. Buku ini mengupas tentang ilmu dalalah,dari segala jenis, cabang dan pembahasannya hingga penjelasan mengenai perbedaan linguistik pada bab terakhirnya. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2018 dan hingga kini, buku tersebut telah menjadi referensi utama bagi pembelajar Semantik prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT))

Bangga Menjadi Mahasiswi yang Dibekali Hafalan Al-Quran!!!

Bangga menjadi Mahasiswi Yang dibekali Hafalan al-Quran. Itulah sepatah ucapan yang keluar dari ananda Ni’ma Chusna Umniyah. Mahasiswi Farmasi Universitas darussalam Gontor punya konsern yang unik dengan hafalan al-Qur`an. Kali ini ia akan membagikan tips menghafal al-Quran kepada kita semua. Yuk kita simak !

Pondok Modern Darussalam Gontor terkenal dengan Pendidikan agama serta berbasiskan penguasaan berbahasa arab dan inggris. Tak hanya itu para santri juga di bekali hafalan alqur’an jus 30. Seiring berkembangnya zaman kini Pondok Modern Darusslam Gontor akhirnya memiliki Sebuah Universitas berbasis pesantren yang tidak lain adalah Universitas Darussalam Gontor atau singkatnya UNIDA Gontor.

Seperti halnya universitas-universitas pada umumnya UNIDA Gontor memiliki berbagai Jurusan dan Fakultas dari yang mendalami tentang agama sampai hal baru di gontor seperti fakultas ilmu kesehatan yang mana terdiri dari tiga prodi unggulan yaitu farmasi, gizi, dan K3.

Bangga Menjadi Mahasiswi yang Dibekali Hafalan Al-Quran!!!

Karena Universitas Darussalam ini merupakan perguruan tinggi yang berbasiskan pesantren, maka mahasiswa nya pun tak luput dari nilai-nilai Pondok Modern Darussalam Gontor yang sudah diajarkan dan di tanam pada mahasiwa sejak awal masuk perkuliahan, salah satunya yaitu hafalan al-qur’an. Pada umumnya mahasiswa dan mahasiswi UNIDA di wajibkan menghafal al-qur’an setengah juz setiap semesternya di mulai dari juz 29, juz 1, juz 2, dan juz 3. Selain itu hafalan tersebut merupakan syarat mengikuti ujian akhir semester. Jika mahasiswa/i belum menyelesaikannya maka akan tercekal untuk mengikuti perkuliahan.

Tips Menghafal

Maka dari itu mari kita bahas bagaimana cara menghafal quran yang mudah dan praktis di dunia perkuliahan?

  1. Mulailah dengan niat yang baik karena Allah SWT. “sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niatnya”.
  2. Menghadap kearah kiblat juga sangat dianjurkan ketika menghafal qur’an dan dalam keadaan suci.
  3. Mulai membaca alqur’an minimal 3 ayat (atau semampunya) namun jangan dihafal dahulu, melainkan berusahalah membacanya 20 kali atau lebih sampai lisan tidak kaku dalam melafalkan ayatnya dengan baik
  4. Mulai menghafal kan ayat nya sambil memahami arti kandungannya
  5. Cobalah untuk menutup alqur’an dan menghafal kan ayatnya satu persatu
  6. Usahakan tidak mengganti – ganti alqur’an yang di gunakan untuk menghafal
  7. Diulang-ulang atau muraja’ah supaya hafalan tidak cepat hilang
  8. Membaca doa khatmul qur’an setiap sesudah menghafal

Ada pula kabar baik bagi para penghafal quran khususnya dalam dunia perkuliahan, mahasiswa/i di seluruh dunia memiliki kesempatan untuk mendapatkan beasiswa belajar di dalam maupun luar negeri karna sekarang banyak universitas yang membuka beasiswa untuk para penghafal quran, untuk itu jangan pernah menyesal menjadi mahasiswa/i yang kampusnya mewajibkan untuk menghafal! Selain mendapatkan pengalaman juga ada ribuan manfaat yang bisa diraih nantinya di dunia maupun di akhirat. Rasanya Bangga menjadi bagian dari penghafal al-Qur`an

خيركم من تعلم القرآن و علمه

Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur`an dan mengamalkan

Ni’ma Chusna Umniyah/Farmasi 1A

Pelantikan HMP dan Senat Fakultas Ushuluddin

Senat Mahasiwa dan HMP merupakan organisasi mahasiswa tingkat kampus yang bersifat ekstra-kulikuler, adanya organisasi ini berperan sebagai media bagi para mahasiswa untuk mengembangkan pola pikir, potensi, dan kepribadiannya. Selain itu organisasi Senat dan HMP juga berperan sebagai motor penggerak berbagai kegiatan kampus.

Dalam menjaga dan melestarikan roda keorganisasian, Fakultas Ushuluddin menjadikan agenda pergantian pengurus Senat Mahasiswa Fakultas dan HMP sebagai agenda rutin tahunan, sehingga pada Ahad, 12 oktober 2020, Fakultas ushuluddin kembali melaksanakan pergantian pengurus Senat Mahasiswa dan pengurus HMP sekaligus pelantikan pengurus baru dan serah terima jabatan pengurus lama kepada pengurus baru Senat Mahasiswa dan HMP masa jabatan 2020/2021.

Pelantikan HMP dan Senat Fakultas Ushuluddin

Acara pergantian Pengurus Senat Mahasiswa Fakultas dan HMP kali ini diadakan di Hall CIOS dengan dihadiri oleh Dekan Fukultas Ushuluddin Al-Ustadz H. Syamsul Hadi Untung, M.A., M. Ls. para Kaprodi, serta jajaran Dosen dan mahasiswa dari fakultas ushuluddin baik dari prodi AFI, SAA ataupun IQT.

Sambutan Ketua Senat Baru

Pada acari ini para pengurus baru dilantik langsung oleh dekan fakultas ushuluddin, dan  setelah acara pelantikan, Sabiq Noor mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir semester 5 selaku ketua Senat Fakultas Ushuluddin baru masa jabatan 2020/2021 memberikan sambutan, melewati sambutannya ia mengajak kepada segenap pengurus baru, baik pengurus Senat Mahasiswa Fakultas ataupun pengurus HMP untuk bekerjasama dan saling bersinergi dalam menjalankan program kerja serta turut berkontribusi demi menciptakan universitas darussalam sebagai universitas yang bermutu dan berarti.

Pada tengah acara, Dekan Fakultas Ushuluddin Al-Ustadz H. Syamsul Hadi Untung, M.A., M. Ls. Berkesempatan memberikan pesan dan nasehat, pada kesempatan itu beliau berterima kasih kepada para purna pengurus senat mahasiswa fakultas dan Purna pengurus HMP atas dedikasinya salama kurang lebih 9 bulan menjabat, dan beliau juga berpesan kepada para pengurus baru Senat Mahasiswa fakultas dan juga Pengurus baru HMP untuk menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya, karena amanah kepengurusan Senat Mahasiswa fakultas dan juga kepengurusan HMP bukanlah sesuatu yang kecil dan remeh, dan semua pengalaman yang akan didapat dalam kepengurusan ini pasti akan sangat bermanfaat sebagai bekal didunia kerja dan ketika para mahasiswa telah terjun langsung ditengah masyarakat.

Kemudian pada akhir acara Al-Ustadz H. Syamsul Hadi Untung, M.A., M. Ls. Memimpin doa sebagai penutup acara dan setelah acara ditutup Dekan Fakultas Ushuluddin, para Kaprodi serta jajaran dosen melakukan perfotoan bersama dengan para Pengurus baru Senat Mahasiswa Fakultas dan pengurus baru HMP.

Menemukan Keindahan Amtsal al-Qur`an dalam Surat Yunus ayat 24

Bila negara punya undang-undang sebagai dasar dan sumber hukumnya, bila  jalan raya punya penunjuk arah agar tak sesatkan penggunanya, maka Islam punya Al-Qur’an tuk menjadi pedoman dan sumber ilmu bagi manusia dalam seluruh aspek kehidupannya. Jangankan urusan dunia yang fana, akhirat yang kekal selamanya telah dijelaskan sedemikian rupa.

Menemukan Keindahan Amtsal al-Qur`an dalam Surat Yunus ayat 24

Awal diturunkannya menimbulkan kontroversi diantara manusia yang hidup di zamannya, ada yang mengatakan itu dusta bahkan buatan tangan manusia. Padahal Kalamullah telah disampaikan dan disusun sedemikian indahnya hingga tak ada yang bisa mendatangkan semisalnya. Bahkan beberapa ayat di dalamnya menantang manusia untuk mendatangkan atau membuat surat yang menyerupai atau mungkin lebih indah kata-katanya.

Estetika atau keindahan kata-kata dalam al-Qur’an terbahas rinci dalam ilmu balaghah. Menurut Ar-Rummani Ilmu balaghah adalah penyampaian makna kedalam hati dalam bentuk lafal yang paling indah. Salah satu unsurnya adalah tasybih, yang artinya perumpamaan. Ada banyak perumpamaan-perumpamaan yang Allah SWT jabarkan dalam Al-Qur’an, salah satunya ada dalam surat Yunus ayat 24. Dalam surat Yunus ayat 24, Allah SWT berfirman :

إِنَّمَا مَثَلُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا كَمَآءٍ أَنزَلۡنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخۡتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلۡأَرۡضِ مِمَّا يَأۡكُلُ ٱلنَّاسُ وَٱلۡأَنۡعَٰمُ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَخَذَتِ ٱلۡأَرۡضُ زُخۡرُفَهَا وَٱزَّيَّنَتۡ وَظَنَّ أَهۡلُهَآ أَنَّهُمۡ قَٰدِرُونَ عَلَيۡهَآ أَتَىٰهَآ أَمۡرُنَا لَيۡلًا أَوۡ نَهَارٗا فَجَعَلۡنَٰهَا حَصِيدٗا كَأَن لَّمۡ تَغۡنَ بِٱلۡأَمۡسِۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ  ٢٤

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah sepertin air (hujan) yang kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan  (tanam-tanaman) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)”

Perumpamaan dalam al-Qur`an

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, Allah SWT membuat perumpamaan tentang keindahan dunia dengan segala perhiasan dan kenikmatan di dalamnya, seperti tumbuh-tumbuhan yang lebat dan bermekaran karena air hujan yang diturunkan-Nya dari langit. Tumbu-tumbuhan dan buah-buahan yang beraneka ragam macam dan jenisnya itu ada yang dimakan manusia, ada pula yang dimakan binatang ternak.

Dengan demikian kehidupan dunia terasa begitu indah dan nikmat, hingga manusia merasa bahwa mereka bisa menuai dan mengambil hasilnya sepuas dan sebanyak mereka mau. Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba datanglah angin kencang yang sangat dingin sehingga dedaunannya menjadi kering dan buahnya membusuk. Tanah yang sebelumnya hijau membentang menjadi kering kerontang seakan tak pernah ada yang tumbuh subur disana.

Maksud dari perumpamaan tersebut adalah agar manusia mengambil pelajaran bahwa akan datang masa dimana dunia akan lenyap, tetapi manusia telah terpedaya olehnya, mereka merasa yakin dan pasti dapat memetik hasil pada waktunya, tetapi akhirnya dunia luput dari mereka. Karena sesungguhnya watak dunia itu selalu lari dari orang yang mengejarnya, dan mengejar orang yang menjauh darinya.

Setelah menceritakan perihal dunia dan kelenyapannya yang cepat, maka Allah menyebutkan tentang surga dan menyeru kepadanya serta menamainya dengan sebutan Darussalam, yakni rumah yang aman dari semua penyakit, semua kekurangan, dan semua  musibah. 

Ayat ini hanya salah satu diantara sekian banyak ayat yang memberikan peringatan kepada manusia, bahwa keindahan dan kenikmatan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan yang Allah janjikan di surga-Nya.

Mari menutup mata sejenak dan menghirup nafas sedalam-dalamnya, mampukah kita membayangkan nasib kita di akhirat kelak? Pantaskah kita mengharap surga-Nya bila jiwa dan raga ini masih terus terpedaya akan surga dunia yang fana? Bukankah kemudahan ada setelah perjuangan dalam kesulitan? Begitu pula kenikmatan yang sesungguhnya akan dirasa setelah kesengsaraan yang penuh makna.

Jotti Azzah Hanif Fauziyah

GONTOR Ajarkan Arti Kesederhanaan melalui Ilmu Balaghoh

IQT.Unida.Gontor.ac.id SIMAN- Gontor telah lama menjadi kiblat utama berbagai pondok pesantren di Indonesia bahkan dunia. Sehingga gontor ajarkan nilai dan ide-ide pondok hingga kini tidak ada kelunturan di dalamnya. Salah satu nilai yang amat mahal di GONTOR adalah kesederhanaan. Orientasi Kesederhanaan tiap individu pasti berbeda dengan individu lainnya. Yang perlu diketahui adalah, bahwasannya sederhana bukanlah miskin dan sangat berbeda dengan miskin itu sendiri.

Pengertian kesederhanaan sangatlah luas, namun sebagian orang memandang arti kata sederhana sebelahmata. Apabila diresapi kembali, makna ‘kesederhanaan’ memiliki berbagai pengertian dan penafsiran. Salah satu arti yang penulis ambil dalam menjelaskan makna kesederhanaan adalah, bersahaja. Bersahaja merupakan sifat yang tidak berlebih-lebihan dalam berbagai bidang. Kita juga dapat menemukan nilai-nilai kesederhanaan melalui Ilmu Balaghah.

GONTOR Ajarkan Arti Kesederhanaan melalui Ilmu Balaghoh
Apa itu Balaghah?

Balaghah merupakan salah satu pelajaran bahasa arab yang di pelajari oleh santriwati Pondok Modern Darussalam Gontor pada saat mereka duduk di kelas empat, lima, dan enam. Serta lebih diperdalam lagi seperti Balaghah Qur’aniyah. Balagoh merupakan ilmu yang mengajarkan cara berbahasa, dalam bahasa arab sendiri kita mengartikan secara bahasa yaitu al-balig wal washal yang artinya tersampaikan. Secara istilah adalah kesesuian kalimat yang fasih tepat dan benar sesuai situasi dan kondisi. Mengenal Balaghah berarti mengenal kehidupan bangsa Arab serta mengetahui mutu peradaban dan kemajuan akal orang orang Arab yang kemudian dilanjutkan oleh Islam, karena balaghah adalah seni keindahan bahasa Arab, sebagaimana juga bangsa lain yang mempunyai seni keindahan dalam bahasa mereka.

Balaghah berasal dari ‘balagho’ yang berarti mencapai target. Jadi, Balaghah secara etimology berarti mencapai target serta tujuan dari sebuah ucapan yang indah dan fasih. Seseorang yang baligh dalam ilmu balaghah adalah orang telah tercapai tujuannya karena fasih serta indah bicaranya yang ungkapan bicaranya itu mampu mencapai hati orang yang ditujunya. Begitu juga, anak yang baligh dalam ilmu Fiqh adalah anak yang telah sampai masanya. Karena ketika baligh mulailah dia diwajibkan mengerjakan kewajiban kewajiban agama. Sesuatu yang baligh adalah sesuatu yang sukses memenuhi target yang dituju.

Jadi, balaghah itu adalah predikat bagi tiap individu dan juga ucapannya. Dari sisi ini, kita mengetahui bahwa, ilmu Balaghah berguna sekali bagi para diplomat yang memperjuangkan kepentingan dan para pemimipin yang memperjuangkan kepentingan rakyat dalam menghadapi para penguasa yang dzalim, dan juga bagi para da’i yang berdakwah serta berusaha mempengaruhi masyarakat agar mau melaksanakan agama Islam.

Makna Kesederhanaan dalam Balaghah

Sedangkan sebuah makna terdalam dari kesederhanaan itu adalah tidak berlabihan, kenapa harus balaghoh? Karena balaghoh merupakan sebuah ilmu berbahasa, yang mana maknanya tersirat. Maknanya dalam namun diampaikan dengan sederhana. Melalui ilmu balaghoh kita diajarkan

Bahasa arab merupakan bahasa yang selalu menjadi kiblat umat islam. Penuturan kata perkata diciptakan seindah yang kita sering dengar. Dari sekian bahasa, yang memiliki kesastraan tinggi dan bermacam-macam adalah sastra Arab. Bahkan, sebelum kitab suci Al-Qu’an muncul, masyarakat arab sudah mengenal syair. Syair memiliki tatanan kata yang begitu indah, dan melalui syair pula peradaban Arab di mulai. Pada zamanya, penyair memiliki kehormatan tinggi di mata raja. Di semua keramaian banyak orang yang berlomba-lomba mememerkan syair yang dimiliknya. Hingga turunnya Al-Qur’an, banyak yang tunduk dengan syair yang terkandung dalam Al-Qur’an. Ilmu itu di sebut dengan ilmu Balaghah Qur’aniyah.

Balagah berarti kesesuaian kalimat yang fasih (tepat, benar) dengan situasi dan kondisi kalam atau bahasa yang fasih/jelas sesuai dengan situasi dan kondisi.  Menurut KBBI “ilmu” berarti pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Aspek terpenting ilmu balagah: “Ungkapan yang baik dan benar yang sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan orang yang dengan jelas menyampaikan ungkapan itu.”

Zakiyatul Azizati Rosyidah/IQT 3/c3/Kampus Mantingan