Klarifikasi Kejujuran Melalui Isyarat Tangan berdasarkan QS. Yasin:65

Penelitian dalam mengidentifikasi kejujuran seseorang telah banyak dilakukan oleh para ilmuan, dalam Prof. Albert Mehrabian menyatakan, dalam komunikasi yang dilakukan secara langsung, pesan yang disampaikandapat diterima dengan indentifikasi sebagai berikut; 7% melalui perkataan yang diucapkan, 38% melalui intonasi , dan 55% melalui gerak -gerik (body language atau gesture). Penelitian diatas menunjukkan bahwa body language atau gesture merupakan objek yang lebih dominan yang perlu diamati dalam mengidentifikasi kejujuran seseorang. Namun body language atau gesture tersebut akan dititik fokuskan pada isyarat tangan dalam artikel ini.

Image result for isyarat tangan
Tafsir Surat Yasin ayat 65 dalam prespektif tafsir al-ilmi

Allah swt. berfirman:

َ الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰٓ أَفْوَٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُون َ

Artinya: Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS. Yasin: 65)


Fakhruddin Ar-Razi dalam “Mafatihul Ghoib” menerangkan bahwa pada hari kiamat Allah swt. mengunci lisan-lisan orang-orang kafir. Sehinnga tidak dapat berbicara menggunakan lisannya. Akan tetapi anggota tubuhnya (tangan) yang berkata sebagai saksi atas perbuatan yang selama ini dilakukan. Dan itu sangatlah mudah bagi Allah ta’ala, Dengan terdiamnya mulut maka tidak ada hal yang bisa ditutupi. Lisan merupakan anggota tubuh bergerak dengan Gerakan khusus. Anggota tubuh seperti tangan bergerak sebagaimana Gerakan yang dapat dilakukan oleh lisan yaitu berbicara.


Tafsiran diatas menggambarkan tentang suasana hari kiamat dimana mulut akan dikunci. Tanganlah yang berbicara sebagai saksi amalan kita di dunia. Tafsiran tersebut merupakan tafsir seorang, mufassir pada masa klasik yang mungkin belum mengenal ilmiah kontoporer seperti fisika, psikologi, biologi, dll. Sehingga mereka menafsirkan ayat tersebut sesuai ilmu yang mereka kuasai. Akan tetapi dengan berkembangnya berbegai bidang ilmu kontomperer dapat mengungkap fakta ilmiah yang terdapat pada surat Yasin ayat 65.

Thantowi Jauhari Dalam karyanya “Al-Jawahir fi tafsiril Al-Quran Al-karim”. Beliau mencoba mengungkapkan fakta ilmiah yang terkandung didalamnya. Yaitu mengungkapkan sesuatu dengan Gerakan-gerakan dan isyarat-isyarat hal merupakan yang mudah. Sebagian orang dalam percakapan lebih sering menggunakan isyarat-isyarat dan gerekan-gerakan yang daripada perkataan. Kebanyakan dari orang eropa sering menggunakan isyarat ketika berbicara.

Dasar Teori Kinesologi


Kinesiologi adalah ilmu yang mempelajari keadaan fisik dan mental manusia. Dalam kinesiologi, otot melemah disaat keadaan berbohong atau menghadapi kebohongan. Bahkan sekalipun dalam suatu lingkungan yang mana kebohongan sedang terjadi. Khususnya otot-otot lengan dapat diseteksi dengan mudah dengan cara tertentu. Otot-otot yang lemah ini mengakibatkan seluruh badan kita melemah. Jiwa kita pun ikut melemah sehingga tidak dapat berfungsi sebgaimana semestinya, bahkan tidak mampu megekspresikan diri.

Teori Dasar Psikologi Emosi

Watson menyatakan bahwa manusia mempunyai tiga macam emosi dasar, yaitu: takut, marah dan cinta. Akan tetapi dalam mendetesksi kejujuran seseorang akan lebih memanfaatkan dasar emosi yaitu takut yang berupa ketegangan. Pengaruh emosi terhadap perilaku individu apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan (nervous) dan gugup dalam bicara. Adapun perubahan emosi terhadap perubahan fisik (jasmani) khususnya ketegangan emosi, perencanaan terganggu, otot-otot menegang atau bergetar (tremor)
Blanca Cobb mengatakan, mengamati ekspresi wajah, isyarat tangan dan perilaku gelisah dapat mengungkapkan banyak tentang jujur tidaknya seseorang. Gerakan saraf pada tangan mucul dari otak yang mengalami emosi. Sehingga dari pergerakan saraf tersebut menghasilkan Gerakan tangan yang akan menjadi isyarat sebagai objek pendeteksian bahwa seseoran jujur atau berbohong.

Maka tidak dapat dipungkiri, terdapat fakta ilmiah pada ayat kedua berupa sebuah hukum keilmuan bahwa bahasa tangan lebih jujur dari pada lisan, kadang dengan lisan, menjadikan seseorang pandai dalam berbohong. Akan tetapi Bahasa tangan tidak bisa demikian. Bahkan untuk mengklarifikasi kejujuran seseorang tanganlah yang menjadi ukurannya.