Analisis Tentang Wacana Bias Gender

Iqt.unida.gontor.ac.id Memebahas Analisis Tentang Wacana Bias Gender tentunya dengan besarnya pengaruh ideologi patriarki, Angelina Sondakh adalah salah satu perempuan yang mendapatkan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri dan menunjukkan kemampuannya sebagai seorang perempuan yang berpendidikan. Hal ini memberikan sebuah kekuatan publik yang cukup tinggi terhadap Angelina Sondakh. Angelina Sondakh berhasil menggebrak segala stereotip tentang perempuan yang dianggap lemah. Menyusul kemudian Angelina Sondakh membuktikan bahwa dia adalah kaum intelektual yang terpilih menjadi wakil rakyat di DPR RI. Kekuatan tersebut semakin bersinar karena didukung melalui sebuah partai besar yang sedang berkembang di masa itu. Posisi Angelina Sondakh sedikitnya membuktikan bahwa perempuan juga berhak dan mampu berada pada sektor publik.

Angelina Sondakh dan Bias Gender

Angelina Sondakh dapat dikatakan sebagai seorang perempuan yang mendobrak ideologi patriarki yang selama ini membungkam posisi perempuan. Sehingga sebenarnya, jika dilihat dari hasil analisis wacana, ada bias gender yang cukup ekstrim jika dikaitkan dengan posisi Angelina Sondakh di ruang publik. Perilaku korupsi tentu tidak dapat disetujui oleh siapapun. Pelakunya juga tidak terbatas gender. Perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah selama tidak terjadi ketimpangan atau ketidakadilan gender. Namun yang menjadi persoalan ternyata perbedaan gender telah menghasilkan berbagai ketimpangan yang menjadi sistem dan struktur masyarakat. Kemudian perempuan menjadi salah satu korban dari struktur dan sistem yang terbentuk tersebut. Hal inilah yang disebut dengan bias gender. 

Berita tentang kasus korupsi yang melibatkan koruptor perempuan seperti Angelina Sondakh tidak harus memunculkan persoalan-persoalan lain diluar proses hukum yang melibatkan dirinya. Pemberitaan dalam surat kabar cenderung mendeskripsikan permasalahan yang terjadi dengan penambahanpenambahan cerita lain sebagai bumbu berita tersebut. Terkadang tidak sadar bahwa hal tersebut dapat membentuk realitas sosial yang semakin melekat dalam masyarakat. Terkesan bumbu-bumbu cerita yang tidak seharusnya digunakan dalam pemberitaan berfungsi untuk membuat berita menjadi lebih menarik untuk dibaca. Sifat penelitian ini berada pada level mikro, sehingga analisis data akan membuktikan kecenderungan bias gender dalam kalimat yang digunakan dalam sebuah teks pemberitaan.

Hal ini juga akan membuktikan ideologi ataupun perspektif gender yang dimiliki oleh Kompas. Fakta-fakta kecenderungan perempuan menangis, lemah lembut, tidak berdaya adalah realitas yang telah terhegemoni dalam masyarakat. Penting sekali media membukakan informasi yang dapat membuka wawasan masyarakat dalam persfektif gender. Pemberitaan dalam harian Kompas juga memiliki warna lain, selain dari fokus utama pemberitaan tentang kasus korupsi itu sendiri. Ada hal-hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan perilaku korupsinya yang ditambahkan dalam pemberitaan. Tidak relevan membahas kasus korupsi dari sisi penyebab dengan status atau jenis kelamin. 

Warna Berita harian Kompas

Secara kritis, peneliti menemukan bahwa harian Kompas, walaupun tidak secara dominan telah menjadi sarana dimana kelompok dominan dapat mengontrol kelompok yang tidak dominan. Dalam hal ini, Angelina Sondakh selalu diposisikan sebagai objek pemberitaan. Pemberitaan yang mengandung bias gender tidaklah objektif. Dengan melihat hasil analisis data, dapat dibenarkan bahwa perjuangan kaum feminis wajar diperjuangkan  demi kepentingan hak-hak perempuan. Harian Kompas, dalam menyajikan pemberitaan mengenai koruptor perempuan menampilkan semua proses hukum dengan baik. Namun, dalam kaitannya dalam menampilkan perempuan, harian Kompas juga turut memberikan warna lain dari pemberitaan kasus korupsi.

Dalam pemberitaan di harian Kompas, Angelina Sondakh direpresentasikan sebagai seorang pejabat perempuan yang melakukan tindak pidana korupsi. Pembaca menikmati setiap alur pemberitaan dengan baik tanpa melihat ketimpangan dalam pemberitaan tersebut, pembaca dapat terhegemoni dengan cepat dan akibat hegemoni tersebut, pemikiran akan perempuan sebagai kaum nomor dua tidak akan pernah dapat terselesaikan. Terdapat negosiasi antara pembaca dan penulis, dimana penulis menempatkan posisi pembaca sebagai penikmat alur pemberitaan dan perkembangan kasus korupsi Angelina Sondakh.

Kompas sebagai media massa professional dalam produksi teks berita khususnya mengenai pemberitaan kasus korupsi yang dilakukan perempuan hendaknya tetap menyajikan informasi dengan persfektif adil gender, agar tidak bias dalam menampilkan perempuan. Representasi subjek dalam sebuah pemberitaan akan menghasilkan muatan ideologi tertentu. Diharapkan setiap media massa memiliki sebuah misi pemberdayaan bagi posisi kesetaraan gender. Setiap wartawan juga semakin memperhatikan penggunaan bahasa dalam menulis sebuah berita.Wallahu’Alam Bissawab. (Pen.Safirah IQT Mantingan/Ed.Husein)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *