Amalan yang dapat Menjauhkan Kita Dari Allah, Waspadalah!

UNIDA Gontor– Waspadalah bahwa ada amalan yang dapat menjauhkan kita dari sang maha pencipta Tuhan semesta Alam ALLAH Ta’ala. Beranjak dari sini mari kita lihat dan perhatikan berikut penjelasan Hadist Rasulullah SAW.

Amalan Ini Dapat Menjauhkan Kita Dari Allah, Waspadalah!
Hadist Arbain ke 12

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ ” حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ هَكَذَا

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW.

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكَهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya”

Dari hadits diatas merupakan hadits yang berbicara mengenai pokok dalam masalah adab, Imam Ibnu Rajab Hambali mengatakan bahwa “Azhim min ushulil adab”, yakni merupakan hadits pokok tentang masalah adab. Siapa yang ingin mengetahui masalah adab (mau beradab) berarti dia harus mengambil hal ini yaitu meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat.

Point penting isi Hadist

Poin penting dalam hadits ini mengandung dua aspek dalam pemaknaannya:

  1. Bayaniah (penjelasan) yaitu maksudnya kebaikan islamnya seseorang adalah dengan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.
  2. Tab’idhiyyah (sebagian/tidak semua), yakni sebagian dari tanda keimanan seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya.
Penjelasan

Dalam dua aspek pemaknaan ini yang harus kita garis bawahi adalah jika sebagian orang hanya melihat hadits diatas dengan makna bayaniyah maka ia hanya akan beranggapan jika tanda keislaman seseorang adalah cukup dengan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya. Tapi pada kenyataannya aspek yang terpenting adalah setiap individu memaknai hadits ini dengan makna tab’idhiyyah karena maksud dari makna tersebut adalah tanda keislaman seseorang tidak cukup hanya dengan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya, tetapi bagaimana individu tersebut bisa menggunakan waktu yang ia miliki dengan sebaik-baiknya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya sebagai wujud kecintaannya serta ketaqwaannya kepada sang khalik.

Sobat, perlu kita fahami bersama bahwa suka perkara yang baik, cinta ketaatan, ingin selalu bertambah keimanannya adalah dambaan setiap orang yang benar keimanannya. Dan ingin selalu bertambah keimanannya merupakan anugrah dari Allah Ta’ala untuk hamba yang disayangi-Nya. Oleh karena itu, perbanyaklah memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menghiasi keimanan dalam hati kita semua, simaklah firman Allah Ta’ala berikut ini :

وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمْ الإِيْمَانَ وَزَيَّنَةُ فِي قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الكُفْرَ وَالفُسُوْقَ وَالعِصْيَانَۚ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُوْنَ

Yang artinya :”Tetapi Allah telah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (Al-Hujurat: 7).

Dari ayat diatas Allah memberi petunjuk untuk menjauhi kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan serta hal-hal yang tidak bermanfaat. Berikut ini perkara yang tidak bermanfaat yang hendaknya kita jauhi bersama diantaranya :

Perkara yang perlu dijauhi
  1. Ilmu yang tidak diamalkan
  2. Ibadah yang sia-sia karena dilakukan tidak ikhlas dan tidak mengikuti apa yang diajarkan Rashulullah SAW.
  3. Hati yang kosong dari kecintaan kepada Allah SWT kerinduan terhadap-Nya, dan kenyamanan ketika berada didekat-Nya.
  4. Serta fikiran yang memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat dan berbagai bentuk amalan yang menjauhkan kita dari ridha-Nya.
Pencegahan

Dalam hal ini dapat kita cegah dengah hal-hal yang dibawah ini diantaranya :

  1. Mempelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat, diantaranya dengan memperbanyak membaca al-qur’an dan mentadaburinya, mempelajari nama dan sifat Allah Ta’ala, memperhatikan keindahan agama islam, membaca sirah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan membaca sirah salafush shaleh.
  2. Memperhatika ayat-ayat Allah yang berupa ayat-ayat kauniyah.
  3. Bersungguh-sungguh dalam beramal shaleh, baik dengan hati, lisan, maupun anggota tubuh lahiriyyah, termasuk berdakwah di jalan Allah Ta’ala dan menjauhi sebab-sebab yang menuragi keimanan.

Demikianlah paparan hadits arbain ke dua belas diatas, sudah sepatutnya kita sebagai hamba yang shaleh selalu berwaspada agar amalan yang dapat menjauhkan kita dari Ridha Allah SWT bisa kita hindari

Oleh: Fitriani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *