TAFSIR SAINS RAHASIA DI DALAM AL-QUR’AN SURAT AL-KAHF : 9-25

Di Ambil Dari novel Ketika Embun Merindukan Cahaya

http://iqt.unida.gontor.ac.id/Teori relativitas Enstein, sebuah teori yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum Enstein mereumuskannya. Seorang ilmuan muslim Yusuf Ibnu Ishaq Al-Kindi, telah meletakan dasar-dasar teori relativitas ini terlebih dahulu. Tertulis di kitabnya Al-Falsafah Al-Ula pada abad ke-9 Masehi. Teori yang berbunyi “sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan tertentu maka benda tersebut akan mengalami dalasati waktu dan mengalami kontraksi panjang”. Dilasati waktu ialah jika suatu benda, makhluk hidup atau apa saja yang bergerak dengan kecepatan tertentu yang mendekati kecepatan cahaya, maka benda tersebut mengalami dilasati waktu atau kontraksi Panjang. Contohnya saat pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta, pasti waktu yang dirasakan sangatlah singkat. Karena mereka sedang asyik menikmati masa-masa kasmaran. Berbeda dengan seorang dari tim gegana yang sedang menjinakkan bom, waktu satu menit bagi mereka akan terasa seperti satu jam lamanya. sehingga artikel ini akan membahas tentang Tafsir Sains Rahasia Di Dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahf : 9-25.

Teori relativitas Enstein, sebuah teori yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum Enstein mereumuskannya. Seorang ilmuan muslim Yusuf Ibnu Ishaq Al-Kindi, telah meletakan dasar-dasar teori relativitas ini terlebih dahulu. Tertulis di kitabnya Al-Falsafah Al-Ula pada abad ke-9 Masehi. Teori yang berbunyi “sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan tertentu maka benda tersebut akan mengalami dalasati waktu dan mengalami kontraksi panjang”. Dilasati waktu iyalah jika suatu benda, makhluk hidup atau apa saja yang bergerak dengan kecepatan tertentu yang mendekati kecepatan cahaya, maka benda tersebut mengalami dilasati waktu atau kontraksi Panjang. Contohnya saat pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta, pasti waktu yang dirasakan sangatlah singkat. Karena mereka sedang asyik menikmati masa-masa kasmaran. Berbeda dengan seorang dari tim gegana yang sedang menjinakan bom, waktu yang mereka rasakan ialah satu menit akan terasa seperti satu jam lamanya. sehingga pembahasan surat Al-Kahfi dengan metode ini akan menjadi Tafsir Sains Rahasia Di Dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahf : 9-25.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Frisc dan Smith. Mereka meneliti sebuah partikel elementer yang disebut Moun. Mereka membandingkan Moun dibumi yang relative diam dengan Moun yang bergerak jatuh ke bumi dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Hasilnya sangat menajubkan, kedua partiket tersebut ternyata memiliki usia yang berbeda usia Moun di bumi memiliki usia 9x lebih tua dibandingkan dengan Moun yang bergerak dengan kecepatan cahaya. Contoh sederhananya, seperti anak kembar yang mana salah satunya pergi keluar angkasa sementara kembarannya tinggal di bumi. Kecepatan pesawat antariksa yang di gunakan salah satu anak kembar tersebut mendekati kecepatan cahaya. Maka 1 tahun yang dilalui salah satu anak kembar dalam pesawat antariksa setara dengan 9 tahun kembarannya di bumi. Contoh lainnya seperti yang di kisahkan di QS. Al-Kahf ayat 9-17 yaitu para pemuda yang tertidur bertahun-tahun di gua. Hal ini bisa saja terjadi karena mereka bergerak mendakati kecepatan cahaya.

Rumus dilasati waktu:                                                                                   

Rumus inilah yang digunakan untuk menganalisis kisah ashabul kahf berdasarkan surat Al-Kahf ayat 9-25

“Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka itu tidur, dan kami bolak-balikan mereka ke kanan dan kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentu kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka” QS. Al-Kahf : 18.

Pada ayat tersebut kita ketahui bahwa para pemuda dalam gua itu tertidur dalam keadaan bergerak. Tuhan telah menggerakan mereka dengan cara membolak-balikannya ke kanan dan ke kiri dengan kecepatan tertentu. Dan kecepatan mereka mestinya sangat cepat sehingga mereka dapat hidup melintasi zaman.

Analisa dan Pembuktian Tafsir Sains Rahasia Di Dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahf : 9-25

Menganalisis sekaligus membuktikan kebenaran cerita ashabul kahfi dalam Al-Qur’an dengan teori-teori ilmuan muslim tersebut. Dengan Rumus itu kita dapat mengetahui berapa kecepatan gerakan para pemuda tersebut. Kisah ketujuh pemuda itu bermula dari ayat ke-9 dan berakhir pada ayat ke-25. Pada ayat ke-9 bisa di mendapatkan informasi bahwa mereka hanya merasakan tidur selama satu hari. Sementara itu, waktu sebenarnya yang mereka lalui adalah selama 309 tahun. Memversikannya menjadi jumlah hari dalam kalender Qomariah. Jika satu tahunnya berjumlah 354 hari maka yang kita dapati ialah 109.386 hari. Jadi :

Jadi kecepatan cahaya yang diketahui akan konstan pada 299.792.458 meter perdetik. dari hasil penjelasan rumus tentang ashabul kahfi itu bergerak mendekati kecepatan cahaya. Artinya mereka telah mengalami dilasati waktu. Selain mengalami dilasati waktu, benda yang bergerak dengan kecepatan tinggi juga akan mengalami kontraksi waktu Panjang. Jadi, saat pemuda tersebut bergerak dengan mendekati kecepatan cahaya maka orang lain hampir tidak bisa melihat wujudnya. Mereka bergerak ke kanan ke kiri bergerak bolak balik. Jika sebuah benda bergerak berlawanan dengan arah semula maka benda-benda tersebut akan mengalami berhenti sesaat sebelum berbalik arah. Pada saat berhenti sesaat inilah terjadi perubahan bentuk pada para pemuda tersebut. Mulai bentuk normal, mengecil, menghilang, membesar, dan kembali lagi ke ukuran semula begitu pun seterusnya. Seperti halnya nyamuk yang mengepakan sayapnya 600 perdetik yang kita pun tidak bisa melihatnya dengan jelas karena kecepatannya yang mendekati kecepatan cahaya yang menimbulkan suara nging,,,, pada nyamuk.

Pada ayat ke-11 dijelaskan bahwa Allah menutup telinga mereka, “Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu”. Gerakan mereka yang sangat cepat mendekati kecepatan cahaya itu menimbulkan ledakan suara. Maka dari itu, Allah melindunginya dengan menutup dendang telinga mereka. Dan sebab itu pula nyamuk tidak memiliki telinga.

Al-Qur’an itu memiliki gaya bahasa yang penuh makna, tidak ada yang sia-sia tiap kata yang tertulis di dalamnya. Allah telah menjabarkan sebegitu rincinya di dalam Al-Qur’an, tentu ada maksudnya. Angka 300 tahun adalah perkiraan lama waktu ke tujuh pemuda tersebut tertidur di dalam gua menurut perhitungan kalender matahari. Sementara 365 adalah jumlah hari dalam satu tahun dalam perhitungan kalender matahari. Kemudian jumlah tersebut dibagi dengan 354 yaitu jumlah hari dalam satu tahun dalam hitungan kalender qomariyah.

Jadi menurut perhitungan di atas lama para pemuda itu tertidur iyalah 309 tahun menurut kalender dangan perhitungan peredaran bulan. Sementara menurut perhitungan kelender tahun matahari lama pemuda tersebeut tertidur iyalah semala 300 tahun.

Wallahu a’alam, kenapa tidak langsung saja di sebutkan menurut jumlah tahun dalam kalender qomariyah. Sesuai dengan tradisi bangsa Arab, kenapa mesti di buat dua versi perhitungan. Mungkin karena peristiwa para pemuda itu terjadi di daerah yang menjadi kekuasaan Romawi, yang mereka menggunakan perhitungan kalender matahari. Sementara Al-Qur’an di turunkan di negara Arab yang menggunakan perhitungan kalender qomariyah.

Penyebutan suatu jumlah waktu dengan gaya bahasa seperti itu tidak hanya di dalam surat Al-Kahf saja. Allah juga menggunakan gaya bahasa yang sama saat memberitahukan umur Nabi Nuh alaihi salam saat berdakwah dengan kaumnya. Terdapat di surat Al-Ankabut ayat 14 “Dan sungguh, kami telah mangutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun, kemudian, mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim”. Dakwah Nabi Nuh selama 950 tahun sesuai perhitungan hari menurut kalender qomariah. Sebab pada saat ayat itu diturunkan di negeri Arab, mereka menggunakan penanggalan dengan perhitungan peredaran bulan. Sementara seribu tahun itu bisa jadi menurut perhitungan kaum Nabi Nuh pada saat itu. Sebab berdasarkan penelitian pada ilmuan, durasi rotasi bumi pada zaman dahulu berbeda dengan saat ini.[1Http://www.astronomicafe.net/qodir/q395:html]

Wallahu a’alam, ada atau tidak adanya perubahan rotasi tersebut, hanya Allah yang mengetahui tentang kepastiannya. Dari hasil penelitian para ilmuan itu bukan sebagai harga mati sebagai penafsiran final Al-Qur’an. Jika pada suatu saat terdapat penelitian yang lebih mutkhir dan bertentangan dengan penemuan sebelumnya maka tidak menggugurkan kemurnian Al-Qur’an sebagai firman Allah. penelitian bisa berubah-ubah tapi firman Allah kekal selamanya.

“Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) itu benar-benar wahyu (yang diturukan kepada) Rasul yang mulia, dan ia (Al-Qur’an) bukanlah perkataan seorang penyair sedikit sekali kamu beriman kepadanyadan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya, ia (Al-Qur’an) adalah wahyu yang diturukan dari Tuhan semsta alam”. QS. Al-Haqqah ayat 40-43, manjadi bukti bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah, bukan perkataan manusia yang penuh kelemahan.

Dan hebatnya lagi, Jumlah keseluruhan kata hingga kata kahfihim pada ayat ke-25 ada 308 kata. dan Itu menjadi awal kalimat selanjutnya ketika Allah menyebutkan lamanya waktu tertidurnya para pemuda di dalam gua. Kalimat “tiga ratus tahun dan di tambah sembilan tahun”, “tsalaasta miatin siniina wazdaaduu tis’an” di awali sebanyak 308 kata sebelumnya.

(penulis. Hadis Mevlana/ed. Zaky Al-haidar)


[1] Http://www.astronomicafe.net/qodir/q395:html

Makna Waadin, Hadiiqah dan Jaan

iqt.unida.gontor.ac.id Kajian rutin ahad malam, masjid jami Universitas Darussalam Gontor, 12 oktober 2020, oleh Wakil Rektor Universitas Darusslam Gontor, Dr. Abdul Hafidz Zeid, M.A. Pada kesempatan kali ini Al Ustadz Dr. Abdul Hafidz Zeid, M.A. membahas beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan menjelaskan Makna Waadin, Hadiiqah dan Jaan, serta mengajak untuk lebih memahami ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Karena menurut beliau salah memahami ayat dalam Al-Qur’an akan berakibat pada penafsirannya

Makna Kata “Waadin

Ayat yang pertama yang beliau bahas adalah surat As-syura ayat 215 juz 19, yaitu:

وَٱخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang -orang yang beriman.”

Qs. As-syura, Ayat 215

Aya diatas menerangkan tentang jalan-jalan kesesatan yang ditempuh para penyair dalam menyusun sya’irnya. Asyuara ini membuat syair yaminan wasyimalan, yaitu tanpa tujuan yang jelas, kadang-kadang mereka memuji apa yang mereka cela, mengagungkan apa yang mereka hina, dan mengakui sesuatu yang pernah mereka ingkari kebenarannya.

Para penyair ini juga sering mengatakan apa yang tidak mereka lakukan. Mereka menganjurkan agar manusia pemurah dan suka memberi, tetapi mereka kikir dan bakhil.

Kemudian allah SWT berfirman, A lam tara annahum fī kulli wādiy yahīmụn, wadin yaitu lembah, seperti lembah Nil, atau lembah-lembah lainnya. akan tetapi apakah yang dimaksud lembah disini artinya lembah seperti apa yang kita lihat?

Kalimat Wadin disini adalah kalimat majas, bahwa mereka berbicara dalam kegelapan, berbicara bukan pada tempatnya, sebagai contoh: mereka mengatakan bahwa Ahmad adalah orang yang bakhil dan kikir, akan tetapi tanpa ada asas atau bukti yang jelas. wadin yaitu lapangan yang luas, jadi mereka berbicara  kemana-kemana, dan berbicara yang tidak benar dalam segala sesuatu.

Makna kata “Jaan”

Adapun Ayat yang  kedua adalah dalam surat an-naml ayat 10, allah SWT berfirman:

وَأَلْقِ عَصَاكَ ۚ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ لَا تَخَفْ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ

Artinya : “dan lemparkanlah tongkatmu”. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku.”

(Q.S An-Naml :10)

Ayat ini adalah rentetan pembicaraan lansung antara allah dan musa dilembah suci Tuwa. Setelah musa diangkat sebagai nabi dan Rasul, allah memerintahkan musa untuk melempaparkan tongkatnya, kemudian musa melihat tongkatnya bergerak, dan musa melihatnya seperti Jann. Kemudian musa lari karena takut, kemudian Allah berfirman “janganlah kamu takut, Sungguh akulah yang mengirimnya.”

Banyak orang berpendapat kalimat jaan adalah jin tapi yang dimaksud adalah yang hidup, yaitu sejenis ular yang sangat gesit geraknya.

Makna Kata “Hadiiqah”

Kemudian ayat ketiga masih dalam surat an-naml ayat 60.


أَمَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَنۢبَتْنَا بِهِۦ حَدَآئِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَّا كَانَ لَكُمْ أَن تُنۢبِتُوا۟ شَجَرَهَآ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُون

Artinya: “Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).”

(Q.S An-Naml :60)

Yaitu kaliamat hadaaiq. apa perbedaan antara Bustan dan Hadiiqah. Bustan  yaitu taman Yang berpagar, Seperti halaman rumah, atau taman kota. Sedangkan yang tidak ada pagarnya itu adalah hadiiqah. Hadiqah disini adalah kebun-kebun yang indah, yang manusia sendiri sama sekali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohon itu.

Kemudian kalimat Ya’diluun. Banyak orang mengatakan ini artinya adalah adil. ‘adlun disini bermakna sesat dari kebenaran atau orang-orang yang benar-benar menyimpang dari kebenaran, dan Ya’dilunn adalah yanharifuun.

Itulah penejelasan Makna Waadin, Hadiiqah dan Jaan yang di sampaikan oleh Dr. Abdul Hafidz Zeid, M.A. pada kesempatan kajian rutin ahad pada 12 oktober 2020, di masjid jami’ UNIDA Gontor.

(Pen.Riski Maulana Fadhilah/IQT3 siman. Ed.Zaky)

Pelantikan HMP dan Senat Fakultas Ushuluddin

Senat Mahasiwa dan HMP merupakan organisasi mahasiswa tingkat kampus yang bersifat ekstra-kulikuler, adanya organisasi ini berperan sebagai media bagi para mahasiswa untuk mengembangkan pola pikir, potensi, dan kepribadiannya. Selain itu organisasi Senat dan HMP juga berperan sebagai motor penggerak berbagai kegiatan kampus.

Dalam menjaga dan melestarikan roda keorganisasian, Fakultas Ushuluddin menjadikan agenda pergantian pengurus Senat Mahasiswa Fakultas dan HMP sebagai agenda rutin tahunan, sehingga pada Ahad, 12 oktober 2020, Fakultas ushuluddin kembali melaksanakan pergantian pengurus Senat Mahasiswa dan pengurus HMP sekaligus pelantikan pengurus baru dan serah terima jabatan pengurus lama kepada pengurus baru Senat Mahasiswa dan HMP masa jabatan 2020/2021.

Pelantikan HMP dan Senat Fakultas Ushuluddin

Acara pergantian Pengurus Senat Mahasiswa Fakultas dan HMP kali ini diadakan di Hall CIOS dengan dihadiri oleh Dekan Fukultas Ushuluddin Al-Ustadz H. Syamsul Hadi Untung, M.A., M. Ls. para Kaprodi, serta jajaran Dosen dan mahasiswa dari fakultas ushuluddin baik dari prodi AFI, SAA ataupun IQT.

Sambutan Ketua Senat Baru

Pada acari ini para pengurus baru dilantik langsung oleh dekan fakultas ushuluddin, dan  setelah acara pelantikan, Sabiq Noor mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir semester 5 selaku ketua Senat Fakultas Ushuluddin baru masa jabatan 2020/2021 memberikan sambutan, melewati sambutannya ia mengajak kepada segenap pengurus baru, baik pengurus Senat Mahasiswa Fakultas ataupun pengurus HMP untuk bekerjasama dan saling bersinergi dalam menjalankan program kerja serta turut berkontribusi demi menciptakan universitas darussalam sebagai universitas yang bermutu dan berarti.

Pada tengah acara, Dekan Fakultas Ushuluddin Al-Ustadz H. Syamsul Hadi Untung, M.A., M. Ls. Berkesempatan memberikan pesan dan nasehat, pada kesempatan itu beliau berterima kasih kepada para purna pengurus senat mahasiswa fakultas dan Purna pengurus HMP atas dedikasinya salama kurang lebih 9 bulan menjabat, dan beliau juga berpesan kepada para pengurus baru Senat Mahasiswa fakultas dan juga Pengurus baru HMP untuk menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya, karena amanah kepengurusan Senat Mahasiswa fakultas dan juga kepengurusan HMP bukanlah sesuatu yang kecil dan remeh, dan semua pengalaman yang akan didapat dalam kepengurusan ini pasti akan sangat bermanfaat sebagai bekal didunia kerja dan ketika para mahasiswa telah terjun langsung ditengah masyarakat.

Kemudian pada akhir acara Al-Ustadz H. Syamsul Hadi Untung, M.A., M. Ls. Memimpin doa sebagai penutup acara dan setelah acara ditutup Dekan Fakultas Ushuluddin, para Kaprodi serta jajaran dosen melakukan perfotoan bersama dengan para Pengurus baru Senat Mahasiswa Fakultas dan pengurus baru HMP.

Menemukan Keindahan Amtsal al-Qur`an dalam Surat Yunus ayat 24

Bila negara punya undang-undang sebagai dasar dan sumber hukumnya, bila  jalan raya punya penunjuk arah agar tak sesatkan penggunanya, maka Islam punya Al-Qur’an tuk menjadi pedoman dan sumber ilmu bagi manusia dalam seluruh aspek kehidupannya. Jangankan urusan dunia yang fana, akhirat yang kekal selamanya telah dijelaskan sedemikian rupa.

Menemukan Keindahan Amtsal al-Qur`an dalam Surat Yunus ayat 24

Awal diturunkannya menimbulkan kontroversi diantara manusia yang hidup di zamannya, ada yang mengatakan itu dusta bahkan buatan tangan manusia. Padahal Kalamullah telah disampaikan dan disusun sedemikian indahnya hingga tak ada yang bisa mendatangkan semisalnya. Bahkan beberapa ayat di dalamnya menantang manusia untuk mendatangkan atau membuat surat yang menyerupai atau mungkin lebih indah kata-katanya.

Estetika atau keindahan kata-kata dalam al-Qur’an terbahas rinci dalam ilmu balaghah. Menurut Ar-Rummani Ilmu balaghah adalah penyampaian makna kedalam hati dalam bentuk lafal yang paling indah. Salah satu unsurnya adalah tasybih, yang artinya perumpamaan. Ada banyak perumpamaan-perumpamaan yang Allah SWT jabarkan dalam Al-Qur’an, salah satunya ada dalam surat Yunus ayat 24. Dalam surat Yunus ayat 24, Allah SWT berfirman :

إِنَّمَا مَثَلُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا كَمَآءٍ أَنزَلۡنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخۡتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلۡأَرۡضِ مِمَّا يَأۡكُلُ ٱلنَّاسُ وَٱلۡأَنۡعَٰمُ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَخَذَتِ ٱلۡأَرۡضُ زُخۡرُفَهَا وَٱزَّيَّنَتۡ وَظَنَّ أَهۡلُهَآ أَنَّهُمۡ قَٰدِرُونَ عَلَيۡهَآ أَتَىٰهَآ أَمۡرُنَا لَيۡلًا أَوۡ نَهَارٗا فَجَعَلۡنَٰهَا حَصِيدٗا كَأَن لَّمۡ تَغۡنَ بِٱلۡأَمۡسِۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ  ٢٤

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah sepertin air (hujan) yang kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan  (tanam-tanaman) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)”

Perumpamaan dalam al-Qur`an

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, Allah SWT membuat perumpamaan tentang keindahan dunia dengan segala perhiasan dan kenikmatan di dalamnya, seperti tumbuh-tumbuhan yang lebat dan bermekaran karena air hujan yang diturunkan-Nya dari langit. Tumbu-tumbuhan dan buah-buahan yang beraneka ragam macam dan jenisnya itu ada yang dimakan manusia, ada pula yang dimakan binatang ternak.

Dengan demikian kehidupan dunia terasa begitu indah dan nikmat, hingga manusia merasa bahwa mereka bisa menuai dan mengambil hasilnya sepuas dan sebanyak mereka mau. Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba datanglah angin kencang yang sangat dingin sehingga dedaunannya menjadi kering dan buahnya membusuk. Tanah yang sebelumnya hijau membentang menjadi kering kerontang seakan tak pernah ada yang tumbuh subur disana.

Maksud dari perumpamaan tersebut adalah agar manusia mengambil pelajaran bahwa akan datang masa dimana dunia akan lenyap, tetapi manusia telah terpedaya olehnya, mereka merasa yakin dan pasti dapat memetik hasil pada waktunya, tetapi akhirnya dunia luput dari mereka. Karena sesungguhnya watak dunia itu selalu lari dari orang yang mengejarnya, dan mengejar orang yang menjauh darinya.

Setelah menceritakan perihal dunia dan kelenyapannya yang cepat, maka Allah menyebutkan tentang surga dan menyeru kepadanya serta menamainya dengan sebutan Darussalam, yakni rumah yang aman dari semua penyakit, semua kekurangan, dan semua  musibah. 

Ayat ini hanya salah satu diantara sekian banyak ayat yang memberikan peringatan kepada manusia, bahwa keindahan dan kenikmatan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan yang Allah janjikan di surga-Nya.

Mari menutup mata sejenak dan menghirup nafas sedalam-dalamnya, mampukah kita membayangkan nasib kita di akhirat kelak? Pantaskah kita mengharap surga-Nya bila jiwa dan raga ini masih terus terpedaya akan surga dunia yang fana? Bukankah kemudahan ada setelah perjuangan dalam kesulitan? Begitu pula kenikmatan yang sesungguhnya akan dirasa setelah kesengsaraan yang penuh makna.

Jotti Azzah Hanif Fauziyah

GONTOR Ajarkan Arti Kesederhanaan melalui Ilmu Balaghoh

IQT.Unida.Gontor.ac.id SIMAN- Gontor telah lama menjadi kiblat utama berbagai pondok pesantren di Indonesia bahkan dunia. Sehingga gontor ajarkan nilai dan ide-ide pondok hingga kini tidak ada kelunturan di dalamnya. Salah satu nilai yang amat mahal di GONTOR adalah kesederhanaan. Orientasi Kesederhanaan tiap individu pasti berbeda dengan individu lainnya. Yang perlu diketahui adalah, bahwasannya sederhana bukanlah miskin dan sangat berbeda dengan miskin itu sendiri.

Pengertian kesederhanaan sangatlah luas, namun sebagian orang memandang arti kata sederhana sebelahmata. Apabila diresapi kembali, makna ‘kesederhanaan’ memiliki berbagai pengertian dan penafsiran. Salah satu arti yang penulis ambil dalam menjelaskan makna kesederhanaan adalah, bersahaja. Bersahaja merupakan sifat yang tidak berlebih-lebihan dalam berbagai bidang. Kita juga dapat menemukan nilai-nilai kesederhanaan melalui Ilmu Balaghah.

GONTOR Ajarkan Arti Kesederhanaan melalui Ilmu Balaghoh
Apa itu Balaghah?

Balaghah merupakan salah satu pelajaran bahasa arab yang di pelajari oleh santriwati Pondok Modern Darussalam Gontor pada saat mereka duduk di kelas empat, lima, dan enam. Serta lebih diperdalam lagi seperti Balaghah Qur’aniyah. Balagoh merupakan ilmu yang mengajarkan cara berbahasa, dalam bahasa arab sendiri kita mengartikan secara bahasa yaitu al-balig wal washal yang artinya tersampaikan. Secara istilah adalah kesesuian kalimat yang fasih tepat dan benar sesuai situasi dan kondisi. Mengenal Balaghah berarti mengenal kehidupan bangsa Arab serta mengetahui mutu peradaban dan kemajuan akal orang orang Arab yang kemudian dilanjutkan oleh Islam, karena balaghah adalah seni keindahan bahasa Arab, sebagaimana juga bangsa lain yang mempunyai seni keindahan dalam bahasa mereka.

Balaghah berasal dari ‘balagho’ yang berarti mencapai target. Jadi, Balaghah secara etimology berarti mencapai target serta tujuan dari sebuah ucapan yang indah dan fasih. Seseorang yang baligh dalam ilmu balaghah adalah orang telah tercapai tujuannya karena fasih serta indah bicaranya yang ungkapan bicaranya itu mampu mencapai hati orang yang ditujunya. Begitu juga, anak yang baligh dalam ilmu Fiqh adalah anak yang telah sampai masanya. Karena ketika baligh mulailah dia diwajibkan mengerjakan kewajiban kewajiban agama. Sesuatu yang baligh adalah sesuatu yang sukses memenuhi target yang dituju.

Jadi, balaghah itu adalah predikat bagi tiap individu dan juga ucapannya. Dari sisi ini, kita mengetahui bahwa, ilmu Balaghah berguna sekali bagi para diplomat yang memperjuangkan kepentingan dan para pemimipin yang memperjuangkan kepentingan rakyat dalam menghadapi para penguasa yang dzalim, dan juga bagi para da’i yang berdakwah serta berusaha mempengaruhi masyarakat agar mau melaksanakan agama Islam.

Makna Kesederhanaan dalam Balaghah

Sedangkan sebuah makna terdalam dari kesederhanaan itu adalah tidak berlabihan, kenapa harus balaghoh? Karena balaghoh merupakan sebuah ilmu berbahasa, yang mana maknanya tersirat. Maknanya dalam namun diampaikan dengan sederhana. Melalui ilmu balaghoh kita diajarkan

Bahasa arab merupakan bahasa yang selalu menjadi kiblat umat islam. Penuturan kata perkata diciptakan seindah yang kita sering dengar. Dari sekian bahasa, yang memiliki kesastraan tinggi dan bermacam-macam adalah sastra Arab. Bahkan, sebelum kitab suci Al-Qu’an muncul, masyarakat arab sudah mengenal syair. Syair memiliki tatanan kata yang begitu indah, dan melalui syair pula peradaban Arab di mulai. Pada zamanya, penyair memiliki kehormatan tinggi di mata raja. Di semua keramaian banyak orang yang berlomba-lomba mememerkan syair yang dimiliknya. Hingga turunnya Al-Qur’an, banyak yang tunduk dengan syair yang terkandung dalam Al-Qur’an. Ilmu itu di sebut dengan ilmu Balaghah Qur’aniyah.

Balagah berarti kesesuaian kalimat yang fasih (tepat, benar) dengan situasi dan kondisi kalam atau bahasa yang fasih/jelas sesuai dengan situasi dan kondisi.  Menurut KBBI “ilmu” berarti pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Aspek terpenting ilmu balagah: “Ungkapan yang baik dan benar yang sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan orang yang dengan jelas menyampaikan ungkapan itu.”

Zakiyatul Azizati Rosyidah/IQT 3/c3/Kampus Mantingan

Pengertian Qira’at, Riwayah, Thariq, dan Wajh

Iqt.Unida.Gontor.ac.id Al-Qur’an berperan sebagai kitab umat Islam sepanjang zaman, menjadi pedoman bagi kehidupan, juga pusat dari sumber keilmuan. Kemudian as-sunnah sebagai penjelasan dari al-Qur’an. Dalam mengarungi beratnya kehidupan dengan tantangan zaman, kedua sumber ini kaya akan solusi dari segala masalah kehidupan manusia, di dalamnya terdapat perintah dan larangan, juga ilmu yang berlimpah lainnya. Salah satu ilmu dalam Al-Qur’an yang harus kita ketahui adalah Ilmu Qira’at. Oleh karenanya penulis akan mengajak para pembaca yang budiman mengenal pengertian tentang Qira’at, Riwayah, Thariq, dan Wajh

Pengertian Qira’at, Riwayah, Thariq, dan Wajh
Mengenal Definisi Qira’at

Ilmu Qira’at adalah Suatu ilmu untuk mengetahui kesepakatan serta perbedaan para ahli qira’at tentang cara pengucapan lafaz-lafaz dari Al-Qur’an, baik yang menyangkut aspek kebahasan, I’rab, hafz, isbat, fashl, washl, ibdal, yang diperoleh dengan cara periwayatan. Menurut Abd al-Fattah al-Qadi dalam al-Budur al-Zahirah Ilmu Qira’at adalah

“Ilmu yang berbicara tentang tata cara pengucapan kata-kata dalam Al-Qur’an dan metode penyampaiannya, baik disepakati ataupun yang ikhtilaf dengan cara menyandarkan setiap qira’at atau bacaannya kepada salah seorang perawinya”.

Eksistensi ilmu Qira’at sangatlah penting, karena sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa qira’at ini bukanlah ijtihadi para sahabat atau tabi’in akan tetapi tauqifi yang langsung diberikan Allah kepada Rasul-Nya dan disandarkan pada sistem sanad. Didalam ilmu Qira’at terdapat pengertian-pengertian yang harus kita pahami, diantaranya; Pengertian tentang Qira’at, Riwayah, Thariq, dan Wajh

Pengertian Qira’at, Riwayah, Thariq, dan Wajh

Qira’at secara behasa berarti bacaan. Maksud dari istilah ini adalah setiap bacaan yang disandarkan kepada salah seorang Qari’ (Ulama ahli bacaan Al-Qur’an) tertentu. Maka, kita akan mendengan istilah Qira’at Ashim, Qira’at Nafi’, Qira’at Ibnu Katsir, dan lainnya. Mereka adalah para imam yang menjadi sumber qira’at tertentu.

Riwayah adalah sesuatu yang disandarkan kepada perawi atau orang yang mengutip qira’at secara langsung dari Imam Qira’at tertentu. Para Imam Qira’at memiliki murid-murid yang melalui ilmu qira’at tersebar luas. Misalnya riwayah Warasy dari Nafi’, Riwayah Hafsh dari ‘Ashim, riwayah Ibnu Wardan dari Abu Ja’far.

Thariq secara bahasa berarti jalur, jalan. Maksudnya adalah rangkaina sanad (yakni para perawi) yang berakhir pada seorang perawi dari Imam Qira’at atau guru (Syaikh) bacaan Al-Qur’an tertentu. Istilah ini dipergunakan untuk menunjuk apa yang diriwayatkan oleh seorang Qari’ dari generasi lebih akhir (yakni, yang hidup sesudah Rawi pertama dari Qari’ tertentu). Misalnya Tharhq atau jalur al-Azraq dari Warasy, thariq Abu Rabi’ah dari al-Bazzy, thariq ‘Ubaid Ibnu ash-Shabbah dari Hafsh.

Tiga istilah diatas disebut juga dengan khilaf wajib, dengan kata lain seseorang yang membaca al-Qur’an dengan riwayat tertentu harus mengikuti kaeda-kaedah yang berlaku dalam Qira’at, riwayah thariq tersebut.

Sedangkan Wajh secara bebas dapat dimaknai versi atau ragam, yaitu semua bentuk perbedaan atau khilafnya yang diriwayatkan dari Qari’ tertentu, lalu dalam kasus ini seseorang dipersilahkan untuk memilih mana yang akan dibacanya, karena semuanya shahih dari Qira’ tersebut. Namun disandarkan oleh Ibnul Jazari agar kita memilih satu versi saja dalam satu kali pengkhataman.

Yang terakhir ini disebut juga dengan Khilaf Jaiz yaitu perbedaan para qurra dalam memilih bentuk bacaan, seperti bacaan istia’dzah, bacaan basmalah antara dua surah, memilih untuk berhenti secara sukun, roum atau isymama, memilih bacaan dengan kadar panjang ishba’ (panjang) 6 harakat, tawassut (pertengahan) 4 harakat atau qashar (pendek) 2 harakat dalam mad’aridh lissukun.

(Pen.Haila Fardyatullail IQT/7 Mantingan. Ed.Husein)

Riya: Perumpamaannya Dalam Ayat Al-Qur’an

Iqt.unida.gontor.ac.id Perumpamaan riya dalam ayat Al-Qur’an, tentunya pemahaman dan pengkajian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an mempunyai peranan yang sangat besar bagi perkembangan umat. Selain itu juga sebagai cerminan perkembangan metode, corak, maupun karakteristik tafsir. Usaha untuk memahami Al-Qur’an sudah ada sejak masa Nabi dan sampai sekarang pun belum berhenti sampai akhir zaman.

Riya: Perumpamaannya Dalam Ayat Al-Qur’an

Dari ayat-ayat Al-Qur’an mengandung banyak makna yang dapat dijadikan sebagai pedoman ataupun ilmu pengetahuan bagi kita. Seperti hukum Riya dalam bersedakah. Yang mana masih terdapat orang yang belum mengetahui akan hakikatnya sedekah, tanpa harus diumbar-umbar ataupun dipublikasikan.

Hakekat Sedekah

Bersedekah adalah ibadah yang mulia. Dengan bersedekah, Islam mengajak dan mendorong bersedekah sebagai kasih sayang kepada orang-orang yang membutuhkan. Sedekah juga merupakan amalan shaleh yang diperintahakan Allah SWT. Apabila seseorang bersedekah, maka sedekahnya tersebut akan diberi balasan yang tak ternilai dsisi Allah SWT.

Salah satu keutamaan sedekah yaitu, akan mendapatkan naungan dari Allah SWT di akhirat, kemudian dapat mengahapus dosa, dapat memberi keberkahan pada harta, kemudian akan disediakan pintu khusus untuk masuk surga. Dan masih banyak hal lagi keutamaan-keutamaan dari bersedekah.

Namun, apabila seseorang bersedekah dengan niat agar mendatkan pujian dari orang lain, ataupun berniat untuk dlihat oleh orang lain. Alangkah ruginya kita jika berbuat riya , karena Allah SWT akan berlepas dari diri kita dan tidak akan mau menerima amalan kita. Hal ini diterangkan dalam surah Al-Baqarah ayat 264. Yang memperumakan orang yang bersedekah dengan riya makan diperumpamakan seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِي يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٞ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٞ فَتَرَكَهُۥ صَلۡدٗاۖ لَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَيۡءٖ مِّمَّا كَسَبُواْۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٦٤

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS.Al-Baqarah:264)

Isi kandungan surah Al-Baqarah ayat 264 menejelaskan tentang:
  1. Ketika bersedekah jangan menceritakan kepada orang lain, sedekah itu harus ikhlas
  2. Larangan merendahkan perasaan orang yang kita hendak beri dengan menyebut-nyebutkan sedekah kita
  3. Orang yang riya itu dilarang, karena amalan riya tersebut merupakan amalah yang disukai syaitan

(Pen.HalimahTussa’diah IQT/3 Mantingan. Ed.Husein)

Kajian Al-Lama’at HMP IQT Puteri

IQT.Unida.Gontor.ac.id Mantingan – Dalam rangka kajian Al-Lama’at perdana Himpunan Mahasiswa periode 2020-2021 program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UNIDA GONTOR kampus putri. Seperti biasa yang di sampaikan oleh Al-Ustadzah Ridani Faulika Permana M.Ag. dengan judul Cahaya Ketujuh (Tujuh Macam Pemberitahuan Ghaib Yang Terdapat Pada Akhir Surat Al-Fath).

Dalam surat al-Fath ayat 27-29 tersebut mengandung berbagai aspek kemukjizatan. Sepuluh aspek kemukjizatan al-Qur’an di antaranya terkait pemberitahuan ghaib yang terdapat pada tujuh aspek didalamnya yaitu:

Aspek Pertama

sesungguhya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya. Yaitu bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman…”

Ayat ini telah memberitahukan penaklukkan Mekkah (Fathul Makkah) sebelum peristiwa tersebut terjadi. Dan ternyata dua tahun berikutnya peristiwa tersebut benar-benar terjadi seperti yang diberitakan ayat tersebut.

Aspek Kedua

Dan sebelum itu Dia memberikan kemenangan yang dekat.

Ayat ini mejelaskan kemenangan yang dekat iyalah perjanjian Hudaibiyah, meskipun terlihat merugikan kaum Muslimin dan relatif menguntungkan kaum Quraisy. Namun, Allah memiliki cara lain untuk memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin hingga perjanjian yang awalnya di anggap merugikan namun mendatangkan kemenangan. Dengan berbaurnya para kabilah, sifat mereka yang keras kepala dan tirai fanatisme kesukuan yang tercelah telah lenyap oleh kemuliaan Islam dan cahaya al-Qur’an.

Aspek Ketiga

Tanpa merasa takut…”

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan memberikan ketenangan kepada kaum Muslimin. Dengan menjanjikan kaum Muslimin akan memasuki Masjidil al-Haram dan bertawaf tanpa rasa takut, semua itu terwujud sesuai berita ayat tersebut.

Aspek Keempat

Dialah yang mengirim Rasul-Nya dengan membawa petujuk dan Agama yang hak agar Agama tersebut dimenangkan terhadap semua Agama.”

Ayat ini secara tegas menjelaskan bahwa Agama Islam yang di bawa Rasul akan mengalahkan semua Agama. Hal ini sama seperti kabar-kabar di ayat sebelumnya peristiwa yang belum terjadi, namun janji Allah di ayat-ayat tersebut pasti akan terjadi hingga kabar ini nyata pada masa mendatang.

Aspek Kelima

Muhammad itu adalah utusan Allah, Orang-orang yang Bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, dan kasih saying terhadap sesama mereka. Kamu saksikan mereka rukuk dan sujud mecari karunia Allah dan ridha-Nya. Tanda mereka Nampak pada muka mereka dari bekas sujud.”

Makna ayat tersebut dengan jelas memberitahukan kajian sifat para sahabat yang menjadi manusia paling mulia setelah para nabi. Serta ayat di atas juga menjelaskan berbagai karakter istimewa yang di miliki para sahabat di waktu yang akan datang. Para ahli hakikat menerangkan ayat ini dengan makna isyari (secara implisit) urutan para khalifah setelah Rasul wafat.

Aspek Keenam

Demikianlah sifat-sifat mereka yang terdapat dalam Taurat”

Informasi gaib yang terkandung di ayat ini terbagi menjadi dua aspek kajian. Pertama, menggambarkan sifat-sifat para sahabat yang terdapat di dalam Taurat. Kedua, menginformasikan bahwa para sahabat, dan para tabiin, di mana cahaya yang terdapat dalam jiwa mereka memancar ke wajah mereka.

Aspek Ketujuh

Dan sifat-sifat mereka yang terdapat didalam Injil. Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman tersebut kuat lalu besarlah dia dan tegak lurus di atas pokok-nya. Tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya karena Allah hendak membuat jengkel hati otang-orang kafir.”

Ayat ini juga menginformasikan kajian kedalam dua aspek, yaitu. Pertama, menggambarkan sosok nabi yang akan datang pada akhir zaman yang nantinya akan menjadi pemimpin dunia. Dan berbagai informasi tentang sifat-sifat sahabat yang terdapat di dalam Injil, tergolong masalah ghaib (tersembunyi) bagi Rasul. Kedua, bagain ini juga menjelaskan meskipun para sahabat menerima perjanjian Hudaibiyah namun Allah membalikan itu semua. Berawal kaum Muslimin lemah namun atas kuasa Illahi mereka memperoleh kekuatan dan kemuliaan.

Perjalanan waktu telah membuktikan semua informasi ghaib yang di jelaskan pada ayat-ayat tersebut dengan jelas, hal tersebut membuat mereka layak untuk memperoleh itu semua berupa pahala yang besar dan ganjaran yang mulia. Ganjaran yang terbesar ialah mendapatkan ampunan dari Allah (Maghfirah), ampunan yang di maksud bukan ampuan terhadap dosa. Sebab, Nabi mempunyai sifat ishmah (terperihara dari kesalahan) namun ialah ampunan yang sesuai dengan kedudukan kenabian. (Ed.Husein).

DEMA 2020: Mahasiswa Tafsir Kembali Jadi kandidat

IQT.unida.gontor.ac.id SIMAN – DEMA merupakan singkatan dari Dewan Mahasiswa UNIDA Gontor. Nah khususnya DEMA kabinet garuda periode 2019-2020 kini telah memasuki masa-masa akhir jabatan. Tentunya suasana saat ini tengah menjadi hangat dengan adanya beberapa koalisi yang saling bersaing sebagai bentuk regenerasi untuk kepengurusan periode selanjutnya. Persaingan yang tidak lain merupakan sebuah pendidikan dalam artian berlomba-lomba dalam kebaikan. Maka timbullah pertanyaan sederhana siapakah yang akan menjadi nahkoda kepenguruusan berikutnya, who will be the next leader?

DEMA 2020: Mahasiswa Tafsir Kembali Jadi kandidat
IQT.unida.gontor.ac.id

Beberapa kandidat kuat yang di bagi menjadi dua koalisi sudah memasuki 3 besar jelang pemilihan umum Dewan Mahasiswa diantaranya adalah koalisi nomor urut 01: Fitrah Alfiansyah HI, Rofi Aji SAA, dan Ahmad Adnan MB dengan koalisi SERASI (Serempak Bersinergi). Disamping itu juga ada koalisi nomor urut 02: Fahmi Akhyar Al farabi IQT, Nur Alamsyah EI, dan Fatan Faqihul Wafa PAI dengan koalisi UNIDA BERSAMA (Bersatu Dalam Solidaritas Mahasiswa).

Rentetan Acara Pergantian Pengurus Dewan Mahasiswa

Universitas Darussalam Gontor mengadakan pergantian DEMA Dewan Mahasiswa periode 1442-1443 H/2020-2021 M yang akan dilaksankan pada tanggal 26 september 2020. Adapun pergantian pengurus Dewan Mahasiswa sebagaimana berikut:

  • pada tanggal 14 september 2020, pemilihan utusan dari setiap prodi
  • pada tanggal 15 september 2020, pemanggilan pemilihan kandidat ketua Dewan Mahasiswa
  • pada tanggal 16 september 2020, Rapat penentuan pasangan kandidat
  • pada tanggal 17 september 2020, pemanggilan 6 ketua DEMA menjadi 2 bagian
  • pada tanggal 19 september 2020, Debat babak pertama (Pemaparan visi & misi)
  • pada tanggal 21 september 2020, Debat babak kedua (Pemaparan Program Kerja)
  • pada tanggal 23 september 2020, pemungutan suara atau pemilihan umum calon ketua DEMA dan perhitungan suara
  • pada tanggal 26 september 2020, pergantian pengurus dan serah terima amanah antara DEMA lama dan DEMA baru

Dengan demikian milikilah hak suara anda dan mari memilih dengan baik, pilihlah yang terbaik dari yang terbaik. Dari dua koalisi di atas tadi nantinya sebagai wadah pemersatu, penampung aspirasi dan penyalur bakat mahasiswa untuk DEMA UNIDA yang maju menuju cita-cita perguruan tinggi yang bermutu dan berarti. Wallahu a’lam bissawab. (Ed.Husein)

Webinar Dauroh Qur’aniyyah Pembinaan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an

IQT.unida.gontor.ac.id SIMAN – Webinar Dauroh Qur’aniyyah yang bertemakan “Pembinaan Pentashihan Mushaf al-Qur’an” bersama asatidz dan asatidzah tim lajnah pentashihan mushaf Al-qur’an pusat yang bekerjasama dengan Kementerian Agama part pertama telah diselenggarakan pada tanggal 17 September 2020 di Universitas Darussalam Gontor. Oleh karenanya, dari kegiatan ini mempunyai tujuan dengan harapan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengetahui sejarah maupun ilmu dalam pentashihan mushaf al-Qur’an.

Rentetan acara

Rentetan kegiatan Webinar ini dilaksanakan dalam 3 hari yaitu mulai hari Kamis, 17 September 2020 sampai Jum’at, 18 September 2020 dan kemudian dilanjutkan kembali pada hari Kamis, 24 September 2020.

Webinar Dauroh Qur'aniyyah Pembinaan Pentashihan Mushaf Al-Qur'an
webinar part#1
Webinar Part Pertama

Dalam webinar kali ini, terdapat 10 pemateri yang menyampaikan materi terkait pentashihan mushaf al-Qur’an dengan pembagian sesi yang berbeda. Pada hari Kamis, 17 September 2020 terdapat 3 narasumber yang memaparkan materi yang berbeda yaitu Dr. H. Muchlis M. Hanafi, M.A. yang menyampaikan materi tentang “Kebijakan Pentashihan Mushaf Al-Quran di Indonesia” di sesi pertama. Pada sesi kedua, materi disampaikan oleh Mustofa, M.Si. yang memaparkan tentang “Sejarah dan Perkembangan Penerbitan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia”. Selaku moderator yang dipandu oleh ustadz Ilham Habibullah, M.Ag, acara ini juga di iringi dengan diskusi interaktif antara narasumber dan juga peserta webinar sampai menjelang sholat dzuhur.

Kemudian setelah sholat, acara dilanjutkan kembali pada pukul 13.00 yaitu pada sesi ketiga dengan dipandu oleh Ustadz M. Faqih Nidzom, M.Ag. selaku moderator dengan Dr. H. Zaenal Arifin, M.A. sebagai narasumber yang menyampaikan materi tentang “Ilm Rasm dan Dabt; Teori dan Aplikasinya dalam Mushaf Standar Indonesia (MSI)” sampai menjelang waktu Sholat Ashar.

Adapun sebagai peserta, tentunya peserta dalam webinar kali ini lebih beragam dengan jumlah target 230-an peserta yang terdiri dari peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) angkatan 2020, mahasiswa program studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, dan anggota Zona al-Qur’an UNIDA Gontor yang hadir secara offline di Hall Lt.4 Gedung Utama baru Universitas Darussalam Gontor. Selain itu juga terdapat peserta yang hadir secara online dari berbagai instansi di Indonesia yang disiarkan secara live pada media akun youtube gontor.tv. (Pen.Izzuddin Ahmad F PAI 7/Ed.Husein)

Materi Dan PPT

Demikianlah acara pada webinar part#1, yang insyaAllah akan dilanjutkan pada webinar part#2 pada pertemuan mendatang tepat hari Kamis, 24 September 2020. Dan bagi teman-teman pembaca ataupun peserta webinar kiranya menghajatkan materi berupa ppt pemateri agar bisa melalui link sebagaimana berikut:

Mushaf Al-Qur’an Braille

Rumus Braille

Ilmu Rasm dan Dabt

Sejarah perkembangan Mushaf Al-Qur’an di Nusantara

Sistem Tanda Waqaf Mushaf Standart Indonesia (MSI)

Studia Islamika