Mundzirul Qoum Hari Ini : Realisasi Adab di era Modern

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah:122)

Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa kalimat lampau dalam permulaan ayat ini digunakan sebagai bentuk celaan atas meninggalkan perkerjaan yang telah lalu dan perintah untuk masa mendatang. Tentu hal ini berkaitan dengan sebab diturunkannya ayat. Dahulu, pada masa Rasulullah SAW banyak orang yang senang pergi berperang untuk berjihad, sehingga hanya menyisakan segelintir orang yang menetap. Maka, diturunkanlah ayat yang menyatakan bahwa jihad menjadi tidak wajib jika Rasulullah SAW tidak ikut serta.

Jihad dan menuntut ilmu menjadi fardhu kifayah. Mengapa jihad dinyatakan sebagai fardhu kifayah dan bukan fardhu ain? Berdasarkan urgensi yang ada kala itu, apabila semua orang pergi berjihad, maka kepentingan umat akan terhenti. Tidak ada yang akan memegang tonggak kepemimpinan bila sang pemimpin turut pergi. Tak ada yang dapat mengadili jika sang hakim turut pergi. Tak ada yang dapat mendidik anak jika sang ayah turut pergi. Meski begitu, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, maka bagi mereka yang menetap hendaknya mendalami syariat dan mengajarkannya pada mujahidin bila mereka telah kembali.

Berjihad di zaman ini memiliki berbagai macam bentuk. Tak hanya dengan pedang bak mujahidin terdahulu, namun juga dengan pikirannya. Maka bila dari sekelompok muslim tengah mempelajari ilmu pengetahuan yang menjadi senjata andalan Barat, hendaklah sekelompok lainnya teguh mempelari ilmu agamanya dan memperingatkan muslimin lain bila tengah lalai.

Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah dalam Tafsir Al-Azhar terkait ayat ini menuliskan, “Apa yang diperjuangkan di garis muka, kalau tidak ada di belakang yang mengisi ruhani?”. Pernyataan ini sebanding lurus dengan kutipan Al-Ghazali dalam kitab Al-Hikam, “Yang terpenting bukannya tercapainya apa yang engkau cari, tetapi yang penting adalah engkau dilimpahi rezeki adab yang baik.” Bagi penuntut ilmu, terlebih para mundzirul qoum, adab selayaknya menjadi modal utama untuk mencapai hakikat ilmu itu sendiri. Tanpa adab, takkan mampu para pembelajar itu mencapai derajat ‘alim.

Mundzirul Qoum Hari Ini : Realisasi Adab di era Modern

Semangat mundzirul qoum sekiranya sangat sesuai dengan semangat Sumpah Pemuda yang digaungkan oleh Boedi Oetomo, Wage Roedolf Soepratman, Moh. Yamin, dan Sugondo Joyopuspito pada 28 Oktober 1928. Mereka bertekad dengan satu cita-cita, semangat yang sama melahirkan satu visi dan perjuangan bersama, yakni satu tanah air, satu bahasa dan satu bangsa yakni Indonesia. Sejarah pun terukir di kala

Menaati perintah guru adalah kunci utama. Ketika Rasulullah telah tiada, maka perpanjangan tangan beliau adalah para ulama. Penerus ilmu beliau adalah para ulama. Para ulama itulah yang akan menjadi gurunya umat muslim seluruh dunia. Menghormati ulama wajib hukumnya bagi umat muslim. Mencelanya ada laknat. Memakinya menjadi biadab. Namun apa yang terjadi hari ini. Fitnah tengah bertebaran di kalangan para ulama. Entah dari mana hal itu bermuara. Segala yang haq dan bathil menjadi bias dan cenderung kias.

Menjadi umat Muslim hari ini ‘memang sulit’. Menjadi seorang mundzirul qoum apa lagi. Sulit menjauhkan diri dari dosa, sulit mendekatkan diri dengan pahala, sulit membedakan mana yang haq dan bathil. Apakah benar sesulit itu? Iya. Jika kita tidak membekali diri dengan ilmu dan membentengi hati dengan iman.

Patut diperhatikan bahwa, tak mungkin pribadi dengan kapabilitas unggul tercapai tanpa adab yang tinggi pula. Bila adab telah dimiliki, maka hakikat ‘alim akan tercapai. Tak akan diragukan pula bila pribadi semacam itu memiliki akhlak yang indah. 

Penulis : Anugrah Suciati, S.Farm, (Alumni Farmasi UNIDA Gontor)
Editor : Ilham Habibullah, M.Ag

Atmosfer Baru Orientasi Perkenalan Fakultas Ushuluddin

          Rabu, 8 Juli 2020, manjadi sebuah hari yang memiliki atmosfer baru dalam Orientasi Perkenalan Fakultas Ushuluddin di Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri, Mantingan. Kegiatan ini dihadiri oleh para dosen dan staff  fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor serta seluruh mahasiswi fakultas Ushuluddin termasuk semester 1 yang baru bergabung dengan keluarga besar Ushuluddin turut berpartisipasi merasakan atmosfer tersebut yang memiliki rasa kekeluargaan tinggi.

          Dalam kesempatan ini Dekan fakultas Ushuluddin, Al-Ustadz Drs.H. Syamsul Hadi Untung, M.A, M.Ls pun menyampaikan kata sambutannya yang  mencerahkan fikiran mahasiswi khususnya mengenai ‘untuk apa kita belajar di Ushuluddin’. “Ushuluddin adalah ibu dari semua fakultas. Kita harus menjadi sebaik-baik contoh untuk semua Fakultas lain karena kita adalah sumber dari semua ilmu pengetahuan,” demikian ungkapan beliau ditengah situasi yang mengharuskan mahasiswa/i bangkit demi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di kampus bagi para penerus dakwah di masa mendatang.

          Selain perkenalan Fakultas, tentu perkenalan Prodi pun dilakukan dalam rangkaian acara tersebut. KaProdi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Al-Ustadz Ahmad Fadly Rahman Akbar, M.A beserta para dosen lainnya juga ikut andil dalam tahap perkenalan ini. Tujuannya adalah agar seluruh lapisan Mahasiswi program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir semakin mengenal para dosen baik secara personal maupun bidang khusus yang diampu.

Atmosfer Baru Orientasi Perkenalan Fakultas Ushuluddin

Tujuan Orientasi tersebut

          Acara kemarin bertujuan memberikan keyakinan bahwa Fakultas Ushuluddin khususnya Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir adalah titik acuan yang harus dijadikan sanggahan untuk Fakultas lain. Karena ilmu yang dipelajari bersumber dari wahyu, untuk itu dengan mempelajari Kalamullah diharapkan mendapat pengaruh pada ‘attitude’ mahasiswa/i sebab meningkatnya keimanan disamping bertambahnya wawasan yang diperoleh. Sejalan dengan visi misi prodi, selanjutnya turut dibahas mengenai perkembangan Tafsir Sains yang saat ini kian maraknya diperbincangkan dan perlu kiranya turut andil didalamnya. Tentunya tetap selaras dengan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer yang menjadi jargon di UNIDA.

Akhir kata, semoga kita semua dapat terus bersama dalam atmosfer baru ukhuwah dan menjadi generasi Qur’ani yang senantiasa haus ilmu sehingga terus berusaha mengkaji dan mengamalkannya. Dan kami ucapkan Selamat bergabung bagi Mahasiswa Baru.

KAJIAN KITAB RISALAH NUR

Bagi mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) membaca kitab tafsir, seperti Risalah Nur, yang berbahasa Arab bukanlah suatu hal yang sulit. Hal ini dikarenakan pada umumnya kitab tafsir dicetak berjilid-jilid sehingga terbiasa bagi mereka untuk membacanya.

Namun membaca saja tidak cukup melainkan perlu adanya kajian secara intensif terutama mengkaji suatu kitab tertentu kepada pakarnya langsung ataupun muridnya dengan sanad yang sampai pada ahlinya.

Untuk itu pengurus HMP Unida Putri berkolaborasi dengan al-Ustadzah Ridani Faulika Permana dalam kajian kitab Risalah Nur karya Bediuzzaman Said Nursi

KAJIAN KITAB RISALAH NUR
Suasana Kajian Rsalah Nur oleh Mahasiswi IQT UNIDA Gontor 2020

Pada kesempatan tersebut ustadzah Ridani mengenalkan kitab al-Kalimāt dan al-Lama’āt yang termasuk dalam koleksi Risalah Nur dengan metode tafsir tematik. Diawali dengan pembahasan mengenai makna “Bismillah” dalam ‘Kalimat pertama’ yang berisi penegasan akan kekuatan Bismillah dimana segala sesuatu tidak dapat terpisahkan dari dimensi Tuhan.

Adapun semua yang bermula dengan menyebut Nama-Nya akan menjadi luar biasa. Namun atas semua nikmat itu Allah hanya menginginkan tiga hal dari manusia yaitu dzikr, fikr, syukr. Kemudian dilanjutkan dengan ‘Cahaya Pertama-Kedua’ dalam kitab al-Lama’āt mengenai munajat Nabi Yunus a.s dan Nabi Ayub a.s. Ujian yang ditimpa keduanya tidaklah lebih mengerikan dibanding dengan keadaan kita, karena keduanya merasakan ujian dalam bentuk fisik. Sedangkan manusia tidak mengetahui akan sakit maupun ikan Paus seperti apa yang mereka hadapi sesungguhnya.

Adapun tema yang paling diminati oleh peserta kajian adalah ‘Risalah Hijab’ yang terkandung dalam ‘Cahaya Kedua Puluh Empat’ dengan penekanan bahwa hijab adalah fitrah bagi wanita dan bukan menjadi penghalang maupun pembatas ruang gerak mereka. Sehingga melepasnya adalah suatu hal yang bertolak belakang dengan fitrahnya sebagai wanita.

Wabah dalam kajian Risalah Nur

Selanjutnya terkait dengan wabah yang sedang melanda berbagai negara di dunia maka dikaji lebih lanjut tentang sebuah dialog singkat seputar lalat yang terkandung di ‘Cahaya Kedua Puluh Delapan’ dimana dialog singkat tersebut bermula pada saat Bediuzzaman di dalam bui bersama muridnya yang bernama Sulayman Rusydi.

Lewat dialog singkat tersebut dapat dipahami bahwa Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu, bahkan makhluk yang bentuknya lebih kecil dari manusia serta mampu melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia. Dan tidak benar bagi siapapun yang menuhankan makhluk karena lalat dan sejenisnya adalah pasukan yang disiapkan oleh Allah dengan berbagai tugas yang diemban masing-masing sesuai jenisnya.

Dan yang terakhir ditutup dengan mengenal hakikat kalimat ‘Yā Bāqi anta al-Bāqi‘ dengan tidak menyertakan unsur emosi serta perasaan terlibat didalamnya dan tidak diukur dengan ukuran logika. Tema penutup ini dimaksudkan agar semua peserta senantiasa mengosongkan hati dan membersihkan kalbu serta menyadari bahwa tidak ada yang kekal selain Allah SWT.

Kajian yang diikuti oleh mahasiswi program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) ini dilakukan secara rutin dua pekan sekali. Kajian yang dikoordinir oleh HMP tersebut diharapkan mampu menjadi wadah bagi para mahasiswi dalam menelaah kitab tafsir tidak sebatas pada mengetahui judul dan mufasir nya.

Namun dengan kajian kitab seperti demikian rupa memiliki harapan yang jauh lebih matang tentunya yaitu mengkhatamkan setidaknya satu kitab tafsir. Semoga kedepannya tidak hanya Risalah Nur saja yang dikaji namun juga kitab tafsir lainnya. Subhānaka Lā ‘Ilma lanā illa mā ‘allamtanā innaka anta al-‘Alīm al-Ḥakīm.

PEMBUKAAN KKN (KULIAH KERJA NYATA) 2020

Mantingan – Mahasiswi semester 7 Universitas Darussalam Gontor kampus putri mengikuti Pembukaan KKN (Kuliah Kerja Nyata) pada Sabtu 18/072020. Acara ini mendapat arahan dan bimbingan dari bapak dekan Kulliyatul Banat al-Ustadz Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH

PEMBUKAAN KKN (KULIAH KERJA NYATA) 2020

Pada kesempatan tersebut dijelaskan bahwa semester 7 sebagai pelaksana kegiatan Kuliah Kerja Nyata merupakan teladan, model, serta wujud maksimal dari kampus yang bertugas sebagai pengemban amanah, tanggung jawab serta ketentuan dan peraturan universitas selama masa pandemi covid-19.

Pelaksanaan KKN

Adapun pelaksanaan KKN kali ini tidaklah sama dengan biasanya dikarenakan kondisi yang kurang memungkinkan untuk bekerja di lapangan bersama masyarakat sekitar demi kesehatan dan keselamatan seluruh pihak. Namun dengan adanya wabah yang melanda tersebut tidaklah menjadikan upaya mereka surut.

Justru dengan terbatasnya keadaan mereka diharap mampu berinovasi dan mengembangkan kreatifitas. Sehingga secara praktis kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dapat meliputi sosialisasi penanggulangan coronavirus disease serta penanganannya dalam lingkup kampus. Hal ini dapat dijadikan sebuah percontohan kampus tangguh selain adanya kota tangguh dan sekolah tangguh di lain tempat.

Upaya yang dilakukan pihak kampus bersama dengan mahasiswi semester 7 ini tidak terlepas dari pengawasan yang ketat, sikap waspada, serta tawakkal atas ketetapan Allah. Sebagaimana termaktub dalam ayat:  

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (QS. At-Taubah (9): 51)

Meskipun dalam suasana pandemi covid-19 suplai nutrisi tidak hanya asupan vitamin dan makanan bergizi saja yang diperhatikan namun juga aktivitas akademik seperti kajian-kajian terkait akan tetap dijalankan demi menyuplai nutrisi fisik maupun non fisik. Karena didalam jiwa yang kuat terdapat mental yang kuat. Seluruh kegiatan tersebut direncanakan secara matang melalui majelis pembimbing sehingga tidak keluar dari apa yang hendak dicapai.

Kemudian diaplikasikan secara langsung berdasar diskusi bersama dan diakhiri dengan penulisan laporan yang berupa karya ilmiah sesuai prodi masing-masing dan akan dinilai guna menjamin kualitas dan tanggung jawab mahasiswi. Inilah yang menjadi keunikan tersendiri pada pembukaan KKN kali ini. Meskipun demikian kegiatan ini tidaklah luput dari visi misi, bahkan menghasilkan suatu kreatifitas yang sebelumnya belum dilaksanakan di kampus lain.

Akhir kata, semoga kesehatan dan keselamatan selalu mengiringi langkah kita semua dengan penguatan nutrisi fisik dan non-fisik.

Penanganan pandemi Covid 19 dalam worldview Islam

Dalam penanganan pandemi covid 19, anjuran untuk cuci tangan, jaga jarak, dan pakai masker, bahkan sudah kita hafal. Banyak juga poster besar di berbagai kota yang menambahkan, selain ketiga anjuran tersebut, dengan selalu berdoa. Meski kebanyakan tidak. Bagaimana negara yang menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dalam dasar negaranya, penurunan kasusnya tidak cukup signifikan

Penanganan pandemi Covid 19 dalam worldview Islam

Peran lembaga Agama di negeri ini juga sebenarnya cukup besar. Seperti terus bergulirnya berbagai fatwa dari Majlis Ulama Indonesia, dan Organisasi besar Agama di Indonesia. Kalau kita simpulkan, peran agama baru sebatas, kebijakan prosedur kegiatan sosial, penenang masyarakat, dan pendukung program pemerintah.

Kalau kita bertanya. Bisakah Islam mencegah, mengobati, bahkan menjadi solusi inti dalam penanganan pandemi Covid 19. Sebelum mengelaborasi terlalu jauh. Ada baiknya kita elaborasi dahulu paradigma sains dan agama dalam worldview Islam.

Antara sains dan Agama

Dr. Syamsuddin Arif dalam Jurnal Tsaqafah menjelaskan bahwa sains sebenarnya adalah filsafat. Dan awalnya, filsafat adalah pengetahuan tentang alam semesta, hewan, tumbuhan dan segala hal. Dahulu hubungan antara filsuf dan saintis sangat erat, bahkan apa yang disebut filsuf juga saintis. Namun situasi menjadi memburuk ketika pengetahuan hanya sebatas logical positivism dan logical empiricism sebagaimana yang dipelopori oleh Bertrand Russel, Alfred Jules Ayer, Ludwig Wittgestein, dan Rudolph carnab[1].

Lebih detilnya, sains adalah apa yang bisa diprediksi (predictable), diukur (measurable), dihitung (caountable), diulang (repeatable). Sehingga pengetahuan tentang sains merupakan pengetahuan objektif, bisa diverifikasi secara indrawi.

Karena Sains base evidencenya adalah fisik. Sehingga bisa diverifikasi secara objektif. Objektifitas inilah yang membuat sains akhinya didaulat menjadi common consensus. Sedang Agama, dalam pandangan sekuler, adalah privat. Sehingga pengetahuan yang dihasilkan subjektif. Maka agama tidak bisa menjadi common consensus, bahkan common value.

Di banyak perguruan tinggi di dunia, agama masuk dalam cluster sosial dan humaniora. Karena ia dianggap sebagai fakta sosial, yang hanya bisa diverifikasi secara historis, sosilogis, antropologis, dan psikologis. Karena Agama bukan pengetahuan objektif dalam konstruk epistemologis.

Maka tidak berlebihan jika Albert Einstein mengatakan bahwa agama tanpa sains itu buta, dan sains tanpa agama itu lumpuh. Dalam diskusi Insists Saturday forum, Dr. Meity Elvina, dalam Kedokteran funsional dan kedokteran integratif dalam perspektif Islam, menjelaskan bahwa kedokteran modern sangat reduksionis. Atau dalam penanganannya dokter hanya melihat aspek klinis. Yang berbeda dengan kedokteran zaman dahulu yang selalu mengacu pada keseimbangan alam atau natural balanching. Maka harusnya penanganan pandemi covid 19 harus ditangani secara integratif, yang mencakup seluruh elemen penting dalam world view Islam.

Peran Islam

Jika ada pertanyaan, bisakah tahajjud, misalnya, meningkatkan kesembuhan pasien. Sebelum dijawab, orang akan bertanya, bagaimana memverifikasi tahajjud. Apalagi menghubungkan dengan kesembuhan pasien. Maksimal saintis hanya akan menghubungkan dengan pengaruh pikiran positif dalam ibadah terhadap kesembuhan.

Dalam diskusi insists Saturday night. Dr. Nirwan Syafrin, dalam diskusi Ilmu Kalam sebagai basis pengembangan sains Islam, menggambarkan, meski pengetahuan agama tidak fisikal, tapi bisa diverifikasi secara epistemologis. Artinya agama sendiri sebenarnya juga bisa diprediksi (predictable), diukur (measurable), dihitung (caountable), diulang (repeatable).

Bahkan sholat saja, menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam buku barunya Minhaj, memiliki verifikasi yang jelas. Rusaknya manusia, bahkan peradaban, bisa diverifikasi lewat kualitas solat. Dan hancurnya manusia bahkan peradaban bisa diverifikasi lewat rusaknya sholat.[2]

Logika sederhananya begini, orang yang jahat misalnya, dia bisa baik, asal baik sholatnya. Teori ini bisa diuji ulang (repeatable) kepada orang lain yang ingin baik. Bahkan bisa diukur (measureble) kualitas kebaikannya lewat kualitas sholatnya.

Solusi penanganan covid 19 di tanah air

Jika kita kembali kepada penanganan covid 19 di tanah air. Ustadz. Shohibul Mujtaba, dosen Aqidah dan Filsafat UNIDA Gontor memberikan 7 langkah yang lebih komprehensif dalam Tips Mencegah dan Mengobati Virus Covid-19, diantaranya adalah tetap bersyukur dan bersabar dalam segala keadaan, menjaga konsistensi dalam membaca alQuran.[3] Menguatkan doa, untuk kesehatan dan keselamatan kita[4]. Memperbanyak istighfar[5], merutinkan sedekah[6], silaturrahim dengan menyesuaikan kondisi (offline/online). Karena silaturrahim bisa memanjangkan umur, dan makna dari ‘panjang umur’ adalah hidup yang sehat.[7] Baru menaati protokol kesehatan (Physical distancing, masker, cuci tangan, olah raga, meningkatkan imun), dan yakin bahwa setiap penyakit ada obatnya.[8]

Begitu juga dengan penanganan pandemi covid 19 di Pondok Pesantren Gontor yang extraordinary dalam menyatukan sains dan agama. Maka wajar jika dalam laporannya, Ustadz. Adib Fuadi Nuriz, M.A, dalam kasus covid 19 di Pondok Pesantren Gontor mengalami kemajuan yang signifikan. Dengan sembuhya 21 santri santri[9] pada 18 Juli 2020, sejak laporan pertama 2 kasus pada 7 Juli 2020[10], merupakan perkembangan yang cukup cepat. Jika dibandingkan dengan penanganan kasus di tanah air yang terus naik di berbagai kota.

Bagaimana bangsa yang berKetuhanan Yang Maha Esa justru melewati China yang komunis dalam penanganan pandemi covid 19[11]. Mungkinkah gugus tugas penangan covid di negri ini menjadikan olah fikir, olah zikir dan olah rasa dalam menurunkan kasus covid 19. Wallahu A’lam


[1] Lihat dalam Filsafat Islam antara tradisi dan kontriversi, Jurnal taqafah, Vol. 10, No. 1, Mei 2014

[2] Hamid fahmy Zarkasyi, Minhaj dari ritual hingga intelektual,

[3] Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zhalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian. -Surat Al-Isra’, Ayat 82

[4] لا يردُّ القضاءَ إلَّا الدُّعاءُ، ولا يزيدُ في العمُرِ إلَّا البرُّ. رواه الترمذي، وقال حديث حسن غريب.

Tidak ada yang bisa mengubah ketentuan (qadha’) Allah, kecuali doa, dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali amal kebajikan.

[5] Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan. -Surat Al-Anfal, Ayat 33

[6]

داوُوا مرضاكم بالصَّدَقةِ. رواه البيهقي، قال الألباني: حسن

Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.

[7]

مَن سَرَّهُ أنْ يُبْسَطَ له في رِزْقِهِ، أوْ يُنْسَأَ له في أثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ. رواه البخاري

Siapa yang senang, rizkinya diperluas/dipermudah dan umurnya diperpanjang (dalam keadaan sehat), maka bersilaturrahim lah.

[8] تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ. رواه أبو داود واللفظ له، والترمذي وقال حديث حسن صحيح.

Berobatlah, karena sesungguhnya Allah SWT tidak menciptakan suatu penyakit, kecuali telah menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit, yakni (penyakit) tua.

[9] https://satgascovid19.gontor.ac.id/lagi-11-santri-gontor-2-positif-covid-19-sembuh-total-pasien-sembuh-menjadi-21-orang/, diakses pada tanggal 19 Juli 2020

[10] https://surabaya.liputan6.com/read/4307529/santri-pondok-gontor-2-terinfeksi-covid-19-bertambah-15-orang, diakses pada tanggal 19 Juli 2020

[11] https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200718160704-106-526200/update-corona-18-juli-kasus-covid-19-indonesia-lewati-china, diakses pada tanggal 19 Juli 2020.

Balaghah Qur’aniyyah: Antara Balaghah Arabiyyah dan Balaghah Samiyyah

Sebagai mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Qur’an mengandung keindahan bahasa dan tersusun sedemikian rupa sehingga tidak dapat ditiru oleh pakar di bidang bahasa Arab sekalipun. Bahkan di dalam al-Qur’an tercantum tantangan untuk membuat karangan yang semisal dengan al-Qur’an, seperti pada surah al-Baqarah ayat 23. Namun, tidak ada yang dapat melakukannya.

Balaghah Qur’aniyyah: Antara Balaghah Arabiyyah dan Balaghah Samiyyah

Kemukjizatan al-Qur’an dapat dilihat dari sisi balaghah atau retorika di dalamnya. Dalam bahasa Arab, al-Balaghah diartikan sebagai:

“وضع الكلام في موضعه من طول وإيجاز، وتأدية المعنى أداء واضحا بعبارة صحيحة فصيحة، لها في النفس أثر خلاب، مع ملاءمته كل كلام للمقام الذي يقال فيه، وللمخاطبين به.” [1]

“Penempatan suatu perkataan yang panjang maupun ringkas sesuai dengan letaknya, dan penyampaian maknanya dengan jelas melalui ungkapan yang benar serta fasih, sehingga dapat mempesona jiwa. Penyampaian tersebut disesuaikan dengan tempat di mana perkataan itu disampaikan dan disesuaikan pula dengan lawan bicaranya.”

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, “retorika” diartikan sebagai sebuah studi tentang pemakaian bahasa secara efektif dalam karang-mengarang.[2] 

Hampir sama dengan retorika dalam bahasa Indonesia, kata “Rhetoric” dalam bahasa Inggris berarti the art of using language in impressive way, especially to influence people in public speaking (seni menggunakan bahasa di depan umum dengan cara yang mengesankan untuk mempengaruhi orang-orang yang menyimaknya).[3]

Dari uraian makna dalam tiga bahasa tersebut dapat disimpulkan bahwa retorika berarti tata cara menggunakan bahasa dengan baik dalam bentuk perkataan maupun tulisan agar tepat sasaran dan mengesankan. Retorika dalam al-Qur’an menempati posisi tertinggi sehingga tidak ada yang dapat menandinginya.

Menurut Aqdi Rofiq Asnawi, dosen pengampu mata kuliah Balaghah Qur’aniyyah UNIDA Gontor, pembahasan mengenai balaghah di dalam al-Qur’an dapat dilakukan melalui dua pendekatan: Balaghah Arabiyyah (Retorika Arab) dan Balaghah Samiyyah (Retorika Semit).

“Keduanya mempunyai perbedaan yang signifikan. Dari sisi objek kajiannya, Balaghah Arabiyyah cenderung membahas keindahan kata atau ungkapan dalam bahasa Arab dari segi majas, metafora, perumpaan, sajak, dan lain sebagainya. Sedangkan Balaghah Samiyyah membicarakan susunan kata dalam suatu teks berdasarkan prinsip simetris.” Ungkap lulusan Diploma Tingkat Tinggi dalam bidang Sastra Arab dan Balaghah dari Universitas Islam Madinah ini.

Balaghah Arabiyah telah banyak dikenal dan dipelajari dengan disertai pembagiannya ke dalam tiga ilmu: Ilmu bayan, ilmu ma’ani, dan ilmu badi’. “Sedangkan Balaghah Samiyyah masih terasa asing di dunia akademis, padahal mampu membuktikan koherensi teks al-Qur’an dan kemukjizatannya,” lanjut Aqdi.

Dengan demikian, kemukjizatan al-Qur’an dapat dilihat dari sisi keindahan bahasa pada setiap kalimat dalam al-Qur’an melalui Balaghah Arabiyyah. Sementara itu, kemukjizatan dari segi susunan kata, kalimat, maupun ayatnya dalam diperoleh melalui Balaghah Samiyyah.


[1] ‘Ali al-Jarim, al-Bala>ghah al-Wa>d}ih}ah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 2014), 7.  

[2] Dendy Sugono, dkk., Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), 1308.  

[3] Albert Sidney Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary (Oxford: Oxford University Press, 1995), 1008.  

Siraman Rohani Di Tengah Pandemi

iqt.unida.gontor.ac.id Pada malam yang bertajuk family Gathering Universitas Darussalam Gontor. Al ustadz Khasib Amrullah, M.Ud selaku narasumber, telah begitu banyak menyiram siraman yang sangat sarat dengan kesegaran dan kebangkitan. Bak sebuah tanaman yang layu akan segar dengan siraman. Tentunya siraman yang dimaksud ialah siraman rohani penggugah jiwa bagi civitas akademika walaupun sejatinya kini sedang berada pada situasi yang sulit ditengah masa pandemi.

Dalam konteks kekeluargaan, seperti halnya kewajiban keluarga mengingatkan akan kebaikan kepada keluarga yang lainnya. Berikut ini terdapat beberapa poin penting siraman rohani kepada keluarga besar civitas akademika UNIDA secara khususnya.

Poin Penting

Berawal dengan sebuah pertanyaan yang membuka kerangka berpikir.

Apakah selama hidup Anda itu sama saja dengan satu hari?

Al Ustadz Khasib Amrullah, M.Ud

Dari pertanyaan ini mengajak kita agar bermunasabah diri dan mencoba merenung sejenak, karena tidak ada bedanya kita sehari hidup dan beberapa tahun hidup, jika mengulang-ulang kegiatan yang sama tanpa peningkatan. Oleh karenanya carilah kegiatan yang bermutu yang bisa meningkatkan kualitas kita dan jangan sampai membuang peluang kemungkinan hebat kita untuk 20 tahun yang akan datang.

kenapa orang itu mempunyai keinginan (Iradah) ?…

Dan kapan munculnya keinginan (Iradah) dalam diri kita?…

Al Ustadz Khasib Amrullah, M.Ud

Seseorang mempunyai (Iradah) keinginan tentunya karena tidak memiliki pilihan lain, dan amal yang lahir dengan bukan kehendak pasti tidak akan berkualitas. Sedangkan munculnya keinginan (Iradah) dalam diri kita ialah karena adanya sesuatu ketertarikan, dan sesuatu yang menariklah yang akan melahirkan sebuah (iradah) kehendak untuk melakukan sebuah perbuatan sehingga menjadi berkualitas.

Bagaimana membangun sesuatu yang menarik?…

Al Ustadz Khasib Amrullah, M.Ud

Sesuatu yang menarik bisa jadi karena adanya sebuah bisikan, dan dari bisikan itulah yang membangun. Perlu kiranya untuk diketahui bisikan itu ada dua, yaitu bisikan yang membisikkan itu jahat (Waswasa), dan bisikan yang membisikkan itu baik (Ilham atau huda). Maka jika yang membisikkan itu baik akan lahirlah sebuah kekuatan yang baik.

Apa sumber bisikan itu?…

Al Ustadz Khasib Amrullah, M.Ud

Sumber dari bisikan ialah mata dan telinga, contoh kecilnya saja dari telinga dan mata terbiasa mendengarkan dan melihat hal-hal yang tidak baik atau bahkan mendengarkan bisikan tentang makanan, maka secara spontan kita akan mencari tempat makan, restoran, wisata dan kuliner. Sebaliknya jika kita mendengar dan melihat sesuatu informasi yang baik maka yang timbul ialah sesuatu yang jauh lebih bermanfaat dan berkualitas. Oleh karenanya buatlah sesuatu komunitas-komunitas kecil yang membicarakan suatu hal yang berkualitas.

Ada 3 Hal Perusak Dalam Umur

Kecenderungan manusia itu adalah Rusak dan kepada yang kosong yang rusak.

إن السباب و الفراغ والجدة مفسدة للمرء أي مفسدة

Berikut ini perusak dalam umur yaitu:

1.Masamu. Perusak dalam hidupmu adalah masamu. Tidak ada masa yang paling indah dari pada masa yang kalian rasakan ini. Dan solusinya ialah pergunakanlah masa mudamu.

2. Farago dari bahasa arab yang artinya kosong, kosong bukan hanya tidak melakukan apa-apa, begitupun farago dari suatu amal yang tidak berkualitas atau mengerjakan apa-apa yang tidak bermutu. (Min Husni Islamil Mar’i, Tarkuhu Maa laa ya’nihi) Maa laa ya’nihi inilah di sebut dengan Farago karena itu menghabiskan waktu yang tidak berguna.

3. Jiddata Amal yang tidak bermanfaat

Kenapa Al fatihah dibaca setiap kali kita sholat? Karena kita meminta petunjuk kepada Allah SWT, ialah jalan yang benar. Sehingga dari sini timbullah pertanyaan dari seorang kaum liberal “kenapa di islam ada ihdinashirathal mustaqim?… “hingga mereka berargumen “Berarti kebenaran itu belum turun di islam”.

Jawaban dari ust Hamid: ihdinashirathal mustaqim artinya kita meminta untuk menetapkan kebenaran didalam diri kita. Al haqqu min rabbika fala takun minal mumtarin. Misalnya saja handphone yang ada dihadapan kita. Itu banyak sekali mengundang godaan, bahkan media yang membuat kita terjerumus. Sehingga dari sini dapat di ketajui Ujiannya adalah bagaimana kita bisa tetap baik dan melakukan kebenaran.

Sebagai akhir prakata yang di ambil dari nasehat kiyai adalah jangan bosan untuk berbuat baik, karena hal ini sama konteksnya seperti dengan ihdinashirathal mustaqim yakni tidak lain ialah menetapkan kebenaran didalam kehidupan kita. Dan kita tidak ragu-ragu melakukan apapun itu jika kita mempunyai hidayah, petunjuk, dan prinsip.

Dengan demikian bergabunglah bersama orang-orang yang bisa menjadi contoh dan bisa mempelajari dengan melihat biografi, historis hidupnya. Dengan meniru agar supaya kalian tahu bagaimana tokoh tersebut mengisi ilmunya dan pada kegiatan kosongnya. Karena Sejatinya tidak ada kegiatan yang bermutu jika kita tidak mengerti cara membangun diri kita sendiri.

Tutorial Cara Share Drive Publick

Iqt.Unida.Gontor.ac.id Salam semangat wahai mahasiswa, Kembali lagi bersama kami dalam tutorial tahap ke 2 kali ini, tentunya setelah anda mengisi data kegiatan Akademik dan Non akademik anda pada siakad Unida. Selanjutnya waktunya anda mengirimnya atau Share Drive Publick melalui akun Google drive kalian masing masing. Jika seandainya anda belum memiliki akun google drive. Semestinya anda harus membuatnya terlebih dahulu memakai Email Pribadi.

Tujuan dari Share drive publick ini (terutama dalam kaitan pembahasan ini) Selain sebagai media penyimpanan juga sebagai anda membuktikan keterangan bukti fisik softfile/Hardfile hasil laporan asli dari kegiatan yang telah anda kerjakan.

Oke langsung saja kepada tutorialnya, yaitu ada 9 langkah cara Share Drive Publick sebagaimana berikut.

9 Langkah cara Share Drive Publick

1. Masuk ke Google Drive kalian melalui Google.

2. Setelah masuk ke halaman Drive kalian buatlah folder baru, misalnya folder baru dengan nama AKPAM.

3. Setelah folder di buat, masuk ke dalam folder AKPAM yang isinya masih kosong.

4. Masuk ke folder di dalam komputer kalian yang akan di Upload ke Drive kalian, Tarik file tersebut dan masukan ke Browser tempat Drive kalian.

5. Tunggu sampai proses Upload selesai dan masuk ke dalam Drvie kalian.

6. Klik 2 kali pada sertifikat yang kalian ingin share linknya untuk di masukan ke dalam SIAKAD. Klik 3 titik pada pjok kiri atas lalu klik bagikan.

7. Setelah itu klik Ubah ke siapa saja yang memiliki link pada kolom Dapatkan Link

8. Lalu klik segitiga pada bagian Siapa saja yang memiliki link, jika di Drive kalian masih Dibatasi maka klik Siapa saja yang memiliki link.

9. Setelah itu klik Salin Link dan klik Selesai, copy link tersebut ke SIAKAD seperti tutorial Upload AKPAM ke SIAKAD.

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat. Wassalam

Cara Mengupload Akpam Di SIAKAD UNIDA

Iqt.Unida.Gontor.ac.id Salam semangat wahai mahasiswa, bagaimana rentetan kegiatan anda. Sudahkah anda mendata segala bentuk kegiatan Akademik maupun Non-akademik pada SIAKAD UNIDA. Jika anda tidak tau caranya sehingga rasa bingung menghampiri. Stoopp!!! Jangan panik.

Berikut ini akan kami jelaskan 10 langkah ampuh cara mengupload Akpam Di Siakad dengan benar dan gampang.

10 Langkah Mengupload Akpam Di Siakad

  1. Buka situs siakad.unida.gontor.ac.id di browser kalian
  2. Masukan username dan password kalian untuk masuk ke halaman Dashboard siakad akademik kalian
  3. Setelah masuk ke halaman Dashboard SIAKAD, lalu klik menu Non-Akademik dan klik Verivikasi AKPAM.

4. Klik Create Kegiatan

5. Pilih Jenis Kegiatan yang akan kalian inputkan diantaranya Keilmuan, Kerohanian, Kesenian dan Keolahragaan, Keorganisasian, Kemasyarakatan, dan Pengalaman/Lomba/Lain-lain.

6. Setelah Jenis Kegiatan terpilih selanjutnya Pilih Kegiatan yang anda ingin inputkan dianataranya Peserta Seminar Nasional, Peserta Seminar Insternasional, Peserta Workshop, dan masih banyak pilihan kegiatan yang lainya.

7. Pilih Tanggal sesuai dengan sertifikat atau acara yang kalian ikuti, bukan tanggal ketika kalian menginput AKPAM ke SIAKAD

8. Isi Tema dengan Tema kegiatan yang kalian ikuti bisa juga dengan judul kegiatanya, dan keterangan bisa kalian masukan sebagai apa kalian disitu contohnya Peserta Seminar, Panitia Seminar, Pembicara Seminar, dan lain-lain.

9. Copy link google drive dari drive kalian yang sudah di public, lalu klik save.

10. Setelah di save maka kalian akan masuk ke dalam halaman rincian AKPAM kalian, kalian juga bisa mendelete atau mengupdate data akpam kalian di situ jika ada kesalahan, dan jika ingin menginput lagi maka input kembali seperti cara awal.

Demikianlah 10 langkah yang dapat kami bagikan penjelasan singkatnya. Terima kasih sudah bergabung, jangan lupa ikutin terus serial kami pada kesempatan berikutnya. Wassalam

Mengenal Muhammad Abdel Haleem, sosok di balik Journal of Qur’anic Studies

Muhammad Abdel Haleem Sa’id adalah seorang professor di School of Oriental and African Studies (SOAS) di Universitas London dan penggagas Journal of Qur’anic Studies. Ia menjabat sebagai editor pada jurnal internasional tersebut sejak diterbitkan oleh Edinburgh University Press pada tahun 1999. Atas jasa-jasanya pada budaya dan sastra Arab, ia mendapatkan Bintang Kekaisaran Britania Raya dari Ratu Elizabet kedua pada tahun 2008.

Mengenal Muhammad Abdel Haleem, sosok di balik Journal of Qur’anic Studies

Seorang hafidz al-Qur’an ini lahir pada tahun 1930-an di distrik Asadiyyah, Abu Hammad, Propinsi Syarqiyyah, Mesir. Bapaknya, Syeikh Muhammad Sa’id adalah seorang ulama Azhar yang cukup terpandang di daerahnya.

Ketika umurnya baru lima tahun Muhammad Abdel Haleem kecil ikut halaqah al-Qur’an sampai menuntaskan hafalan al-Qur’an. Setelah menyelesaikan program pendidikan menengahnya di Ma’had Diny Azhari, ia masuk di Darul ‘Ulum, Universitas Kairo dan lulus S1 pada tahun 1960. Setahun setelahnya, ia berangkat ke Inggris untuk belajar sastra di Universitas Cambridge sampai mendapatkan gelar doktor. Pada tahun 1965 ia diminta untuk mengajar bahasa Arab di universitas tersebut selama lima tahun kemudian dipindahtugaskan untuk mengajar di Universitas London sampai sekarang.

Setelah puluhan tahun mengajar sastra Arab di dua universitas ternama dunia tersebut, ia memutuskan untuk merubah kepakarannya ke bidang studi al-Quran. Keputusan ini ia ambil karena melihat betapa banyak pendapat yang salah mengenai al-Qur’an. Sebagai seorang Muslim dan hafidz al-Qur’an, ia merasa lebih baik untuk menyampaikan kebenaran mengenai al-Qur’an dengan tekun menulis dan mengajarkan kajian al-Qur’an di kampus. Telah banyak artikel jurnal internasional yang telah beliau tulis, di samping beberapa buku mengenai al-Qur’an, termasuk terjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris.